
Happy Reading
“Sayang, gitu dong jadi anak kebanggaan kami berdua. Dengarkan nak, jika pun kamu tidak lagi melanjutkan pendidikan Mama sudah tidak keberatan karena Perusahaan kita akan menjadi satu dengan Kelvin. Itu artinya kita tidak kehilangan pewaris tentu saja anak kalian nantinya yang akan meneruskan kedua Perusahaan,” ungkap Mama begitu gembira seraya memelukku.
“Iya Ma, aku ikut senang,” sahutku berbohong.
“Ya sudah, nanti malam seperti yang sudah kamu ketahui kita akan mengada makan malam bersama dengan keluar mereka. Dandan yang cantik ya gadis kecilku. Mama sama Papa pamit dulu,” ucap Mama dan beranjak pergi.
“Baik, Mama.” Semuanya demi Mama, jika bukan aku tidak akan terima semua ini.
Aku sudah menyetujui apa keinginan Mama. Menjadi istri sekaligus menjadi anak penurut. Ya, aku sudah bersedia meskipun aku harus melakukannya dengan terpaksa.
Mama telah menghilang dari pandanganku. Aku langsung kembali masuk kedalam ruangan. Di dalam Alvero sudah tertidur pulas, itulah kesempatan untuk aku bisa pergi saat ia tidak sadar.
Melihat kondisi Alvero sebentar lalu aku mengambil tas dan berniat dari sana. “Maafkan aku. Semoga cepat sembuh, Al.”
Tidak benar-benar meninggalkan Alvero sendirian sebab keluarganya sedang berada di jalan untuk menjenguknya. Waktu yang tepat untuk aku pergi tanpa harus memikirkan orang lain yang sudah ku tinggalkan sendirian.
* * *
Hari sudah gelap, matahari telah pergi kearah lain dan bulan telah mengambil alih untuk memberikan penerangan pada bumi. Saat melihat bintang-bintang mulai menghiasi alam semesta. Itu artinya malam yang tidak ku inginkan telah datang. Ada satu yang harus kulakukan pertama kali menepati semua janjiku terhadap Mama harus segera ku laksanakan.
Niatku sengaja pelan-pelan mengendarai mobil agar aku datang terlambat dan mereka marah terhadapku hingga membatalkan perjodohan ini. Tanpa memakai gaun yang indah serta riasan yang sederhana.
Sesaat sampai di tempat pertemuan. Semua keluarga dari pihak Kelvin dan juga keluargaku sudah datang dan sedang menyantap hidangan bersama. Namun, anehnya tidak dengan Kelvin. Aku melihat ia sibuk mengotak-atik ponsel meskipun yang lain sedang makan bersama.
‘Bagus, pasti mereka bakalan marah dan tidak lagi menginginkan pernikahan ini,’ batinku saat menuju lebih mendekat.
“Ternyata menantuku sudah datang. Ayo sayang silahkan duduk di dekat Kelvin,” sapa Ibunda Kelvin yang menyambut kehadiranku.
“Oh iya Tante, makasih. Ah maaf tadi di jalan macet banget jadinya sedikit terlambat,” ucapku berbohong.
“Iya sayang, tidak apa-apa,” sahut Ibunda Kelvin, yang masih bersikap baik denganku.
Bukannya mereka semua marah padaku, tapi justru malah bersikap baik. Aku sendiri bingung kenapa sampai mereka seakan sengaja tidak memarahiku.
“Nak, kamu tahu nggak?” tanya Mama yang membuatku bingung.
“Nggak Ma, kan Mama belum kasih tahu jadi aku tahu apa? Emangnya ada apa?”
“Begini loh sayang, sebaiknya kamu bersama Kelvin pergi jalan-jalan berdua lagian Kelvin sejak tadi belum juga menyentuh hidangan di sini. Dia bela-belain menunggu kamu datang,” perintah Mama seperti sengaja agar mendekatkan aku kembali.
‘Mama sepertinya sengaja merencanakan semuanya untuk aku dekat dengan Kelvin,’ batinku.
“Betul itu Jeng. Ya sudah ayo cepat kalian jalan-jalan sekaligus menghirup udara segar biarkan semua keputusan di sini kami yang urus,” timpal Ibunda Kelvin yang juga setuju.
Bulan telah mengambil alih waktunya untuk menyinari bumi. Bintang-bintang pun sama yang juga ikut mendampingi untuk membuat seisi bumi terlihat lebih indah. Berjalan kaki di bawah sinarnya bulan dan bintang tanpa adanya perbincangan selain membisu diam.
Aku bersama dengan Kelvin. Namun, seakan aku berjalan sendiri tanpa adanya suara satupun yang keluar dari mulutnya. Entah kenapa aku merasa Kelvin menutup diri untuk berbicara denganku hingga semakin jauhnya kami berjalan tetap semakin tidak ada suara yang terdengar.
‘Andaikan kami bisa seperti bintang dan bulan yang saling mengisi satu sama lain untuk membuat bumi bersinar. Bukan seperti air dan minyak yang sangat sulit untuk di satukan,’ batin Kelvin.
‘Kenapa rasanya aku ingin menangis? Saat suasana seperti ini yang saling terdiam membuatku ingin menangis. Seharusnya inilah keadaan yang aku inginkan agar kami bisa semakin menjauh. Tapi, kenapa rasanya aku tidak rela dan ingin Kelvin yang duluan menyapaku,’ batinku seraya berjalan melangkah kedepan.
Berjalan tanpa arah, entahlah. Semakin kami berjalan jauh semakin kami memasuki tempat yang sepi dan sunyi, hanya terlihat beberapa pasangan muda-mudi sepertinya sedang memadu kasih ditempat terbuka tanpa memperdulikan orang lain. Tidak jauh dari kami beberapa pasangan sibuk bercinta bahkan ada yang sudah sampai ketahap penyatuan.
Membuatku merasa sangat canggung, dengan keadaan seperti ini harus melihat orang lain sedang berbuat. Aku sendiri sangat malu terhadap Kelvin, tapi sepertinya dia biasa saja bahkan melanjutkan jalannya.
“Tunggu Evin!” Dengan tiba-tiba aku berusaha menghentikan langkahnya.
“Kenapa gadis kecil? Apa kamu ingin kita segera kembali?” sahut Kelvin yang juga bertanya padaku.
“Sebaiknya kita memang harus kembali lagian kita juga sudah sangat jauh berjalan. Kupikir tidak baik apalagi membuat keluarga kita menunggu. Sepertinya kita harus cepat pergi!”
‘Ternyata Kelvin masih tetap memanggilku gadis kecilnya,’ batinku.
“Tidak perlu buru-buru, mereka juga paham lagian aku juga pergi dengan membawa mobilku jadi kalaupun Bunda dan Papa pulang, pasti mereka tidak akan marah meskipun aku tidak membawamu pulang,” ungkap Kelvin dengan sangat mudah.
“Aku tidak ingin di sini menonton orang lain. Lebih baik kita langsung pulang.”
Ingin aku melangkah pergi. Namun, Kelvin berhasil mencekal lenganku hingga membuatku terdiam di tempat.
“Tunggu dulu. Sebelum kita pulang biarkan kalau aku mengetahui satu hal,” ungkap Kelvin yang sedang menahan ku.
“Tidak ada yang perlu kamu ketahui wahai pembunuh!” bentak ku tanpa memperdulikan hatinya sakit dengan ucapanku.
“Sepertinya aku sudah salah mengira satu hal. Kenapa kamu menerima perjodohan ini padahal aku ini seorang pembunuh, Viora?” tanya Kelvin yang masih belum melepaskan tanganku.
“Jangan merasa senang Evin, aku menerima pernikahan ini demi mamaku. Lagipula aku sudah tidak lagi mencintaimu. Jadi sekarang cepat lepaskan tanganku dari tangan seorang pembunuh sepertimu.”
“Tidak semudah itu lepas dariku, Viora. Bukankah aku ini seorang pembunuh? Lalu apalagi yang harus ku tunggu, tentu saja aku akan tetap menjadi Pria bajing*n. Siap-siap hidup menderita dengan seorang pembunuh, Viora.” Tingkat laku Kelvin membuatku tidak mengenali dirinya lagi yang sudah berubah.
‘Apa kali ini Kelvin becanda atau hanya main-main dengan ucapannya? Kenapa aku merasakan sakit saat mendengar ia berkata seperti itu,’ batinku.
Salam sayang ~ Meldy Ta. Karya baruku juga sudah update