
H A P P Y R E A D I N G
” Gue enggak takut ancaman busuk mu itu. Jangan terlalu berbangga dulu, Claudia.” Alice tegas.
“ Jadi begitu ya? Lo enggak takut dengan gue? Wow hebat sekali tapi, ingat jangan sampai Lo menangis nantinya karena bagaimanapun juga gue yang akan menggagalkan segala cara buat Lo bahagia. Lo harus ngerasain gimana sakitnya kecewa dengan orang yang selama ini Lo cinta. Ah sudahlah gue muak lihat wajah pelakor kaya Lo,” hardik Claudia yang langsung pergi meninggalkan Alice.
“ Ternyata dia cukup berani. Sebaiknya aku harus mengajak Bunda untuk membuat dia bisa pergi dari rumah ini. Kalau tidak maka hubunganku akan hancur,” gumam Alice.
Alice pun kembali ketempat semula. Saat Alice kembali dengan sengaja Claudia mendekatkan dirinya lebih dekat kearah Alvero agar Alice tidak di pedulikan.
Claudia mengalungkan tangannya di leher kakaknya begitupun dengan Alvero memengang pinggang ramping Claudia. Ia sengaja di depan Alice, agar wanita itu cemburu.
“ Kakak, bagaimana kalau kita senang-senang nanti malam di Club? Kau tahu? Aku sudah lama tidak pergi kesana,” ucap Claudia dengan khas manja.
“ Oh ya baiklah. Untuk adikku akan kulakukan,” sahut Alvero mengiyakan.
Mendengar hal itu Alice langsung berdiri di hadapan mereka berdua dengan wajah kesal. “ Kalian mau kemana? Aku ikut.”
“ Hey! Bagaimana mungkin kau ikut dengan keadaan berbadan dua seperti itu? Jangan aneh-aneh, Alice.” Alvero menjawab.
“ Aku sungguh ingin ikut. Lagipula aku tidak akan minum-minum hanya ingin melihatmu saja.”
“ Oh ... begitu. Kakak, lihatlah sepertinya dia sedang cemburu denganmu. Kau pergi sebentar saja dia ingin ikut. Ayolah kakak ipar, tunggulah di rumah karena kami hanya pergi sebentar,” timpal Claudia sok baik.
“ Aku bilang ikut berarti aku ikut!” bentak Alice.
“ Aku tidak bisa membawamu, Alice! Jangan keras kepala!” bentak Alvero.
Alice yang kesal langsung pergi meninggalkan mereka berdua. Saat itu juga Claudia melepaskan dirinya untuk sedikit menjauh.
“ Kakak, apa kalian berdua sudah menikah?” tanya Claudia.
“ Belum, kami hanya terikat karena anak dalam kandungan Alice. Lagipula aku belum mencintainya,” sahut Alvero.
“ Oh ... Begitu. Ya sudah lebih baik kakak bermain-main saja dengan wanita lain hehe. Eh! Aku hampir lupa. Aku ingin meminta izin, tolong berikan aku restu untuk menikah bersama Steven.”
“ Sayang, apa tidak ada pria lain selain dia? Aku mendengar namanya saja sudah membuatku muak. Lagipula kau tahu jika Steven bersama Alice sudah menghancurkan kepercayaan kita. Mereka bahkan saling berhubungan sejauh mungkin.”
“ Tapi, Kak. Aku tahu jika Steven juga salah tapi, waktu itu dia tidak sengaja berhubungan dengan Alice. Mereka hanya terjebak dalam keadaan saja meskipun Alice yang menggoda pacarku terlebih dahulu. Lagipula aku sudah memberikan hukuman untuk Steve.” Claudia membela.
“ Claudia, lain kali kita bicarakan persoalan Steven. Sudah jangan membahas dia lagi. Sebaiknya kita masuk kedalam, ayo.”
Claudia kesal karena kakaknya dengan sengaja menggantungkan pembicaraan mereka. Meskipun begitu ia tetap akan berusaha nantinya. Saat tiba di dalam ponsel Claudia berdering. Ia langsung melihat panggilan dari Steven.
‘ Duh ... Pasti Steven khawatir karena aku sudah begitu lama pergi apalagi dia tahu jika aku pergi menemui Alvero. Sebaiknya aku harus kembali ke rumah sakit,’ batin Claudia.
Alvero pun merasa curiga saat Claudia mendapatkan panggilan namun, raut wajahnya langsung berubah gelisah.
“ Sayang, kamu tidak apa-apa?” tanya Alvero.
“ Tidak, Kak. Oh ya, aku sekarang harus pergi jadi mungkin aku akan kembali nanti malam. Setelah itu kita akan langsung pergi ke Club, bolehkan, Kak?”
“ Um, baiklah. Apa perlu aku antar?” tanya Alvero.
“ Ah tidak perlu, Kak. Aku akan naik taksi. Lagipula nanti sekalian aku akan mengambil mobilku. Ya sudah aku pergi dulu ya. Salam kepada Mama,” pamit Claudia sembari melambaikan tangannya.
...----------------...
(Rumah sakit)
Tiba di rumah sakit, Claudia langsung berlari masuk kedalam ruang inap Steven. Saat melihat dirinya, semua orang di sana begitu cemas.
“ Ball, kau bahkan tidak menjawab teleponku, ada apa yang terjadi? Apa Alvero berbuat macam-macam denganmu?” tanya Steven cemas.
“ Jika dia berbuat aneh katakan saja, Claudia. Supaya kami tidak khawatir denganmu. Apalagi kau tahu dia pria yang kejam,” timpal Alice.
“ Ehem! Pria kejam? Wah istriku sangat mengenal pria itu,” ledek Kelvin.
“ Apa sih? Aku lagi serius!” kesal Viora saat Kelvin terus mencoba mengoloknya.
“ Pookie, lebih baik kita keluar. Biarkan mereka berdua di sini. Steven, Claudia. Kami cari angin bentar ya.”
Kelvin bersama Viora pun langsung pergi meninggalkan dua orang pasangan kekasih. Claudia pun dengan tiba-tiba memberikan pelukan kepada Steven. Hingga membuatnya kebingungan.
“ Ball, apa kamu sedang sakit?” tanya Steven sembari mengecek suhu.
“ Aku begitu normal, Baly!” sahut Claudia.
“ Lalu kenapa tiba-tiba kamu memelukku, Ball? Bukannya kamu sedang marah? Apa mungkin terjadi sesuatu denganmu sampai akhirnya kau tidak tahu caranya meminta maaf padaku lalu terlebih dahulu menggodaku agar aku memaafkan mu, begitu?”
“ Hey! Bisa tidak pikiranmu berpikir waras sedikit?! Baly ... Aku tidak sedang bermimpi 'kan?”
“ Lihat. Kau bahkan bertanya begitu aneh padaku, Ball.”
“ Ehem! Hamil 'kan aku sekarang cepat!" paksa Claudia.
“ Ball, apa aku harus memanggil Dokter untukmu? Kamu begitu aneh.” Steven terheran-heran.
“ Aku tidak bohong, Baly. Cepat hamil 'kan aku sekarang cepat!"
Steven merasa heran dengan permintaan konyol dari Claudia. “ Ball, perkara itu tidak sulit tapi, tolong katakan terlebih dahulu sebenarnya ada apa?”
Claudia terdiam sejenak sambil berpikir hingga akhirnya Claudia berkata. “Alvero adalah kakakku. Ternyata kami satu Ayah. Jadi jika kamu memang mencintaiku maka hamil 'kan aku.”
“ Apa kamu sedang bermain lelucon denganku, Ball? Ayolah ini sungguh tidak mungkin.”
“ Baly, aku tidak berbohong denganmu. Aku sudah katakan dia adalah kakakku. Jadi hubungan kita akan terancam! Ceritanya panjang sekali jadi aku tidak perlu menceritakannya. Karena bagaimanapun juga dia tetap kakakku. Ayolah hamil 'kan aku.”
“ Ya-ya baiklah tapi, setidaknya tunggu aku keluar dari rumah sakit dulu,” sahut Steven sembari menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
“ Terima kasih, Ball. Baiklah aku akan panggilan Dokter dan bertanya mengenai kesehatanmu. Jika nantinya sudah bisa pulang berarti kita langsung pulang saja.”
Tanpa menunggu sahutan terlebih dahulu dari Steven. Claudia langsung melangkah pergi.
“ Astaga! Bagaimana ini bisa terjadi? Ah sial! Pria itu terus saja ada di sekeliling ku bahkan dia menjadi kakak dari kekasihku. Oh ya ampun! Ini mustahil untuk ku ingat,” gumam Steven.
Saat itu juga Steven langsung menghubungi Viora bersama Kelvin untuk kembali masuk kedalam.