Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
Eps 35. Cinta


Brian berjalan mendekat kearah kami, aku berusaha memasangkan wajah seakan polos, dia semakin mendekat, aku pun bangun berjalan melangkah menghampirinya. "Hai sayang!" Aku mencoba membuatnya tenang dan memeluknya, tapi dia tidak peduli bahkan hanya menatapku dan mematung, membuatku kebingungan harus melakukan apa.


Plak! Satu tamparan darinya yang kudapat, membuat wajahku berpaling cepat, amarahku pun memuncak melihatnya semena-mena atas aku. "Brian! Berani sekali kau menampar ku!" ungkapku geram. Dahinya berkerut dan matanya melotot, ia justru menjambak rambutku.


"Aaak! Sakit Brian lepaskan aku! Aku bukan bahan untuk kau sakiti," ucapku dan mencoba memegang rambutku yang ditarik olehnya. Sungguh aku baru melihatnya sangat marah seperti ini.


"Lepaskan dia! Kau tidak berhak kasar seperti itu dengan wanita!" Aku mendengar suara, seperti suara Kelvin dan memang jelas itu dia, suara langkah kaki semakin mendekat kearah kami. Brian melihat kedepan, hingga rambutku akhirnya dilepaskan. Rasa sakit di rambutku amat terasa.


"Kelvin! Kau Kelvin bukan?" ucap Brian dan aku melihat ia melangkah jauh dan memeluk Kelvin. Tunggu, bukannya dia ingin marah, drama macam apa ini? Kupikir Brian akan mengamuk dan Kelvin menolongku lalu menjadi pahlawan untukku agar dan aku bisa pergi bersamanya. Kulihat mereka saling bertukar sapa.


"Ya, ini aku, kau masih mengingatnya," ungkap Kelvin.


"Ah, tentu saja aku mengingatmu Vin, dan sedang apa kau di sini bersama istriku?" ucap Brian. Aku hanya menjadi penonton mendengar mereka. "Kebetulan aku mengenal istrimu dan aku tidak sengaja melihatnya di sini dan ku hampiri dia, tapi kenapa kau bisa sangat marah begitu dengannya?" tanya Kelvin.


"Tidak! Aku hanya kesal dengannya membohongiku dengan bilang dia di rumah temannya dan tiba-tiba aku melewati jalan di sini terlihat seperti mobilnya, karena penasaran aku pun mencoba menghampiri dan hatiku panas sangat kulihat dia sedang berduaan dengan seorang pria," ungkap Brian jelas kepada Kelvin.


"Oh begitu, tapi setidaknya jangan menarik rambut hingga menamparnya kasihan wanita itu lemah," ucap Kelvin.


Ucapan Kelvin membuatku tersenyum, lelaki impianku, aku tidak hentinya tersenyum kearahnya. "Tidak Vin, aku hanya menguji ingin sedikit kasar, bagaimana jika kita duduk dulu aku ingin bertanya banyak hal denganmu," ucap Brian. Mereka berjalan beriringan juga aku, tanganku di gandeng oleh Brian.


Hingga akhirnya kami pun duduk ditemani dengan tiga botol minuman didepan. "Vin, kemana saja kamu saat sekolah tiba-tiba menghilang dan tidak ada kabar sama sekali" ungkap Brian.


"Jadi kau merindukanku? Kau merindukan jeruk rupanya," ungkap Kelvin sambil terkekeh. "Hei aku tidak merindukan jeruk, justru aku sekarang sudah memiliki wanita mana mungkin aku merindukanmu!"


"Ah sudahlah, kau rindukan aku atau tidak itu terserah, dan sekarang kau kerja dimana?" tanya Kelvin.


"Aku pemilik sebuah pembuatan model, lebih jelasnya model majalah dan yang sedang bersamaku ini, kami bertemu juga di tempat kerjaku," ucap Brian menceritakan sedikit tentangnya. "Wah kerajaan mu keren."


Aku mengambil kesimpulan jika mereka dulunya pernah berteman, tapi raut wajah Kelvin tidak terlalu bersemangat seperti Brian, seperti ada sesuatu yang ia tidak suka darinya. Perbincangan mereka terlalu banyak membuat aku bosan hanya menjadi pendengar dan aku sedang sibuk dengan mengotak-atik ponselku. Hingga sampai Kelvin memutuskan untuk pamit, katanya ada pekerjaan yang harus dilakukan.


Hari hampir gelap, aku dan Brian masih berada di pantai, tidak ada perbincangan diantara kami, hanya saling diam, raut wajahnya datar membuatku kebingungan ingin aku bertanya tapi aku takut jika dia malah membentak ku dan menyakitiku seperti tadi. Hingga aku memilih diam, sampai akhirnya Brian berjalan di depanku tanpa mengatakan apapun, aku pun mengikutinya dari belakang, sepertinya dia ingin pulang.


Hingga Brian berjalan memasuki mobilnya dan aku juga melakukan hal yang sama, kulihat dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, sedangkan aku lebih memilih untuk membawa pelan. Menghirup udara malam yang segar.


------------------------------------------------------


Malam hari yang sangat dingin, suamiku yang sangat rewel sekarang, merengek-rengek seperti bayi, antara kesal dan gemas aku melihatnya. Malam itu aku tidur lebih cepat karena rasa penatku beberapa hari ini tidak bisa membuatku tidur nyaman. Tiba-tiba suamiku memelukku dan mencoba menggerakkan badanku berniat ingin membangun. Kudengar suara darinya menyuruhku bangun.


"Sayang, ayolah bangun ... Aku lapar yang...," Aku pun tersadar dari lelapnya rasa kantukku ini. "Ada apa mas?"


"Aku lapar sayang....," ucap suamiku. Aku pun bangun, tidak tega jika membiarkan dia sendiri dengan keadaan masih sakit. Kami berjalan beriringan dan aku merangkulnya, dia menyuruhku untuk berjalan begitu. Dia sudah aneh, aku mengambil piring dan ingin memasukkan nasi tiba-tiba dia rewel. "Sayang ... Aku bukan lapar nasi ....," Ucapnya. "Lalu mas mau apa juga?"


"Aku mau rujak sayang, buatin rujak ya, jangan pedas ya sayang," ucapnya dan tersenyum manis kearahku. "Tumben sekali mas suka rujak, bukannya kamu ngga suka ya?" Dia hanya menganggukkan kepalanya. Entah mengapa tengah malam dia ingin makan rujak, setahu aku dia tidak menyukainya, makan buah bercampur jadi satu. Aku pun membuat apa yang menjadi keinginannya, aku mengambil beberapa buah yang masih ada tersimpan.


Setelah semuanya ku sajikan dan tidak lupa kuberi sedikit olahan kacang agar terasa lebih nikmat. Harum dari rujak ini justru membuat aku juga ingin menyantapnya, selesai sudah buatan ku, aku langsung membawanya dan menyajikannya di depan suamiku.


"Mas, ini rujak untukmu," ucapku, dia langsung memakannya di depanku, tanpa menawarkan untuk berbagai. "Mas ... Aku juga mau," ucapku dan membuka mulut berharap dia membaginya.


Baru hampir masuk satu sendok ke mulutku, dia justru menariknya kembali dan memasukkan ke mulutnya, membuatku tidak sanggup menahan. Dia membawa lari dan duduk sendirian diruang tamu tanpa mengajakku untuk makan bersama.


"Aaak Reiner ... Kamu nyebelin, terus pelit!" Aku kesal dengannya, aku juga ingin memakannya, dia justru terkekeh tidak tahu salah sudah mempermainkan aku.


Aku berjalan memasuki Kamar dan memilih untuk kembali tidur, beberapa saat suamiku akhirnya masuk dan merebahkan diri di sampingku, aku mencoba untuk berpura-pura. "Sayang udah tidur ya?" ungkapnya dan aku tidak menjawab. "Sayang bangun dulu ihhh kami jangan tidur dulu...."


Dia terus membangunkan aku, berusaha untuk menggerakkan tubuhku, aku menahan tawa dalam diam melihat tingkahnya. "Sayang aku tahu kamu belum tidurkan?" ungkapnya. Oh tidak kenapa dia harus tahu, tapi sudahlah biarkan dia menebak dengan sendirinya. Saat aku mencoba untuk benar-benar ingin tertidur, dia justru mencoba kembali untuk menggangguku.


Perlahan tangannya mulai berjalan, aku mencoba menahan gejolak dalam diriku. Hingga tidak semakin kuat menekan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan, semakin kuat. Klupp! Dia berhasil memasukkan tangannya dan mengerakkan dengan pelan, aku terpaksa bangun dan memeluknya. Hingga kulihat senyuman diwajahnya.


******


Jika cinta sudah bicara, apapun tentang rasa akan menjadi bahagia. Meskipun cinta yang kau dapat belum sepenuhnya tapi percayalah cinta akan selalu ada.