
"Mas bangun ... Kumohon bangunlah" aku mencoba untuk menggerakkan tubuhnya dan terus mencoba. Air mataku terus mengalir melihatnya sekarang terbaring lemah tidak berdaya dan juga di penuhi darah.
‘Apa kelakuan ku sungguh membuatnya ingin pergi seperti ini.’
Aku mencoba untuk menggendongnya tapi kekuatanku tidak kuat apalagi sekarang telah berbadan dua.
"Maafkan aku mas, aku harus juga ikut denganmu jika memang takdir kita untuk mati bersama pasti akan kulakukan, maafkan ibu nak jika harus membuatmu menderita." Aku mengambil pisau yang sudah berlumuran darah, mencoba agar tenang sedikit, agar aku bisa pergi secara damai meskipun Bapa akan marah denganku. Jika aku memang harus mengikuti mu akan kulakukan itu. ‘Maafkan aku Bapa.’
"Sayang ... Jangan lakukan hal bodoh! Maaf aku hanya prank sayang, sudahlah lepaskan pisau itu,” ungkap suamiku. Bisa-bisanya dia mempermainkan jantungku seperti ini.
"Mas! Kau pikir ini lelucon! Bagaimana jadinya tadi jika aku benar-benar akan mati mengikuti mu lalu kau akan bangun menangis melihatku? Apa kau juga akan mengikuti aku untuk mati?" amarahku memuncak, aku tidak menyukai lelucon berlebihan seperti ini.
Ia bangun dan melepaskan bajunya yang sudah diberi pewarna darah, lalu ia menghampiriku dan memelukku. "Maaf sayang aku terpaksa membuatmu panik, salah kau sendiri tidak ingin berbicara denganku, dan bukan aku tidak ingin mengikuti mu mati tapi kasihan bayi kita, dia juga ingin melihat dunia sama seperti kita, sekali lagi maafkan aku sayang," ujarnya yang masih memelukku.
Dia sungguh membuatku panik, karena aku tidak ingin berbicara dengannya sampai-sampai dia melakukan ini agar aku peduli.
‘Maaf mas, aku sudah menyakitimu dengan kekanakan ku, seharusnya aku tidak berlebihan mendiamkan mu, sebab itu masalalu mu.’
"Sayang lagi-lagi kau melamun, sudahlah jangan pikirkan hal tadi aku sungguh tidak bermaksud membuatmu pergi, kau masih marah denganku?" ucap suamiku. Aku menganggukkan kepala mengiyakan ucapannya.
"Baiklah sayang itu pilihanmu tapi kau juga harus jujur denganku jangan karena aku mempunyai salah lalu kau mendiamkan aku terus-menerus sampai kapan kita akan berbaikan sedangkan kau hanya diam dan lagi aku pun tidak tahu apa yang kau rasakan, maafkan, aku tahu aku banyak berbuat salah padamu," ungkapnya. Lalu ia berlutut di hadapanku memohon maaf.
Dengan cepat aku mendatanginya dan menyuruhnya bangkit, tidak seharusnya dia lakukan itu. "Mas, aku tidak ingin kau seperti ini, kau adalah pimpinan keluarga kita tidak seharusnya kau berlutut di hadapanku," ungkapku.
"Apa kau memaafkan aku sayang?" ungkapnya. Justru aku mengiyakan ucapannya dengan anggukan kepala.
Lalu dia kembali memelukku. "Apa setelah ini kau akan menceritakan semuanya? Ayolah kumohon, ceritakan sayang, agar kita kembali bahagia dan dirimu tidak terus-menerus memiliki beban," ungkapnya mencoba bernegosiasi (menawarkan) denganku.
"Maaf mas, aku belum bisa menceritakannya, aku butuh waktu agar hatiku mampu menerimanya dengan lapang dada, jika memang sampai akhir nanti aku belum bisa menerimanya biarkan aku sembuh dengan caraku sendiri."
Setelah mengatakan itu aku bangun dan pergi melangkah dari hadapannya, air mataku perlahan kembali mengalir, aku tidak ingin dia melihatku terus menangis. Aku menoleh melihatnya dari kejauhan, dia sedang mematung mungkin saja dia mencoba memikirkan ucapanku.
Masa lalunya sungguh membuatku tidak nyaman, setiap saat aku mencoba tidak ingin memikirkan itu tapi lagi-lagi bayangan sedang berduaan terus terlintas dalam benakku, aku sadar jika aku sedang cemburu pada masa lalunya saat ini. Memang benar yang sering dikatakan orang lain jika melihat kebelakang justru pasti akan menyakitimu.
"Hay Zoe, apa kabarmu?" Kelvin datang dan ia menanyakan kabarku, ia keluar dari mobilnya dan mendekatiku, tentunya aku menyambut tamuku dengan baik apalagi sahabatku sendiri. Aku memberinya sebuah pelukan kecil dan mengajaknya untuk masuk.
Kami berjalan beriringan dan suamiku sudah berdiri tidak jauh dari kami, Kelvin langsung memberikan sapaan untuk Reiner. "Hay brother, bagaimana kabarmu?" ucap Kelvin dan berjalan mendekati suamiku. Tapi ia tidak menjawab melainkan pergi meninggalkan aku dan Kelvin.
Kelvin mematung, terlihat dahinya menyatu seperti ingin marah, aku mendekatinya dan memegang bahunya. "Suamiku mungkin sedang banyak pikiran dia tidak bermaksud untuk mengabaikan mu, aku mewakilkan kata maaf darinya, maaf Vin kuharap kau jangan mengambil hati," ungkapku.
Kelvin menarik nafas panjang. "Baiklah Zoe tidak apa-apa, bagaimana kalau kita makan cemilan? Aku melihatmu langsung teringat untuk ngemil, apa boleh?" Aku menganggukkan kepala mengiyakan permintaannya.
Langsung ku sajikan beberapa cemilan untuk kami mengemil, tidak ada perbincangan serius antara kami selain menikmati cemilan dan menonton. Aku pun tidak banyak bertanya pada Kelvin, yang sedang kupikirkan melainkan tentang suamiku. Aku merasa sangat tidak nyaman dengan sikapnya mengabaikan orang lain seperti itu.
"Zoe! Kenapa kau hanya diam tidak seperti biasanya, kau ada masalah serius ya?" ucap Kelvin, membuatku sedikit terkejut.
"Ah tidak, aku hanya diam menikmati lezatnya cemilan ini, bukankah begitu Vin, ini sangat enak," ungkapku berbohong dan tersenyum manis kearahnya agar ia tidak curiga.
Kelvin mengusap rambutku pelan. "Zoe, aku tahu yang sedang kau rasakan, kau sedang memiliki masalah bukan? Aku tahu dari sorot matamu, jadi kau tidak bisa membohongiku, tapi jika kau belum siap untuk bercerita, katakan kapan saja, aku siap mendengarkannya."
"Terimakasih Vin, kau selalu ada untukku, saat aku siap nanti semuanya akan ku ceritakan padamu," sahutku, dan tersenyum manis kepadanya.
Meskipun aku tahu niat Kelvin baik tapi entah mengapa saat ini aku belum siap untuk menceritakan semuanya, tapi ku pastikan nanti saat aku sudah benar-benar ingin menyerah dengan keadaan dan tidak bisa untuk menanggungnya sendiri.
"Ehmm! Zoe," panggil Kelvin. Aku menoleh kearahnya.
"Kapan acara sambutan kandungan mu di adakan?" ungkap Kelvin. "Aku juga kurang tahu sebab semuanya itu tergantung kepada mertuaku, aku hanya mengikutinya saja." Kelvin hanya mengangguk-angguk mendengar ucapanku.
Tidak beberapa lama pun, kemudian Kelvin meminta pulang, dan aku mengantarnya sampai kedepan. Singkat kata setelah mobilnya menghilang dari halaman depan rumahku. Aku masuk dan mencari suamiku, ternyata ia sedang duduk di teras belakang rumah lengkap dengan satu ponsel dan teh hangat.
Aku berniat menghampirinya, dan mencoba untuk duduk disampingnya. "Senang ya kalau ketemu pria lain" ungkap Reiner. Aku sangat heran dengannya dan sekarang apa maksudnya dia berkata begitu? Aku menarik nafas dalam-dalam.
*********
Masa lalu mu memang bukan milikku tapi karena masa lalu mu aku harus merasakan sakit apabila mengingat tentang itu, sebab dia lebih dulu bersamamu.