
Happy reading.
* * * * * * * * *
“Kamu tidak perlu tahu aku siapa Kelvin, sebaiknya jaga gadis kecilmu akan ada bahaya yang sedang mengintai dia, ah aku sepertinya sudah terlalu banyak bicara ehmm aku permisi dulu daaa Kelvin sayang,” ucap wanita misterius itu lalu beranjak pergi dari tempatku.
Sepertinya dia bukan wanita biasa. Sangat aneh, seorang wanita menghampiriku lalu apa maksudnya dengan bahaya mengintai gadis kecil? Apa wanita itu peramal? Aneh. Viora di mana kamu? Semoga Tuhan menjaga keselamatanmu.
Setelah kepergian wanita misterius itu, aku kembali menghabiskan tiga botol minuman, ingin cepat-cepat mabuk lalu menghilang dari bumi.
-----------------------------------------
(Claudia Siregar)
Pertemuanku dengan Zoya membawa kenyataan pahit yang harus kuterima, bagaimana tidak, aku harus berteman dengan istri orang yang aku cintai justru itu sangat sakit, perih. Aku juga tidak berniat untuk merusak hubungan mereka tapi aku sendiri sakit, hanya mendengar saja sudah membuat hatiku menderita, tubuhku bergetar dan tangisan bercucuran.
Menatap rembulan malam di atas balkon kamar seraya mengungkapkan semua kesedihan dengan air mata. Hidupku sangat sial, sejak dari kecil aku tidak bisa merasakan kebahagiaan, aku penyakitan sampai sekarang aku bisa pulih dan aku berharap semua sakit tidak lagi kurasakan tapi semuanya hayalan, aku justru harus merasakan sakit kembali dari orang yang kucintai.
“Claudia ... hey kenapa menangis seperti ini?” Entah darimana asalnya Steven tiba-tiba datang menemuiku lalu memeluk tubuhku karena sedang menangis.
Aku tidak menjawab tapi membalas pelukannya. Hangatnya pelukan seorang kakak juga tidak dapat menyembuhkan hatiku yang sudah tergores banyak. Memang semuanya salahku, salahku karena dulu tidak bisa jujur pada Reiner tentang kenapa aku pergi hingga membuat dia lelah mencariku dan sekarang karma telah kembali untukku, aku yang sekarang mencari dan datang untuk mengharapkannya.
“Gu—gua udah ketemu sama istri Reiner tapi dia sekarang sudah bahagia—dia mungkin sudah tidak menginginkan gua seperti dulu lagi,” curhatku dalam isakkan tangisan.
Steven mencoba menenangkan aku seraya mengusap rambutku, “Benarkah? Ayo ceritakan pada kakak, Lo udah janjikan ngga mau bohong lagi sama gua?”
Aku hanya menganggukkan kepala mengiyakan ucapannya.
“Sudah-sudah jangan lagi menangis bisa-bisa nanti Reiner ngga mau ketemu lagi, udah ayo ceritain biar kakak bantuin Lo.” Steven memang perhatian tidak salah dengan dia menjadi kakakku.
“Gua udah ketemu sama istri Reiner dan Lo tahu kak, siapa istri dia, itu Zoya ... temen Lo waktu ngga sengaja Lo nolong, terus gua sekarang harus gimana?!”
“Apa gua nggak salah denger, Zoya istri Reiner?! Beruntung banget si Rei dapet istri cantik, lemah lembut lagi haduh jadi ngiri sama itu anak,” sahut Steven memuji.
“Kok Lo malah muji sih? Bukannya ngelakuin apa kek gitu, Lo tahukan kalau gua cinta sama Reiner dan lagi gua nggak bisa pendam perasaan ini terus-menerus! Besok Lo harus bantuin buat ketemu sama Reiner, harus!” pintaku dengan cara memaksa.
“Gue ngga goda Reiner ... cuma mau ketemu, mana tahu setelah gua ketemu dia mungkin perasaan cinta ini bisa langsung hilang, bantuin gua yah kak pliss ...,” pintaku merengek meminta agar dikabulkan.
Hembusan nafas berat terdengar di telingaku.
“Gua bisa bantuin Lo buat ketemu Reiner tapi gua nggak yakin setelah itu perasaan cinta Lo bakalan hilang mungkin sebaliknya rasa cinta Lo ke dia semakin bertambah sebab Reiner yang dulu dengan yang sekarang berbeda, dia makin tampan, kaya, apalagi CEO, gua sebagai cowok aja ngeliat dia iri apalagi lu cewek klepek-klepek yang ada, udah ah ... jangan ngaco deh permintaan Lo itu buang jauh-jauh karena mereka udah bahagia.” Steven mencoba menyakinkan aku agar semua keinginanku pupus di tengah jalan.
“Tapi Steve, gua nggak bisa tahan ini lebih lama lagi. Lo tahu sendirikan kedatangan gua ketempat asing ini demi menemukan dia sekaligus menggapai mimpi gua, jadi mungkin gua nggak bisa berhenti gitu aja, perjalanan gua kesini jauh-jauh dan sekarang Lo bilang buat jangan ketemu sama dia, maaf kak kali ini gua nggak bisa nurut sama Lo.”
Aku terus bersikeras agar keinginanku tercapai, semua mimpi yang dulu pernah gagal ingin aku meraih mimpi itu kembali bersama orang yang aku cintai meskipun semua itu hanya angan-angan untukku.
“Sadar Claudia! Dia udah punya istri dan saat ini istrinya sedang hamil, apalagi yang Lo harapin dari Reiner? Cinta, bulshit dia bakalan cinta sama Lo lagi meskipun kalian memiliki cinta sewaktu sekolah tapi inget waktu terus berganti begitupun dengan perasaan orang lain, apalagi Reiner sahabat kita Lo harus inget itu,” sahut Steven tidak ingin mengalah, ia juga tidak mau hubungan Reiner hancur.
“Okay gua bakalan sadar diri kak tapi gua cuma mau ketemu dia bukan mau macem-macem jadi Lo tenang aja, by the way Lo kok takut banget yah kalau sampai hubungan mereka hancur bukannya Lo juga punya perasaan sama Zoya?”
Steven menatapku tajam, lalu ia menghembuskan nafas berat, “Yah gua suka ngeliat Zoya, dia terlihat seperti wanita baik juga lemah lembut, tipe idaman banget buat gua tapi mengingat dia udah jadi milik sahabat ngga seharusnya gua ngerusak kebahagiaan dia sama aja kaya gua nyakitin perasaan Zoya.”
“Perasaan Lo tulus banget gua jadi terharu kak,” sahutku dengan mata berkaca-kaca.
“Yah itulah sahabat Claudia, Lo harus bisa ngeliat kebahagiaan orang yang Lo cintai, sama kaya kita sewaktu sekolah dulu, gua cinta sama Lo, Reiner juga cinta tapi apa setelah gue tahu kalian sama-sama saling suka, gue perlahan mundur buat kebahagiaan kalian, karena tidak ada gunanya kita memaksa cinta yang seharusnya bukan milik kita yang ada hanya sakit dan penyesalan.”
Dan lagi-lagi ucapan Steven terus membuatku menahan tangis, ia begitu menghargai sebuah persahabatan dan juga cinta justru aku malu pada diriku sendiri.
“Jangan bicara gitu ah ... gua jadi sedih nih tanggung jawab Lo,” rengek ku yang sekarang sudah kembali menangis.
“Udah jangan nangis ah lemah banget sih, gua itu mau Lo sadar, buang semua pikiran jahat Lo. Reiner itu teman kita itu artinya Zoya juga apalagi sebentar lagi dia mau melahirkan gua jadi nggak sabar.”
* * * * *
Genggaman tangan seorang sahabat lebih tulus ketimbang pelukan hangat seorang teman. Aku terus mencoba mengerti apa itu sahabat dan apa itu teman meskipun aku mencintai sahabatku itu juga tidak akan melupakan sebuah persahabatan yang sudah terjalin lama. (Claudia—Reiner)
***
Halo bagaimana dengan ini? Sertakan kesan kalian di bawah yah guys, jika berkenan berikan vote^_^ terimakasih telah mendukung. Sambilan nunggu karya baru yuk