
Happy reading
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
(Zoya Khalisa More)
Dari jarak yang tidak jauh aku melihat sebuah Lamborghini masuk ke halaman kediamanku. Entah milik siapa aku tidak tahu. Ternyata aku salah menebaknya, Reiner keluar dari mobil itu begitupun dengan Steven tapi yang membuatku bingung kenapa mereka bisa kenal?
Aku mencoba lebih mendekati mereka, “Mas, kok kamu bisa bareng Steve? Kalian saling kenal?”
Steven sendiri langsung menepuk jidatnya sendiri, “Maaf Zoya, aku lupa cerita kami ini memang teman lama tapi baru saat ini bersatu kembali.”
“Sayang, kok kamu bisa juga kenal sama Steve gimana ceritanya?” tanya Reiner yang juga kebingungan sepertiku.
“Oh ... kemarin itu Steve nolongin aku, untung saja ada dia kalau nggak entahlah Mas, aku mungkin ngga ada didepan kamu. Eh kita masuk dulu yuk ngga bagus ngobrol sambil berdiri begini.”
“Eh ngga usah Zoya, aku langsung pamit aja soalnya adikku sendirian di rumah tadi aku bilangnya bentar lain kali aja yah, bro gua pamit dulu yah, bye-bye ....”
Steven pun pergi dari kediamanku. Kami berdua langsung masuk kedalam. Reiner merangkul ku tapi ada yang aneh dengan baunya. ‘Kok harum wangi Reiner beda yah kaya wangi perempuan? Apa mungkin dia habis ketemu perempuan dan ... ah aku nggak boleh mikir yang nggak-nggak dulu,’ batinku curiga.
“Kok malah berhenti sih sayang? Ke kamar yuk,” pinta Reiner yang menyadari aku berhenti dengan tiba-tiba.
“Kamu habis darimana sih? Terus ketemu siapa? Kok ada yang aneh dari bau wangi baju kamu, bukannya ini bau harum wanita yah tapi aku juga nggak pakai wanginya lengket seperti ini Mas,” tanyaku dengan curiga.
“Duh sayang ... ya udah sini deh aku cerita biar kita duduk manis dulu eh gimana langsung ke kamar yuk sayang, ayuk aku mau kamu,” sahut Reiner dengan sifat mesumnya.
“Aku ngga mau! Kamu cerita ngga? Kalau nggak yaudah aku mau tidur dulu terus kita pisah kamar!” geram ku yang tak ingin terima.
“Ihhh sayang kok gitu, yaudah iya aku kasih tahu. Tadi itu aku ketemu temen lamaku sayang, wanita jadi kami dulu berteman tiga orang dan sekarang baru bersatu kembali terus kami pelukan bentar ynk sebagai salam pertemanan, kamu jangan marah ... aku beneran nggak lakuin hal aneh,” jawab Reiner.
“Beneran cuma itu? Ngga bohong 'kan ya udah lepas baju kamu sekarang terus taruh di tempat baju kotor, sekarang!” perintahku dengan tegas.
Reiner hanya menurut lalu pergi mengganti pakaiannya. Entah kenapa dengan diriku sangat sensitif dengan berlebihan mungkin saja faktor kehamilanku, aku hanya menebaknya. Sambil menunggu suamiku kembali aku memilih untuk bersantai didepan televisi.
BRUGG!
BRUGG!
“MANA MAJIKAN KALIAN?! SURUH KELUAR ATAU AKU AKAN MASUK SECARA PAKSA!”
"REINER ... ZOYA, WOY KELUAR KALIAN ....”
“Suara apa itu kok kaya teriak-teriak mau ribut, aduh mana Reiner lama banget lagi, lebih baik aku mencari dia aku sangat takut.” Entah siapa yang terus berteriak didepan rumahku, sampai aku mendengar suara pukulan-pukulan yang bisa ku tebak itu para penjaga keamanan rumah yang mungkin sudah babak-belur dihajar.
“DI MANA KALIAN ...! KALAU NGGAK MAU KELUAR AKU AKAN MENEMBAKI SEMUA PELAYAN RUMAH INI.”
“Sayang ... kamu denger itu orang lain yang akan kenak korbannya kalau aku nggak turun tangan, lebih baik kamu tunggu di sini biarkan aku yang keluar, sebentar aku ambilkan pistol,” ucap Reiner seraya mengambil apa yang dia katakan.
Dua pistol sudah ada ditangannya di tambah satu pisau yang sangat runcing, aku yang melihatnya sangat ngilu. Entah sejak kapan pisau itu ia miliki aku sendiri tidak tahu pasti.
Lalu dengan cepat Reiner memberikan satu pistol untukku. “Sayang ... kamu masih ingatkan caranya menembak? Ini untukmu dan tetap di sini jangan keluar sebelum aku yang menyuruhmu keluar, aku akan melihat siapa yang mengacaukan tempat kita.”
“Baiklah Mas, hati-hati kembalilah demi bayi kita.”
“Iya sayang aku akan kembali tenanglah.” Cupss! Setelah memberikan ciuman untukku lalu ia berjalan pelan-pelan keluar dari kamar kami.
* * *
(Reiner Joe Notern)
Semua pelayan di sini menunduk dengan ketakutan, aku keluar melihat siapa yang telah berani masuk ke kediamanku. Ternyata seorang Brian, tapi yang membuatku bingung atas dasar apa dia membuat keributan? Justru kami tidak pernah mempunyai kesalahan dengannya. Aku terus berjalan dengan sedikit was-was apalagi ada tembakan yang membuatku harus waspada.
Tepat didepan Brian, aku berdiri dengan pistol berada ditangan kananku sama dengannya. “Mau apa kamu kesini? Siapa yang menyuruhmu mengacaukan tempatku?!”
“Jangan banyak omong kamu sialan! Mana wanitaku, di mana kamu menyembunyikannya dia! Serahkan wanitaku atau jika tidak istrimu yang akan menjadi sasaran ku kali ini,” murka Brian tanpa tahu kepastian terlebih dahulu.
“Jangan mencoba mengancam ku breng*ek! Jika kamu sampai berani kamu akan mati. Wanita mana maksudmu tidak ada wanita manapun di sini selain para pelayan itu,” bentak ku dengan tegas.
“Bulshit macam apa itu? Di mana Elie ku?! Di mana kamu menyembunyikannya, aku tidak segan-segan menembaki mu dan mencabik-cabik habis tubuhmu itu, cepat katakan di mana Elie?!” jerit Brian yang semakin menjadi-jadi.
‘Brian memang tidak waras, dia bahkan lebih mengerikan jika di tantang, jika aku mati siapa yang menjaga istriku. Oh tidak,’ batinku tidak karuan.
“Kenapa kamu malah diam? Aku tidak bercanda REINER! KATAKAN DI MANA?!” lagi-lagi Brian tidak bisa mengontrol emosinya. Lalu ia mencengkram erat tangan seorang pelayan yang tidak salah-salah apa-apa.
“Lepaskan wanita itu! Jangan sakiti yang tidak bersalah. Elie tidak ada di sini jika kamu tidak percaya silahkan cari di setiap sudut ruangan di sini, aku tidak membohongimu!”
“Baik, aku akan mencarinya awas kalau kamu berbohong,” ucap Brian lalu pergi ke setiap sudut ruangan rumahku.
‘Zoya, oh tidak. Aku harus bersama dengan istriku yah,’ batinku.
Lalu aku berlarian menuju ke kamar untuk menemui istriku jika sampai Brian yang mulai menemukannya aku takut Pria itu akan melakukan hal yang tidak sewajarnya sebagai manusia.
“Mas, untung kamu baik-baik saja aku takut menunggumu lama sekali,” ucap Zoya seraya memelukku.
“Dengar sayang, Brian sedang mencari Elie entahlah aku tidak mengerti dengan apa yang ada dipikiran Pria itu sampai dia mencari kerumah kita, dan kamu harus tetap berada di belakangku ingat yah, aku mencintaimu.”