
Happy reading
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Sebuah suara mengangetkannya aku tentu saja aku mendengar arah suara tersebut. Aku menoleh kebelakang di mana suara itu berasal.
Setelah kulihat seorang wanita sedang berdiri tidak tahu dariku. ‘Apa mungkin itu Claudia? Tapi apa maksudnya dengan ini semua?’ batinku tidak karuan bertanya.
“K–kamu benar Clau–dia?” tanyaku terbata-bata disaat melihat wanita yang dulu pernah mengisi hatiku namun sekarang dia berdiri langsung di depanku.
“Benar, aku ... Claudia, wanita yang dulu pernah kau cintai bukan? Hay Rei .... santai saja tidak perlu tegang begitu. Ehmm bagaimana kabarmu sekarang?” tanya Claudia seraya berjalan lebih dekat kearahku.
“Yah, aku baik-baik saja tapi bolehkah aku tahu sebelumnya apa maksud semua ini? Apa ini sebuah jebakan?”
“Hahaha Reiner, mana mungkin ini jebakan. Aku tidak akan melakukan apapun denganmu, apa kamu lupa hari pertemanan kita? Dan hari ini pertemanan kita. Asal kamu tahu dulu kita telah berpisah bertahun-tahun lamanya tanpa kamu mengetahui kenapa aku menghilang dan hari ini aku ingin membuat kejutan untukmu sebagai tanda pertemuan kita kembali yah ... dengan sedikit jebakan kecil,” sahut Claudia seraya tertawa kikuk yang membuatku sama sekali tidak paham.
“Apa maksudmu?”
“Ternyata kamu masih tidak paham, baiklah Steve ...! Keluarlah, hey sudah cukup aktingmu kesini 'lah bergabung bersama kami! Kau harus tahu Rei, ini semua adalah rencananya Steve untuk mempertemukan kita. Ah sepertinya terlalu banyak basa basi tanpa menyuruhmu duduk, mari kita duduk dulu di atas balkon rasanya lebih menyenangkan sambil menghirup udara segar.”
Aku hanya menuruti apa yang Claudia katakan seraya mengikuti ia berjalan dari belakang begitupun dengan Steven.
Ada sedikit emosi kepada Steven karena dia sengaja menjebak aku dengan cara ngga lucu seperti ini padahal jika sejak awal dia bilang justru aku lebih terima. Sengaja tidak memulai pembicaraan dengan Steven, biarkan dia tahu kalau aku sedang emosi dengannya.
Claudia menuangkan minuman pada kami yang sedari tadi sudah disiapkan. Entah darimana aku harus memulai pembicaraan, rasanya sangat kaku setelah tidak bertemu bertahun-tahun.
‘Apa yang akan kamu katakan kali ini Clau? Setelah dulu kamu tiba-tiba menghilang dari pandangan kami semua dan sekarang aku seperti sedang bermimpi sudah bertemu denganmu, entah ini pertanda baik atau buruk aku sama sekali tidak tahu,’ batinku saat melihat Claudia menuangkan minuman untukku.
Lamunanku buyar ketika seseorang menepuk pundak ku yang kutahu orang itu ialah Steven, membuatku berpaling melihat kearahnya.
“Brother, kenapa Lo malah ngelamun Rei? Ngobrol dong ... masih kesel yah dikerjain kayak tadi. Sorry Rei .... gua nggak maksud buat Lo marah tapi itu sebagai kenangan buat kita dulu saat kita lagi susah-susah buat cariin Claudia, udah deh Lo jangan diem terus ah gua jadi nggak enak gini,” ucap Steven yang sedang membenarkan dosanya.
“Lagian Lo sih pakek acara ngumpet segala gitu, coba aja kita langsung kasih surprise depan pintu kaya orang ulangtahun gitu jadinya 'kan lumayan ngga buat naik darah, yah ngga Rei?” sambut Claudia berusaha tidak menerima dengan kejutan yang Steven buat.
“Yah ... gitu sih udah nggak jaman tahu, emangnya kita lagi ngadain ultah apa? By the way gua seneng deh bisa bareng kaya gini lagi,” curhat Steven tidak kalah menarik.
Entah apa yang mereka berdua katakan, aku masih sangat tidak fokus dengan semua ini. Satu sisi tiba-tiba Claudia ada di depanku setelah dulu dia menghilang tapi dengan penampilannya yang sudah sangat berubah sampai aku tidak mengenali dirinya lagi, dan satu sisi lagi Steven yang sengaja mengerjai ku justru membuatku masih kesal.
“Rei.”
“Woy Bos ...!”
“Eh iya, ada apa ya?” tanyaku kebingungan setelah mendengar teriakkan dari kedua orang di depanku.
Steven menepuk jidatnya sendiri, “Lo lagi pikirin apa sih Rei? Kok dari tadi kita-kita ngomong Lo nggak peduli, lagi banyak masalah atau gimana? Ceritain aja udah.”
“Oh ngga ada masalah kok, gua cuma heran aja dengan yang terjadi sekarang, gua lagi mimpi apa gimana nih?” sahutku seakan masih berada di alam lain.
“Aduh Bos, Lo yah mau cari gara-gara keknya, ini tuh bukan mimpi sini gua tampar Lo mau nggak?” tanya Steven. Belum aku menjawab dia sudah benar-benar memberi tamparan kecil meski tidak sakit tapi juga sedikit perih.
“Ckck aduh kalian berdua ... udah deh ah jangan kaya anak kecil gitu. Steve, biar aku aja yang jelasin sama temen satu kita ini, udah pastilah Reiner masih bingung, tapi aku boleh jujur ngga sebelum aku ceritakan semuanya?” sahut Claudia serta bertanya.
Aku hanya mengangguk mengiyakan lalu menyimak kejujuran apa yang akan di ungkapkan Claudia padaku.
“Aku seneng ... banget bisa ketemu lagi sama kamu, aku pikir dulu setelah aku memutuskan untuk pergi menjauh dari kalian, aku pikir saat itu adalah akhir dari hidupku tapi ternyata Tuhan berkehendak lain hingga kesembuhan datang padaku, dan seperti yang kamu lihat saat ini aku sudah normal seperti orang lain pada umumnya, berkat dari kalian aku bisa bertahan sampai saat ini terlebih Steven, mungkin kamu sudah mendengarnya,” ungkap Claudia dengan nada suara lemah lembut.
“Aku juga senang Clau, awalnya aku pikir semuanya pura-pura tapi begitu aku menyakinkan ini semua ternyata kamu memang sudah kembali, maaf tadi aku sempet ngga nyambung pas kalian lagi bahas sesuatu. By the way kalau aku nggak salah kita pernah ketemukan di Mall? Kayaknya itu kamu deh,” sahutku membuka ingatan memori ku kembali.
“Ah ngga usah minta maaf, jelas-jelas itu kesalahan kami sudah mengerjai kamu. Soal waktu itu yah? Keknya sih kita emang pernah ketemu tapi aku nggak terlalu inget wajah kamu saat itu soalnya kamu cepet-cepet pergi,” ucap Claudia seraya meneguk sedikit minumannya.
“Aduh ... serius amat kalian, hemm sampai nggak ngajak gua, ah nggak seru ah jadi kacang gini,” timbal Steven membuat kami tertawa.
“Heh, Lo tuh diem dulu, kami lagi ngobrol,” protes Claudia dibarengi tawa olehnya.
“Mentang-mentang yang baru ketemu, by the way Rei, Lo serius udah pernah ketemu Claudia tapi kok Lo nggak cerita sama gua sih?” sambung Steven tidak ingin mengalah.
“Oh itu, sengaja sih soalnya gua masih ngga yakin kalau itu Claudia, jadinya gua diem aja,” terang ku mencoba membenarkan.
“Penting sekarang kita udah kumpul bareng lagi, apa mungkin kita bakalan jadi teman seperti dulu lagi? Nah jadi ... terima cheers dariku maka kita jadi teman kalau ngga yah apa boleh buat,” pinta Claudia seraya mengangkat minumannya.
“Cheers ...!” teriak aku dan Steven.
“Yes ... kita adalah teman ....” sorak kami bersamaan.
“Rei, gua seneng banget kita bisa kaya dulu lagi, by the way gua boleh peluk Lo nggak? Yah sebenernya gua kangen sama Lo,” ucap Claudia setelah kami bersulang bersama.