
H A P P Y R E A D I N G
“ Benar-benar aneh, adik? Hah! Adik macam apa yang sengaja dibuang, bahkan kepada pelayan. Sungguh menjijikkan, aku tidak ingin melihatmu. Kenapa sekarang kita bertemu? Ini mustahil, mustahil! Kamu bukan kakakku, kita tidak kenal. Kalian sengaja membuang ku.“
“ Claudia, aku tidak sedang bermain-main, sungguh! Kita adik-kakak tapi, maafkan semua kesalahan ibuku. Dia waktu itu dalam keadaan emosi yang tidak stabil. Namanya perempuan sudah pasti tidak suka jika ada perempuan lain dalam rumah tangganya. Maaf, sebelumnya Ayah yang telah memberikan keturunan kepada ibumu dengan cara yang tidak bagus tapi, meskipun begitu kami sekarang ingin kamu kembali,” ungkap Alvero.
“ Apakah semua itu benar? Lalu jika aku kembali apakah Ibumu akan menyukaiku? Bagaimana jika dia tidak suka?” tanya Claudia cemas.
“ Jangan khawatirkan semua itu yang jelas selama ada aku dan Ayah. Adikku tidak akan terluka sedikitpun bahkan ku pastikan Ibu tidak berani berbuat buruk padamu. Jadi bagaimana Claudia, apa kamu mau untuk kembali bersamaku? Kita akan memulainya dari awal, dan tentu saja kamu akan mendapatkan posisi yang tepat di perusahaan. Aku akan menjaminnya.” Alvero tulus.
“ Baiklah aku akan mencobanya tapi, mengenai posisi di perusahaan aku sama sekali tidak tertarik. Kau tahukan kalau aku hanya ingin menjadi Dokter? Dan sekarang cita-citaku sudah tercapai meskipun honorku belum seberapa,” respon Claudia.
“ Baiklah aku mengerti. Aku akan membelikan satu rumah sakit untukmu. Supaya kamu bisa mengelolanya dengan baik tanpa perlu lagi takut dengan honor yang kecil,” ucap Alvero dengan pemberian yang begitu fantastis.
“ Wah ... Kau serius?! Asyik ... Akhirnya aku bisa mendirikan rumah sakit atas namaku sendiri. Terima kasih, kakak. Aku akan ikut denganmu,” sahut Claudia dengan ceria sembari memberikan pelukan untuk Alvero.
‘ Ini benar-benar seperti mimpi. Aku sekarang sudah memiliki kakak bahkan kehidupan yang lebih baik tanpa harus banting tulang lagi sendirian tapi, bagaimana dengan Steve? Seperti ucapan Steven, Viora, dan Kelvin. Mereka begitu membenci kakak lalu bagaimana aku harus menjelaskan semuanya kepada mereka? Ah! Ini benar-benar rumit,’ batin Claudia dalam pelukan Alvero.
Alvero juga begitu senang, ia bahkan membalas pelukan sembari mengusapkan rambut Claudia dengan penuh kasih sayang.
‘ Yang tidak terduga-duga akhirnya terjadi. Sungguh takdir yang indah. Sebaiknya aku harus cepat membawa Claudia pulang kerumah,’ batin Alvero.
“ Claudia, ayo kita siapkan semua barang-barangmu lalu setelah itu kamu akan tinggal di rumah barumu,” ajak Alvero.
“ Baik, Kak. Pakaianku sekarang semuanya ada di hotel."
“ Baiklah kita akan kesana.”
Alvero merangkul bahu Claudia sembari berjalan dengan penuh senyuman bahkan sesekali mereka bersenda gurau sampai tidak terasa sudah tiba di hotel.
...----------------...
Mobil Alvero memasuki halaman kediamannya. Alice mendengar jika mobil Alvero sudah tiba akhirnya dia menunggu di depan pintu gerbang. Namun, saat Alvero keluar dari mobilnya, ia melihat bahwa wajah pria itu tersenyum tiada hentinya.
“ Dasar! Keluar dari mobil aja senyum-senyum sendiri kaya orang gila,” gumam Alice merasa aneh.
Alvero langsung membukakan pintu mobil lainnya untuk Claudia. Saat adiknya turun mata Alice melotot saat menatap seorang wanita yang tidak asing baginya.
‘ Claudia? Mau apa dia kesini? Apa sekarang dia mencoba untuk menggoda Alvero setelah Steven? Benar-benar wanita menjijikkan,’ batin Alice kesal.
Sama halnya dengan Claudia, ia juga terkejut saat menyadari Alice ada di rumah kakaknya. Menarik nafasnya memburu sembari memberikan tatapan sinis.
‘ Wanita itu! Dia yang sudah membuat hubunganku dengan Steven berantakan. Dasar pelakor! Berani sekali dia menampakkan wajah perusak 'nya itu di rumah kakakku!’ batin Claudia.
Alvero langsung menggenggam tangannya Claudia. Lalu ia berdiri tepat di hadapan Alice. Namun, kedua wanita itu langsung memasang wajah kesal saat berhadapan. Alvero pun menyadari jika kedua wanita yang akan hidup dengannya seperti ingin memulai perang.
“ Ehem! Pelayan! Tolong ambilkan barang-barang di dalam mobil. Lalu setelah itu langsung susun yang rapi di kamar tamu. Oh ya, ayo kita masuk, Claudia, Alice.”
“ Alvero, apa ini a-adikmu?!” tanya Ayah dengan gelagapan.
Alvero menganggukkan kepalanya. “Ya, Papi. Dia adalah adikku. Aku sudah berjanji untuk membawanya jadi sekarang aku sudah memenuhi janjiku."
‘Adik? Enggak salah? Bencana nih,' batin Alice tercengang mendengarnya.
“ Ya ampun! Kamu begitu cantik, Nak. Siapa namamu? Oh ya, bolehkah kalau Papi memelukmu?"
“ Namaku Claudia Siregar, Om. Boleh kok.”
“ Nama yang indah sekali. Oh ya, Nak. Tolong maafkan Papi yang tidak tahu mengenai dirimu. Bahkan Papi sungguh tidak tahu jika ada gadis perempuan secantik kamu. Peluk Papi dong, Nak.”
“ Aku paham, Papi.” Claudia memeluk papanya.
“ Bagaimana kalau namamu di ganti dengan marga dari keluarga Xizing? Menjadi Claudia Li Xizing? Kau suka?” tanya Papi.
“ Ya-ya baiklah, Claudia tidak masalah.”
“ Sungguh anak yang pintar. Besok kau akan menduduki perusahaan bersama kakakmu,” ucap Papi.
“ Aku tidak mau semua itu, Papi. Cukup belikan satu rumah sakit untukku,” sahut Claudia dengan tersenyum.
“ Ah! Begitu baiklah, Nak.”
‘Beli rumah sakit? Di kira kaya beli jagung bakar murah. Dasar baru masuk kesini udah minta ini minta itu,’ batin Alice.
Semua orang tersenyum begitupun dengan Alice yang pura-pura ikut bahagia. Kedua wanita itu juga saling memeluk di depan Alvero dan papanya.
“ Ayo kita bicara empat mata,” ucap Claudia dengan pelan saat memeluk Alice.
“ Baiklah.”
Mereka berdua pun meminta izin untuk pergi berdua meskipun bersikap pura-pura baik terlebih dahulu. Alvero memberikan izin walau ia sedikit khawatir. Claudia bersama Alice, langsung berjalan menjauh dari semua orang. Saat pergi bersama mereka saling merangkul namun, di saat sudah menjauh justru mereka saling melepas rangkulan dengan kasar.
“ Ngapain Lo ada di rumah kakak gue? Apa enggak cukup puas Lo udah manfaatkan Steven?” tanya Claudia dengan kasar.
“ Heh! Enggak usah belagu! Belum aja genap sehari masuk kesini udah sok-sokan jadi penguasa pakai acara minta beli rumah sakit lagi,” sahut Alice yang tidak ingin kalah.
“ Lo tuli ya? Gue bilang apa Lo jawabnya apa. Selama gue ada di sini jangan harap Lo akan tenang! Ingat satu hal. Jangan main-main sama Claudia. Lo belum tahu gue sejahat apa. Dasar! Wanita menjijikkan. Gue tahu Lo lagi hamil ya? Gue enggak akan diem buat hancurin Lo karena Lo udah hancurkan hubungan gue sama Steven,” ancam Claudia.
“ Gue enggak takut ancaman busuk mu itu. Jangan terlalu berbangga dulu, Claudia.” Alice tegas.
...----------------...