
H A P P Y R E A D I N G
“Aku kesal saat di depanku, kamu justru lebih memilih untuk selalu mengajak ribut bahkan hal sepele selalu kita perdebatkan tapi, didepan wanita itu kamu justru sangat romantis bahkan aku belum pernah melihat dirimu yang lain. Jujur, aku ingin menghilangkan semua rasa cinta ini tapi, rasanya sangat sulit justru itu semakin membuatku tidak tahan. Apakah memang aku harus selalu melihatmu bermesraan dengan gadis lain di depanku? Haruskah aku terus berpura-pura seakan tidak mencintaimu?” amuk Alice dalam tangisannya.
Alice terus menangis. Ia menahan kesedihannya sendirian tanpa ingin orang lain yang tahu. Sekitar beberapa menit dia terus menangis sampai akhirnya ia berusaha untuk bangkit walaupun tubuhnya lemas karena terlalu lama menguras pikirannya. Mencuci wajahnya sampai ia bercermin. Tarikan nafas panjang sebelum akhirnya ia mencoba tersenyum.
“Aku harus kuat! Yah benar, tetap harus tegar dan mencoba untuk ikhlas tapi, aku tidak boleh membiarkan Alvero menodai Viora karena aku tidak akan pernah mau semua itu terjadi apalagi aku tidak ingin berbagi orang yang kucintai dalam dekapan orang lain,” gumam Alice yang sedang berbicara dengan cermin didepan.
Dengan memantapkan hatinya, ia pun keluar dan langsung menuju ke kamar Viora di sekap. Saat ia datang sudah tidak lagi Alvero di sana kecuali Viora yang masih berbaring tidak berdaya.
“Loh! Alvero di mana yah? Masa sih dia ninggalin aku sendirian dengan wanita murahan ini. Setidaknya ajak kek,” kesal Alice.
Alice langsung mendekati Viora sambil mencekal rahangnya. Rasa sakit serta amarah saat melihat Viora.
“Jika bukan karena Alvero mencintaimu, kalau tidak aku sudah pasti akan langsung membunuhmu saat ini juga. Sudah punya suami bukannya jadi istri baik untuk suami sendiri malah cari Pria lain. Dasar murahan! Coba aja seandainya dulu kamu tidak berpacaran dengan Alvero mungkin saat ini dia sudah pasti langsung mencintaiku tapi, semaunya hancur! Karena ulah wanita murahan kaya kamu!” geram Alice dengan amarah.
Viora merasakan sakit di sekitar rahangnya. Ia pun akhirnya perlahan sadar dan pertama ia langsung melihat wajah Alice yang marah berusaha keras menyakitinya.
“Sakit, Alice! Lepaskan!” teriak Viora sambil menahan tangan Alice.
“Ini akibatnya kamu sudah menjadi wanita murahan!” bentak Alice.
Tidak cukup dengan semua itu. Alice langsung menjambak rambut Viora dengan kuat lalu menampar pipinya. Viora yang masih kebingungan dan merasa pusing hingga dirinya tidak dapat membalas selain menahan kesakitan.
“Alice! Hentikan! Beraninya kamu menyakitiku lagi. Kamu akan menyesal setelah tahu aku ini siapa?” bentak Viora sambil mencoba melepaskan jambak 'kan di rambutnya.
“Oh ya? Wah ... Jadi sebenarnya siapa dirimu itu? Seorang artis terkenal? Pengacara hukum? Atau ... Kamu itu istrinya Kelvin? Aduh aku jadi takut ...,” tanya Alice dengan mencoba meledeknya.
‘Hah? Istri Kelvin? Apa selama ini dia tahu aku siapa? Dan sekarang aku sedang ada di mana?’ batin Viora sambil melirik kesana-kemari.
“Ada apa, Viora? Apa kamu kaget setelah aku tahu kamu itu siapa, begitu? Haha mulai saat ini kita bukan teman. Ah salah memang kita tidak pernah berteman dari dulu kecuali berteman dengan adanya tujuan. Tanpa kamu sebutkan aku juga sudah tahu jadi, sedikitpun aku tidak akan takut denganmu karena di tempat ini aku adalah tuan rumah dan kamu! Hanyalah seekor kucing jalanan yang baru saja di pungut,” ungkap Alice dengan sadis.
“Jadi ternyata benar semua dugaan ku kalau kamu tidak tulus untuk berteman denganku. Asalkan kamu tahu suamiku juga sudah curiga denganmu jadi, siap-siap saja sekarang kamu senang tapi, nanti ku pastikan kamu akan membusuk di dalam penjara juga akan di keluarkan dari jabatan sekretaris mu!” ancam Viora tanpa ingin mengalah.
“Berani sekali kamu mengancamku, Viora! Asal kamu tahu hidupmu akan selamanya berada di sini. Entah sampai kapan Alvero akan menjadikanmu mainannya jadi, jangan terlalu berbangga diri karena di sini kamu tidak berdaya. Ah satu lagi aku juga akan memilih resign dari perusahaan suamimu itu. Sebaiknya kamu persiapkan diri selama di sini tapi, jika kamu ingin keluar dari sini maka aku bisa melakukannya dengan mudah,” ungkap Alice sambil tersenyum tersungging.
“Katakan bagaimana aku harus keluar dari tempat ini? Ku mohon bantulah aku pliss! Aku janji akan mengingat semua perbuatan baikmu dan tentu saja aku akan membalasnya,” ucap Viora memohon.
‘Kalau memang aku harus membawa Viora keluar dari sini pasti Alvero akan marah padaku tapi, jika tidak maka Alvero akan berbuat nekat bahkan mungkin akan menodai Viora. Tentu saja aku tidak ingin satu orang pun menyentuh milikku,' batin Alice.
Setelah Alice berpikir. Ia akhirnya memutuskan sesuatu yang benar meskipun dirinya akan masih memiliki keraguan.
“Baiklah aku akan membantumu untuk bebas tapi, dengan dua syarat berikan uang sebanyak senilai lima triliun untukku maka kamu akan langsung bebas dan, bisa ku pastikan Alvero tidak akan mengejar mu lagi tapi, setelah itu kamu harus pergi jauh atau bila perlu pindah rumah sekalian,” ungkap Alice dengan jelas.
“Apa? Duit sebanyak itu cuma hanya untuk membebaskan aku di sini tapi, mengapa kamu meminta imbalan? Jujur aku tidak memiliki uang sebanyak itu bahkan suamiku sendiri aku takut memporotinya, mana mungkin aku meminta uang sebesar itu padanya. Lagipula kami juga tidak mungkin pindah sebab semua aset kekayaan semuanya berada di sini,” sahut Alice dengan cemas.
“Yah ... Kalau begitu baiklah aku tidak bisa membantumu. Aku harus pergi dulu jadi, tunggu saja kapan Alvero kembali karena aku muak melihat wajahmu!” bentak Alice seraya meninggalkan Viora.
“Alice! Jangan pergi! Sebaiknya kita runding 'kan lagi,” teriak Viora sambil berlari menuju kearah pintu.
‘Ah sial! Handphoneku kemana yah?’ batin Viora yang tiba-tiba mengingat sesuatu.
Viora celingak-celinguk mencari keberadaan ponselnya. Ia ingin menghubungi Kelvin tapi sayang, sampai lelah mencari juga tidak akan ketemu.
“Pasti mereka sudah menyita ponselku. Arrgh! Sial! Padahal nanti malam kami harus berangkat honeymoon,” gumam Viora.
Viora memilih untuk berdiam diri sambil menunggu seseorang yang datang sebab tidak ada gunanya mencari kesana-kemari.
...----------------...
Di sisi lain. Alice berpapasan dengan Alvero. Ia melihat Alvero membawa begitu banyaknya belanjaan hingga membuat dirinya penasaran sampai-sampai menghentikan langkahnya.
“Eh stop! Itu belanjaan buat siapa kok banyak banget? Buat aku ya?” tanya Alice dengan begitu percaya diri.
“Enak aja! Ini tuh buat kekasihku yang di dalam. Udah sana jangan halangi jalan orang lain. Aku mau cepat-cepat ketemu sama kekasihku. Ah ya, satu lagi tolong hubungi dua orang pelayan untuk datang kesini. Mereka yang akan mengurus Viora di sini sebab nanti malam Mami dan Papi akan datang berkunjung jadi, kita tidak punya banyak waktu untuk terus berjaga di sini,” perintah Alvero tanpa ingin di bantah.
“Huuf! Giliran nyuruh aja cepet banget! Coba masalah hadiah. Boro-boro di beliin barang sebanyak gitu, makan di tempatnya aja pakai di bayar! Rasanya benar-benar tidak adil. Kenapa sih bukan aku aja yang di sekap jadinya senang bisa di perhatikan kaya begitu,” omel Alice seraya mengeluarkan ponselnya.