
Happy Reading
Zoya dan lainnya meminum habis gelas yang sudah diberikan tanda tanpa tersisa. Claudia sudah menantikan reaksi yang akan terjadi, tapi betapa terkejutnya ia tidak ada gejala-gejala apapun yang terlihat.
‘Ini kak Elie salah kasih racun apa? Kok nggak ada terjadi apapun. Ihhh ngga seru ah! Awas kamu kak, udah bohongin aku,’ batin Claudia kesal.
Betapa kesalnya hati Claudia melihat tidak ada tanda-tanda apapun. Ia juga geram dengan Elie karena tidak becus memberikan racun. Setelah kekesalannya itu ia pun pergi menjauh dari kerumunan orang lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Elie.
Setelah menunggu beberapa saat panggilan masuk darinya pun tersambung.
“Hallo kak, kamu itu sengaja yah ngerjain aku? Mana buktinya mereka berdua biasa aja nggak kaya minum racun!” Claudia geram dibalik ponselnya.
“What?! Ngga ada tanda apapun, are you seriously? Aku beneran kasih racun Claudia, ngga mungkin mereka berdua baik-baik aja karena obat itu cara kerjanya lumayan cepet atau jangan-jangan ada yang udah tahu rencana kita lalu gagalkan itu semua,” sahut Elie dibalik ponsel.
“Jadi kalau memang kakak ngga bohong berarti memang benar ada yang udah tahu rencana ini, tapi siapa kak? Apa mungkin Zoya, Steven, atau siapa?” tanya Claudia kebingungan.
“Rasaku mereka semua ngga tahu karena apa kalau mereka tahu pasti mereka bakalan langsung nyerang dan usir kamu dari pesta. Sebaiknya kita harus lebih hati-hati karena yang tahu rencana kita pasti di antara mereka juga,” ucap Elie.
“Ya udah kak, aku balik ke mereka dulu yah soalnya nanti curiga kalau aku lama banget teleponan di sini, bye kakak.”
“Iya bye-bye,” sahut Elie. Panggilan mereka pun berakhir.
Claudia pun kembali ketempat pesta, ia juga masih kepikiran tentang orang yang sudah menggagalkan rencananya. Ia pun sibuk memperhatikan setiap orang yang melihatnya dengan tatapan aneh.
“Kemana aja Claudia?” tanya Zoya yang sudah berada didekatnya.
“Oh itu ke toilet tadi,” jawab Claudia tanpa rasa ragu.
“Oh ... kirain kemana.”
Claudia berhenti memusingkan orang yang telah mengacaukan rencananya karena ia juga tidak mungkin menemukan siapa pelaku tersebut hingga ia memutuskan untuk menyantap hidangan bersama dengan teman-temannya.
--------------------------------------------------
Berbeda dengan Viora, ia masih merasakan malu dan tidak pantas mendapatkan perhatian khusus dari Ibunda dan juga Kelvin, karena baginya sendiri itu hanyalah kebohongan.
Viora yang sedari tadi mencoba mencari celah agar bisa memberikan kode kepada Alvero. Ia masih malu dengan apa yang sudah terjadi dan sekarang justru dirinya yang terus menjadi perhatian bagi semua orang.
‘Sejak kapan aku jadi menantu Ibunda Kelvin? Dilamar saja belum apalagi menikah, lagian jika mereka kembali membicarakan perjodohan ku tentu saja aku akan menolaknya, karena aku tidak menyukai Kelvin sebab dia sudah bersama dengan Elie iblis itu,’ batin Viora.
Berkali-kali batinnya bicara bahwa Kelvin tidak pantas jika menjadi jodohnya, meskipun kedua orangtuanya mereka memang sudah menjodohkan mereka namun belum ada kepastian tentang perjodohan itu kapan terjadi.
“Mmm ... Gadis kecil, bisa kita bicara sebentar?” tanya Kelvin yang sudah berada didekat Viora.
“Ngga bisa, gua lagi makan. Apa nggak lihat gua lagi ngapain?” sahut Viora dengan ketus.
Mendengar jawaban sadis dari Viora. Alvero sendiri tersenyum bahagia karena gadis pujaan menolak mentah-mentah ajakan Kelvin.
Namun bukan Kelvin namanya, ia tidak akan menyerah untuk yang kedua kalinya meskipun penolakan sadis yang ia terima.
“Pliss! Sebentar aja ada yang pengen aku omongin sama kamu, kalau kamu nggak mau nanti aku memohon di sini sambil bersujud.” Kelvin berusaha memohon dengan sedikit ancaman agar keinginannya terkabulkan.
“Iss nyebelin! Ya udah deh iya!” sahut Viora geram. Ia terpaksa mengiyakan karena tidak mau kedua kalinya menjadi bahan perhatian.
Senyuman terpancar di wajah Kelvin. Lalu mereka berdua pergi sedikit menjauh dari kerumunan orang banyak. Dalam perjalanan Viora sengaja berjalan dibelakang namun Kelvin tidak terima hingga ia memutuskan menggenggam tangan sang pujaan hati kecilnya.
Viora menyadari jika Kelvin sengaja mengambil kesempatan darinya, namun meski begitu ia tidak bisa berbuat banyak sebab semua orang akan melihatnya. Setelah sampai lebih jauh dari orang lain Viora melepas genggaman tangannya dengan paksa.
‘Apa Viora sangat marah denganku? Sampai-sampai dia tidak ingin aku menggenggam tangannya, tapi jangan menyerah Kelvin, gadis kecilmu sekarang sudah ada di depanmu,’ batin Kelvin.
“Kenapa diam?! Katanya mau bicara,” tanya Viora ketus.
Cupss! Tanpa ada kata-kata apapun dari Kelvin, ia lalu membungkam mulut Viora dengan mulutnya. Gadis yang sudah lama ia nanti-nanti akhirnya sekarang berada didepannya langsung. Ada rasa senang dan bahagia yang Kelvin rasakan.
Viora membelalakkan matanya melihat Kelvin yang sengaja mencari kesempatan dalam kesempitan. Ia terus berusaha melepaskan ciuman mereka namun apa ada tenaganya tidak kuat sebab Kelvin sudah sangat rakus melahap habis bibir mungilnya serta tangannya tepat merangkul kuat kepalanya.
Kira-kira seperti ini.
‘Viora, aku sangat merindukanmu sungguh! Ingin aku menciumi mu habis dan memelukmu tanpa ada orang lain yang menggangu kita lagi,’ batin Kelvin saat ciumannya masih berlangsung.
‘Evin, apa ini yang kamu maksud cinta? Setelah semua kekecewaan yang kamu beri lalu sekarang kamu kembali membuatku tidak berdaya dan seakan aku wanita gampangan yang bisa kapanpun mau kamu inginkan, aku tidak boleh kalah. Aku membencimu Kelvin!’ batin Viora lalu dengan hentakan keras ia berusaha mendorong Kelvin hingga ciuman mereka berhenti.
Kelvin tercengang melihat penolakan dari Viora. Ia lalu kembali mencoba mendekati dengan memeluknya, tapi ia sia-sia. Sebelum berhasil memeluk Viora pun berlari dengan air mata bercucuran entah kemana tujuan larinya namun ia melihat toilet tidak jauh lagi hingga Viora memutuskan untuk masuk.
Viora lalu duduk diatas closet sembari menangis tersedu-sedu.
“Evin, setelah semua rasa sakit kamu lakukan padaku lalu sekarang kamu mencoba membuat rasa sakit itu kembali datang. Apa memang bagimu wanita hanya bisa dipermainkan? Aku mencintaimu namun aku juga membencimu! Aku ingin membunuhmu! Bodohnya aku yang terlalu mencintaimu, jujur aku memang merindukanmu, tapi aku hanya ingin kamu mengambil hatiku bukan dengan cara paksaan!” Viora menjerit dalam tangisnya, ia menghilangkan semua rasa sakit saat itu tanpa seorangpun yang tahu.
Tanpa Viora ketahui Kelvin mendengar semua yang gadis pujaannya katakan, ia berada di balik pintu toilet sembari melakukan hal yang sama, menangis.