
Karena pundak Tio terasa kebas dan sedikit sakit, dengan hati-hati dia pun menarik Amanda dan merebahkan kepala nya di pangkuan Tio. Tak lupa Tio memberi alas jaket milik nya agar Amanda terasa nyaman. Tio memandang wajah Amanda yang terlihat begitu cantik, ah tak terasa tangan Tio terulur untuk mengelus pipi chubby milik Amanda.
"Gemes banget sih," guman Tio dengan suara kecil. Tangan Tio masih betah mengelus pipi milik Amanda.
'Ah pasti enak nih pipi kalau di gigit,' tiba-tiba pikiran kotor terlintas di benak Tio.
Tio baru sadar ternyata wanita itu begitu cantik, hidung mancung bibir tidak kecil dan besar, ah... Bibir itu terasa pas untuk di kecup.
'Ah lagi-lagi pikiran kotor itu muncul,' batinnya.
Sejenak Tio memukul kepalanya pelan, guna menghilangkan pikiran kotor dari yang sedari tadi bergelayut di kepalanya.
Sang baby sitter diam-diam melirik ke belakang, dia melihat keromantisan Tio dan Amanda pun ikut baper di buatnya.
'Den Tio sama non Amanda serasi, yang satu cantik dan yang satu lagi tampan,' batin baby sitter
'Jadi kangen suami ku, hiks hiks hiks hiks... Den Tio buat iri saja,' batin sang baby sitter meronta-ronta.
"Sabar mbak, biasa gelora jiwa muda suka buat orang baper," kata Doni menyadarkan wanita di sampingnya. Doni seolah tahu pikiran wanita di sebelahnya.
"He he he he he,i ya mas. Saya maklum kok," jawab sang baby sitter itu menunduk seolah sedang ketahuan mencuri pandang.
"Bilang saja iri," celetuk Tio bukannya merasa canggung tetapi dia justru memanasi keduanya.
"Dasar bucin," kesal Doni mendengus kesal karena melihat wajah terlihat begitu menyebalkan.
Baby sitter yang Arin pekerjaan itu sudah menikah, umurnya pun sekitar 40 an. Itupun Abraham yang memilihkannya, Abraham tak ingin kejadian seperti dulu terulang kembali, Abraham sedikit risih saat dia mempekerjakan wanita yang masih muda, terlebih lagi sekarang dirinya sudah memiliki istri yang harus dia jaga perasaan nya.
☘️☘️☘️☘️
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh akhir nya tiga mobil mewah itu sampai di depan tempat wisata keluarga itu.
"Sayang bangun," Tio mengusap lembut pipi milik Amanda.
"Emmm...." Amanda terasa berat untuk membuka matanya, dia berkali-kali mengucek mata nya.
"Sudah sampai?" Tanya Amanda memastikan.
"Sudah, ayo bangun rasanya kaki ku sudah kram dari tadi," kata Tio. Memang benar kaki nya terasa kebas namun sedari tadi Tio tahan karena tak ingin mengusik tidur sang kekasih yang terasa nyenyak.
"Eh..." Dengan gerakan cepat Amanda terbangun.
"Maaf ya," Amanda menunduk wajahnya terlihat seperti memelas, Amanda seperti menyesal.
"Aduh lucu banget sih jadi pengen cubit," Tio gemas melihat wajah Amanda yang memelas itu.
"Sudah.... Sudah jangan buat drama romantis nanti kasihan mbak nya lihat kalian berdua," kata Doni melirik Tio maupun Amanda dengan sinis.
Entahlah Doni kesal melihat keduanya yang selalu tebar pesona di mana pun berada. Bukan Tio sengaja tebar pesona namun Doni yang mengartikannya begitu.
"Iya bang..." Jawab Tio cepat.
Doni dan pengasuh sudah keluar sedangkan Tio masih membantu Amanda merapikan rambut Amanda yang berantakan.
"Sudah, begini kan cantik," puji kepada Amanda.
"Ehemmm .... Ayo cepat di tunggu tuan Abraham, atau kalian berdua ku tinggal ya," ancam Doni karena kedua pasangan bucin itu tak kunjung keluar.
"He he he he he he, iya bang tunggu. Lagi merapikan rambut Amanda dulu," pinta Tio agar dia tak di tinggal.
"Dasar bucin," grutu Doni sedari tadi mengatakan Tio bucin.
"Sudah, ayo nanti keburu marah bang Doni," Amanda hendak menarik tangan Tio ya masih merapikan rambut miliknya sedari tadi.
"Sudah jangan dengarkan bang Doni, mungkin dia kangen sama istrinya. Maklum sang istri lagi di pulang kampung, dengar-dengar sih mertuanya sakit," jelas Tio agar Amanda tak ambil hati sikap bang Doni yang hari ini menjengkelkan menurut Tio.
Tio pun memakai jaket miliknya setelah merapikan rambut Amanda tadi.
Doni pun meninggalkan kedua nya, dia pun menghampiri sang tuan nya.
Abraham mengandeng tangan Aurel, sedangkan Arin mengendong baby Andra. Abrian memilih berjalan sendiri, Abrian meskipun terlihat masih kecil namun tingkah dan perilakunya seperti seorang yang sudah dewasa.
"Ayo pa," Aurel menarik tangan Abraham dengan cepat menuju ke loket pembayaran.
Sedangkan Bimo memilih tidak masuk dan menunggu di luar bersama Doni.
Tap tap tap tap tap tap...
Tio berlari menuju ke arah Arin dan keluarga kecilnya.
"Kalian lama banget sih," grutu Arin menatap sang adik.
"Maaf kak, tadi Manda ketiduran," lirih Amanda menunduk karena merasa bersalah.
"Oh tidak apa-apa, ayo," ajak Arin.
Melihat wajah Amanda yang menyesal membuat Arin merasa tak enak hati. Arin tadi berfikir kalau Tio sengaja mengulur waktu namun ternyata justru Amanda yang ketiduran.
"Ayo," ajak Abraham kepada semuanya.
Arin pun mengandeng Amanda karena baby Andra sudah berpindah di gendong sang pengasuh.
"Kak..." Protes Tio yang melihat Amanda di bawa menjauh.
"Ck biar kalian tidak buat orang iri jadi biar Amanda bersama ku," kata Arin.
"Kak Arin seenaknya saja ambil Amanda, apa kak Arin tidak tahu kalau aku ke sini niat nya ingin berduaan saja dengan Amanda. Huu dasar kakak Arin tidak pengertian banget sih jadi kakak," sedari tadi Tio menggerutu tak jelas karena kesal dengan sang kakak.
Namun berbeda dengan Amanda, justru reaksi lain yang di tunjukkan oleh Amanda. Ya mendengar ucapan Arin yang tak lain kakak dari kekasihnya itu, pipi Amanda serasa memanas di buatnya.
"Sudah jangan ngomel terus tak jelas seperti emak-emak saja, sana tuh kamu jagain Abrian biar anakku tidak nyasar," kata Arin kepada sang adik tak lupa menunjuk ke arah Abrian agar sang adik menjaga anak nya.
Dan benar saja, tak lama Abrian pun menarik-narik jaket milik Tio.
"Om gendong," pinta Abrian. Mau tak mau Tio pun mengendong Abrian.
Melihat sang kakak yang di gendong, Aurel pun merasa iri.
"Pa... Gendong," rengek Aurel kepada Abraham.
Mereka semua pun berkeliling melihat satu persatu hewan yang ada di sana, Abrian maupun Aurel begitu antusias.
Aurel pun merengek meminta naik kuda, karena Abraham sedikit lelah jadilah Tio yang menemani Aurel.
Semua begitu senang melihat kebahagiaan si kembar, bibir Aurel tak henti-hentinya bertanya tentang semua yang ada di sana.
Baby Andra juga tak rewel sama sekali.
B E R S A M B U N G...
Bonus malam.