
Happy reading.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Selalu berikan yang terbaik pada pertemuan pertama. Karena rasa suka bisa datang disaat pandangan pertama, begitupun dengan rasa tidak suka.
*****
(Stevenson)
‘Dia sangat cantik, menarik dan senyumannya manis sekali ... benar-benar wanita kriteria ku tapi sayang sudah bersuami bahkan sedang hamil, suaminya pasti sangat beruntung memilikinya. Andai dia jadi milikku, aku juga tidak mempermasalahkan dengan status dirinya,’ batin Steven.
Pikiranku terus saja membayangkan Zoya, wanita yang tidak sengaja ku tolong, entah aku jatuh cinta pada pandangan pertama atau aku hanya merasa tertarik dengan paras cantiknya.
Lamunanku buyar ketika seorang wanita yang tidak kalah cantik mengagetkanku. “Hay Steven, yuk pulang aku udah selesai,” ucap Claudia seraya memperlihatkan barang-barang belanjaan yang di tenteng olehnya.
Aku pun mengangguk, dan kami pun langsung pulang. Memang aku sedang menunggunya di luar sedangkan dia sibuk shopping di dalam.
‘Zoya Khalisa, memang nama yang sangat indah seindah wajahnya, sayang gue kalah cepat sama suaminya, aduh sialan pikiran macam apa ini, sadar Steven itu cewek udah punya suami,’ batin Steven.
Entah kenapa pikiranku terus saja mengingat tentang gadis itu, rasanya aku ingin mengenalnya lebih jauh.
“Steven!”
“Iya Claudia, kenapa?”
“Kenapa senyam-senyum Steven? Senang ya habis ketemu cewek itu tadi, ayo ngaku ....,” goda Claudia.
“Ngga kok, lagian itu cewek udah ada suami,” sahutku seraya tersenyum balik kearahnya.
“Jadi maksudmu kalau nggak ada suami, kamu suka sama dia, ehh kapan-kapan kenalin aku dong biar di sini aku ada temen, lagian males terusan kemana-mana sama kamu,” omel Claudia.
“Duh Claudia, nanti ya kalau ketemu lagi abisnya gue lupa minta teleponnya tadi.”
“Okay deh sip,” sahut Claudia mantap.
“By the way, gue kemarin ketemu Reiner, elu ngga kangen dia?” ucapku.
Claudia tiba-tiba terdiam dan menatapku, entah apa yang ada dipikirannya saat ini.
“Aku mau ketemu dia dan menjelaskan tentang kehilanganku dulu, bantu aku Steven, ku mohon ....,” pinta Claudia.
“Tentu aku akan membantumu, memang sudah seharusnya Claudia, itu sudah kewajiban mu menjelaskan apa yang dulu belum diketahui oleh Reiner, lalu bagaimana perasaanmu dengannya apa masih sama seperti dulu?” aku seakan menjadi wartawan untuknya terus-menerus bertanya.
“A–aku masih belum tau Steve,” sahut Claudia lemas.
Percakapan singkat pun terhenti antara aku dengannya, setelah membahas Reiner, reaksi Claudia sangat aneh dia seakan sedang menyembunyikan sesuatu hal dariku, sangat jelas terlihat wajahnya yang tiba-tiba murung, aku bisa melihat kalau Claudia masih menyimpan perasaan untuk temanku.
Aku terus fokus dengan menyetir. Kemungkinan pikiranku sama dengan Claudia. Sampai ke apartemennya pun ia tidak banyak bicara denganku. Aku hanya memakluminya dan tidak banyak lagi bertanya, sembari membantunya memasukkan semua barang belanjaan.
(Claudia Siregar)
Aku merantau ke Filipina bersama Steven, ia ingin menetap di sini lantaran pekerjaan katanya mudah di dapatkan sebab hanya tinggal meminta kepada Reiner sedangkan aku yang memang bernasib tidak terlalu baik seperti dia, harus mencari jalanku sendiri untuk menempuh pendidikan ku.
Aku berasal dari Medan, sama seperti Steven, tapi hidup ku amat menyedihkan, cita-cita yang dulu ingin ku kejar harus tertunda oleh banyak hal, mulai dari biaya yang tidak mencukupi hingga aku harus jatuh sakit dan tentu saja orangtuaku menghabiskan semua biaya demi kesembuhan ku, hingga akhirnya aku bisa kembali hidup normal kembali.
Aku sedang menempuh pendidikan untuk menjadi seorang Dokter. Keinginanku demi menjadi seorang Dokter sebab aku ingin mengobati setiap orang yang membutuhkan pertolonganku seperti aku yang diberikan mukjizat oleh Tuhan untuk sembuh, meskipun sangat mustahil karena dulu aku terkena kanker otak.
Kehilanganku sejak duduk di bangku sekolah menengah atas harus menunda banyak hal, seperti cintaku untuk Reiner, orang yang sangat kucintai bahkan sampai saat ini aku masih berharap untuk bisa bertemu dengannya dan memeluknya erat tanpa bisa ku lepaskan.
Setelah kehilanganku yang tiba-tiba, penantian ku amat panjang demi hidup kembali dan bertemu dengan cinta pertamaku, hingga akhirnya Steven bisa menemukanku dan menjadikan aku adiknya, wasiat dari orangtuaku untuknya sebelum mereka pergi menghadap Tuhan.
Di suatu tempat aku rasanya pernah bertemu dengan Reiner tapi aku belum bisa memastikan itu benar dia atau bukan, sebab saat itu dia bersama seorang wanita, meskipun orang itu memiliki kemiripan dengan Reiner.
--------------
Steven sedang menungguku membawakan teh miliknya. Aku pun menghampirinya sembari membawa apa dia minta. Aku duduk di sampingnya.
“Claudia, gue merasa bersalah banget ngga hadir di acara tempat Reiner, dia sudah banyak membantu gue,” lirih Steven.
‘Acara? Maksudnya acara bagaimana? Apa mungkin acara pernikahannya?’ batin Claudia.
“Hey kenapa malah melamun? Elu ngga denger ya gue ngomong,” omel Steven.
“Denger Steve! Emang acara apa di sana? Apa Reiner sudah menikah?” tanyaku penasaran.
“Katanya sudah tapi gue belum pernah ketemu sama istrinya, gimana nih gue ngga enak banget ama dia, rasanya gue bukan teman yang baik,” ucap Steven menyalahi dirinya.
“Jadi Reiner sudah menikah?!”
‘Oh Tuhan, apa mungkin aku memang tidak berjodoh dengannya,’ batin Claudia.
“Gue udah ceritakan saat itu dia bantu cari apartemen buat gue, kami cerita-cerita sedikit lalu dia ngundang gue buat dateng ke acara sambutan kehamilan istrinya, nah saat itu bukannya gue lagi bantuin elu bersih-bersih apartemen, semoga aja Reiner paham kenapa gue ngga dateng,” curhat Steven.
“Jadi istrinya udah hamil? Menurut gue dia pasti ngerti kok Steve tenang aja sifat Reiner tentu masih sama seperti dulu meskipun aku belum pernah bertemu dengannya,” sahutku.
“Iya istrinya udah hamil, kenapa emang elu mau rebut Reiner dari istrinya?” goda Steven seraya tersenyum kearahku.
“Gue masih kepikiran untuk kesana, apa sih lu udah ahh gue capek nih, elu mau tidur di sini apa langsung pulang?”
“Keknya gue tidur di sini deh capek banget kalau langsung pulang, siapin sarapan yang enak ya adek cantik,” ungkap Steven.
“Okay berhubung karena emang gue baik hati jadi sarapan nanti bakalan ada ditambah enak, udah ah gue ke kamar dulu,” aku pun pamit dan langsung menuju ke kamar.
Apa mungkin harapanku dengannya memang sudah tidak ada lagi? Seharusnya dulu aku pamit dan tidak menghilang dengan tiba-tiba, maafkan aku Reiner.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Jangan lewatkan guys dan terus dukung aku sebab dukungan kalian sangat berharga untukku. Kalian yang terbaik tentu aku juga akan memberikan yang terbaik.