
Happy reading.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Reiner mengambil ponsel yang diberikan oleh istrinya, ia melihat lalu mengamati setiap photo yang di scroll. Dahinya mengkerut, rahangnya mengeras, Zoya menyadari jika suaminya sedang menyimpan kemarahan yang sangat dalam saat melihat photo tersebut.
"Sialan!" bentak Reiner.
Reiner mengusap wajahnya dengan kasar, nafasnya tidak beraturan, ia terus memandangi istrinya. Lalu cups! Satu kecupan mendarat dibibir manis Zoya.
"Sayang, jadi selama ini kau menyembunyikannya ini dariku tanpa kau tanya terlebih dahulu, aku bisa menjelaskannya," tutur Reiner.
Zoya menundukkan kepalanya. "Aku yang salah mas, seharusnya aku tidak perlu marah saat melihat kenangan masa lalu kalian, maafkan aku."
Dengan cepat, Reiner memengang wajah Zoya, lalu membawanya menatap kearahnya. "Lihat aku yang, aku bisa jelaskan semuanya, yang kau lihat memang ada tapi sungguh aku belum pernah melakukan penyatuan selain denganmu, kumohon percayalah," cakap Reiner.
"Sudahlah mas, aku ikhlas, sebab itu masalalu mu, aku sama sekali tidak bisa merubah masalalu mu, dan juga seharusnya aku tidak boleh egois seperti ini, sahut Zoya, matanya berkaca-kaca, sudut bibirnya bergetar menahan tangis.
Reiner menyadari jika istrinya sedang menahan tangis, lalu dengan perlahan ia membawa istrinya kedalam pelukannya, dengan sekejam pecahlah suara tangisannya Zoya. "Menangislah yang, maafkan aku."
‘Bedabah kau Elie! Rupanya kau memang tidak main-main denganku, aku tidak akan memaafkan mu, akan ku balas setiap tangisan yang keluar dari mata istriku,’ batin Reiner.
Saat Zoya berada dalam pelukannya, dan terus mengusap lembut punggungnya, sembari menunggu istrinya tenang. Namun pikiran Reiner tidak tenang, hatinya terus mengamuk menyebut nama Elie.
Reiner mengingat photo tersebut, memang ia pernah bermalam dengan Elie dulu sewaktu masih berhubungan tapi tidak sampai mereka melakukan penyatuan apalagi sampai menyimpan photo seperti itu, dan lagi jika memang itu bener terjadi, justru ia tidak melupakannya.
Tiba-tiba terlintas dipikirannya. ‘Oh no, I thought back, son of a bi*ch,' batin Reiner.
Bisa-bisanya ia melupakan kejadian yang membuatnya harus berpisah beberapa saat dengan istrinya, kejadian saat Elie menyekapnya.
Zoya terus menangis tersedu-sedu, sedangkan Reiner masih mencoba menenangkannya sembari pikirannya sedang kacau. Lalu Zoya meredam suara tangisnya, dan menatap wajah suaminya yang begitu tampan rupawan seperti seorang aktor Lee min ho.
"Sayang, kau sudah merasa tenang?" tanya Reiner.
Zoya pun mengangguk, meskipun ia sebenarnya masih ingin menangis tapi itu percuma membuang-buang air mata dan tenaga. Ia lebih memilih berada dalam pelukan suaminya seperti itu, terasa hangat dan nyaman.
"Mas, aku ingin tidur ...." Pinta Zoya.
Reiner menatap lekat wajah istrinya, tetesan air mata masih mengalir perlahan. "Kau ingin tidur sayang? Baiklah ayo."
Saat Zoya ingin bangun, lalu dengan cepat Reiner membopong tubuh istrinya, dan mereka beranjak dari balkon menuju ketempat tidur.
Reiner lalu merebahkan tubuh istrinya, ia pun mengikut berbaring disamping istrinya. Mereka akhirnya saling menghangatkan satu sama lain.
Tidak henti-hentinya Reiner mengusap rambut pirang Zoya. Ia menarik nafas dalam-dalam. "Sayang, aku ingin mengatakan tentang photo tadi apa masih bisa?"
"Bagus sayang, aku suka sikapmu, baiklah akan kukatakan semuanya," ucap Reiner.
"Ceritakan cepat mas aku penasaran, buat aku percaya denganmu jika memang kau tidak melakukan penyatuan dengannya," pinta Zoya.
"Ia sayang, akan ku ceritakan," sahut Reiner.
Flashback.
Wanita itu mendekat kearahku tanpa selembar benangpun. " Apa yang ingin kau lakukan wanita iblis ....?" Reiner kesal. Ia perlahan membuka penutup atas ku.
"Hanya ingin bermain sayang, tenanglah," ucap Elie dan terus melakukan tujuannya.
Aku berusaha menghindar tapi tidak bisa dia mengambil gunting dan terbuka. "Arrghhh ... Kau, kau ingin bermain? Tapi aku tidak akan bermain denganmu dan jangan harap kau bisa puas!" Reiner geram.
"Ayolah sayang lihat sini dong satu, dua ... Cekidot! Apa ini bagus sayang? Tapi menurutku tidak, kita akan mencoba lagi," ucap Elie sambil menunjukkan hasil photo padaku dan ia ingin mencobanya lagi.
Beberapa kali pun Elie mengambil gambar yang diambilnya, ia membuat berbagai macam gaya dengan sendirinya sampai ia benar-benar senang, perlahan ia menjauh dariku dan kembali memakai pakaiannya. "Sayang sepertinya cukup aku juga sangat lelah hari ini dan kau lihat gambar kita bagus tidak?" ucap Elie sambil memperlihatkan padaku.
"Mau kau apakan gambar itu Elie, jangan membuat hal bodoh!" Aku tidak yakin jika dia akan mendengarkan ucapanku. Dia justru terkekeh mendengarnya. "Sayang ini bukan hal bodoh justru ini yang sangat menarik, kau tahu jika nanti istrimu melihat ini aku sangat senang Reiner melihat kalian menderita!" ucap Elie murka.
Aku tidak habis pikir dengan wanita satu ini dia sangat jahat dan licik. "Elie, ku mohon jangan perlihatkan gambar itu kepada istriku, kau boleh menyakitiku tapi tidak dengan dia atau kau ingin meminta sesuatu katakan," aku mencoba membuatnya agar mau bernegosiasi. Dia justru menatapku heran. "Apa keuntungan yang akan kudapatkan dengan mendengarkan mu?" ucap Elie.
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya dia mau. " Kau inginkan apa? Tapi tolong jangan sampai istriku melihatnya," ucapku mencoba memastikan. Bukannya dia menjawab malah menertawai ku.
"Hahaha Reiner, Reiner tidak semudah itu sayang, kau ingin mengelabuhi ku ya? Kasihan sekali aku tidak mudah tergoda kecuali dengan dirimu dan uang!" ungkap Elie.
FlashOn.
"Karena itulah yang, dia memaksaku agar mau berpose dengannya tapi aku tidak mau, lalu bagaimana lagi sebab tanganku terikat dan tidak bisa melakukan apapun," ungkap Reiner kembali.
Zoya tidak menjawab, ia hanya terdiam dan menatap wajah suaminya.
"Kau tahu, bahwa aku sudah sangat mencintaimu yang, dulu berkali-kali aku mencoba untuk menghilangkan rasa cintaku tapi itu tidak mempan sebab aku sudah sangat tertarik denganmu, kau percayakan? Kalau aku memang belum pernah menyentuhnya sedemikian, saat kita honeymoon pun dan aku membawanya, kami juga tidak menginap dalam satu atap, kumohon percayalah," ungkap Reiner menjelaskan semuanya.
Zoya pun memeluk suaminya dengan erat begitupun sebaliknya. "Maafkan aku mas, sudah berpikir terlalu jauh tentangmu."
≈≈≈≈≈≈≈≈
Hallo guys jangan lupa terus dukung karya Author, mudah kok, dengan LIKE, KOMEN dan berikan VOTE. Kalian harus memberikan VOTE. Sebab itu akan membuatku untuk lebih semangat dan menghadirkan yang lebih keren.
Maaf ya pembacaku, aku ngga bisa crazy up karena sistem aku gini 1 chap terbuka jika sudah 500 vote dan berapapun chapter yang ingin kalian baca sebanyak itu juga votenya. Sebab ngetik itu butuh tenaga dan mood yang baik. Yang tidak mau kasih tidak masalah asal sanggup nunggu, saya tidak memaksa di sini.