Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
Eps 37. Kecewa


Hari ini Reiner sudah bisa untuk kembali bekerja seperti biasa, setelah beberapa hari suamiku hanya bisa menetap di rumah. Aku sedang memakaikan dasinya begitu juga denganku, aku juga akan berkerja tapi tentunya bekerja dalam keadaan aman, karena hari ini adalah pertemuan dengan beberapa kolega termasuk dengan Perusahaan Kelvin jadi aku bisa langsung berangkat bersama suamiku dan menunggu hingga Kelvin datang ketempat.


Setelah semuanya siap tidak lupa jika suamiku memberi kecupan manis dibibir ku sebelum berangkat. Memang sudah menjadi suatu keharusan. Kami sudah memasuki mobil. Dan tidak butuh waktu lama tibalah kami ditempat Perusahaan. Kami berjalan beriringan memasuki Kantor, setibanya di dalam para karyawan-karyawan menyapa kami dengan memberi hormat. Kerinduanku akan Perusahaan ini, menyimpan banyak kenangan, dari mulai aku benci sampai aku jatuh cinta sedalam ini.


Aku dan Reiner sudah memasuki ruangan, dia langsung membuka layar monitornya dan sibuk bekerja begitupun dengan aku, kami sangat fokus jika berkaitan dengan pekerjaan, bagi kami urusan pribadi dan pekerjaan itu tidak bisa di gabungkan. Sedang fokusnya bekerja tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


Tok tok tok.


"Masuk!"


Rupanya Kelvin, memang aku sudah memberitahukannya jika aku langsung menuju kesini untuk membahas masalah proyek kedua Perusahaan ini. "Selamat siang Bos dan Hay Zoya cantik ...," ucap Kelvin dan berjalan melangkah mendekati kami. Reiner bangun dari duduknya. "Barusan bilang apa? Zoya cantik, ngga lihat ini disampaikannya siapa!" Terlihat jelas jika suamiku kesal, rahangnya mengeras.


"Reiner ... Reiner, bercanda doang ah sensi banget sih" ucap Kelvin dan duduk di depan kami. "Ehmm ... Udah mending kita mulai terus deh," ungkapku mencoba menenangkan keadaan, sebab terlihat suamiku sudah melotot kan matanya kearah Kelvin. Ia menarik nafas berat.


"Baiklah kita akan mulai," ucap suamiku. Dan setelahnya kami sudah fokus membahas tentang pekerjaan, tidak ada tanda bercanda saat itu, tapi keseriusan dan ketegangan lah yang tercipta.


------------------------------------------


Hari menjelang sore, waktu untuk pulang pun tiba, Kelvin yang sudah duluan pulang sejak tadi, aku dan Reiner sedang berjalan kearah mobil. Setelahnya kami memasuki mobil dan di dalam itu tidak ada perbincangan menarik diantara kami mungkin karena sama-sama kelelahan, hari ini pekerjaan Kantor cukup banyak dan menguras semua tenaga dan pikiran, sebelum pulang kami memutuskan untuk mampir di Mall hanya untuk membeli beberapa bahan belanja untuk memasak.


Saat kami ingin masuk, tiba-tiba kami berpapasan dengan seorang wanita yang tidak lain Elie, ia memandangi aku juga suamiku dengan tajam, mata yang rasanya ingin keluar karena melotot. "Sayang, udah jangan lihat dia mendingan kita langsung masuk," ungkap Reiner lalu menggandeng tanganku membawa masuk, saat kami sudah berjalan aku menoleh kebelakang dan melihat wanita itu masih melihat kearah kami.


Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkan wanita itu, tanpa ku pikirkan lagi aku langsung mengambil beberapa barang yang diperlukan dan membawanya ke kasir. Setelah semuanya selesai kami langsung menuju parkiran dan ingin pulang. Suamiku mengendarai mobil dengan pelan. Tiba-tiba suara getaran ponsel membuatku tersentak. Drett! Satu pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.


Lalu kembali ponselku bergetar dan untuk ketiga kalinya, karena rasa penasaran aku pun membukanya. Deg! Astaga. Betapa terkejutnya aku sebuah pesan masuk, tapi isi membuatku muak, bagaimana tidak muak jika isinya suamiku sendiri bersama wanita lain. Dan tidak berpakaian. Aku melihat kearah lain berusaha menyembunyikan kalau air mataku mengalir.


Aku tidak menunggu Reiner membukakan pintu mobil, yang biasanya dia lakukan, aku langsung mendahuluinya tanpa melihat kebelakang, aku berjalan lebih cepat dan memasuki kamarku yang dulu bukan Kamar kami sekarang, tidak lupa menguncinya. "Sayang! Kau sedang dimana?" Terdengar jika dia sedang memanggilku.


Aku terus menangis sambil memperhatikan gambar itu, dan tiba-tiba sebuah pesan kembali masuk lalu dengan tergesa aku membukanya. “Bagaimana menarik bukan? Apa kau mau jika gambar yang lainnya aku kirim? Hahahaha sepertinya kita memang harus bertemu jika memang kau ingin melihat lebih banyak gambar diriku bersama suamimu dan kau harus tahu jika aku sudah tidur! Dengannya hahaha, by Elie,” itulah pesan yang kudapat.


Tanganku bergetar dan seketika ponselku jauh, aku terduduk dengan lesu membayangkan isi pesan dari Elie, dan aku terus menangis, rasa sakit di hatiku mengingatnya. ‘Bapa, kenapa aku harus selalu tersakiti seperti ini, apa salahku dulu di masa hidupku yang sebelumnya? Aku lelah terus tersakiti seperti ini.’


Aku menangis tersedu-sedu dan menyalahkan diriku sendiri jika memang dimasa hidupku dulu aku yang menyakiti. Rasa cintaku yang sangat dalam dengan seketika ia hancurkan, diluar sana ia terus memanggilku, hingga akhirnya dia tahu jika aku berada di kamar yang lain. Ia mengetuk pintu tapi aku tidak peduli.


"Sayang! Hey kau kenapa? Keluarlah, kenapa tiba-tiba seperti ini?" ungkap suamiku yang masih bisa kudengar. Terus-menerus dia mencoba untuk mengetuk pintu tapi aku sama sekali tidak peduli. "Sayang! Kau menangis! Ayolah ada apa ini sebenernya sayang? Jika memang ada sesuatu katakanlah jangan berdiam diri dan menangis seperti itu kumohon," Ia terus membujukku.


Tetap aku tidak ingin keluar dan ingin berdiam diri dulu di sini, suara tangisanku sudah pasti terdengar kepadanya. Dan lagi sebuah pesan masuk dari nomor yang sama, aku mengambil dan melihat ponselku, ingin aku tidak membukanya tapi sungguh rasa penasaranku sangat besar, perlahan aku membukanya.


Ini lebih membuatku terkejut, sebuah gambar yang kudapat sangat mengerikan dari sebelumnya, gambar itu berisikan sebuah fotoku dengan Reiner, tapi dibagian wajahku dia menusuknya dan mewarnainya dengan warna merah darah. Hingga membuatku bergidik ngeri. Apa maksudnya kali ini aku sungguh tidak mengerti.


Saat aku sedang meratapi kesedihanku terdengar suara kunci pintu yang sedang dibuka, aku tahu jika dia menemukan kunci cadangan. Reiner berjalan melangkah mendekat kearahku, cepat-cepat aku mematikan ponsel dan menyembunyikannya. Ia berlutut didepan aku yang sedang terduduk.


"Sayang kenapa menangis? Katakan jika kau punya masalah," ungkap Reiner dengan suara lembut. Aku hanya menggelengkan kepalaku berniat tidak ingin berbicara apapun dengannya. Ia mendekatkan dirinya dan memelukku, dengan cepat aku menolaknya hingga membuat ia terduduk.


"Sayang, ada apa ini sebenarnya? Aku tidak ingin kamu hanya diam! Bicaralah agar aku tahu," ucap Reiner dan mengusap wajahnya dengan cepat, nafasnya yang memburu cepat, dan ia kembali mendekat kearahku dan duduk di sampingku yang sedang menangis.


*****


Pertengkaran adalah bumbu agar suatu hubungan terasa manis, namun tentunya bijaklah saat menghadapi sebuah pertengkaran, jangan sampai sebuah pertengkaran justru membuat suatu hubungan kandas ditengah jalan, sebab sebaik-baiknya pertengkaran ialah mereka yang tidak memutuskan hubungan.