Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
Eps 36. Bimbang


Mentari pagi menyinari bumi, aku terbangun dan melihat jika suamiku sudah tidak berada didekat ku, aku mencoba mencarinya dan ternyata dia ada di ruang kerjanya. Ku hampiri dia. "Mas, udah bangun ternyata aku kira kemana" ungkapku.


Terlihat jika dia sudah sangat fokus dengan layar monitor dan juga beberapa berkas yang aku tahu itu adalah berbagai macam laporan. "Kau merindukan aku sayang?"


Aku mengangguk mendengar ucapannya, aku mendekatinya dan memegang bahunya. "Kau sedang sakit jangan terlalu fokus kerja dulu mas lagian ada Daddy yang urus." Aku mencoba untuk membuatnya tidak banyak beban.


"Aku sudah pulih sayang hanya tanganku yang sedikit sakit selainnya tidak lagipula Daddy hanya mengerti dengan laporan didalam tapi bagaimana dengan kolega-kolega kita sekarang mereka sudah mendesak agar aku bisa mengeluarkan kejelasan," sahut suamiku.


Memang benar yang dikatakan suamiku, sekarang Perusahaan itu semakin berkembang terlebih dengan mengatur klien belum lagi tentang kerjasama antara Perusahaan Kelvin yang lumayan juga besar tentu membuat kesibukan cukup banyak, aku pun mengerti dengan maksudnya. "Baiklah mas biarkan aku juga membantumu," ujarku dan sudah duduk disampingnya, lalu aku mengambil satu laporan yang ingin ku kerjakan tapi tiba-tiba ia melarangnya.


"Sayang sudahlah jangan membantuku nanti kau bisa pusing seperti aku, apalagi kau sudah hamil lebih baik pergi menonton atau lakukan hal yang lebih ringan bukan mengasah kemampuanmu ini berat," ungkap suamiku. Aku tahu jika dia mengkhawatirkan aku tapi aku lebih khawatir jika dia sakit lagi.


"Ayolah mas ini tidak cukup berat bukan? Aku tahu juga dengan ini biarkan aku membantumu agar kehadiranku di sini lebih bisa kau andalkan banyak hal," sahutku.


Aku liat dia menarik nafas panjang, aku tahu jika dia sedang bingung ditambah lagi aku bawel. "Baiklah sayang jika itu keinginanmu tapi jika kau lelah jangan terus bekerja, istirahatlah tapi tunggu apa kau sudah sarapan sayang?" Aku menggelengkan kepala mendengar pertanyaannya. "Sarapan dulu sayang selepasnya kau baru kesini, dan aku sudah makan! Aku tahu kau pasti akan menanyakan hal balik," ungkap suamiku jelas.


Aku terkekeh mendengar ucapannya. Bisa sekali dia kalau bicara. Aku pun memutuskan untuk sarapan, mengambil dua buah roti dan susu yang sudah disediakan oleh suamiku. Dan aku langsung membawanya keruang kerja Reiner dan memakan di depannya. Tidak lupa aku membawa susu lebih jika tidak dia pasti akan meminta untukku. Tidak butuh waktu lama aku selesai sarapan dan langsung membantunya. Kami sudah fokus untuk masing-masing pekerjaan Kantor.


--------------------------------------------


(Kediaman Elie)


Aku sampai dan memasuki rumahku, aku melihat Brian yang sedang duduk, tentu sudah duluan sampai. Ia masih mendiamkan aku, tak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya saat aku sedang memasuki rumah. Aku pun tidak peduli jika memang dia berniat mendiamkan aku, justru aku akan melakukan hal yang sama, aku tidak suka jika lelaki bisa semena-mena atas ku. Aku berjalan melangkah memasuki kamar.


Berniat mandi, setelah semuanya selesai kulihat Brian sudah berada di Kamar dan ia duduk ditepi ranjang. Aku melewatinya tanpa mengeluarkan satu katapun. Tiba-tiba dia menarik tanganku dengan kuat. "Tunggu dulu Elie!" ucapnya. Dan lihat dia memanggil namaku, aku tahu jika dia ingin marah. Aku tidak menyahutnya dan hanya berdiri mematung didepannya.


"Jelaskan ada hubungan apa kau dengan Kelvin?" Aku hanya menggelengkan kepala tidak ingin menjawab. "Cepat katakan jangan diam saja!" Dia justru membentak ku. "Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya" ucapku berusaha sedikit lembut mungkin akan mengurangi amarahnya.


"Lantas apa yang harus kujelaskan padamu! Dia itu hanya temanku dan jelas aku tidak membohongimu" Aku geram, kupikir dengan aku bicara lembut dia akan luluh tapi ternyata tidak. Dia mengepalkan tanganku dengan kuat hingga aku meringis kesakitan. "Awws ... Hentikan Brian! Apa kau ingin tanganku patah?"


"Jika memang itu harus kenapa tidak" ucapnya dan terlihat senyuman mengerikan darinya yang membuatku bingung. "Kau gila! Lantas kenapa sekarang kau bisa sekejam ini?" Dia terus mengepalkan tanganku dan tidak ingin melepaskannya hingga tidak terasa air mataku jatuh. Tapi dia tidak peduli.


"Aku kejam? Lalu dirimu apa baik? Aku hanya tidak ingin kau membohongiku Elie dan aku tahu dari matamu saat kau memandang Kelvin, ayolah jujur kepadaku, aku lelah terusan bertengkar!" Ungkap Brian.


"Aku sudah katakan sayang tolong percayalah tidak mungkin aku mengkhianatimu, sejak dari dulu kau selalu ada bersamaku, hentikan aku tidak ingin juga ribut denganmu" ucapku berusaha menyakinkannya. Perlahan aku mendekatinya, tanganku perlahan di lepaskan dan aku mencoba untuk memeluknya, hingga aku berhasil memeluknya tapi dia justru menusukku punggungku dengan jarum. "Aaak sakit ... Apa yang kau lakukan padaku Brian!"


Aku berusaha menjauh darinya, meskipun hanya jarum tapi tusukan itu terasa sangat dalam rasa sakit yang amat sakit masih terasa di punggungku, air mataku tidak hentinya mengalir. Dia berusaha mendekatiku tapi aku berusaha menjauh. "Maaf sayang aku tidak tahu kenapa aku bisa melakukan itu padamu, kumohon maafkan aku," ungkap Brian. Ia mencoba membela dirinya.


"Kau memang sudah gila Brian! Setelah kau lakukan dan kau bilang tidak tahu, berarti jika aku mati kau juga bilang tidak membunuhku bukan?!" Antara rasaku takut dan marah aku terhadapnya. Dan sekarang dia tidak menjawab ucapanku. Seketika aku teringat dengan ucapan Kelvin, kalau Brian bisa saja menjadi seperti psycopat. Mungkinkah itu benar? Aku sangat bingung dibuatnya sekarang.


Brian terduduk ditepi ranjang, ia menarik nafas panjang dan hembuskan. Aku lihat dia seperti sedang berpikir sesuatu sampai akhirnya dia menunduk dan menutup wajahnya seperti sedang putus asa, aku berusaha untuk mendekatinya dan menyentuh bahunya. "Kau tidak apa-apa sayang?" ucapku. Dia bangun dan memelukku, sontak tubuhku menegang, aku takut jika dia justru kembali melakukan hal yang sama tentu aku harus bisa waspada.


Tapi aku merasakan jika dia tidak menyakitiku lagi, dan aku memeluknya erat. Pikiranku masih bimbang dengan ucapan Kelvin, sepertinya ia banyak tahu tentang Brian, aku harus sempatkan waktu untuk bertanya banyak hal.


"Elie," panggilnya. Aku melepaskan pelukanku dan menatap wajahnya. "Ada apa?"


"Kau percaya denganku sayang?" tanya Brian. Aku bingung percaya apa tapi aku berusaha untuk menganggukkan kepala agar dia tidak kecewa. "Baguslah Elie kuharap kau memang percaya denganku," ucapnya dan tersenyum manis. "Aku mengusap pipinya dengan lembut.


******


Jika kamu ingin jodohmu berakhlak baik tentu kau harus merubah sikapmu agar baik, sebab jodoh tidak akan jauh dari sifat mu, selalu ingat jika jodoh adalah cerminan dari dirimu.