
H A P P Y R E A D I N G
Ya-ya aku mengerti, Viora. Terima kasih, aku titip Steven bersama kalian. Lagipula aku tidak akan lama. Oh ya, aku belum membelikan susu untuk Steven. Jadi tolong minta Kelvin untuk membelinya, lagipula dia sakit karena hukumanku.”
“ Baiklah, kamu tenang saja. Biar nanti Kelvin yang mengurusnya. Sudah pergilah, hati-hati ya, jangan lupa kasih kabar.”
“ Tentu saja, Viora.”
Claudia langsung keluar dari ruangan itu meskipun Viora, Kelvin, dan Steven cemas memikirkannya.
Steven menoleh kebelakang saat melihat Claudia telah pergi, ia ingin mengejarnya namun, dengan cepat Kelvin menahan tubuhnya.
“ Woy! Lepasin! Gue mau kejar Claudia, dia dalam bahaya,” paksa Steven sambil mencoba melawan.
“ Jangan bodoh itu sama aja lagi antar nyawa ke kuburan. Lo lihat keadaan Lo sekarang lemah begini. Jangankan buat lindungi Claudia, lindungi diri sendiri aja enggak bisa kalau kondisi Lo seperti ini,” ungkap Kelvin.
“ Ya, suamiku benar, Steven. Sebaiknya kita tunggu kabar di sini. Apalagi aku yakin kalau Claudia tidak kenapa-kenapa. Lagipula Alvero belum tahu kalau kita semuanya berteman dengannya. Sudah tidurlah, dan fokuskan kepada kesembuhan mu baru setelah itu mau bunuh orang sekampung juga enggak akan kami tahan,” timpal Viora sembari menunggu ketempat buah.
Steven mendengar semua ucapan dari temannya. Ia merasa benar dengan semua yang mereka katakan hingga ia merebahkan dirinya meskipun kekhwatiran masih terus menghantuinya. Pilihannya membuat Kelvin bersama Viora sama-sama tersenyum.
...----------------...
...----------------...
Di sisi lain. Claudia sedang menuju ke mobil Alvero yang sudah sejak tadi menunggu. Ia pun langsung memasukinya saat Alvero dengan sengaja membukakan pintu seperti seorang ratu. Meskipun begitu Claudia bersikap biasa saja.
Dalam perjalanan Alvero terus mengingat ucapan dari orang yang telah memberitahukan bahwa wanita disampingnya adalah adiknya. Sampai membuatnya terus mencuri pandang kearah Claudia. Tapi, orang yang dilirik pun sadar sedang diperhatikan.
“ Apa lihat-lihat? Ada yang aneh degan penampilanku?” tanya Claudia.
“ Eh! Enggak kok! Malahan cantik banget. Oh ya, kita ketempat makan yang waktu itu yuk! Mau enggak?”
“Yah boleh.”
Alvero tersenyum mendengarnya. Ia langsung menancap gas lebih tinggi agar cepat sampai.
...----------------...
Tiba di sebuah pantai yang pernah mereka kunjungi bersama. Alvero langsung merangkul Claudia untuk mengajaknya berjalan bersama namun, tindakan itu justru membuat Claudia terheran mengapa Alvero. Dengan tatapan tajam Claudia menatap Alvero.
“ Udah, jangan liatin begitu. Cuma bentar doang kok aku rangkul begini. Nanti sampai di sana aku lepasin,” ucap Alvero tanpa melirik kearah Claudia.
Tanpa banyak bicara pun Claudia terpaksa mengizinkan hingga sampai di tepi pantai Claudia berusaha melepaskan rangkulan yang membuatnya tidak nyaman.
“ Oh ya, ada apa sampai ajak aku kesini?” tanya Claudia langsung to the point.
“ Hanya ingin main lagian aku males kalau di rumah, kenapa, apa peliharaan mu masih sakit?” sahut Steven sambil bertanya.
“ Ya, dia sakit hati lebih jelasnya sih tapi, ya udahlah jangan bahas itu. Ehem! Aku dengar-dengar kamu udah punya calon istri ya?" Claudia sengaja mengalihkan perhatian.
“ Ya, calon istri dari kata terpaksa. Meskipun terpaksa tapi, aku tetap harus menikahinya karena aku di usia seperti ini akan menjadi Ayah. Oh ya Claudia, jika aku boleh memintamu sesuatu bolehkah kalau aku melihat dada kiri mu? Eh! Anu, maksudnya dekat dada kiri mu.” Permintaan konyol Alvero.
‘ Aduh ...Pakai alasan apa ya? Ah sial! Gue pasti di kira mau mesum nih,’ batin. Alvero.
“Melihat dadaku? Apa kamu ingin mati?!” ketus Alvero.
Alvero melihat kesana-kemari, hingga akhirnya dia menarik pakaian Claudia dengan kuat sampai akhirnya dada kiri hampir terlihat keluar. Untung Claudia dengan cepat menarik kembali.
“ Oh ... jadi bener ya kamu pria hidung belang! Dasar buaya!” geram Claudia sambil melempar Alvero dengan batu-batu.
“ Aww! Sakit! Jangan, Claudia. Aww! Aku bisa jelaskan sungguh!” teriak Alvero sambil melindungi wajahnya dari lemparan batu.
“ Mau jelaskan apa? Mau jelaskan warna pakaian dalam ku, begitu?! Dasar! Jadi tujuanmu membawaku kesini hanya untuk mencari kesempatan! Kamu membawa wanita yang salah! Rasakan ini!” ketus Claudia sambil terus melemparkan batu.
Alvero terus menghindar, ia bahkan hanya bisa menghindar tanpa memberikan perlawanan kepada Claudia hingga akhirnya Alvero bangkit untuk mencekal tangannya Claudia sampai berhasil.
“ Tunggu, Claudia. Aku hanya melihat tanda lahir mu itu saja,” ucap Alvero.
Claudia tercengang. “Tanda lahirku? Bagaimana kamu bisa tahu? Oh aku tahu kamu pasti pernah mengintip ku mandi. Iyakan? Cepat jawab?!”
“ Hey! Aku bahkan tidak tahu di mana kamu tinggal bagaimana bisa aku mengintip mu mandi. Ada-ada saja. Lebih baik begini duduklah supaya kita berbicara,” ucap Alvero sembari membawa Claudia duduk di dekatnya.
“ Di sana masih luas tuh! Jangan deket-deket!” ketus Claudia.
“ Iya-iya, ah kamu ini,” sahut Alvero yang langsung menggeser sedikit jauh.
“ Nah bagus! Jadi, aku bisa melempar mu dengan batu jika kamu macam-macam.”
Alvero tersenyum melihat tingkah bodoh dari Claudia. Ia pun mengeluarkan sebuah kotak dari dalam mobilnya, dan langsung memberikannya kepada Claudia.
“ Kotak apa ini?” tanya Claudia kebingungan.
“ Itu kotak sewaktu kamu masih bayi,” sahut Alvero.
“ Apa? Sewaktu aku bayi? Memangnya kamu ayahku?” sahut Claudia.
“ Hey! Apa maksudnya, Claudia?” tanya Alvero kesal.
“ Jika bukan ayahku lalu kenapa kamu bisa tahu saat aku bayi?"
“ Ayolah, Claudia. Duh ... Baiklah, aku akan katakan. Sebenarnya kamu adalah adikku,” ungkap Alvero.
“ Adikmu? Ha-ha-ha! Lelucon mu sangat bodoh! Kita bahkan baru kenal lalu kamu mengakui ku sebagai adikmu. Ayolah, Alvero. Rasanya aku begitu terkejut tapi, bohong!”
“ Hey! Aku sedang serius, astaga!”
“ Ah! Sudahlah, kamu terlalu banyak membuang waktuku dengan sia-sia.”
“Aku jujur denganmu, Claudia. Aku tidak berbohong. Kamu memang adikku, kita satu Ayah,” ungkap Alvero jujur.
“ Satu Ayah, bagaimana ceritanya?”
“ Keluarga yang telah membesarkan mu adalah salah satu dari pelayan di kediamanku. Maaf, karena ibuku kita harus berpisah.”
“ A-aku sungguh tidak mengerti dengan ini semua.”
“ Percayalah Claudia, kau adikku. Kemari ’lah peluk kakakmu,” pinta Alvero sembari melebarkan kedua tangannya.
“ Benar-benar aneh, adik? Hah! Adik macam apa yang sengaja dibuang, bahkan kepada pelayan. Sungguh menjijikkan, aku tidak ingin melihatmu. Kenapa sekarang kita bertemu? Ini mustahil, mustahil! Kamu bukan kakakku, kita tidak kenal. Kalian sengaja membuang ku.“