
Happy reading.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Aku menganggukkan kepalaku mendengar ucapannya, semua yang dikatakan benar, entah kenapa Kelvin justru lebih tahu gelagat ku.
"Jadi Zoe tebakanku benar?"
"Tentu Vin."
"Jadi ceritakan lah aku selalu siap mendengarnya," sahut Kelvin.
"Ah aku malu Kelvin! Jika kau tahu kau mungkin tertawa karena kecemburuanku yang tidak jelas sama sekali," ucapku menyakinkannya.
"Tunggu Zoe, kamu cemburu? Lalu kenapa aku tertawa? Sangat aneh jika memang aku akan menertawakan mu, menurutku itu masalah yang serius," sahut Kelvin membenarkan.
‘Apa memang ini jalan yang terbaik? Jika nanti aku jujur bagaimana jika Kelvin menghampiri Elie lalu memarahinya? Aku sungguh berdosa jika memang itu yang akan terjadi tapi kalau aku tidak jujur, hatiku amat sakit terus menahan masalah ini. Kuatkan aku Tuhan jika memang ini yang tepat untukku.’
"Zoe kenapa melamun?" ucap Kelvin.
"Eh! T-tidak Vin," ucapku berbohong.
Setelah percakapan singkat, kami sama-sama terdiam, tidak ada suara yang keluar dari mulut kami. Hatiku terus gelisah antara ingin jujur atau tidak. Pandanganku tidak berpaling selain menatap indahnya alam, Kelvin pun sudah sibuk dengan ponselnya membuatku terus merasa gelisah.
Jika memang jalan terbaik untuk aku jujur maka biarkan aku jujur setidaknya perasaanku sedikit lega, tapi aku harus memastikan jika Kelvin tidak akan berbuat sesuatu hal yang membahayakan Elie. Aku meliriknya. "Kelvin ....," panggilku.
Kelvin membalas melirikku. "Iya Zoe, apa sudah mendapatkan sesuatu?" ucapnya seraya tersenyum.
"Hey maksudmu mendapatkan apa Vin?" ucapku kebingungan.
"Hatiku ... uupss! Ah tidak jangan hiraukan itu Zoe, maksudku kau sedang melamun dan pandanganmu tidak menentu, jadi ku pikirkan mungkin saja kau sedang memikirkan sesuatu yang akan kau katakan padaku, bener begitu Zoe?" ungkap Kelvin jelas meskipun sedikit lelucon.
"Benar Vin dan sekarang aku yakin untuk menceritakan padamu tapi sebelumnya kuharap kau jangan menyakiti siapapun, bisakah terlebih dahulu kau berjanji untukku?"
Kelvin mengkerut, lalu ia menatapku tajam, entah apa pandangannya tentangku. "Tunggu dulu Zoe, bolehkan aku tahu harus berjanji tentang apa? Agar aku tidak salah paham."
Aku mendengkus kesal, payah sekali mengajak Kelvin untuk mengatakan janji. "Ayolah Vin, cukup dengerin aku aja nggak usah membantah, kau maukan berjanji untukku?"
"Aku tidak mau sebelum kau katakan untuk apa aku berjanji, kau tahu jika aku akan menyakiti orang lain yang sudah menyakitimu, ayolah Zoya Khalisa More! Hey kau harus yakin denganku," ucap Kelvin keras kepala.
"Aku tidak mau sebelum kau berjanji terlebih dahulu!" ucapku tidak ingin kalah.
"Huuff! Kau ini sangat payah, baiklah aku berjanji jadi katakan Zoe jangan membuatku penasaran," ucap Kelvin tidak sabar.
"Benarkah? Kau jangan menipuku Kelvin, awas saja jika kau menyakiti orang lain aku tidak akan berbicara denganmu selama sebulan!" ucapku mengancam.
"Cantik ... Kau bisa memengang ucapanku, jadi cepat katakan jangan buat aku harus memaksamu, sudah berhari-hari aku menunggumu untuk bercerita langsung," ucap Kelvin terus memaksa.
"Dihh! Mana mungkin kau bisa memaksaku, aku tidak akan goyah meskipun kau memaksaku Bos," sahutku seraya menahan tawaku.
Kelvin mendekati wajahku sangat dekat. "Benarkah kau tidak bisa goyah cantik? Dan apa tadi Bos? Ah aku lupa jika kau ini sekretaris ku, bukankah sekretaris harus mematuhi ucapan bosnya, sekarang cium aku!"
‘Oh tidak! Apalagi ini dasar Kelvin, apapun bisa menjadi lelucon baginya,’ batin.
Ia menatapku tajam, matanya fokus pada bibirku. Sampai hidung kami saling menyatu. "Kau yang lakukan atau aku Zoe? Jika tidak cepat katakan sebelum aku membuatmu memaksa," ucap Kelvin.
Jantungku berdetak kencang, entah mengapa tiba-tiba aku tidak bisa mengatur nafasku. ‘Sial! Apa yang terjadi denganku ini?’
"Zoya! Kelvin ....! Apa yang kalian lakukan?!"
‘Deg! Tiba-tiba ada suara berteriak memanggil namaku, tapi tunggu, suara itu sangat familiar denganku,’ batin Zoya.
Aku dan Kelvin sama-sama terkejut dan sadar dengan posisi kami saat ini yang sangat dekat. Dengan cepat kami menjauh dan melihat kearah suara yang memanggil namaku. ‘Oh Tuhan, bagaimana ini dia terlihat sangat marah.’
Aku dengan Kelvin sama-sama saling menatap, pikiranku tidak menentu, melihat Reiner datang dengan tiba-tiba tapi tunggu, darimana dia tahu aku di sini? Otakku terus berpikir. ‘Astaga! Aku melupakan sesuatu kalau ponselku bisa dilacak olehnya. ‘Bagaimana ini apa dia akan percaya denganku? Kuharap dia percaya.’
Mata Reiner melotot, perlahan ia berjalan mendekat. Aku berusaha untuk menghampirinya yang sedang berjalan. Sampai aku sangat dekat dengannya. "Mas aku ... bisa jelaskan," ucapku mencoba menenangkannya.
"Diam!" ucapnya geram.
Aku mematung mendengar ucapannya dengan kasar. Reiner berjalan mendahuluiku, ia berjalan menghampiri Kelvin.
Brugg! Satu pukulan tepat diwajah Kelvin. Aku berlari menghampiri mereka. Saat itu ketegangan tercipta diantara kami. Brugg! Tidak tinggal diam, Kelvin pun membalas pelukan yang sama. Mereka sama-sama saling membalas hingga perkelahian terjadi diantara mereka.
Aku cukup panik. "Hentikan ...! Aku bilang hentikan! Mas kumohon sudah cukup aku bisa menjelaskannya."
Wajahnya memerah, rahangnya mengeras. "Jadi kau membela pria ini daripada suamimu sendiri!"
Aku berusaha melerai pertikaian antara mereka. "Aku tidak membela Kelvin juga mas, tolong dengarkan dulu penjelasan ku!"
"Penjelasan yang bagaimana? Penjelasan kalian ingin ciuman iya! Aku tidak menyangka Zoe kau bermain di belakangku padahal aku sudah memberimu kepercayaan dengan tulus," ucap Reiner geram, sangat terlihat amarahnya memuncak.
"Reiner cukup! Zoya tidak bermain di belakangmu, kau hanya salah paham ayolah brother redakan emosimu," ucap Kelvin berusaha membantu.
"Aku muak dengan kalian!" ucap Reiner lalu berjalan melangkah pergi dari hadapan kami.
"Mas tunggu!"
"Zoe sudah! Biarkan dia tenang, beri waktu untuknya percuma saja kau mengejarnya itu sama dengan membuat amarahnya semakin tinggi," ucap Kelvin berusaha menghentikan ku.
"Tapi Vin, aku takut," seruku tidak menentu.
"Tenanglah Zoe, aku akan membantumu," ucap Kelvin menyakinkan ku.
*******
Tidak ada yang salah dengan cemburu, karena kamu takut kehilangan. Tapi jangan berlebihan atau kamu pasti akan kehilangan.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Hallo guys jangan lupa terus dukung karya Author, mudah kok, dengan like, komen dan berikan vote. Sebab itu akan membuatku untuk lebih semangat dan menghadirkan yang lebih keren. Nah jika kalian penasaran langsung saja seperti yang udah Meldy bilang untuk dukung juga sertakan vote kalian agar Meldy memberikan kejutan-kejutan di setiap episodenya okay.
Juga Author ingin menyampaikan selamat hari raya Idhul Adha untuk kalian yang menjalankannya, maafkan Author jika di sini mempunyai salah kata, Author juga seorang manusia biasa.