Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
Eps 119 Claudia vs Steven


Happy Reading


(Claudia Siregar)


Panggilan masuk dari seseorang yang tidak lama ini menjadi temanku meskipun aku sedikit kesal dengannya karena dia bersama dengan Pria yang aku cintai tapi meski begitu aku tidak menyangka kalau Zoya akan mengundangku ke pesta temannya itu artinya aku akan bertemu dengan Reiner. Berarti Zoya memang sudah menjadikanku temannya.


“Kenapa senyam-senyum sendiri?” tanya Steven dengan tiba-tiba, entah darimana ia datang justru membuatku terkejut hingga berpaling menoleh kearahnya.


“Eh Steven, Ihhh kaget tahu! Ngomong tuh langsung berdiri kedepan biar gua nggak kaget,” omel ku tanpa menjawab ucapannya.


Pletak! Suara pukulan ringan tepat di bahuku. Steven pasti sangat penasaran karena tingkahku. Membuatku meringis kesakitan.


“Sini deh duduk dulu, gua itu mau ngomong sesuatu hal penting! Ini dari teman Lo itu si Zoya,” ucapku sambil menarik tangannya.


“Zoya? Emang kenapa dengan Zoya?!” tanya Steven dengan semangat.


“Biasa aja ihh reaksinya. Temen Zoya itu mau adain pesta kak, terus mereka undang kita.”


“Pesta?! Wow pasti pestanya mewah. Bilang pada Zoya kalau kita akan datang, gua nggak sabar datang dan melihat Zoya yang cantik,” ucap Steven merasa kagum.


“Hey Steve! Lo lagi puji Zoya, jangan lupa kalau dia istri dari sahabat sendiri.”


“Yah ... gua ingat, gua hanya kagum dengan kecantikan serta kelembutan hati yang ia miliki. Sudahlah mari kita shopping dan sekaligus mencari hadiah untuk temannya itu, gua nggak sabar menanti malam tiba lalu berdansa whuu ....” Steven ceria hingga membuatnya melompat-lompat lalu menuju keruang tamu.


Melihat tingkah bodoh yang ia tunjukkan padaku membuatku menggelengkan kepala seraya meninggalkan ia sendirian dan aku beranjak masuk ke kamar untuk bersiap-siap. Dalam perjalanan menuju ke kamar, aku tidak habis-habisnya berpikir tentang acara itu.


“Apa mungkin Reiner sudah menceritakan kalau aku temannya? Ah rasanya aku sangat payah harus mengalah dan melihat mereka bahagia. Andai ada Pria yang seperti Reiner cintaku itu, aku pasti sangat senang dan tidak lagi bersedih melihat ia dengan orang lain,” gumam ku seraya terus melanjutkan langkahku.


“Apa maksudnya Claudia?!” Suara Steven mengangetkan ku hingga membuat langkahku terhenti.


“Eh kakak, anu ... gu–gua ngga bermaksud apapun, sudahlah gua mau bersiap-siap,” ucapku mencoba mengalihkan pembicaraan dan berniat pergi dari hadapannya tapi tanganku tiba-tiba di cekal olehnya.


‘Mampus gua, kakak belum pernah semarah ini,’ batinku.


“Kenapa diam?! Ayo jawab Claudia, jangan sampai gua yang bakal ngulang yang Lo bilang tadi,” bentak Steven yang masih mencekal lenganku.


“Okay gua bakalan jawab tapi lepasin gua dulu!” teriakku karena tidak terima atas perlakuan kasar itu.


“Kak, sebelumnya gua belum lihat Lo sampai marah kaya gini sama gua tapi hari ini tadi Lo ceria terus sekarang Lo malah marahin gua, yang adik Lo tuh gua bukannya dia!” justru aku mencoba mengalihkan pembicaraan agar ia tidak membahas topik yang sebenarnya.


“Sini duduk dulu biar kita tenang. Lo tahu Clau kenapa gua bisa marah sama Lo? Kita udah pernah janji, kita bakalan jadi teman kaya dulu tapi gua nggak sengaja dengerin ucapan Lo barusan seakan ... Reiner itu bukan teman Lo, gua sebagai kakak berhak untuk negur Lo kalau salah jalan. Reiner udah banyak bantuin kita dari mulai kita sekolah dulu kita sering ngerepotin dia terus sekarang Lo bilang nggak suka ngelihat hubungan mereka itu artinya sama aja Lo bukan teman dia tapi mau nusuk dia dari belakang.”


Steven marahma dan berusaha menceramahi ku. Entah kenapa aku berpikir kalau dia memang tidak ingin berpihak denganku justru menjadi ancaman untukku. Bagaimanapun gua harus bisa membuat Steven berpihak sama adiknya.


“Okay gua paham Lo berhak negur gua karna Lo kakak tapi apa Lo nggak mikir sama perasaan gua? Bertahun-tahun gua nunggu sampai akhirnya gua berhasil keluar dari zona penyakit. Dan sekarang gua mau bahagia dan gua mau ambil kebahagiaan yang dulu sempat tertunda. Apa itu salah? Seharusnya Lo sebagai kakak berpihak sama gua,” sahutku terus mencoba membuat agar ia mengerti.


“Gua bukan ngga mau Lo bahagia Claudia ... tapi nggak dengan Lo ngerusak kebahagiaan orang lain yang itu sendiri teman Lo, udah deh kita udah berkali-kali bahas hal yang sama gua capek, gua mohon sama Lo jadi adik yang baik jangan sampai karena ulah Lo ini membuat hubungan gua sama Reiner hancur, apalagi buat istrinya menderita, gua emang cinta sama Zoya tapi gua tahu dia cuma bisa bahagia sama orang lain bukan sama gua.”


“Kalau gitu Lo mending pilih antara gua sama Reiner. Cepat Lo pilih Lo berpihak sama siapa?! Apa emang Lo cuma peduli sama mereka tapi nggak peduli sama gua, cepet jawab!” Aku terus memaksa dan tidak ingin berhenti.


“Claudia sadar! Gua bakalan pilih Lo karena Lo itu adik gua dan selamanya gua bakalan pilih sebab di sini kita hanya berdua tanpa saudara tapi gua nggak bisa buat berpihak sama apa yang ada dipikiran Lo itu. Gua pikir setelah rencana pertemuan kita kemarin Lo bakalan berhenti dengan semua cinta terlarang tapi ternyata salah. Gua kecewa!” teriak Steven lalu beranjak pergi dari hadapanku meski aku mencoba menahannya tapi ia tidak peduli.


“Kakak ... Lo nggak bisa jahat sama gua! Awas aja kalau sampai Lo aduin semuanya sama Reiner, gua janji hubungan adik kakak di antara kita bakalan putus, ingat itu kak!” teriakku berusaha mengancam Steven karena apa aku tidak ingin dia buka mulut.


“Arrrggh sial! Steven benar-benar buat gua marah, ayolah cinta kenapa terus buat gua dilema seperti ini? Satu sisi gua sayang dan mau jadi adik yang penurut tapi satu sisi gua cinta sama Reiner. Gua harus apa ...!”


Dilema apa yang sedang ku alami saat ini? Cinta yang membuatku buta dan cinta yang membuatku ingin segera memiliki tapi cinta yang juga membuatku takut akan kehilangan seorang kakak yang sudah sangat baik serta banyak membantuku.


Jika harus memilih aku lebih baik tidak selamat dan mati dari penyakit yang dulu ku derita. Jika aku mengetahui kalau saat aku sembuh harus merasakan sakit seperti ini lebih baik aku tidak hidup. Aku juga tidak mungkin terus-menerus berbohong pada diriku sendiri.