
H A P P Y R E A D I N G
Tangan Alvero ragu-ragu untuk mengusap rambut Claudia. Lalu ia akhirnya menghilangkan keraguannya, dan kemudian memberikan usapan agar membuat orang lain nyaman.
Claudia terus menangis sampai akhirnya ia menyadari jika dia sedang dalam pelukan orang yang tidak ia kenali. Dengan cepat ia menjauh sambil menghapus air matanya.
“Maaf,” ucap Claudia sembari melangkah pergi.
Alvero mengikuti langkahnya hingga berhasil mencekal lengannya. “Tunggu dulu, Claudia.”
Terpaksa membuat langkah Claudia terhenti saat mendengar namanya di sebut. Menatap orang didepannya dengan tatapan seperti detektif yang sedang menyelediki kasusnya. Ia bahkan menatap dari atas sampai bawah.
“Apa kau mengenaliku?” tanya Claudia penasaran.
“Tidak! Aku hanya melihat kartu identitas mu, itu saja. Memangnya kenapa? Bukankah kau tadi sedang menangis di dalam pelukanku?” ledek Alvero sembari tersenyum tersungging.
“Em! Itu hanya kebetulan. Ah sudahlah aku juga tidak kenal denganmu. Oh ya ingat satu hal, kalau ingin mati lebih baik bunuh diri saja dengan cara loncat dari atas gedung jangan mati dengan kekonyolan di jalanan seperti ini. Ulah mu itu juga akan membahayakan orang lain. Um, dan juga satu lagi lupakan apa yang telah kau lihat, begitupun saat aku menangis dalam peluk mu. Karena kita tidak saling kenal, kita orang asing,” ungkap Claudia panjang lebar seraya langsung masuk kedalam mobilnya.
Alvero mematung melihat Claudia pergi. “Wanita yang menarik, aku jadi penasaran dengannya. Sebaiknya aku mengikutinya saja.”
Alvero tersenyum sambil bergegas masuk kedalam mobilnya. Ia kemudian menancap gas lebih cepat agar tidak kehilangan jejaknya. Lain hai dengan Claudia, dirinya tidak sadar jika sedang di ikuti. Terus melajukan mobilnya sampai akhirnya tiba di tempat yang cocok untuk menenangkan diri.
Claudia turun dari mobilnya begitupun dengan Alvero. Meski Alvero sengaja memarkirkan mobilnya sedikit lebih jauh. Lalu Alvero mengamati gerak Claudia yang seperti orang bodoh memandang jauh kedepan.
Alvero melirik jam di tangannya. “Masih ada waktu untuk aku menemui Alice tapi, sebelumnya aku sangat penasaran dengan wanita ini sebaiknya aku langsung mendekatinya.”
Terpaan angin yang berhembus. Hamparan pasir yang selalu dikunjungi deburan ombak. Kilatan cahaya ikut serta di sana, Claudia yang penuh kesedihan sedang memandang siratan keindahan semesta. Terlihat, ombak berkejaran. Berlomba, mengunjungi bibir pantai. Namun, di sisi lain Claudia berdiri lepas memandang kepedihan berharap tenggelam di lautan curam.
“Aku membencimu! Aku membencimu! Aku ingin cinta ini hilang tapi, aku menyadari semakin aku mengatakan membencimu! Maka semakin aku tahu aku mencintaimu!” teriak Claudia dengan begitu keras.
Claudia terduduk langsung di atas hamparan pasir. Air matanya menetes setelah ia berteriak keras.
“Aku membencimu, ka-kakak,” ucap Claudia di barengi isakkan tangisnya.
Alvero memandangi apa yang di lakukan Claudia sampai akhirnya ia lebih mendekat bahkan langsung duduk di sampingnya.
“Apa kau kesini hanya ingin menertawai ku?” lirih Claudia sembari bertanya.
“Tidak, aku hanya penasaran denganmu apalagi saat kamu tiba-tiba menangis di jalan kemudian di pantai ini kamu berteriak seperti orang gila,” sahut Alvero sambil memandangi wajah Claudia.
Claudia tidak menjawab, ia bahkan memilih untuk bangkit dari duduknya namun, belum sepenuhnya ia berdiri Alvero langsung menarik tangannya untuk kembali membawa duduk.
“Apa maumu?! Jangan sok baik denganku!” bentak Claudia seraya mencoba untuk melepaskan tangannya.
“Aku tidak ingin apapun hanya penasaran denganmu, itu saja. Tapi, jika kamu tidak ingin ada di sini ya baiklah aku akan pergi. Menangis 'lah sebisamu karena sampai kapanpun lautan tidak akan bisa mendengar semua ucapan mu,” ungkap Alvero sembari berusaha bangkit dari duduknya.
“Ya sudah! Lagian siapa juga yang mau curhat sama Lo. Udah sana pergi enggak usah deket-deket sama gue! Kita itu enggak kenal! Jadi enggak usah sok dekat!” ketus Claudia dengan mudahnya.
‘Dia wanita yang susah untuk di taklukkan. Um, menarik juga,’ batin Alvero.
Claudia pun memilih berjalan lebih jauh dari Alvero. Ia berjalan sepanjang pantai sendirian meskipun tidak tahu tujuannya apa tapi, itulah yang dia lakukan.
Berbeda dengan Alvero, sudah di usir juga tetap ada di sana walaupun Alvero hanya menatap yang sedang dilakukan oleh Claudia.
Hati yang masih terasa sakit bahkan bingung harus melakukan apa. Claudia berjalan sepanjang pantai sembari memikirkan semua yang telah Steven ucapkan padanya. Padahal saat ini sudah lewat beberapa jam setelah mereka ribut besar.
“Kakak, haruskah takdir kita seperti ini? Kamu bahkan sudah memiliki bayi dari wanita itu, lalu aku yang tidak memiliki siapapun. Entahlah aku bingung apalagi permintaan konyol mu," gumam Claudia.
Merasa sedikit kelelahan karena terus berjalan tanpa berhenti. Claudia pun menoleh ke belakang sebelum akhirnya dia milih duduk. Ia terus menatap kearah Alvero yang juga belum mau pergi.
“Aneh, pria itu sengaja menungguku tapi, untuk apa? Apa mungkin dia kenal denganku? Tapi, bagaimana mungkin? Aku bahkan tidak kenal dengannya. Apa sebaiknya aku mencoba untuk bertanya siapa tahu pria itu mempunyai sesuatu yang menarik untuk membuat mood ku kembali membaik,” pikir Claudia.
Ia pun bangkit dari duduknya lalu berlari kearah di mana Alvero berada. Belum sampai Claudia berhenti karena sudah ngos-ngosan namun, Alvero menyadarinya sampainya ia memilih untuk ikut mendekat.
Alvero berdiri tepat di depan Claudia. “Katanya enggak kenal, terus suruh pergi lalu sekarang kamu bahkan sengaja berlari ke arahku. Apa ini namanya cinta pertama?”
“Dasar! Enggak usah kepedean ya! Gue sebetulnya bingung Lo tungguin di sini buat apa? Apa Lo kenal gue?” tanya Claudia dengan gaya angkuhnya.
“Jelaslah aku kenal. Kalau enggak mana mungkin aku mau bela-belain panas-panas di sini. Oh ya, ngomongnya biasa aja enggak usah nyolot. Kamu itu perempuan harusnya ngomong yang sopan,” ucap Alvero mencoba menasehatinya.
“Kayak Bapak gue aja Lo pakai sok-sokan ngajarin segala! Terus terang aja kalau emang Lo kenal gue jadi gue sebenernya siapa, dan kenapa Lo bisa kenal?” tanya Claudia dengan ketusnya sembari menunjuk-nunjuk Alvero.
“Yah di bilangin malah makin nyolot! Denger ya wanita sok cantik. Aku itu kenal sama kamu. Kamu orang yang waktu itu sengaja bebasin Viora 'kan? Asal kamu tahu ya kalau dia itu kekasihku tapi, kamu berani-beraninya bebasin dia. Oh yeah? Kaget? Ha ha ha, santuy. Aku tungguin kamu bukan karena itu tapi, karena kamu menarik.”
Alvero jujur memberitahukan semuanya tapi, dengan gaya sok tampan bahkan menaiki alisnya sembari memasukkan tangan kedalam saku celananya.
‘Astaga! Jadi, dia orang yang udah sekap Viora! Mati gue! Gimana nih kabur enggak yah? Gimana kalau gue ikut-ikutan di sekap? Ah sial!’ batin Claudia ketakutan bahkan mengeluarkan keringat dingin.
“A-aku enggak sengaja bebasin kekasih Lo cuma karena dia teman gue jadi gue kasihan dong sebagai temen gitu. Lo sendiri pasti bakalan lakuin hal yang sama kalau ada di posisi gue. Oh ya makasih ya udah mau tungguin gue di sini tapi, kayaknya sekarang gue harus pulang deh. Soalnya banyak setrika yang belum di beresin,” ungkap Claudia ngeles bahkan berusaha lolos.
‘Aduh ... Gue jadinya takut. Semoga aja dia bolehin gue pergi,’ batin Claudia.
“Ha ha ha, kok jadi gemetaran gitu? Takut ... ya? Udah santai aja aku enggak makan orang kok, sama kaya kamu makan nasi. Bye the way, kalau aku boleh tahu nih kayaknya kamu lagi patah hati ya? Abisnya kamu di sentuh dikit nangis padahal kalau di lihat-lihat dari karaktermu. Orangnya kuat, bahkan galak. Dugaan ku benerkan?” ucap Steven sembari tersenyum sambil ingin tahu segalanya.
“Kalau iya kenapa? Kaya Lo enggak pernah patah hati aja. Udahlah minggir gue mau pulang. Lagian ngapain sih kepo banget sama hidup orang? Mendingan sekarang Lo sekap lagi kekasih Lo daripada gangguin gue di sini. Enggak ada untungnya tahu. Gue bukan orang kaya, jadi Dokter aja udah bersyukur,” sahut Claudia sampai berbicara kemana-mana.
‘Gadis ini asyik bahkan dia caranya bicara kalau udah galak lucu apalagi wajahnya imut. Ah sialan! Kenapa aku yang jadi merhatiin dia ya? Tapi, kayaknya beneran dia tipe yang bisa membuat orang nyaman walaupun mulutnya pedas kaya cabe rawit,’ batin Alvero yang sedang senyam-senyum sembari merhatiin Claudia.
“Aduh ... Kamu ternyata Dokter ya? Wah ... Seru dong kalau aku sakit tinggal pergi ke kamu aja deh apalagi nomor ponselmu sudah ada sama aku," respon Alvero dengan indah.
“Boleh asalkan Lo jadi anak TK lagi biar bisa gue kasih obat. Soalnya gue Dokter spesialis anak. Alah udahlah banyak ngomong tahu. Minggir enggak gue mau pulang lama-lama di sini gue bisa item tahu,” paksa Claudia sembari mendorong tubuh Alvero.
‘Asyik juga. Setidaknya kesedihanku sedikit terobati walaupun dia menyebalkan,’ batin Alvero.
“Oh ... gitu. Ya udah enggak apa-apa kalau pun kamu Dokter anak, aku juga bakalan sembuh kalau di obati sama Dokter galak kaya kamu,” gombal Alvero dengan sengaja.
“Ha ha ha, jangan galak-galak atuh, Neng. Ya udah sok curhat biar aku denger tapi, kayaknya kita cari tempat buat duduk deh. Gimana kalau kita ke cafe itu aja?” ungkap Alvero sambil menunjukkannya.
“Ya udah boleh tapi, Lo yang bayar ya soalnya Lo yang paksa sih.”
“Iya-iya tenang. Masalah biaya gampang. Bebas kamu mau pesan apa aja aku bayarin!” sahut Alvero dengan semangat.
“Wah ... Seriusan nih? Ya udah yuk gue juga laper apalagi kalau lagi galau gini bawaannya pengen makan banyak,” respon Claudia sembari tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih.
‘Yes! Gue porotin ah. Sekalian buat berhemat,’ batin Claudia.
Mereka memasuki sebuah cafe yang tidak jauh dari pantai. Claudia dengan semangat bahkan sampai tidak sadar menggandeng tangan Alvero agar cepat-cepat sampai. Begitu ia sadar dengan cepat ia melepaskan genggaman itu. Alvero hanya tersenyum melihat tingkah aneh dari gadis itu.
Pelayan cafe datang sembari membawa menu-menu makanan. Claudia dengan semangat memesan makanan begitu ... Banyak! Bahkan dia sendiri tidak tanggung-tanggung meskipun pelayan itu melihatnya dengan tatapan aneh. Berbeda dengan Alvero yang hanya pesan makanan serta segelas minuman.
Hidangan datang, Claudia melahapnya habis bahkan mulutnya sampai belepotan. Sembari ia memasukkan makanannya kedalam mulutnya sambil pula mengingat semua yang telah Steven ucapkan padanya. Rasa kekesalannya itu mampu membuat Alvero menahan tawanya melihat lahap makan Claudia seperti orang kesurupan.
Claudia sampai tersendak namun, dengan cekatan Alvero memberikannya air. Rasa lega pun datang apalagi kekenyangan yang mampu membuatnya ingin cepat-cepat rebahan.
“Aduh ... Kenyang banget ya? Lagian sih kamu makan kaya aku mau maling aja. Padahal aku dari tadi nyimak kamu doang,” ungkap Alvero sambil tersenyum.
“Iya-iya maaf. Abisnya aku kalau lagi galau semua makanan habis. Enggak tahu deh kenapa tapi, emang udah gitu. Galau kudu ada makanan yang banyak. Ah aku kenyang banget. Enggak usah curhat cari ya, soalnya capek,” ungkap Claudia sembari memegang perutnya.
“Yah ... Enggak bisa gitu dong. Kalau enggak mau curhat ya udah aku enggak mau bayarin ya. Udahlah aku pergi aja,” ancam Alvero..
‘Aduh ... Bisa mati nih kalau bayar sendiri,’ batin Claudia.
“Iya-iya aku curhat tapi, tunggu bentar ya aku istirahat dulu. Supaya makananku bisa di cerna," ungkap Claudia.
“Iya-iya aku tunggu kok," sahut Alvero.
Alvero menatap wajah Claudia. ‘Gadis ini bisa bikin suasana hati jadi tenang apalagi sikap galaknya itu. Bahkan dia sengaja jual mahal. Berbeda dengan banyak wanita yang udah ke kenal, mereka justru suka kalau di goda. Namun, dia berbeda dia cuma cari keuntungan cuma buat perut kenyang. Ha ha, ada-ada aja. Enggak apa-apa deh, kalau dia sengaja bebasin Viora. Setidaknya dia menjadi pengganti setelah Viora. Aku harus bisa jatuh cinta dengannya. Lebih baik aku mulai mencoba mendekatinya,' batin.
Sekitar lima belas menit menunggu, Claudia meminum minumannya yang masih tertinggal. Ia pun menendang Alvero dengan kakinya meskipun pelan-pelan.
“Woy! Beneran gue harus curhat lagi? Kenyang banget nih,” ungkap Claudia.
“Iya dong! Siapa tahu aku bisa bantu terus nanti beban kamu jadi sedikit berkurang. Udah enggak apa-apa nanti kalau emang capek mau lagi istirahat biar aku antar. Mobil kamu biar pelayan ku yang ambil,” sahut Alvero dengan jelas.
Claudia menarik nafasnya lalu hembuskan. “Sebenarnya sih masalahnya biasalah masalah cinta cuma yang buat aku bingung dan enggak bisa berpikir itu karena dua hal. Kekasihku menghamili wanita lain, lalu dia ingin bertanggung jawab. Cuma ... Dia minta aku buat jadi istri keduanya dengan alasan aku mencintai dia. Menurutmu apa yang harus ku lakukan?”
“Nah gitu dong ngomongnya sopan jadi, enak di dengar. Um, kalau menurut aku sih sah-sah aja dia nikahin wanita itu karena emang dia harus tanggung jawab cuma kamu sebaiknya jangan mau. Apalagi di luar sini masih banyak pria-pria lain yang mau sama kamu contohnya orang di depan kamu yang lagi ngomong ini,” ungkap Alvero sambil menahan senyumnya.
“Cih! Itu mah maunya Lo! Tapi, beneran aku tuh bingung harus hadapinya gimana? Secara aku cinta, aku takut kehilangan lagi. Dulu dia itu kakakku walaupun cuma kakak angkat sih. Yah memang aku yang udah salah nolak cinta dia dari lama padahal pengorbanannya banyak banget. Beneran sampai sini pun aku curhat, aku belum tahu titik tengah yang harus aku ambil. Udahlah udahan aja yuk! Kenyang nih jadi ngantuk soalnya.”
“Bentar dulu. Emangnya mau bayarin semuanya apalagi yang tadi kamu pesan juga buat di bawa pulang. Kalau mau sih enggak apa-apa kita langsung pulang aja,” sahut Alvero dengan sengaja.
“Iya deh iya! Aku lanjut nih! Jadi, dia ngaku semuanya. Bagus sih dia mau mengaku cuma hari itu kami ribut besar. Jadinya sampai sekarang aku bingung harus bersikap apa sama dia. Kira-kira kamu tahu enggak?" tanya Claudia dengan wajah cemberut.
‘Sebenarnya aku paling enggak bisa kalau jadi motivator cinta tapi, enggak apa-apa deh demi pendekatan,’ batin Alvero.
“Um, kalau saranku sih mendingan putusin aja terus jadian sama aku ha ha ha. Enggak! Enggak becanda. Saranku sih sebagai sesama pria kaya kekasih kamu itu. Bagusnya coba kalau kamu pura-pura minta putus. Ya siapa tahu setelah itu dia mikir nanti bakalan milih kamu,” respon Alvero dengan asal-asalan menjawab.
“Percuma! Enggak bakalan dia milih aku karena di dalam wanita itu sudah ada anaknya jadi, itu sama aja kaya aku nyerah,” jawab Claudia sembari menopang kedua tangannya di meja dengan wajah terlihat sedih.
“Iya juga ya, terus gimana juga? Bye the way, siapa sih nama orang ketiga dari hubungan kalian itu? Yah maaf nih kalau aku banyak nanya tapi, siapa tahu aku kenal," tanya Alvero sembari tersenyum.
“Um, namanya sih kalau enggak salah, Alie, Eh! Alice. Nah iya Alice. Sebetulnya aku juga sempat beberapa kali ketemu, waktu dia lagi di rumah sakit. Tahu deh aku kalau ingat wanita itu darahku cepat naik. Maunya kesel ... Aja! Dan, nama pacarku Steven. Dia sebenarnya kakakku, meskipun aku malu mengakuinya cinta terhadap kakak sendiri tapi, mau bagaimana lagi namanya sudah cinta,” lanjut Claudia.
Raut wajah Alvero langsung berubah saat mendengar nama-nama yang sedang di sebutkan oleh Claudia. Keningnya mengkerut bahkan dia sudah tidak lagi dengan apa yang Claudia katakan.
‘Apa mungkin orang yang di ceritakan oleh Claudia itu mereka tapi, bagaimana mungkin Alice mengandung anaknya Steven? Apa jangan-jangan mereka sudah pernah berhubungan tapi, Alice bilang jika dia hanya ingin berhubungan denganku bahkan sampai detik ini aku belum mencari pengganti untuk berhubungan dengan wanita lain. Sebaiknya aku harus memastikannya langsung,’ batin Alvero.
“Woy! Kenapa? Dari tadi di panggil malah ngelamun. Kamu kenal pacarku, atau mungkin wanita itu?” tanya Claudia penasaran.
Lamunannya buyar ketika Claudia terus mencoba untuk memanggilnya hingga Alvero terkejut.
“Eh! Apa tadi, aku kenal mereka? Enggak kok! Bahkan nama-nama itu aku baru mendengarnya sekarang. Um, oh ya Claudia, aku lupa kalau sekarang aku harus menjemput mamaku dari salon. Soalnya baru ingat, gimana dong? Kita pulang aja yuk!” ungkap Alvero beralasan sembari mengajak pulang.
“Nah ... Dari tadi ajak pulang kek! Ya udah yuk. Lagian aku juga kenyang banget. Kayanya aku tidur nyenyak malam ini. Makasih ya, udah mau dengerin curhatan galau. Bye the way, maaf nih kalau pertama ketemu aku udah marah-marah,” ungkap Claudia dengan tersenyum kikuk.
“Ah enggak apa-apa kok! Udah jangan terus di pikirin. Oh ya mau aku antar enggak? Nanti mobilmu biar pelayan ku yang jemput kesini,” pinta Alvero.
“Eh! Enggak usah. Lagian kamu udah enggak apa-apa lagian kamu harus jemput mamamu. Lagipula udah repot-repot keluarin uang buat traktir aku kapan-kapan traktir lagi ya, hehe.” Senyum Claudia penuh harapan.
“Iya aman. Ya udah kalau gitu yuk pulang. Hati-hati tuh pulangnya, bye-bye,” sahut Alvero sambil membalas senyuman sembari melambaikan tangannya.
Claudia pun menuju ke mobilnya sambil menenteng begitu banyak makanan yang sengaja ia pesan dari Alvero. Namun, di tengah perjalanan menuju ke mobilnya ia menoleh kebelakang melihat Alvero.
“Dia asyik di ajak ngomong tapi, kok aku ngerasa aneh ya. Setelah aku bilang nama Steven, dan Alice. Wajahnya langsung berubah, apa cuma perasaanku aja? Tapi, ya udahlah jangan dulu punya prasangka buruk. Kapan-kapan aku minta di traktir lagi ah itung-itung hemat uang,” gumam Claudia sembari melanjutkan langkahnya.
Di sisi lain. Alvero bergegas untuk memasuki mobilnya. Ia sempat-sempatnya menghubungi Alice tapi, panggilan itu tidak di jawab hingga pikirannya tidak tenang memikirkan tentang semua itu.
“Alice kemana sih di telepon-telepon enggak di angkat lagi? Apa mungkin mereka benar udah sering berhubungan tapi, kok aku masih belum percaya. Eh! Bentar-bentar, Mama bilang kalau Alice pernah datang ke rumah cuma buat nyariin aku, nah dia sebenarnya mau bilang apa? Padahal sebelumnya dia enggak pernah lagi berani buat datang apalagi aku udah mengusir dia. Sebaiknya aku harus langsung temuin Alice tapi, gimana caranya? Di telepon enggak di jawab. Kalau aku langsung ke apartemennya pasti Steven malah ajak perang. Arrggh! Sial! Udahlah masa bodoh! Aku harus ke sana buat bisa dapatkan jawaban yang membuat kepalaku pusing,” gumam Alvero sembari melemparkan ponselnya ke sebelah tempat duduk yang lain.
...----------------...
Apa mungkin Alvero akan jatuh cinta dengan Claudia? Lalu bagaimana dengan anak dalam kandungan Alice, mungkinkah Alvero akan tahu? Lalu mengakui anaknya? Dan reaksi apa yang terjadi jika Steven sampai tahu? Simak terus, dan beri dukungan terima kasih.
...****************...
Percayalah, selalu ada pelangi setelah hujan badai. ~ Salam sayang Meldy Ta.