Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
Eps 41. Ketakutan Elie


Jangan berpegang teguh pada kebohongan, sebab kebohongan tidak akan jauh dari kata terungkap, ia akan selalu ada disekitar kebohongan, cepat atau lambat semua akan terungkap.


*****


"Kau ingin jelaskan apalagi Elie? Aku sudah tahu semuanya tanpa kau jelaskan apapun!"


Brian benar-benar sangat marah kepada Elie, bagaimana mungkin ia tidak marah jika wanitanya sendiri bermain api dibelakangnya. Setiap pria justru akan marah apalagi seperti Brian, ia sudah sangat mencintai wanita itu meskipun ia memiliki kelainan pada dirinya. Ia sangat sulit mengatur emosi dan juga sangat mudah menyakiti dengan sadis meskipun orang itu sangat ia cintai.


Elie mencoba membela diri. "Aku hanya ... Hanya saja aku khilaf maaf Brian, aku tahu salah dan aku menyesal."


"Kau menyesal? Perkataan macam apa itu sangat konyol, kau sungguh pembohong Elie, aku tahu kau menikmati semuanya, bahkan kau memberikan tubuhmu ini kepada Reiner itu bukan?" ucap Brian geram.


Elie menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin terus-menerus menghadapi kejamnya Brian. "Sungguh aku tidak melakukan itu, baiklah aku jujur, hari itu aku mencoba untuk menyekap Reiner lalu aku hanya berpose tidak melakukan apapun, percayalah aku tidak mungkin melakukannya dengan pria lain aku sudah nyaman denganmu sayang."


Elie bercerita dengan jujur meskipun hati kecilnya memang ingin berniat mencicipi kehangatan dari Reiner. Ia mendekati Brian berusaha meraih wajah tampan pria didepannya, ia mengusap wajah itu yang sudah ditumbuhi bulu-bulu halus. Plak! Lagi-lagi pria itu menamparnya.


Brian lalu menyeret Elie dengan kasar untuk ikut bersamanya, seperti tidak ada rasa cinta ia memegang tangan wanita itu dengan keras. Elie terus meronta agar di lepaskan tapi tetap saja kekuatan pria lebih kuat darinya. "Kenapa bawa aku?!"


Elie terus bertanya hal yang sama tapi tidak ada balasan dari Brian. Mereka berhenti disebuah gudang rumah mereka. "Cepat masuk!" Ucapnya dengan tegas.


"Kau ingin apa Brian? Kau tidak berniat untuk mengurungku bukan?" Elie sangat ketakutan, pikiran sudah melayang jauh, ia tidak ingin jika pria itu mengurungnya atau bahkan mencelakainya.


Brian tidak peduli ucapan Elie, dia terus menjalankan apa keinginannya. Ia mengambil tali dan kursi lalu menduduki wanitanya di atas kursi lalu mengikatnya.


"Tolong jangan lakukan ini padaku!" ucap Elie penuh dengan amarah. "Lepaskan aku Brian! Aku ini istrimu."


Brian tersenyum sinis, ia tidak lagi memiliki rasa kasihan sebab hatinya sudah dipenuhi dengan amarah dan keinginan untuk menuntaskan semua hal yang membuatnya marah. Meskipun Elie terus meronta-ronta ingin dilepaskan.


"Kau senang sayang sekarang di sini? Aku sebetulnya tidak ingin menyakitimu tapi kamu sendiri yang menginginkannya," ucap Brian dan tersenyum puas.


"Kau gila Brian! Aku ini istrimu, lepaskan aku atau kau akan tahu akibatnya!" Elie tidak ingin kalah dia berusaha mengancam pria itu.


"Hahahaha aku akan tahu akibat apa? Duh aku jadi takut sekarang" ucap Brian dengan ejekan.


Brian tidak ingin tinggal diam ia akhirnya mengambil keputusan apa yang harus dilakukan, ia mengambil sebuah pisau, dan berjalan lebih mendekat kearah Elie. "Kau liat ini sayang," ucapnya sambil memperlihatkan kepada wanitanya.


"Jangan lakukan hal bodoh sayang kumohon." Elie ketakutan, badannya bergetar, pikirannya melayang takut kalau Brian kehilangan kendali dan akan membunuhnya, ia terus memohon agar Brian mau melepaskannya.


"Brian apa yang kau lakukan! Aaak sakit ... Bri .... Kumohon jangan," Elie terus meronta-ronta dan menangis memohon agar dihentikan. Tapi percuma saja, pria yang sudah menjadi suaminya itu tidak ingin berhenti dan terus menggoreskan hingga membentuk sebuah namanya. “Brian.”


Lalu setelah puas Brian mendekatkan kebagian atas, ia membuka penutup tubuh dan mendekatkan kebagian dada Elie, dan lagi-lagi ia kembali melakukan hal yang sama menggoreskan pisau dengan membuat namanya. "Hahahaha bagaimana rasanya sayang menyenangkan bukan? Kau terlihat lebih cantik jika seperti ini."


Elie harus menahan rasa sakitnya, ia sudah menangis. ‘Tunggu kau Brian, meskipun kau memang mencintaiku tapi otakmu tidak bisa berkerja dengan baik, aku juga tidak akan segan-segan membuatmu terluka,’ batin.


"Ah sayang sepertinya sudah cukup untuk saat ini aku laper mau makan dulu, nanti aku kesini lagi tapi dengan cara yang berbeda, kau harus memberikan kepuasan untukku ya," ucap Brian lalu pergi meninggalkan Elie didalam gudang tersebut.


Elie terus merasakan sakit dari sekujur tubuhnya, darah segar terus bercucuran, air matanya tidak henti jatuh menahan rasa sakit. Ia berusaha melepaskan ikatan tangannya, sebab Brian meninggalkan pisau tidak jauh dari dekatnya. Berusaha sedikit lalu ia berhasil melepaskan tangannya.


Belum semua bisa terlepaskan juga kakinya yang terikat tiba-tiba Brian datang kembali menemuinya, sontak ia terkejut pria itu sudah ada didepan.


Lalu Brian mendekati Elie, ia tahu jika wanitanya ini berusaha melepaskan diri, hingga akhirnya dia memutuskan untuk membantu membuka ikatan pada pergelangan kaki. Setelahnya ia membopong tubuh wanitanya dan membawa kedalam kamar.


Elie terus was-was jika nanti Brian melak hal bodoh lainnya. "Mau apa lagi kau Brian?"


"Ayolah sayang jangan kasar seperti itu, aku ingin mencicipi mu," ucap Brian. Elie tahu maksud dari perkataannya pria itu.


Tidak butuh waktu lama dan tidak butuh aba-aba sebab Brian sudah lama menanti ini tapi kemarahan terus menguasai dirinya. Ia melakukan seperti sudah senior dan tentunya dengan kecepatan lincah. Elie menangis dalam diam, tubuhnya yang sekarang sakit akibat ulah goresan dan sekarang ia mendapat kesakitan tapi juga kenikmatan ditempat lain.


Meski tubuhnya berada dalam dekapan Brian tapi Elie justru memikirkan sosok lain, ia menutup mata tidak ingin melihat wajah suaminya sebab ia sudah menaruh kebencian pada pria itu justru ia sedang membayangkan Kelvin yang berada diatasnya.


--------------------------------------------------


Permainan mereka sungguh melelahkan, Elie terbangun dan melihat kearah jendela, ternyata hari sudah gelap dan sedang turun hujan lebat. Setelah melakukan permainan itu ia tidak sadar dan ketiduran begitupun Brian berada disampingnya yang sudah tertidur pulas.


Elie bangun dan berjalan gontai, pelan-pelan ia merangkak, ia mengambil tas lalu mengambil beberapa bajunya untuk dimasukkan kedalam tas, sesekali ia menoleh kearah Brian, takut jika nanti tiba-tiba pria itu tersadar.


Setelah semuanya beres ia berjalan melangkah keluar dengan sangat pelan. Bekas goresan ditubuhnya masih memerah meskipun darah sudah berhenti mengalir. Entah apa tujuannya kini, ia berusaha untuk berjalan lebih cepat dan menahan kesakitan. Sampai ia berhasil memasuki mobil dan mengendarai dengan kecepatan pelan, sebab hujan yang sangat lebat membuatnya sedikit kesusahan apalagi karena kesakitan.


*******


Jika kau berusaha menyakiti orang lain, ingatlah jika karma akan datang menyertaimu, cepat atau lambat karma akan pasti membalasmu.