
H A P P Y R E A D I N G
Steven seketika terdiam, sampai akhirnya dia membuka suara. “Baiklah karena mungkin sudah melakukan banyak hal seperti sekarang. Pasti lama-lama kamu akan terlibat dalam hidupku. Aku akan menceritakan semuanya, siapa temanku Kelvin, dan untuk apa dia menghubungiku. Lagipula kita juga akan tinggal bersama nantinya.”
Alice menatap wajah Steven dengan begitu lama. Ia juga menyimak dengan apa yang akan di katakan nanti.
“Mmm mungkin ini tidak begitu penting untuk ku ceritakan padamu tapi, setidaknya setelah kita menghabiskan waktu bersama walaupun kita baru kenal sebentar. Tentu saja kamu akan masuk kedalam duniaku. Namanya Claudia, dia adalah cinta pertamaku bahkan sampai saat ini jujur aku masih menyimpan rindu padanya. Kelvin ingin mempertemukan kami sebab temanku itu sangat cerewet. Dia bahkan terus-menerus memaksaku untuk segera bertemu dengannya padahal aku sudah bilang tunggu sebentar. Jadi, Kelvin itu sudah memiliki istri namanya Viora. Mereka sangat serasi bahkan aku sampai iri melihat gemasnya hubungan mereka. Mungkin kapan-kapan nanti aku akan memperkenalkan mu pada teman-temanku,” ungkap Steven panjang lebar.
Wajah Alice tegang saat mendengar nama Kelvin bersama dengan Viora. Tentu saja ia merasa ketakutan.
‘Suami Viora? Aku sudah tidak salah menduganya pasti temannya ini bos di tempatku. Ya ampun ... Kenapa aku sampai berhubungan dengan mereka lagi? Ku pikir dengan bersama Steven sementara waktu hidupku tenang tapi, justru sebaliknya aku seperti mengantarkan diri ke dalam kandang harimau. Bagaimana jika sampai Steven tahu kalau aku yang sudah berbuat jahat dengan temannya? Sebaiknya aku harus waspada,’ batin Alice.
“Hey, apa kamu baik-baik saja? Kenapa tubuhmu kaku begini?” tanya Steven penasaran saat merasakan perubahan aneh dari Alice.
“Ah nggak kok! Aku cuma lapar aja. Oh ya, jadi temanmu itu sangat menarik ya. Sepertinya aku malu untuk bertemu dengan mereka semua sebaiknya memang aku tidak bertemu,” sahut Alice berusaha ngeles.
“Oh tidak, tidak! Sebaiknya memang kita harus bertemu dengan mereka apalagi nanti kita juga akan tinggal bersama jadi sebaiknya kita saling mengenal lebih dalam,” ungkap Steven dengan ceria.
Steven sibuk tersenyum sambil menatap wajah Alice. Namun, keseriusannya terganggu sebab sebuah notifikasi pesan masuk dari ponselnya. Ia berusaha membuka sampai akhirnya pesan tersebut masuk dari Kelvin.
‘Aku tunggu nanti malam di lokasi yang akan ku kirimkan nanti. Kita harus bertemu, dan ingat jangan lagi menunda waktumu. Aku juga akan mengajak Claudia jadi, sebaiknya pergunakan waktu ini dengan sebaik mungkin karena aku tidak ingin terlalu lama menunda honeymoon ku ini.’ Kiriman pesan dari Kelvin.
Steven membacanya dalam hati. Ia juga tidak mungkin terus-menerus menunda pertemuan ini sebab pasti akan mengganggu rencana Kelvin. Steven terdiam sambil menutup ponselnya. Alice pun penasaran ingin tahu apa sedang terjadi.
“Steven, kamu baik-baik saja 'kan?” tanya Alice penasaran.
“Ah ya tentu saja. Jadi sampai mana pembicaraan kita?” tanya Steven yang sudah tidak terlalu fokus.
“Tentang mengenal temanmu. Oh ya bolehkan aku tahu siapa yang mengirimkan mu pesan? Maaf jika aku lancang bertanya tapi, aku hanya sedikit penasaran apalagi melihat wajahmu seperti sedang memikirkan sesuatu,” ungkap Alice yang sangat ingin tahu.
“Tidak! Ini hanyalah hal kecil. Karyawan ku sengaja mengirimkan pesan ini maklumlah mereka sedang gabut,” sahut Steven berusaha ngeles.
‘Aku tahu tidak mungkin karyawan mu sampai menghubungi bosnya apalagi tidak tepat waktu seperti ini. Pasti ada yang sedang kamu sembunyikan dariku. Sebaiknya diam-diam aku harus membuka isi ponsel miliknya nanti,’ batin Alice.
Steven beranjak pergi. Ia juga tidak lupa pamit pada Alice. Alasanya untuk pergi ke dapur namun, ia tidak lupa membawa ponsel miliknya. Saat berada di dapur Steven dengan cepat mengambil minuman sampai meneguk tiada tersisa. Lalu dirinya kembali terdiam sejenak berpikir.
‘Jika memang malam ini kesempatanku untuk bertemu dengan Claudia, apakah kami akan kembali baikan? Rasanya Kelvin benar-benar sengaja ingin menyatukan aku lagi padahal dulu aku sudah mengucapkan sumpah untuk tidak ingin menganggapnya ada tapi, sekarang justru aku yang harus memulai bertemu dengannya,’ batin Steven kebingungan.
Rasa penasaran Alice justru membuatnya ingin mengikuti kemana langkah Steven pergi. Namun, saat ia berjalan keluar tiba-tiba Steven sudah kembali menuju ke kamarnya.
“Alice, kamu mau kemana?” tanya Steven pemasaran.
“Ah nggak kok. Aku mencarimu, kupikir kemana,” sahut Alice.
“Oh ... Begitu. Oh ya, Alice. Kita keluar yuk! Jalan-jalan, main pantai. Yah apapun itu kita akan senang-senang. Bagaimana apa kamu mau?”
“Wah ... Tentu saja aku mau! Jadi, kapan kita akan pergi?” tanya Alice begitu semangat.
“Nanti tahun depan. Ya sekarang, lagipula kita juga akan cari makan di luar jadi kupikir kita menghabiskan waktu sambil bermain. Ya sudah kalau begitu bersiaplah. Aku akan menunggumu di ruang tamu.”
“Baiklah, tunggu sebentar aku tidak akan lama.”
...----------------...
Dua puluh menit kemudian. Alice keluar dengan pakaian yang sudah rapi. Ia sudah sangat cantik dengan pakaian casual yang memakai atasan jenis Off-Shoulder jenis ini didesain untuk memarkan bahu. Namun walaupun begitu, jenis atasan ini memang terbukti mampu membuatmu terlihat chic dan fashionable. Ia juga memadukan dengan celana jeans pendek yang semakin membuat penampilannya lebih menarik.
Alice langsung mendekati Steven yang sedari tadi sudah menunggu. Sampai akhirnya ia berdiri langsung di depan wajah Steven.
“Aku sudah ayo kita pergi,” ajak Alice sambil mengulurkan tangannya.
Begitu lama Steven terdiam sampai akhirnya ia tersenyum. Lalu Steven menerima uluran tangan Alice. Mereka pun bergandengan tangan sambil melangkah bersama.
Di dalam mobil Alice begitu ceria apalagi dia sendiri yang memutarkan musik kesukaannya. Aluna musik menyertai jalan mereka. Steven sesekali melirik menatap Alice.
“Sepertinya senang banget,” ucap Steven sambil mengerlingkan matanya.
“Jelas dong. Aku sudah lama tidak pergi jalan-jalan. Terakhir aku bermain seperti ini bersama dengan kedua temanku tapi, setelah itu tidak lagi karena hubungan pertemanan kamipun berakhir,” sahut Alice sambil sedikit curhat.
“Oh ya? Berarti aku tidak salah dong mengajakmu jalan-jalan. Lalu sekarang kamu ingin kemana?” tanya Steven sambil tersenyum.
‘Nanti malam main di Club? Menyenangkan sih tapi, bagaimana gua harus membawa Alice sebab nanti malam gua juga udah janji sama Kelvin,’ batin Steven penasaran.
“Alice, sepertinya kita tidak datang ke Club. Sebaiknya lain kali saja. Bagaimana kita menggantinya dengan ketempat karaoke? Jujur aku belum pernah pergi selama berada di sini tapi, sebaiknya jangan nanti malam tapi, kita tidak bisa pulang larut malam sebab aku harus bertemu seseorang. Apakah boleh?” jelas Steven sambil bertanya.
“Umm baiklah jika memang harus seperti itu. Aku ikut saja kemanapun aku ikut asalkan itu menyenangkan,” sahut Alice yang langsung setuju sambil tersenyum.
“Okay bersiaplah kita sudah sampai di restoran. Ayo turun,” ajak Steven.
Alice terdiam sesaat. Ia sedang berpikir sesuatu.
‘Steven ingin kemana yah nanti malam sampai dia tidak ingin untuk pergi karaoke bersamaku? Aku harus menyelidikinya. Jika aku tidak bisa mendapatkan Alvero maka aku harus bisa mendapatkan hati Steven karena aku ingin membalaskan dendam ku terhadap alvero juga Viora,’ batin Alice sambil senyum tersungging.
Steven merasa kalau Alice terlalu lama turun dari mobilnya sampai akhirnya ia memilih untuk membukakan pintu mobil. Alice tersentak ketika mendengar suara mobil terbuka. Ia pun tersenyum sampai akhirnya sengaja mengandeng tangan Steven.
Merekapun memasuki sebuah restoran. Steven langsung memesan makanan untuknya juga Alice. Alice begitu bahagia apalagi ia bisa mendapatkan makanan gratis tanpa sibuk memikirkan harus kembali mencari pekerjaan. Alice mengerlingkan matanya menatap Steven yang begitu fokus dengan hidangan miliknya.
“Steven, bolehkah aku mengatakan sesuatu?” tanya Alice.
“Apa? Bertanya? Yah tentu saja boleh, aku juga tidak pernah melarang mu,” sahut Steven.
“Hahaha benar juga. Steven, aku hanya ingin jujur denganmu. Memang kita baru bertemu tapi, entah kenapa rasanya aku begitu nyaman setelah kita bersama. Entahlah tiba-tiba aku ingin terus selamanya seperti ini. Apakah kamu juga memikirkan hal yang sama denganku?” Alice mengungkapkan isi hatinya dengan begitu pintar sambil bertanya hal yang sangat penting.
Steven terdiam, ia bahkan menghentikan suapan yang hampir masuk kedalam mulutnya. ‘Kenapa Alice berbicara begitu mudah? Aku bahkan belum memikirkan sejauh itu,’ batin.
“Um, Alice. Aku tidak tahu harus menjawab apa tapi, jika kamu bertanya sejauh ini jujur aku belum memikirkannya. Namun, kita tidak pernah tahu rahasia kehidupan. Memang aku bahagia setelah begitu lama cintaku pergi tapi, berkat hadirnya kamu setidaknya aku merasa senang,” sahut Steven dengan jelas.
“Yah aku tahu memang hidup penuh dengan begitu banyak rahasia namun, takdir selalu bersama kita. Apalagi aku percaya bahwa takdir 'lah yang sengaja mempertemukan kita meskipun kita belum tahu akhir dari takdir ini tapi, aku percaya bahwa manusia bisa melawan takdir,” ungkap Alice dengan penuh keyakinan.
“Tunggu-tunggu, Alice. Kenapa tiba-tiba kamu jadi melankolis seperti ini?” ledek Steven sambil menahan tawanya.
“Isss aku sedang berbicara serius denganmu, Steven! Ah kau ini,” cetus Alice dengan memicingkan matanya.
Steven tertawa sambil kembali melanjutkan makanannya yang sempat tertunda. Begitupun dengan Alice, ia senyam-senyum sendiri setelah Steven berusaha meledeknya.
Tidak jauh dari tempat mereka duduk. Seorang wanita duduk membelakangi mereka. Suara keras Alice yang memanggil nama Steven justru sampai terdengar di telinganya. Claudia dengan cepat menoleh kebelakang, ia sedang duduk sendirian.
Matanya berusaha mencari sosok pria yang selalu ada untuknya. Sampai akhirnya Claudia memilih untuk berdiri sambil terus memandangi di arah suara itu berasal. Terlihatlah seorang pria yang begitu lama sudah berpisah dengannya kini ada di depan matanya namun, hatinya kecewa melihat Steven sedang makan bersama dengan seorang wanita yang tidak ia kenali.
Mereka bahkan tertawa bersama sambil sesekali bercanda dengan sentuhan-sentuhan yang membuat orang lain mengira jika mereka adalah sepasang kekasih. Steven memilih kembali duduk, ia perlahan meneteskan air matanya meskipun dengan cepat ia hapus sebab tidak ingin dirinya menjadi perhatian bagi orang lain.
'Aku tidak salah melihat itu benar-benar kakakku tapi, siapa wanita di depannya? Aku bahkan belum pernah melihatnya. Mereka terlihat sangat akrab apa mungkin mereka sudah menikah?' batin Claudia.
Claudia kembali menoleh kebelakang, ia terus melihat Steven dari jauh sampai tidak ia sadari senyuman menghiasi wajahnya. ‘Kakak, aku lega melihatmu bisa tertawa lepas seperti itu meskipun bukan denganku.’
Claudia terus melakukan hal yang sama. Ia diam-diam memandang namun dengan cepat wajahnya langsung berpaling agar Steven tidak melihatnya.
“Ternyata aku sudah salah memilih untuk makan di luar. Harusnya aku mengiyakan ajakan Viora untuk makan bersama tapi, aku juga tidak enak terus-menerus makan gratis bersama mereka. Lalu sekarang apa yang harus kulakukan? Apa aku harus pergi menemui kakakku? Tapi bagaimana jika dia tidak mau melihatku? Apalagi sampai tidak mengenaliku. Ya ampun ... Benar-benar aku bingung harus apa. Satu hal aku sangat ingin bertemu lalu memeluknya tapi, aku juga takut untuk menemuinya," gumam Claudia.
Hatinya gundah gulana. Ia tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Terus menoleh kebelakang sampai-sampai orang lain melihatnya dengan tatapan aneh bahkan juga menegurnya.
“Hey! Dari tadi aku pusing melihat kau yang terus menoleh kesana. Apa kau sedang berusaha melirik pria dan wanita itu? Hey! Aku sedang mengajakmu berbicara bukan ingin berdebat jadi jangan memandangiku seperti itu. Jika aku boleh sarankan daripada nanti lehermu bisa-bisa patah karena terus menoleh kebelakang lebih baik hampiri saja dia. Kamu bahkan terlihat seperti wanita terbuang. Maaf tapi, aku berkata jujur,” ucap seorang wanita lansia yang duduk tepat di meja sebelah.
Claudia tidak menjawab bahkan ia tidak memang tidak ingin menjawab sebab takut jika menimbulkan perdebatan. Claudia lalu memilih untuk melanjutkan menyantap makanan yang berada di depannya meskipun tidak selera karena pikirannya masih terfokus dengan hal lain.
Di sisi lain. Steven bersama Alice sudah selesai makan. Steven pun langsung pergi untuk membayar semua biaya yang dikeluarkan. Mereka pun memutuskan untuk pergi karena tidak ingin berlarut di tempat itu apalagi mereka memiliki rencana yang lain.
...----------------...
Claudia kembali menoleh mencari sosok yang sejak tadi ia lihat namun, sudah tidak ada Steven di sana. Ia pun berpikir jika Steven sudah pergi keluar.
“Kamu lihat sendiri, nak. Orang yang kamu lihat sudah pergi. Memang kamu wanita yang tidak berguna. Jadi tunggu apalagi kejarlah orang itu,” ungkap wanita lansia itu.
Claudia pun mendengar ucapan wanita itu. Ia berlari menuju kasir untuk membayar. Lalu dirinya berlari keluar mencari di mana sosok yang ia lihat sejak tadi. Jauh dari tempat itu Claudia mencari keberadaan Steven sampai akhirnya dia menemukan mereka yang sedang ingin menaiki mobilnya.
“Untung saja kakak masih di sana. Sebaiknya aku cepat-cepat menemuinya jika tidak maka aku benar-benar tidak bisa memaafkan diriku sendiri,” gumam Claudia.