Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
Eps 92. Viora kabur


Happy reading.


≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈


“Gadis kecil ... buka pintunya! Kumohon bukalah, aku bisa menjelaskan semuanya aku tidak bermaksud begitu, hey jangan ngambek seperti ini VIORA!! Dengarkan aku.” Kelvin terus berteriak di balik pintu kamarku, ia tidak berhenti menggedor-gedor pintu meskipun aku tidak menyahut seruannya sama sekali.


‘Sampai mati pun aku tidak akan membukakan pintunya Evin,’ batinku.


Aku sedang kesal dan tidak mau untuk bertemu dengan Kelvin untuk beberapa saat tapi bagaimana mungkin jelas aku akan bertemu dengannya jika aku terus tinggal di sini. Meskipun aku sangat ingin saat ini menangis dalam pelukan Kelvin, memeluknya erat dan berharap ia akan menghapuskan air mataku seperti dalam sinetron bucin.


Kehaluan ku semakin menjadi-jadi walupun aku sedang marah tapi hatiku justru sebaliknya aku tidak sanggup untuk lama-lama tidak berbicara dengannya.


“Berhenti Viora, Lo nggak boleh lemah, Lo harus kuat meksipun Pangeran Lo udah nolak sebelum Lo nembak tetap harus semangat dan pikirkan cara untuk membalas dendam sakit hati sama Evin!” gumam ku kesal seraya memukul Teddybear yang ada dalam genggaman tanganku.


“Tapi ... gue bingung caranya gimana? Hadeuh Viora mikir dan fokus, Lo bukan anak bodoh yang nggak pinter mikir,” gumam ku terus-menerus. Jika orang lain melihatku pasti sudah di katakan aku gila karena berbicara sendiri.


Setelah kerasnya aku berpikir akhirnya sebuah ide mulus terlintas dalam benakku. Seringai menyebalkan di balik wajahku serta menghapus sisa air mata pada kelopak mataku.


“Gue rasa, gue memang harus pergi dari sini.”


Setelah berpikir banyak dan keputusan sudah ku tentukan akhirnya aku memilih untuk pergi meninggalkan rumah ini meskipun nanti aku harus mencoba memberanikan diri untuk tinggal sendirian untuk sementara waktu.


Mengemasi barang-barang bawaan ku, hanya beberapa barang yang aku ambil selebihnya seperti tas dan barang yang kurasa bisa kubeli saat sudah pindah nantinya.


‘Mungkin ini memang jalan yang terbaik tapi nanti aku harus menghubungi kakak Zoya, yah benar dia satu-satunya tempat aku mengeluh, Evin sudah tidak membutuhkan aku lagi,’ batinku.


Serta surat sudah ku siapkan, jika nantinya Evin membaca ini, itu artinya aku sudah tidak tinggal di tempat ini lagi.



“Kau tenang saja Evin, aku tidak akan lagi menyusahkan hidupmu, terimakasih untuk semuanya semoga kau tenang tanpa ada gadis kecil bodoh ini di dekatmu,” gumam ku seraya pergi keluar lewat jendela kamar.


Mengendap-endap keluar dari rumah orang yang sangat aku cintai, air mataku perlahan mengalir mengingat aku harus berpisah lagi dengannya.


Setelah aku berhasil keluar, tidak jauh dari kediaman Kelvin dengan jalan besar hanya beberapa langkah berjalan lalu aku langsung menaiki taxi dan pergi menuju kediaman kakak Zoya.


* * *


Setelah sampai di tempat tujuan. Pintu kediaman Zoya tidak di tutup tentu saja aku langsung masuk serta memanggil kakak.


Dari jarak tidak jauh Zoya sedang duduk bersama dengan Reiner, lalu ia berjalan menghampiriku.


“Viora ... kok datang sendirian, nggak di temenin Kelvin?” tanya Zoya yang sudah berdiri di depanku.


Tanpa menjawab aku langsung memeluknya dan menangis tersedu-sedu, hatiku sakit apalagi mendengar ia langsung menanyakan Kelvin kepadaku justru tangis ku tidak dapat ku tahan lagi.


Mungkin Zoya tahu aku sedang di landa kesedihan, ia langsung membalas pelukanku seraya mengusap rambutku, sangat nyaman seperti aku merasakan kehadiran kakak yang sesungguhnya untukku.


“Menangislah aku tahu pasti sudah terjadi sesuatu denganmu, aku siap menunggu sampai kamu mau membuka suara,” ucap Zoya saat sedang ia mengusap rambutku.


Kupikir sudah cukup aku menangis lalu aku berniat untuk menceritakan semuanya, perlahan aku menarik nafas dalam-dalam untuk membuat ku rileks.


“Ka–kakak, boleh tidak aku tinggal di sini sementara?”


“Makasih kakak tapi ... aku mau curhat nanti baru istirahat boleh?”


“Baiklah ayo kita cari tempat nyaman untuk berbicara dan berhenti memanggil aku kakak ya, kita adalah teman,” sahut Zoya lalu mengajakku pergi ke dekat kolam.


‘Semoga Zoya memihak denganku bukan justru memihak dengan Kelvin dan Tante g*rang,’ batinku.


Kami sudah duduk saling berhadapan, Zoya hanya menunggu mulutku mengeluarkan suara.


“Kak eh Zoya, aku pergi diam-diam dari rumah Kelvin rasanya aku tidak ingin lagi tinggal di sana tapi Zoya tenang saja nanti aku akan bilang pada Papa untuk melebihkan uang bulanan ku dan aku akan membayar sewa kamar di sini,” ucapku serius.


“Hey tidak perlu membayar, aku tidak menyewakannya aku hanya membantumu kita adalah teman, sudah jangan pikirkan itu lagi,” sahut Zoya.


‘Kakak ini memang baik, tidak salah Kelvin mencintainya,’ batinku.


“Tetap aku akan membayarnya meskipun kamu bilang tidak, aku tidak ingin menyusahkan mu, sudahlah aku kesini ingin curhat ... bukan membahas rumah .... iss Zoya.”


Zoya hanya tersenyum mendengar ucapanku.


“Kelvin ... anu, di rumah itu dia membawa tinggal orang yang bernama Elie, yang kemarin Zoya peringatkan,” ucapku sedikit takut.


“Apa?! Elie tinggal dengannya, jadi kalian bertiga? Lalu apa yang sudah dilakukan wanita iblis itu padamu? Viora ceritakan semua padaku, aku akan menghukum Kelvin, dia sudah mengingkari janjinya berbohong denganku!” Zoya seakan murka hanya mendengar itu saja padahal belum pada inti cerita aku curhat.


“Zoya tenang dulu jangan marah, aku ... akan ceritakan semuanya.” Ia hanya mengangguk mengiyakan ucapanku.


“Sudah hampir seminggu Elie tinggal bersama Kelvin, dia tidak berani menyakitiku sebab aku juga mengancam balik tapi aku tidak suka Kelvin sangat baik dengannya justru aku cemburu Zoya, wanita itu berusaha mengambil simpati dan yang anehnya mereka pernah berbuat adengan film seperti syuting begitu, aku sendiri mencari tahu dan langsung bertanya pada Kelvin namun dia malah marah dan menyuruhku untuk tidak mencampuri urusannya, alhasil aku kabur dari sana,” curhatku dengan sedikit panjang berusaha menyakinkan Zoya.


“Berbuat adengan film seperti syuting, maksudmu mereka beneran syuting?” tanya Zoya kebingungan.


“Bukan Zoya tapi memang adengan gitu, aku sudah mencari tahu di internet dan yang keluar isinya pria dengan wanita saling bermain memasukkan benda mereka pada milikku serta mereka tidak memakai pakaian tapi anehnya aku ingin mencobanya dan itu yang aku tanyakan pada Kelvin,” sahutku jelas.


“Astaga ... gadis manis kamu tidak sepatutnya melihat itu pantesan Kelvin marah kamu mencampuri urusan orang dewasa tapi tidak apa itu mungkin suatu pembelajaran bagimu tapi nanti jangan liat lagi, ah mengenai Elie dan Kelvin, aku akan mencoba berbicara padanya kamu tenang saja yah,” sahut Zoya mencoba untuk memihak denganku.


“Terimakasih Zoya, aku senang ada teman sepertimu dan lagi aku juga sedang mencari tahu bagaimana caranya membuat ia jatuh cinta tapi kesempatan ku hilang ....”


* * * * *


Sampai kapan aku harus menunggu dirimu datang?


Sampai kapan aku bisa memilikimu seutuhnya?


Haruskah cintaku pergi? Haruskah aku mengalah?


Jika itu maumu izinkan aku untuk pergi dari hatimu


“Viora-Kelvin”


≈≈≈≈≈≈≈


Terimakasih sudah mendukung Author, sertakan kesan kalian dibawah ya sayang