Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
Eps 49. Amarah


Happy reading.


≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈


Ketika amarah memuncak, bersabar adalah pilihan yang tepat, sebab amarah tidak akan menghentikan masalah dan sabar bukan berarti kalah.


*********


Reiner yang sejak tadi sudah menghilang dari hadapanku. Aku dengan Kelvin masih berada di sini, setelah pertikaian itu tidak ada perbincangan diantara kami, hanya saling terdiam. pikiranku masih terfokus akan apa yang harus kulakukan untuk meredam emosinya.


Hari mulai gelap, Kelvin lalu mengajakku untuk kedalam mobil, sebab tidak baik untuk wanita hamil malam-malam berada di bukit.


Kelvin melirikku. "Kau masih memikirkan yang tadi? Maafkan aku Zoe, ku pastikan kalau aku sendiri yang akan menjelaskan kepada suamimu."


Aku menggelengkan kepala. Tidak ingin menjawab apapun ucapan Kelvin. Ia terus menatapku seakan ingin memangsanya. "Kau marah denganku Zoe?"


Lalu aku mengangguk pelan, mengiyakan ucapannya, Kelvin paham dengan gelagat ku. Memang aku sedikit marah dengannya yang semudah itu bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan. Belum selesai permasalahan yang dulu terjadi sudah ditambah lagi dengan kedatangan yang baru.


"Baiklah Zoe, aku tahu kau marah denganku maafkan aku dan sekarang kita akan menuju ketempat mu, aku tidak bisa jika terus-menerus melihatmu membuka mulut untukku saja tidak mau," ucap Kelvin kesal.


Lalu ia mulai menjalankan mobilnya dengan sedikit kecepatan, aku tidak menggubrisnya fokus ku masih kepada suamiku. Trettttt! Tiba-tiba suara ponsel bergetar menandakan ada pesan masuk. Aku melihat nomor tidak ada indentitas karena penasaran aku mencoba untuk membukanya.


Deg! ‘Astaga! Apalagi ini? Kenapa ia terus menganggu ketenangan ku.’ Aku melirik Kelvin, kulihat dia masih fokus dengan menyetir. Aku mencoba mengatur nafas sebisa mungkin agar Kelvin tidak melihat apa yang sedang terjadi denganku. Aku melihat kearah lain berusaha menyembunyikan wajahku. Tetesan air mata perlahan membasahi pipiku.


Hatiku kembali kecewa, bagaimana tidak, Elie mengirimkan kembali pesan untukku, tapi dengan keadaan yang berbeda, dia sedang bersama suamiku dan sepertinya mereka sedang berada di Club, posisi suamiku terlihat seperti sedang mabuk, ia tertidur didalam pelukan Elie. ‘Apa mungkin mereka memang sudah berjanji untuk bertemu atau hanya kebetulan bertemu saat suamiku.’


Pikiranku saat kacau, banyak sekali pertanyaan yang ingin kutanyakan langsung kepada suamiku. Aku menghapus air mataku lalu melirik Kelvin, "Vin, kita pergi ke Club cinta kasih, kita harus kesana."


"Untuk apa Zoe?" lirih Kelvin.


"Reiner dan Elie mereka sedang bersama dalam sebuah Club yang sama, sudahlah Vin putarkan arah mobilmu a-aku ti ...tidak terima terus begini Vin!" ucapku bergetar, air mataku kembali mengalir. Aku sudah tidak sanggup menahannya biarkan Kelvin melihat apa sedang terjadi.


Hatiku sangat sakit, air mataku tidak hentinya mengalir, aku menangis tersedu-sedu, pikiranku masih tertuju kepada mereka. Kelvin terus melirikku, sebelah ia menggenggam tanganku.


Dengan kecepatan tinggi tidak butuh waktu lama sampailah kami ditempat tujuan. Aku kembali mengecek ponsel untuk memastikan Club tersebut, dan ternyata benar memang ini tempatnya. Aku berjalan melangkah didepan Kelvin tiba-tiba ia menghentikan langkahku membuatku harus mematung melihatnya.


Aku terkesima melihatnya, saat keadaan genting seperti ini dia masih peduli dengan keadaanku memang pakaianku sangat terlihat jelas dan ketat sebab aku masih memakai pakaian kerja. Tidak menunggu waktu lama kami akhirnya memasuki Club tersebut.


Melihat kesemua arah tempat Club tersebut, ramainya pengunjung membuatku sedikit kesusahan untuk mencari dimana keberadaan suamiku. "Vin, sebaiknya kita berpencar jika seperti ini kita tidak akan menemukan mereka, kau lihat di sini sangat padat," lirihku.


Kelvin menggelengkan kepalanya. "Tidak, itu hal yang konyol belum lagi jika melihat keadaanmu, aku tidak mau membahayakan mu sama saja dengan membahayakan nyawaku sendiri."


Ia menggandeng tanganku dan kami mencarinya bersamaan. Tidak ingin membantah ucapannya. Kami terus mencari kesemua sudut tapi sangat susah menemukan mereka. Perlahan kami menelusuri sudut-sudut Club tersebut sampai akhirnya kami melihat suamiku dengan wanita itu, mereka sedang berdua.


Tidak menunggu waktu lama, aku melepaskan gandengan tangan dari Kelvin dan langsung menghampiri mereka, Kelvin pun mengikuti ku dari belakang. Aku berdiri dihadapan mereka. Elie terkejut melihat kami datang, suamiku berada disampingnya yang sudah tidak sadar. Rasanya ingin aku menjambak rambut wanita itu jika bukan karena aku mengingat keadaanku saat ini.


Elie lalu bangun dan berdiri tepat di hadapanku dan Kelvin. "Jadi kalian kesini, bagaimana Zoya kau sudah melihatku dengan suamimu di sini, ah apa hatimu sakit atau ingin menangis? Heuh tentunya kau senang, ah aku lupa sesuatu, apa kau sudah melihat tubuhku? Menarik bukan sedang berada dalam pelukan pria tampan seperti Reiner."


"Hentikan Elie kau membuatku muak!" ucap Kelvin geram.


Elie tidak takut justru dia semakin mendekati kami, ia tersenyum licik. "Tidak perlu seperti itu Kelvin, diamkan mulutmu itu urusan wanita, kau hanya cukup berbicara denganku saat kita sedang mendesah seperti dulu sayang."


Plak! Satu tamparan dariku tepat di pipinya, aku sudah muak melihat wanita ini, dia seketika melotot kearahku, dengan cepat Kelvin pindah dan berdiri di depanku.


"Berani sekali kau menamparku wanita perebut! Kau tidak tahu malu, apa cantiknya dirimu sampai semuanya tergila-gila denganmu, kau itu perebut! Reiner itu kekasihku tapi kau menghancurkan semuanya dengan kehadiranmu! Rasakan ini," ucap Elie penuh amarah.


Dengan cepat ia menghampiriku meskipun Kelvin berada di depanku dia justru tidak takut, seketika rambutku dijambak olehnya. "Aww lepaskan!" Kelvin berusaha menghentikan Elie sampai akhirnya ia berada dalam genggaman.


Beberapa orang datang yang kutahu mungkin itu penjaga keamanan dari Club tersebut, keadaan kami saat itu sangat genting, dan para petugas itu menyuruh kami untuk keluar karena sudah membuat kekacauan. Kelvin langsung membawa Reiner begitupun denganku, sedangkan Elie sudah berjalan terlebih dahulu.


Saat berada diluar Elie masih menunggu kami kupikir dia akan pergi tapi rupanya, Reiner sudah berada dalam mobil, aku ingin menghampiri wanita itu tapi Kelvin menghentikan langkahku. "Tidak ada gunanya Zoe sudahlah biarkan aku yang mengurusnya."


≈≈≈≈≈≈≈≈≈


Hallo guys jangan lupa terus dukung karya Author, mudah kok, dengan like, komen dan berikan vote. Sebab itu akan membuatku untuk lebih semangat dan menghadirkan yang lebih keren. Nah jika kalian penasaran langsung saja seperti yang udah Meldy bilang untuk dukung juga sertakan vote kalian agar Meldy memberikan kejutan-kejutan di setiap episodenya okay.


Juga Author ingin menyampaikan selamat hari raya Idhul Adha untuk kalian yang menjalankannya, maafkan Author jika di sini mempunyai salah kata, Author juga seorang manusia biasa.