
H A P P Y R E A D I N G
“Untung saja kakak masih di sana. Sebaiknya aku cepat-cepat menemuinya jika tidak maka aku benar-benar tidak bisa memaafkan diriku sendiri,” gumam Claudia.
Claudia sudah memutuskan. Dirinya pun berlari sekuat tenaga namun, Steven sudah memasuki mobilnya bahkan sudah ingin pergi dari sana. Dengan cepat Claudia menghadang mobil yang sudah mulai berjalan langsung di depan mobil dengan merentangkan tangannya.
“KAKAK!” teriak Claudia sekuat tenaganya sambil memejamkan matanya.
Rem mendadak pun terjadi sampai membuat mereka berubah posisi duduk lebih kedepan. Alice melototkan matanya melihat seorang wanita sedang berbuat bodoh di depan.
“Astaga! Wanita itu ingin cepat-cepat mati. Steven, biar aku yang turun. Aku akan memberikan pelajaran kepada wanita itu!" geram Alice.
Dengan tiba-tiba Steven langsung mencekal lengan Alice yang sedang berusaha untuk turun.
“Ada apa, Steven? Bukankah kita harus marah dengan wanita gila yang ingin mati seperti itu? Jadi, lebih baik aku turun lalu memberikannya pelajaran. Supaya dia tahu kalau mati itu tidak enak,” geram Alice dengan murka.
“Tahan amarahmu, Alice. Biarkan aku yang menanganinya,” sahut Steven dengan lemah lembut.
‘Apa aku tidak salah melihat orang yang pernah mengisi hidupku justru sekarang sedang berdiri di depan bahkan sengaja menghadang mobilku. Claudia, apa aku tidak sedang mimpi?’ batin Steven tidak menyangka.
Setelah berpikir akhirnya Steven memilih untuk turun dari mobilnya. Ia masih tidak percaya dengan apa yang di lihat. Mereka saling berhadapan dengan saling memandang meskipun keduanya bungkam. Tanpa terasa air matanya kedua mengalir meskipun Steven menangis dengan gentleman. Dengan cepat Steven langsung menghapus air matanya.
‘Sungguh aku ingin memeluknya erat bahkan tidak ingin lagi berpisah dengannya,’ batin Claudia.
‘Aku benar-benar tidak sedang bermimpi. Dia bahkan sekarang berdiri di depanku sambil menangis. Claudia, aku sungguh merindukanmu,' batin Steven.
Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Sampai akhirnya Claudia melangkah mendekat lalu ia berlari memeluk Steven dengan erat.
“Kakak, kakak ....”
Claudia memanggil kakaknya sambil terus memeluk dengan erat. Hatinya bahagia. Ia menangis terharu bahagia dengan apa yang terjadi.
‘Kakak? Ternyata Claudia masih mengganggap ku kakaknya. Apa sampai saat ini dia bahkan belum mencintaiku? Aku menunggumu untuk memanggilku bukan kakakmu lagi melainkan orang yang spesial dalam hidupmu,’ batin Steven.
Mereka melepaskan pelukannya. Keduanya saling memandang satu sama lain. Sampai akhirnya Claudia kembali menenggelamkan wajahnya di dalam pelukan Steven.
“Umm, Claudia,” panggil Steven.
Perlahan Claudia melepaskan pelukannya. Lalu ia menatap Steven.
“Ya, kak. Aku senang bertemu lagi dengan kakak. Oh ya kalau boleh aku tahu wanita itu siapa kak?” tanya Claudia penasaran.
“Oh! Dia itu ...-”
“Saya kekasihnya, Steven. Salam kenal," timpal Alice yang tiba-tiba datang.
“Alice?” Steven terheran dengan jawaban Alice.
Claudia terdiam sambil terus menatap wajah Steven yang sedang fokus melihat ke arah Alice.
“Ah ya salam kenal juga, Mbak,” sahut Claudia sambil bersalaman.
‘Jadi ternyata kakak sudah memiliki kekasih. Ternyata sekarang harapanku sia-sia. Padahal aku berharap aku bisa membuatnya bahagia kali ini setelah semua kesalahan yang dulu pernah kulakukan,’ batin Claudia menahan kesedihannya.
“Kak, bolehkah kalau kita ngobrol-ngobrol sebentar? Ah aku lupa. Maaf Mbak Alice, boleh nggak saya ajak pacar Mbak buat ngobrol sebentar ... aja? Hanya sebentar kok, Mbak,” pinta Claudia dengan hati-hati.
Steven melirik dengan cepat saat mendengar ucapan Claudia. ‘Ternyata Claudia benar-benar percaya dengan perkataan Alice barusan,’ batin.
“Oh tentu saja boleh," sahut Alice.
Alice pun tahu dengan apa yang ia ucapkan. Dirinya memilih melangkah masuk kedalam mobil sambil memandang Steven. Claudia menghembuskan nafasnya memburu sambil tersenyum.
“Hay kak, apa kabarmu? Lama ya kita tidak berjumpa,” sapa Claudia memulai basa-basi.
“Aku baik-baik saja, lalu bagaimana denganmu? Apa kamu sudah berhasil mengejar impianmu? Oh ya, sebaiknya jangan lagi memanggilku kakak tapi, panggil saja dengan namaku,” sahut Steven sambil meminta keputusan.
“Tapi, aku rasanya -”
“Maaf, tapi, bagaimana kalau kita masuk ke dalam mobilmu atau masuk ke restoran saja. Supaya lebih nyaman berbicara jadi tidak membuat kaki pegal seperti ini,” saran Steven sambil mengayunkan kakinya.
“Baiklah kalau begitu kita ke mobilku saja, kak.”
Claudia berjalan kearah mobilnya dengan pikiran yang tidak tenang. ‘Kakak bahkan memintaku untuk tidak lagi memangilnya kakak. Apa mungkin dia benar-benar sudah melupakan tentangku? Bahkan gaya bicaranya juga sudah berubah. Tidak lagi ketus seperti dulu padahal aku lebih menyukai dirinya yang tidak formal denganku,’ batin.
Sampai di dalam mobil. Mereka memilih duduk di barisan kedua supaya lebih leluasa. Saling terdiam satu sama hal sampai akhirnya keduanya ikut berbicara bersamaan.
“Kak, aku ingin katakan sesuatu," ucap Claudia begitu cepat.
“Sebenarnya aku ingin katakan sesuatu,” ucap Steven pun sama.
Mereka saling memandang saat ucapan mereka berbarengan.
“Umm, sebaiknya kakak duluan saja yang katakan.”
”Tidak, tidak! Kamu saja yang katakan dulu,”
“Kakak saja, karena kakak lebih tua.”
“Sebaiknya yang tua mengalah, jadi kamu duluan saja.”
“Aku ikhlas agar kakak yang duluan.”
“Aku pun sama jadi katakanlah.”
Ucapan mereka terus terulang berkali-kali bahkan tidak ada yang ingin mengalah. Keduanya tetap terus mempertahankan siapa yang pantas untuk mengatakan sesuatu.
‘Jika seperti ini sampai kiamat pun juga tidak akan ada yang mau berbicara,’ batin Steven.
‘Haruskah ini terus berlanjut? Ayolah terus seperti ini sampai telur mengeluarkan tangkai juga tidak akan selesai,’ batin Claudia.
Keduanya salah tingkah bahkan mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Lalu keduanya tiba-tiba saling memandang tapi, justru Steven tidak ingin menahan tawanya sampai akhirnya tawa pun pecah begitu juga dengan Claudia. Mereka saling tertawa terbahak-bahak bersama.
Claudia memegangi perutnya sampai tawanya reda. “Kak, aku ikhlas lebih baik kakak saja yang duluan katakan jika tidak maka sampai nanti kita tidak akan selesai. Nanti bisa-bisa kekasihmu akan memarahiku.”
Steven mengganti posisi duduknya untuk berhadapan dengan Claudia. “Ya-ya baiklah. Sedang apa kamu di tempat ini, Claudia?”
“Aku hanya kelaparan jadi aku memilih untuk kesini. Lalu apa kakak sedang kencan? Kulihat kakak ipar ku sangat cantik. Apa kalian sudah kenal lama, kak? Oh ya maaf jika pertanyaan ku begitu aneh," tanya Claudia memastikan.
“Ya tidak masalah. Sebetulnya aku baru mengenalnya tapi, dia orang yang menyenangkan jadi, kami terlihat akrab. Oh bagaimana dengan kelanjutan karir mu, Claudia?”
‘Apa dia benar-benar tidak cemburu dengan Alice? Apa sampai saat ini dia juga belum bisa mencintaiku? Bahkan sampai hari ini dia terlihat baik-baik saja setelah aku pergi,’ batin Steven.
“Oh baguslah. Aku turut senang dengan hubungan kalian, kak. Impianku akhirnya telah ku capai lagipula semua itu juga berkat dirimu yang telah memberikan aku biaya untuk mengejar mimpiku. Lalu apa selanjutnya rencana hubunganmu ke depan? Kapan kalian akan menikah? Tentu saja aku akan sangat senang, dan aku orang pertama yang akan menyiapkan semua pernikahanmu,” ungkap Claudia panjang lebar.
‘Maaf, kakak. Aku tahu mungkin hanya itu yang bisa kulakukan untukmu asalkan aku bisa melihatmu bahagia aku juga akan bahagia walaupun di depanmu aku terlihat begitu bahagia tapi, sejujurnya aku kecewa setelah mendengar kalian sepasang kekasih,' batin Claudia.
Steven terdiam saat mendengar ucapan Claudia yang terlihat begitu bahagia bahkan sampai menanyakan kapan dirinya akan menikah.
‘Apa dia benar-benar tidak memiliki perasaan? Bahkan aku sudah ada di depannya justru hal yang tidak penting dia katakan,’ batin Steven.
“Claudia, sebaiknya aku pergi dulu pasti Alice sudah kesal karena menungguku,” pamit Steven.
Steven ingin membuka pintu mobil tapi, dengan cepat Claudia menahannya sampai akhirnya ia tidak jadi keluar.
“Kenapa kamu menahan ku?” tanya Steven penasaran.
“Tolong, kak. Jangan pergi dulu,” tahan Claudia.
“Lalu untuk apa aku di sini? Apa hanya untuk menjawab pertanyaan yang tidak penting itu? Sebaiknya aku harus pergi. Jika pun Tuhan menghendaki kita bertemu lagi ya sudah. Jika tidak maka apa boleh buat,” cetus Steven.
“Memangnya aku salah bicara? Aku hanya ingin mendoakan kebahagiaan kakak. Itu saja tidak ingin bermaksud lain,” ucap Claudia sambil terus menahan Steven.
“Oh ya? Ingin melihat kebahagiaanku. Lalu apa kamu sendiri sudah bahagia?” tanya Steven dengan sengaja.
“Maksudnya, kakak?”
Claudia tidak menurut justru dirinya semakin mempererat pegangannya bahkan sampai dirinya sengaja untuk lebih mendekat sebab kekuatannya tidaklah sebanding dengan tenaga Steven.
“Maafkan aku, kak. Aku tahu kesalahanku terlalu banyak padamu. Jujur hidupku begitu kesepian. Semuanya terlalu sulit untukku lewati sendirian. Setelah kepergian mu, aku seorang diri bahkan orang lain sering memanfaatkan kebodohan ku. Kakak Elie juga telah meninggalkanku begitupun denganmu. Hidupku selama ini hanya berusaha untuk bertahan agar nanti saat kita bertemu lagi kamu bangga melihat adikmu sudah sukses. Selama ini aku sangat ingin berusaha untuk mendekati tapi, aku tahu kakak masih menyimpan amarah padaku jadi kupikir untuk meminta maaf pun pasti bukan hal mudah apalagi aku sempat tidak mendengar kabarmu. Jadi ku mohon kak, jangan lagi pergi dariku. Sudah cukup semua ini. Aku benar-benar telah berdosa padamu, aku ingin kita kembali seperti dulu. Ku mohon ....” Claudia menunduk sambil ia mengungkapkan isi hatinya dengan panjang lebar.
“Apa kamu ingin kita kembali seperti dulu menjadi adik dan kakak, begitu maksudmu?” tanya Steven penasaran.
“Ya kakak, aku ingin mengawalinya seperti dulu lagi,” sahut Claudia.
‘Maafkan aku yang begitu naif, kak. Aku memang ingin hidup kembali denganmu tapi, aku ingin kamu menjadikan ku bukan seperti adik tapi, seperti pasangan hidupmu. Aku tidak bisa jujur denganmu apalagi sekarang semuanya telah sia-sia,’ batin Claudia.
“Maaf, Claudia. Bukan aku tidak ingin tapi, aku sudah bersumpah untuk tidak lagi menjadikan mu sebagai adikku. Jadi, aku tidak mungkin melangkahi sumpahku ini karena bagi leluhur ku sumpah adalah sebuah janji yang apabila di langgar maka bencana yang akan datang. Jadi kalau itu keinginanmu maka aku benar-benar minta maaf. Lagipula kita tidak terikat dengan pertalian darah, jadi kupikir lupa semua keinginanmu,” sahut Steven dengan penuh kejelasan.
“Tapi, kak. Apa memang kita tidak bisa untuk bersama lagi?”
“Aku juga tidak tahu. Claudia, sebaiknya aku benar-benar harus pergi.”
“Baiklah tapi, tunggu kakak. Bolehkah aku memelukmu lagi?”
“Tentu saja.”
Claudia memeluk Steven dengan erat. Bahkan dirinya menangis saat memeluk kakaknya. Tangisnya perlahan pelan namun, semakin lama pelukan semakin tangisnya tidak dapat ia tahan. Steven mencoba untuk menenangkan dengan mengusapkan rambutnya. Hingga akhirnya Steven melepaskan pelukannya sambil berusaha menghapus air mata.
‘Melihatmu seperti ini aku jadi tidak ingin lagi pergi darimu,' batin Steven.
Perlahan-lahan tangis Claudia reda meskipun ia masih terisak. Lalu Steven merangkulnya agar dirinya kembali tenang.
“Claudia,” panggil Steven.
Claudia hanya menganggukkan kepalanya.
“Tolong tatap mataku,” pinta Steven.
Lagi-lagi Claudia menuruti, dan tidak ingin membantah. Ia terus menatap wajah Steven dengan penuh perhatian dan kasih sayang sampai akhirnya Steven perlahan mendekat dirinya supaya lebih dekat lalu dengan tiba-tiba ia mengecup bibir mungil Claudia dengan begitu lembut.
Mata Claudia terpejam menikmati sensasi ciumannya. Steven terus-menerus menciumnya sampai berkali-kali. Steven menunjukkan kasih sayangnya lewat ciuman. Ia lalu perlahan menghentikan namun, mata mereka masih terus bertemu.
“Claudia, katakan sejujurnya bagaimana perasaanmu terhadapku?” tanya Steven dengan penuh keyakinan.
“Kakak, aku-”
“Cukup! Aku tidak ingin mendengar panggilan itu lagi. Kita sudah bukan adik kakak jadi ingat itu,” ungkap Steven.
“Ma-maafkan, aku. Aku menyadari setelah kepergian mu seperti ada harapan yang paling berharga yang telah hilang dariku, dan aku mengakuinya kalau aku mulai mencintaimu semenjak kita mulai berpisah. Bahkan dulu aku sempat melihatmu sedang duduk berduaan bersama dengan seorang wanita tapi, aku sadar saat itu aku telah kehilangan. Mungkin saat ini pun sama. Meskipun aku telah jujur tapi, aku tetap akan kehilangan orang yang aku sayang. Namun, setidaknya aku sudah berani untuk mengungkapkan isi hatiku. Maafkan aku telah mengakui semuanya di waktu yang tidak tepat,” ungkap Claudia panjang lebar sembari menunduk karena malu.
Steven menahan senyumnya. ‘Jadi karena ini dia tidak ingin jujur denganku bahkan sampai bertanya hal bodoh sejak tadi. Rupanya dia sedang cemburu. Aku kerjain ah,’ batin.
Steven tidak menjawab pengakuan dari Claudia. Ia memilih untuk sengaja berdiam diri sampai akhirnya ia pun membuka suaranya.
“Oh ... Jadi gitu. Makasih ya Lo udah mau cinta sama gua tapi, gimana tuh gua udah punya pacar apalagi bentar lagi kami mau nikah. Mau nggak kalau nanti bantuin siapin dekorasi semua persiapan pernikahan? Lagipula gua di sini nggak punya saudara,” ungkap Steven dengan sengaja sambil menahan tawanya.
‘Ya ampun apa pengakuan cintaku ini tidak berguna baginya? Tapi aneh, kakak berbicara seperti biasa denganku. Apa kali ini dia sengaja memainkan ku atau mungkin dia memang tidak sedang main-main?' batin Steven.
“Apa kali ini aku tidak salah mendengarnya? Aku bahkan sudah mengumpulkan semua keberanian untuk mengucapkan hal yang begitu sulit tapi, jawaban kakak sekarang berbeda. Aku tahu aku salah! Tapi, tolong! Jangan juga permainan aku seperti ini. Jika memang aku tidak lagi untuk menjadi apapun dalam hidupmu jadi sebaiknya katakan saja jangan bisa memainkan perasaan orang lain seperti ini!” geram Claudia.
Perlahan mata Claudia kembali berkaca-kaca setelah ia mengucapkan semuanya. Ia ingin kembali menangis sampai akhirnya dirinya benar-benar menangis. Steven tertawa puas melihat mangsanya berhasil masuk perangkap. Ia begitu senang melihat Claudia seperti itu lalu dirinya pun membawa Claudia masuk kedalam pelukannya.
Claudia sadar jika dirinya sedang di kerjai sampai akhirnya ia memukul-mukul dadanya Steven berulangkali.
“Kamu pikir ini lucu?! Aku sudah jujur dengan kakak tapi, kakak sengaja membuatku kesal. Soal hati itu bukan sekedar lelucon, kak! Isss aku kesal.”
“Hehe ya-ya baiklah aku mengaku salah. Sudahlah jangan terus menangis. Oh ya satu lagi jangan lagi memanggilku dengan sebutan kakak, mengerti?”
“Baiklah, lalu sekarang aku harus memanggilmu apa?”
"Em sebentar! Aku berpikir dulu. Ah! Bagaimana kalau panggil untukku dengan sebutan pria tampan? Bukankah itu sangat cocok?”
“Heh! Itu memang keinginanmu saja, dasar!” sahut Claudia sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol Steven.
“Lalu apalagi? Kalau tidak bagaimana jika dengan sebutan Baly dan Ball. Jadi Baly untukku maka Ball untukmu? Bukankah itu begitu romantis? Apalagi panggilan sayang itu sedang di pakai oleh pasangan idolaku yaitu Kathniel” tanya Steven sambil menaikkan bulu matanya berkali-kali di tambah dengan sedikit tersenyum.
“Baly dan Ball? Apa kamu tidak punya kerjaan selain mencontoh nama panggilan sayang orang lain? Oh ... Aku hampir lupa! Bukannya panggilan itu khusus untuk sepasang kekasih? Lalu kita ini sejak kapan menjadi sepasang kekasih? Ada-ada saja,” sahut Claudia terheran-heran sambil bertanya.
“Oh ... Iya juga ya. Baiklah kalau begitu sekarang kita jadian. Ya sudah karena sekarang kita sudah jadian maka kamu harus memanggilku Baly, dan aku akan memanggilmu Ball. Setuju dan tidak ada penolakan," ungkap Steven tidak ingin di bantah.
“Heh! Sejak kapan kamu melamar menjadi pacarku?” tanya Claudia sambil menahan senyumnya.
“Em ... Sejak tadi. Sejak kita berciuman jadi sejak itupun kita sudah jadian. Ayolah Ball ... Aku tidak ingin ribut. Kita ini baru jadian langsung ribut,” ungkap Steven dengan manja.
“Ya ampun! Benar-benar! Ya sudah aku setuju, Baly.”
“Terima kasih, Ball. I love you,” ungkap Steven penuh cinta sambil mengecup bibir kekasihnya.
Claudia pun membalas ciuman itu. Ia lalu mengambil ponselnya untuk menuliskan tanggal jadian serta nama panggilan mereka berdua. Steven yang penasaran akhirnya ikut-ikutan melihat apa yang sedang di tuliskan oleh kekasihnya itu.
...----------------...
Di sisi lain. Alice begitu kesal sebab dirinya sudah di tinggal di dalam mobil begitu lama. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk pergi melihat apa yang sedang terjadi. Alice berlari agar cepat sampai. Ia pun sudah berada di depan mobil milik Claudia. Dirinya lalu berusaha mengintip kedalam sampai akhirnya mengetuk kaca mobil tersebut.
Pasangan kekasih di dalam sama-sama terkejut saat mereka sedang fokusnya menulis catatan di ponsel. Dengan cepat mereka pun keluar untuk menemui Alice.
“Steven, kenapa lama sekali? Aku sudah pegal di dalam mobil. Ayo kita pergi. Bukannya kita harus melanjutkan jalan-jalan kita yang sempat tertunda ini,” rengek Alice dengan bersandar di bahu Steven.
‘Aduh! Gimana nih gua sampai lupa kalau sekarang lagi bawa Alice jalan-jalan tapi, nggak mungkin juga gua tinggalin Claudia sendirian apalagi baru aja jadian masa langsung tinggalin pacar. Sial! Aku harus jawab apa nih?’ batin Steven kebingungan.
“Steven, kok malah diam sih? Aku lagi ngomong loh. Oh ya Claudia, memangnya kamu sedang apa bersama dengan kekasihku di dalam sampai begitu lama keluar. Apa mungkin kalian melakukan sesuatu?” tanya Alice yang langsung menuduh.
“Eh enggak kok! Kami enggak buat macam-macam. Cuma ngobrol-ngobrol sebentar. Benarkan, Ball?” sahut Claudia sambil memakai panggilan sayang mereka.
“Ball?” Alice kebingungan.
‘Dasar ngaku-ngaku! Yang pacarnya Ball itu gue bukannya elo! Kayaknya ini perempuan sengaja bikin gue kesel. Dia pikir gue dari tadi sok polos karena di pikir gue takut. Asal Lo tahu gue cuma bersikap baik karena ngira Lo itu beneran pacar dari Steven tapi, sekarang Lo ngaku lagi. Benar-benar wanita sialan. Dia belum kenal namanya Claudia ternyata,’ batin Claudia kesal.
“Iya, Ball adalah panggilan kesayangan, Mbak. Bye the way, Ball. Memangnya kalian mau jalan-jalan kemana? Aku ikut dong,” tanya Claudia dengan sengaja membuat Alice kesal.
“Begini aja deh. Gimana kalau kita jalan-jalannya bertiga? Oh ya Baly, mobil kamu kita tinggal di sini dulu gimana? Nanti pas pulang aku yang bawain jadi nanti Alice bisa pulang bareng,” ucap Steven memberikan idenya.
Alice cemberut. Ia kesal dengan keadaan seperti ini. ‘Apa-apaan ini? Bisa-bisanya Steven ngajak wanita ini buat ngikut jalan-jalan bareng. Ogah ihhh! Lebih baik aku pulang. Eh tapi, kenapa mereka sekarang tiba-tiba jadi bersikap akrab begini ya sampai-sampai ada panggilan Baly dan Ball. Balon sama panci aja sekalian? Kesel ihhh. Perasaan sejak tadi mereka ketemu saling diam,’ batin.
“Steven, kayaknya kita perlu bicara berdua,” ungkap Alice yang langsung menarik tangan Steven tanpa menunggu jawaban.
Claudia melihat kekasihnya seperti itu justru amarahnya berapi. Ia kesal bahkan memicingkan matanya dengan sinis.
Steven pasrah dengan tarikan Alice. Diri berpikir jika wajah sampai Alice berbuat seperti itu. Mereka juga sudah berdiri sedikit menjauh dari Claudia.
“Steven, tolong jujur denganku. Apa yang sudah terjadi antara kamu dengan wanita itu? Dan kenapa kamu justru mengajak dia juga ikut jalan-jalan dengan kita? Ah aku benar-benar tidak percaya dengan semua ini. Kamu dengan mudahnya mematahkan semangatku,” tanya Alice berkali-kali dengan wajah cemberut.
‘Aku tahu jika selama ini Alice 'lah yang sudah membawa hariku kembali cerah walaupun sesaat. Meskipun aku tidak mencintainya tapi, kami sudah saling berhubungan. Memang aku tahu saat berhubungan jika dia sudah tidak lagi memiliki keperawanan tapi, begitu juga denganku yang sudah kehilangan keperjakaan oleh wanita gila terdahulu. Sebaiknya aku memang tidak boleh egois sampai membuat Alice kembali terluka apalagi dia baru saja kehilangan cintanya,’ batin Steven.
Alice menunggu jawaban tapi, Steven malah terdiam. Sampai akhirnya Alice memilih untuk melangkah pergi namun, dengan cepat Steven menghentikan langkahnya.
“Alice, tunggu.”
“Steven, aku tidak ingin berdiam diri di sini menyaksikan kamu yang sudah mendapatkan cintamu. Apalagi kalian bahkan sudah memakai panggilan kesayangan. Sebaiknya aku pulang saja, dan tidak perlu mengantarku. Lebih baik aku menunggu taxi datang. Bersenang-senanglah dengannya,” ungkap Alice berusaha untuk pergi.
...----------------...
Hay guys ... Andai kalian di berikan pilihan, pilih yang mana?
~ Saling mencintai tapi, tidak memiliki kenyamanan.
~ Memiliki kenyamanan tapi, tidak saling mencintai
Lalu alasannya kenapa?