Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
1~ S2 Weekend berbahagia


(Reiner Zoe Notern)


Weekend tentunya menjadi hari yang indah, bagaimana tidak itulah kesempatan untuk berlibur atau bersantai bersama keluarga. Seperti yang sedang kulakukan saat ini berlibur di taman kota yang tidak terlalu jauh.


Di temani oleh istriku, Steven, dan Brian. Kami berempat sepakat untuk menenangkan pikiran sejenak saat hari libur tiba. Tidak di temani oleh keluarga yang lain sebab mereka belum kembali dari acara pernikahan Kelvin bersama dengan Viora.


Brian akhir-akhir ini telah berteman baik dengan keluargaku meskipun kami semua juga harus waspada dengannya agar tidak membuatnya emosi. Ia sedang duduk menyendiri dan hanya di temani dengan ponsel yang berada di telinganya, entah sama siapa ia berbicara begitu lama. Sedangkan Zoya yang sedari tadi sedang menuangkan susu kedalam sop buah yang sedang ia buatkan untuk kami semua.


Berbeda dengan Steven yang sedang duduk bersamaku. Ia terlihat gelisah entah apa yang ia pikirkan saat ini. Aku penasaran dan berniat bertanya padanya.


“Stev, Lo kenapa, apa ada masalah? Gua lihat dari tadi Lo nggak senang sedikitpun.”


“Ngga ada sih cuma ... gua lagi bingung aja,” sahut Steven tidak semangat.


“Bingung? Lo kalau ada masalah cerita aja sama gua.”


“Bro, gua kayaknya besok ngga bisa masuk kerja ya jadi gua mau minta cuti sama Lo. Yah kira-kira sekitar satu mingguan 'lah,” pinta Steven tiba-tiba.


“Bentar! Lo tiba-tiba bilangnya bingung terus sekarang Lo minta cuti. Gua sendiri yang dengernya malah tambah bingung. Gini deh kalau emang Lo ada masalah langsung cerita aja kali aja gua bisa bantuin Lo.”


“Gua mau cari Claudia, kemarin dia tinggalin surat buat gua katanya sih mau balik ke Medan sama kakak sepupunya. Tapi, gua bingung dia itu beneran kesana apa bukan soalnya keluarganya udah nggak ada lagi si sana dan entah kemana gua sendiri ngga tahu.” Steven menceritakan apa yang menjadi masalahnya.


“Oh jadi maksudnya Claudia pergi terus dia nggak ajak kamu gitu?” timpal Zoya seraya memberikan sop buah padaku.


“Iya Zoya. Gua sendiri ngerasa aneh gitu. Jadi gua mau minta cuti sama kalian untuk cari mereka,” sahut Steven bingung.


“Ya udah Steven, kalau gitu biar kita bantu carikan Claudia, jadi kamu nggak ngerasa sendirian.” Betapa baiknya hati istriku berniat membantu sahabatku.


“Eh jangan-jangan! Gua ngga mau bikin repot apalagi dalam keadaan hamil besar seperti ini. Ngga apa-apa kok Zoya, Lo cukup doain aja supaya gua bisa cepet-cepet tahu di mana mereka. Sebab gua ngerasa ngga enak sebagai kakak yang ngga becus jaga adiknya.” Steven bahkan menyalahkan dirinya.


“Ya udah Steven, nanti kalau kamu perlu sesuatu tinggal hubungi saja suamiku. Kami pasti selalu siap membantumu,” ungkap Zoya seraya tersenyum.


“Terimakasih banyak, Zoya. Kalian emang sahabat yang paling baik buat gua.”


Kami semua tersenyum bahagia sembari menikmati sop buah yang sudah di sajikan oleh istriku. Tiba-tiba Brian datang dengan senyuman terpancar di wajahnya, seakan seperti orang yang sedang jatuh cinta.


“Kenapa Lo datang-datang senyam-senyum? Nih makan ini dulu,” tanyaku sembari memberikan sop buah padanya.


“Lo kayak ngga pernah jatuh cinta aja ... Brian, Lo habis ngobrolin tentang mesum yah sampai Lo ngga berhenti senyum begini?” timpal Steven seenaknya.


“Gua bentar lagi mau nikah! Berhubung kita lagi di sini pacar gua lagi di jalan mau kesini,” sambung Brian dengan ceria bahagianya ia.


“Nikah?! Kapan Lo punya pacar udah langsung nikah aja, tapi selamat yah brother. Gua turut senang.” Steven mendadak kaget tapi setelah itu dia kembali normal.


“Wah asyik dong jadi nanti aku bakalan ada teman. Jadi ngga sabar mau lihat istri kamu, Brian,” sahut Zoya yang juga bahagia.


“Selamat ya brother, semoga dengan pilihan Lo yang sekarang Lo bisa bahagia,” sahutku.


“Terimakasih semuanya. Buat Lo Zoya dan Reiner semoga Debay kembar cepat lahir dan nanti setelah gua nikah bisa cepat-cepat nular ke gua. Dan buat Lo Steve, udah sana cari bini betah banget Lo hidup jomblo.”


Ucapan Brian membuat kami semuanya tertawa apalagi saat ia meledek Steven, hingga membuat wajah Steven sedikit kesal.


Steven dan Brian sudah berteman, tapi Steven tidak mengetahui jika temannya itu adalah mantan suami Eliezer. Pertemuan mereka hingga menjadi teman di sebabkan olehku. Mereka sudah layaknya sahabat yang selalu ada untukku, setiap apa yang ku butuhkan selalu bisa mereka bantu.


Apalagi Brian, ia sudah bertobat dan ingin menjadi orang normal yang hanya punya cinta dan keluarga. Itu sebabnya ia sedang menjalankan perawatan diri untuk bisa membuatnya mengendalikan diri saat dirinya emosi. Meskipun kami selalu harus tetap berhati-hati agar tidak membuat piscyo dalam dirinya bangkit hingga menimbulkan korban.


Itulah mengapa kami semua bisa berkumpul saat ini. Kebahagiaan yang sempurna hanyalah bisa bersama dengan orang-orang tersayang dan bisa membuat mereka bahagia itulah kebahagiaan sesungguhnya.


Semuanya sedang sibuk bercerita banyak hal sampai sesekali tertawa terbahak-bahak. Namun, kesenangan kami berhenti sementara sebab sebuah mobil tidak jauh berhenti dan Brian langsung berlari menghampiri.


“Pasti itu pacarnya, kayaknya senang banget itu anak,” ucap Steven yang langsung menebak.


“Keliatannya sih iya tapi siapa ya pacarnya kok Brian malah masuk ke mobil bukannya langsung ajak pacarnya kesini?” tanya Zoya penasaran.


“Aduh sayang ... Kamu ini kayak ngga tahu aja. Udah jelas dong Brian masuk ke mobil dulu pasti mau ambil enak-enak dulu sama pacarnya, kalau nantikan udah ngga bisa ngapa-ngapain ada kita. Udah jangan bahas mereka, mending kita tunggu aja mereka kesini kasian Steven jomblo yang ada ngiler dia pengen nikah,” sahutku sengaja meledek Steven.


“Astaga Rei ... Lihat tuh Zoya, suami kamu kayak ngga betah hidup lagi pengen gua bunuh tahu! Untung gua orang paling baik di antara kalian ini. Sabar Steven, sabar .... Ujian setan emang berat,” sahur Steven yang tidak ingin mengalah seraya mengusap-usap dadanya.


“Apa Lo kata ujian setan? Berarti Lo anggap gua setan dong! Sialan kesini Lo kalau berani tantang gua!” Bentakan dengan sedikit bercandaan membuat Zoya menggeleng-gelengkan kepala melihat kearahku.


“Lihat nak, kedua orang bodoh ini saling mengejek satu sama lain,” sahut Zoya berbicara dengan perutnya.


* * *


Menurut kalian siapa pacar Brian? Sertakan dukungan jika berkenan. Salam sayang ~ Meldy Ta.