Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
61~S3 Air panas datang ....


H A P P Y R E A D I N G


Saat itu juga Steven langsung menghubungi Viora bersama Kelvin untuk kembali masuk kedalam.


“ Cepat kembali kesini! Ada hal penting cepat!" paksa Steven seakan sedang terjadi suatu bencana.


Mereka pun datang dengan rasa penasaran yang tinggi sebab cara Steven menyuruh mereka tidaklah santai bahkan kelewatan hingga membuat orang lain jantungan.


“ Ada apa, Steve? Apa Claudia terluka?!” Viora cemas.


Saat itu juga Claudia kembali memasuki ruang inap dengan sehat bugar sampai akhirnya membuat Viora kesal bahkan melemparkan bantal kearah Steven.


“ Hey! Kupikir ada terjadi sesuatu dengan kalian. Caramu itu jika siapapun yang mendengarnya bisa-bisa mati mendadak,” kesal Viora.


“ Itu sungguh tidak nyambung, Viora,” timpal Claudia.


Steven terkekeh melihat temannya yang sudah khawatir, ia pun meminta maaf dengan menyatukan kedua tangan tanpa bilang apa-apa. Lalu Steven pun memanggil mereka untuk semakin mendekat.


“ Ini sangat penting, dan aku tidak bisa berpikir jernih. Apa kalian tahu solusinya?” tanya Steven.


Viora langsung menepuk jidatnya sendiri. “ Ya ampun ... bagaimana kami bisa tahu jika kamu tidak mengatakannya dulu. Ayolah ah kau ini buat darahku naik saja.”


“ Tenang, Pookie. Tenang. Jika darahmu naik maka aku yang akan tidur di bawah,” timpal Kelvin sembari mencolek pipi Viora dengan manja.


Plak! “ Apa tidak ada lagi ucapan yang lebih bodoh dari itu?” kesal Viora sembari memberikan tamparan.


Steven bersama Claudia terkekeh melihat pasangan pasutri yang begitu aneh ada di depannya.


“ Kalian ini sudah-sudah jika ingin main kuda-kudaan nanti saja jangan di depanku,” sahut Steven sembari melirik kearah Claudia.


“ Hey! Apa kau juga ingin ku tampar?” tanya Viora.


Steven menggelengkan kepalanya dengan cepat lalu ia menarik nafasnya untuk bisa fokus kembali pada apa yang akan ia katakan.


“ Kalian tahu bahwa sebenarnya Claudia adalah ....”


“ Adalah apa? Ayolah cepat ini bukan waktunya pengumuman juara,” omel Viora kesal.


“ Sabar, Pookie. Mulutmu begitu tajam, Pookie. Sini ku cium dulu biar ampuh tajamnya lagi,” timpal Kelvin seraya pergi menjauh agar tidak kena omelan dari istrinya.


“ Duh ... Jadi sebenarnya begini, Claudia itu adik dari Alvero. Nah-nah hidupku pasti terancam,” ucap Steven begitu lebay sembari menarik-narik rambut dengan satu tangannya.


“ J-jadi? Pacarmu adiknya Alvero? Wah ... patut dijalankan film horor. Aku pertama mendengarnya saja sudah ngeri apalagi jika berada di posisi itu pasti lebih horor daripada melihat kuntilanak,” sahut Viora ngelantur.


Claudia mendengar ucapan Viora sampai membuatnya bingung sendiri. “Ayolah, Viora. Drama mu begitu alay.”


“ Memang, sangat alay seperti cintanya Kelvin untukku,” timpal Viora sembari melirik kearah suaminya.


“ Pookie ... Cintaku begitu tulus untukmu bahkan Steven sendiri tidak bisa mengalahkan kesucian cintaku,” respon Kelvin dengan tiba-tiba.


“ Kesucian itu hanya ada pada wanita. Sucinya perawan tua astaga! Eh! Tunggu, bolehkah aku jujur satu hal? Boleh terus ya? Aku mendengar panggilan sayang kalian berdua rasanya seperti Pookie popok bayi,” ledek Steven dengan sengaja.


“ Beraninya kau memanggil panggilan sayangku popok bayi! Dasar balon! Ball itu seperti balon. Hanya perlu di tambahkan o dan n. Jadi ingat itu!" kesal Kelvin sampai ingin menendang Steven tapi, sayangnya Viora dengan cepat menahan tubuhnya hingga Kelvin justru beralih memeluk Viora.


“ Enggak tahu tiba-tiba saja aku mau memelukmu. Pookie, aku mau susu milikmu,” sahut Kelvin dengan suara pelan.


“ Astaga ... Steven! Claudia! Kami berdua pulang dulu ya. Baik-baik kalian berdua jangan main kuda-kudaan! Bye ....” Viora bersama Kelvin pergi sembari melambaikan tangannya


“ Oh ya sudah bye ....” Steven dan Claudia tidak lupa membalas lambaian tangannya.


Tinggallah kedua pasangan kekasih yang saling menatap satu sama lain. Claudia pun pergi untuk mengunci pintu ruang inap tersebut.


“ Ball? Kenapa malah mengunci pintunya?” tanya Steven kebingungan.


‘ Astaga! Bagaimana aku bisa begitu polos? Bukannya kemarin dia ingin meminta untuk main kuda-kudaan denganku,’ batin Steven sembari menelan ludahnya saat melihat Claudia berjalan dengan cara dibuat-buat.


“ Ehem! Ball,” panggil Steven tanpa menjauhkan tatapannya di pinggul Claudia.


Sambil mencoba mendekati Steven sembari mengusap pipinya. Lalu turun menyentuh dada bidang milik pria yang tidak lama ini menjadi kekasihnya.


“ Baly, bukankah kau tahu bahwa aku adalah adiknya dari musuhmu jadi kupikir hubungan kita tidak akan di restui olehnya walaupun kita berusaha sekuat tenaga tapi, tenang saja hanya ada satu jalan cepat hamil 'kan aku,” ungkap Claudia tanpa menjauhkan sentuhannya.


“ Y-ya baiklah! Tapi, bagaimana caranya aku bisa leluasa denganmu, Ball? Lihat tanganku masih memakai infus,” sahut Steven dengan gugup.


‘ Aku sudah pernah melakukan kuda-kudaan tapi, kenapa saat Claudia yang memintanya aku malah gugup? Duh malu-maluin,’ batin Steven.


“ Sini biar aku yang lepaskan saja kebetulan aku Dokter meskipun Dokter abal-abal maksudku belum begitu pintar,” sahut Claudia mencoba merendah.


Steven terkekeh, lalu ia memberikan tangannya untuk dilepaskan infus. Namun beruntungnya Steven bukan hanya infus yang Claudia lepaskan tapi, dengan pakaiannya langsung sekaligus.


Melihat Claudia yang begitu ingin memulainya sampai membuat Steven bangkit begitu cepat. Claudia pun memulainya lebih dulu mendekati Steven bahkan mereka berciuman dengan mesra. Wanita itu sangat lihai bahkan paham dengan apa yang harus ia lakukan. Bukan hal sulit untuknya jika tidak tahu semua hal mengenai hubungan dewasa meskipun dia masih perawan, sebab saat pergi ke Club berbagai macam kuda-kudaan yang langsung dipertontonkan di depan apalagi tempat mereka memang memberikan izin perbuatan itu jadi sudah hal wajar.


Setiap sentuhan mampu membuat mereka hanyut di dalamnya. Indahnya pemandangan begitu membuat keduanya merasa terbang di atas surga. Claudia pun memegang adik kecilnya Steven dengan mata berbinar.


“ Orang yang tepat. Ternyata bukan hanya kekayaanmu yang besar tapi, itu mu lebih besar dari tanganku," ucap Claudia sembari memberikan kecupan di sana.


Steven pun terkekeh geli mendengarnya namun, ia merasa bangga dengan pujian besar untuk itunya. Mereka berdua pun menjadikan rumah sakit sebagai kenangan yang begitu indah. Claudia sendiri naik keatas hingga ranjang bergoyang.


Steven kemudian mengambil alih untuk memadu. Begitu lama dan sangat cepat. “ Anu, Ball. Apa harus di dalam? Kau sungguh tidak akan kecewa?”


“ Iya, Baly. Aku tidak akan kecewa. Ayo cepat di dalam saja.”


“ Baiklah, air panas datang ....” Steven merasa lega lalu memilih membawa Claudia kedalam pelukannya.


“ Oh ya, Ball. Jika nanti kakakmu juga tidak akan merestui jadi bagaimana? Bakalan jadi janda beranak satu dong,” ucap Steven.


“ Hey! Kau ingin aku menjadi janda ya? Dasar kekasih tidak tahu diri,” sahut Claudia sambil tersenyum.




Ayo guys MTP juga udah up loh ~ Berikan dukungan serta vote yah genk ...