
“Kelvin Marble, dia itu Pria yang tidak terlalu dekat dengan karyawan manapun bahkan denganku saja sebagai sekretaris pertama hanya sebatas berkomunikasi mengenai pekerjaan. Sebab yang pernah ku dengarkan dulu dirinya sedang putus asa dengan wanita yang dia cintai telah menikah, nama wanita itu Zoya. Tapi sangat aneh 'kan jika Viora ini dekat dengan Bos padahal dia hanyalah sekretaris biasa,” ungkap Alice dengan panjang lebar.
‘Ternyata dugaan ku benar tapi, ini adalah kesempatan bagus untuk membuat mereka berdua membayar segalanya,’ batin Alvero.
“Apa mungkin Viora itu benar-benar telah menjual tubuhnya pada Bos kalian?” tanya Alvero berpura-pura.
“Benar! Aku tidak mungkin sampai tidak tahu bagaimana setelah orang lain telah berbuat. Waktu itu di lehernya ada bercak merah dan juga bajunya begitu berantakan seperti habis di apa-apain,” jawab Alice dengan semangat.
“Jadi dia benar-benar telah menerima Pria itu,” ungkap Alvero tanpa melihat ke wajah Alice.
“Siapa maksudmu?” tanya Alice penasaran.
“Yang kamu ceritakan itu benar kekasihku dan bos kalian adalah suaminya,” ungkap Alvero jelas.
“Apa?! Jadi mereka suami dan istri. Ya ampun! Tamat sudah riwayatku,” sahut Alice dengan ketakutan sambil mengigit bibirnya.
‘Ku mohon jangan gigit bibirmu di depanku,’ batin Alvero yang tidak tahan melihatnya sebab ia sudah merasakan sensasi dari Alice.
“Apa tidak paham dengan maksudmu,” ucap Alvero mencoba biasa saja.
“Waktu itu aku bersama dengan kedua temanku pernah menindas Viora jadi aku takut saat karena dia adalah istrinya Bos. Bagaimana bisa aku bekerja dengan tenang setelah mengetahui dia siapa. Aku harus meminta maaf dengannya jika tidak pasti nanti dia akan meminta suaminya untuk memecat ku. Aku tidak ingin jadi gembel,” curhat Alice yang sedang cemas.
“Bagus, akhirnya kamu menyadari kesalahanmu, memang tidak baik sampai menindas orang lain tapi, aku punya pekerjaan untukmu. Apa kamu mau?” ungkap Alvero seraya bertanya.
“Pekerjaan? Ayolah jangan aneh-aneh! Mana bisa aku bekerja sedangkan aku juga sudah menjadi sekretaris di sana. Ada-ada saja,” sahut Alice dengan menggelengkan kepalanya.
“Ini bukan pekerjaan seperti itu tapi, ini lain. Kamu hanya cukup berbaikan dengan Viora, dan nanti akan ada langkah selanjutnya dariku. Ku pastikan akan membayar mu dua kali lipat dari gaji yang telah kamu terima di perusahaan itu,” ungkap Alvero seraya tersenyum.
‘Dua kali lipat! Mendadak kaya dan juga bisa shoping kapan yang aku sukai,’ batin Alice mata duitan.
“Okay aku setuju! Dua kali lipat,” sahut Alice dengan semangat.
“Sudah ku tebak. Baiklah deal!” ungkap Alvero.
“Deal!” Alice begitu semangat.
‘Akhirnya aku bisa membalaskan dendam ku pada kalian. Dan nanti Viora akan kembali menjadi milikku. Tunggu saja cara mainnya. Bibi Karin, ucapan mu benar-benar sangat bisa di percaya. Hanya bermodalkan bermain di Club aku mendapatkan dua emas sekaligus. Menjadi mata-mata ku dan menjadi pemuas nafsuku,’ batin Alvero.
Alvero sibuk berpikir untuk membalaskan dendam. Namun, Alice sedang memikirkan uang, ia bahkan sudah bermimpi akan mendatangkan uang begitu mudah padahal dirinya belum bekerja masih dengan haluan.
“Baiklah Alice, aku akan membantumu beres-beres tapi, sebelum ini di mulai sebaiknya ganti pakaianmu sebab aku sudah kedinginan tidak memakai baju seperti ini. Lagipula aku tidak ingin melihat tubuhmu,” ungkap Alvero.
“Memangnya kenapa dengan tubuhku? Apa kamu menginginkannya lagi? Jika ya katakanlah tapi, kamu harus sediakan uang untukku,” sahut Alice dengan entengnya.
“Sejak ... kamu mengambil sesuatu yang berguna untukku jadi, mulai saat ini jika kamu menginginkannya lagi maka sediakan biaya untukku,” ucap Alice sambil mengigit bibir bawahnya.
“Jadi benar kalau kamu masih perawan saat itu? Aku benar-benar tidak sadar sebab saat itu aku juga sedikit terasa pusing karena mabuk. Maafkan aku, Kupikir kamu sama dengan wanita yang di sana yang sudah tidak memiliki perawan,” sahut Alvero merasa bersalah.
“Yah tidak masalah toh sudah terjadi. Saat itu aku hanya ingin menenangkan diriku saja jadi, memutuskan untuk bermain di bar tapi, sekarang aku tidak akan mempermasalahkannya karena aku akan memberinya kapan yang kamu mau namun, tetap ingat bayaran ku,” respon Alice dengan sangat mudah.
“Baiklah, bagaimana kalau aku menginginkannya saat ini?” tanya Alvero sengaja menggoda Alice.
“Aku siap tapi, apa kamarmu kedap suara?” tanya Alice sambil celingak-celinguk.
Alvero pun mengangguk, ia akhirnya bangun untuk mengunci pintunya. Lalu dirinya langsung membuat penutup bawah agar cepat di sambut oleh mulut Alice.
Bagaikan permen ia melahap begitu rakus. Melihat mata Alvero terpejam Alice langsung membuka pengait dalam miliknya hingga ia sama-sama telanjang dada.
Alice membawa tangan Alvero berada ke bagian dadanya. Lalu mereka memilih untuk naik ke ranjang agar Alvero bisa lebih leluasa. Semuanya terjadi, ciuman bahkan sampai ke penyatuan. Dengan begitu semangat ia menerima tubuh Alvero bahkan lebih ganas daripada saat ia meminum obat lantaran Alice begitu menyukainya.
Mulai dari permainan pelan sampai dengan kasar. Alice begitu semangat menanti Alvero. Hingga akhirnya lagi-lagi Alvero menyemburkan cairan miliknya hingga masuk menembus lubang indah miliknya. Tanpa Alice pedulikan akan menjadi pembuahan. Hingga mereka berdua tertidur tanpa memakai sehelai benangpun.
...----------------...
(Kediaman Pasutri)
Hari yang indah akan di nanti-nantikan oleh Kelvin dan Viora. Mereka telah sepakat untuk honeymoon selama seminggu di Jepang. Lantaran kesibukan di tempat kerja juga tidak bisa di tinggal begitu lama.
Viora kemas-kemas jauh hari padahal hari keberangkatan mereka masih tersisa tiga hari lagi. Membuat Kelvin menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah konyol dari Viora. Ia tertawa namun, tidak sampai niat hati.
“Gadis kecil, kita mau honeymoon atau mau pindah rumah?” tanya Alvero seraya menahan tawanya.
“Pindah rumah? Ayolah Evin, pertanyaan macam apa itu? Kamu sendiri tahu kita akan honeymoon lalu kenapa mempertanyakannya padaku?” ungkap Viora kebingungan seraya bertanya.
“Gadis kecil ... Kita itu mau pergi tiga hari lagi tapi, kamu justru sibuk sejak hari ini. Lagipula kita tidak perlu membawa boneka, selimut, sama alat masak begini juga. Haduh ... Gadisku ada-ada aja deh,” ungkap Kelvin heran.
“Denger yah, Pangeran! Kita itu mau berangkat seminggu loh. Masa sih aku cuma bawa pakaian doang. Gimana kita makan, terus gimana kalau aku kangen sama teddybear, terus lagi kalau aku dingin gimana,” sahut Viora yang berbicara begitu cepat.
‘Ingin rasanya aku bunuh diri saat ini juga, gadis kecil. Ternyata kamu belum benar-benar menjadi orang dewasa hanya berpura-pura untuk dewasa,’ batin Kelvin sambil tersenyum.
“Gadis kecil, sudah jangan terlalu banyak pikir mendingan sekarang kita tidur biar besok bangun cepat. Ayo,” pinta Kelvin yang tidak tega melihat istrinya.
“Tapi, aku lagi kemas-kemas bar-” ucapan Viora sampai berhenti karena mulutnya di bungkam oleh tangan Kelvin.
“Udah ayo, biar nanti kita cukup bawa seperlunya aja. Lagipula nanti di sana aku bakalan borong semua yang ingin kamu beli,” ungkap Kelvin sambil terus menarik tangannya.