
hari pernikahan tinggal sehari , senyuman di wajah Aidil tidak pernah pudar mengingat besok adalah hari pernikahan nya dimana dia akan menjadi seorang suami sekaligus seorang ayah sah
" kenapa lu Dil dari tadi mami perhatikan senyum senyum sendiri?? tanya maminya
" biasa mi besok dia mau nikah , " ucap Nurul sang adek
" hah sok gaya " ucap Siska
" nampaknya dari sofa depan ada yang iri ,karena sang adik tertampan akan segera menikah " sindir Aidil
" kamu menyindir aku ?? tanya Siska kesal
" memangnya kakak merasa ?? tanya balik Aidil
" iya di sofa sini cuma aku saja kan ?? jawab Siska
" jadi benar kakak yang aku sindir hahaha " ucap aidil senang melihat wajah sang kakak yang cemberut
" mami " rengek Siska seperti anak kecil
" ada anak bayi mi " sindir lagi Aidil dengan suara dibuat buat seperti anak kecil
" papi liat Aidil ?? rengek lagi Siska ke papinya karena tidak mendapat respon dari maminya
" kalian ini sudah besar masih saja seperti anak kecil " ucap zei menggeleng kepalanya
" hahaha kakak ternyata kurang kasih sayang makanya sering merengek seperti Alfa dan Alfi " ucap Aidil membuat Yani dan zei menatap Aidil dengan tatapan tajam
" ohh maaf sepertinya aku salah bicara " ucap Aidil yang membuat Siska menjulurkan lidahnya
" mami nanti kalau Aidil menikah aku mau beli rumah ya ?? tanya Aidil
" loh di rumah sini kan luas " ucap Yani tidak setuju
" tapi kan Aidil sudah berkeluarga jadi gak boleh tinggal sama orang tua lagi harus mandiri mencari uang buat istri dan anak anakku " ucap lagi Aidil
" kan kalau mereka tinggal disini , rumah bisa jadi ramai " ucap Yani lagi tidak setuju
" benar kata Aidil mi , kita tidak boleh egois sebagai orang tua " ucap zei
" papi sama Aidil sama saja ,pokoknya tidak boleh " ucap lagi Yani tetap kekeh dengan pendapat nya sendiri
" mami jangan begitu, Aidil sudah dewasa mi jadi dia pasti bisa menjadi suami yang baik " ucap zei lagi yang membuat istrinya menundukkan kepalanya
" jadi nanti kalau Nurul dan Siska menikah apa mereka juga akan meninggalkan kita Pi " ucap Yani dengan air matanya yang sudah tidak bisa ditahannya lagi
" mereka tidak akan meniggalkan kita , mereka hanya ikut dengan suaminya kelak dan pasti mereka akan sering kesini " ucap lagi zei mengelus punggung istrinya
" iya mi Aidil janji akan sering membawa anak anak kesini untuk menemani mami " ucap Aidil mencoba menenangkan maminya
" iya Siska juga akan suruh suami ku tinggal disini agar mami tidak kesepian" ucap Siska yang membuat Aidil tidak bisa menahan tawanya dengan ucapan sang kakak
" wahahahaha " tawa Aidil yang membuat keluarga nya menatap nya heran
" kamu kenapa Dil ?? tanya Zei
" kakak lucu sekali hahaha " ucap Aidil dengan tawanya yang tidak bisa berhenti
" memangnya aku kenapa ?? tanya Siska bingung
" apa kakak tidak nyadar dengan ucapanmu barusan ??? tanya Aidil memegang perutnya
" omongan apa ?? tanya lagi Siska bingung
" ya nantilah kalau kakak menikah" ucap Siska kesal
" memangnya ada yang suka sama kakak?? tanya lagi Aidil membuat Siska diam
" iya lah kakak kan cantik tapi lebih cantikan aku hehe " ucap Nurul membuat aidil menatap Nurul kesal
" kamu gak usah ikut ikutan ,kamu masih kecil " ucap Aidil
" kalau menurut kak Aidil aku masih kecil yaudah gak usah nikahin Yuli karena Yuli seumuran denganku " ucap Nurul kesal membuat Aidil langsung menggeleng kan kepalanya cepat
" maksud ku jangan ikut campur urusan aku sama kak Siska " saut Aidil
" tapi paman seperti nya jatuh cinta sama kakak " ucap Aidil yang membuat Siska merona merah
" apaan sih " ucap Siska malu malu
" tapi tunggu kak , Kevin kan pamannya Yuli dan Kak Siska kakak kandung kita apa boleh mereka menikah kalau kalian Yuli sama kak Aidil menikah " ucap Nurul yang membuat keluarga mereka menyadari akan hal tersebut
" iya juga ya " ucap Aidil
Siska yang tadi malu malu menjadi sedikit bersedih
" Kakak mau ke kamar dulu ya " ucap Siska dan diangguki oleh mereka yang mengerti situasi
" astaga apa yang aku lakukan " ucap Aidil prustasi
" memangnya kamu melakukan kesalahan Dil ?? tanya papinya
" iya Pi , gara gara Aidil kak Siska sakit hati " ucap Aidil menyesali perbuatannya
"apa kamu yakin kalau mereka saling mencintai?? tanya Zei lagi
" iya jelas Aidil yakin lah Pi , apa papi tidak melihat kakak kalau di ejek sama paman pasti kakak merona merah begitu pun dengan paman
" sudahlah Dil jangan dipikirkan,biarkan saja mengalir seiring waktu " ucap zei berdiri dari tempat duduknya
" ayo mi kita tidur , jangan sedih seperti itu kalau tidak mau kesepian nanti malam papi akan buat adik Nurul " ucap zei yang membuat Yani melotot kan matanya begitu pun dengan Nurul kecuali Aidil yang tertawa bangga dengan papinya
" hahaha papi jangan lupa dedeknya laki laki ya " ucap Aidil disela tawanya
" Wei jangan membuat telingaku keracunan " ucap Nurul kesal
" papi tidur di luar titik . " ucap Yani kesal dan meninggalkan zei yang mematung
" papi sama mami mirip anak mudah " ucap Aidil membuat Zei tersenyum tipis
" astaga aku baru tau jika malam ini adalah jadwal ganti oli " ucap zei dan berlari mengejar istrinya
" maksud papi ganti oli apa kak ?? tanya Nurul dengan polosnya membuat Aidil menahan tawanya
" mungkin oli dedek " ucap Aidil yang semakin membuat Nurul tidak mengerti
" dedek siapa ?? tanya lagi Nurul penasaran
" ahhg anak kecil gak usah kepo , lebih baik kamu tidur nyenyak,besok kita akan menempuh perjalanan jauh untuk kakakmu yang tertampan ini menikah " ucap Aidil lagi
" sombong amat " ucap kesal Nurul dan berdiri meninggalkan Aidil
" hei anak kecil iri bilang bos " teriak Aidil