
Happy reading.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
(Zoya Khalisa More)
Mentari pagi terbit menyinari seisi bumi, jam menunjukkan pukul 09:30. Aku baru tersadar dari mimpi tidurku. “Hoaammmm, duh telat banget aku bangun, aku harus buru-buru masak nih.”
Pagi itu aku bangun kesiangan dan sarapan belum ku siapkan. Reiner masih tertidur pulas dan sengaja aku tidak membangunkannya. Lalu aku bergegas turun ke dapur dan menyiapkan sarapan ringan seperti roti bakar, susu plus susu formula untuk pertumbuhan kandunganku.
Sebab aku hanya bisa membuat sarapan seadanya karena sebentar lagi harus berangkat kerumah mertuaku. Setelah semuanya selesai, aku naik lagi ke kamar untuk membangunkan suamiku. Tidak butuh waktu lama dia pun terbangun.
“Sarapan yuk mas,” pintaku.
Reiner menggeliat dan menarik selimutnya kembali sampai menutup wajahnya. Aku tahu dia malas untuk bangun. Tapi bukan Zoya namaku jika membangunkan suami saja tidak bisa. Ku goyangkan tubuhnya. ”Mas, bangun ... kamu ini ah kebiasaan, yuk bangun sarapan dulu.”
“Ngantuk yang ... aku bobok lagi ya, sini kamu bareng aku bobok lagi aja,” ucapnya seraya menarik tubuhku dan tertindih tubuhnya.
Aku mencoba melawan tapi sia-sia tenaganya terlalu kuat, akhirnya aku menurut terdiam di atas tubuhnya sekarang, hingga akhirnya aku pun ikut-ikutan untuk tidur kembali.
--------------------------
Kringg ... Kringg .... Kringg.
Suara bising nyaring bunyinya terdengar di telingaku, aku bangun sembari mengucek mata lalu melihat kearah jam dinding di atas. “Hoaammm! Udah jam dua belas, aduh kesiangan lagi ini semua gara-gara mas.”
Aku mengomel sendirian meskipun suamiku masih berada dibalik mimpinya. Lalu bergegas mengambil ponsel yang terus berbunyi tidak henti. ’Mommy.’ Nama yang tertera yang menghubungiku.
“Hallo, Mommy.”
“Hallo nak, kemana aja kalian capek Mommy telepon dari tadi ngga ada yang angkat,” ucap Mommy dari balik ponselku.
Aku menggaruk kepalaku yang tidak terasa gatal, ”Maaf mom, aku baru bangun.”
“Aduh menantu yang cantik ini, baru bangun ya nak? Duh Mommy ganggu kamu tidur nih, oh yaudah kalau gitu mom udahin ya, jangan lupa siang ini langsung kerumah ya,” ungkap Mommy.
“Baik, Mommy.”
Panggilan pun berakhir.
Aku melirik kearah suamiku, dia masih pulas tertidur lalu aku mencoba membangunkannya dengan perlahan. ”Mas, mas ... bangun, ayuk bangun ....” Seraya ku gerakkan tangannya.
Akhirnya Reiner tersadar, ia langsung terduduk dan terlihat seperti kebingungan membuatku gemas melihatnya.
Lalu Reiner pun melirikku. “Aku masih ngantuk yang, tidur lagi boleh?”
“Ngga ada! Kamu dikasih hati minta jantung, udah ayuk bangun terus siap cepet-cepet kita langsung kerumah Mommy,” paksa ku.
“Sayang ... aku masih ngantuk, ngga kasian kamu liatin aku semalem itu tidurnya udah telat, bobok lagi ya sayang .... yuk temenin aku pliss,” rengek Reiner.
Aku menggelengkan kepala lalu menarik tangannya, meski berat tapi dia juga menurut lalu kami berdua berjalan ke kamar mandi. Seperti biasa aku hanya memandikan bayi besar ku ini. Percikan air dari shower membuatnya menggigil dan memelukku.
“Sayang dingin banget ... udah ah jangan lagi mandi yuk kita ketempat bayi aja yuk, bukain yang aku mau liatin tempat bayi,” pinta Reiner dengan sifat mesumnya.
“Mas, aah ... Mas,” erangan ku saat menyadari sesuatu benda asing mencoba masuk kedalam tempat bayi milikku.
“Sayang ... kau cantik sekali seperti itu,” Reiner tersenyum bahagia melihatku menderita dalam gejolak birahiku sendiri.
Sekitar dua puluh menit kami sudah selesai melakukan penyatuan dan akhirnya dilanjutkan dengan mandi bersama.
Singkat kata aku dengan suamiku sudah berada dalam mobil untuk menuju ketempat kediaman Notern, rumah mertuaku. Kami memang akan menuju kesana sebab sehari setelah itu acara untuk menyambut kandunganku akan diadakan.
Tidak butuh waktu lama sampailah kami dikediaman Notern. Mommy dan Daddy langsung menyambut ku dengan baik.
“Nak, Mommy udah siapin makanan kesukaan kamu, yuk kita sarapan mom udah laper ini tunggu kamu datang,” ucap Mommy. Aku pun hanya menurut dan menganggukkan kepalaku.
“Mommy kok cuma ajak Zoya makan, aku kok nggak di ajak sih,” rengek Reiner.
Mommy tidak menjawab ucapan suamiku, mom langsung menarik tanganku dan membawa masuk kedalam, sedangkan Reiner mematung diluar melihat ibunya dan aku yang tidak peduli dengannya, aku hanya menahan senyum melihatnya.
“Duhh! Udah ada mantu anak sendiri dilupain,” Reiner kesal.
“Udahlah Son, ah kamu ini kaya tamu jauh aja,” ucap Daddy yang masih bisa ku dengar.
Akhirnya kami sedang terduduk dimeja makan yang sudah penuh dengan berbagai makanan dan tertata rapi. Singkat kata acara makan-makan bersama pun selesai. Lalu kami membicarakan tentang acara sambutan yang akan digelar besok malam, berbagai macam hal kami bicarakan saat itu.
Sampai akhirnya tiba-tiba Reiner menghampiriku yang sedang duduk bersama dengan mertuaku. “Mommy, Sayang, aku izin pamit keluar sebentar ya.”
“Mau kemana Son?” tanya Mommy.
“Mau ketemu temen bentar mom, dia lagi butuh bantuan buat nyari kediaman di sini, bolehkan Mommy, kamu juga bolehin kan sayang?” pinta Reiner pada dua wanita miliknya.
“Iya mas, hati-hati ya,” sahutku
“Ya udah Son, pergi terus Jangan pulang malem kalau terpaksa kabarin dulu istri mu,” sahut Mommy.
“Iya-iya, pasti aku kasih kabar kalau pulang malem mom, yaudah aku pergi dulu ya bye-bye sayang, Mommy,” ucap Reiner.
Cups! Satu kecupan mendarat di pipiku. Dia tidak lupa memberikan kecupan untukku sebelum berangkat meskipun didepan ibunya, dia tidak malu memperlihatkannya, dan aku suka dengan tingkap yang satu ini dari suamiku.
Aku pun mengantarnya sampai didepan pintu, dan menunggu mobilnya menghilang dari kediaman Notern.
‘Tuhan, lindungi perjalanan suamiku, jauhkan dia dari segala bahaya,’ batin.
Entah mengapa firasatku buruk, saat melihat dirinya pamit seperti tadi, ah sudahlah mungkin hanya perasaanku saja yang terlalu berlebihan dengannya. Lalu aku pun masuk kedalam dan duduk bersama dengan mertuaku.
******
Ketika hati masih menginginkan seseorang di masa lalu kembali dengan kenangan indah dulu, lihatlah bahwa hidup maju untuk masa depan.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Oh ya yang tanya-tanya gimana kelanjutan Zoya sama Reiner. Apa Reiner selingkuh atau ngga? Ditunggu aja ya kakak kelanjutannya, tapi tolong dukung aku, LIKE, KOMENT disertakan VOTE dari kalian supaya aku bisa terus semangat. Jadi aku mohon tiap 1 chapter terbuka itu dukung serta VOTE minimal 500 atau paling kurang 300. Tapi aku ngga maksa sekiranya jika kalian mengingat jeri payahku.