Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
33~S3 Istriku. Gadis Kecilku Manja & kesal. Marah dan kegilaan.


H A P P Y R E A D I N G


“Pangeran, tidurlah. Kamu pasti kelelahan mencariku. Maafkan aku yang selalu menunda-nunda untuk tidak mau honeymoon denganmu, dan saat honeymoon kita tiba justru semuanya telah gagal gara-gara orang lain. Sekarang aku mengerti bahwa waktu adalah segalanya. Aku mencintaimu,” ungkap Viora penuh cinta sambil mengecup kening Kelvin.


Sentuhan Viora membuat tidur suaminya gagal. Kelvin terbangun lalu mereka saling memandang.


“Hoaaammm! Gadis kecil, kenapa tidak membangunkanku? Apa kamu sudah selesai mandi, sayang?” tanya Kelvin sembari membawa Viora kedalam pelakunya.


“Maafkan aku, Pangeran,” ucap Viora sambil memeluk erat.


“Hey! Tidak perlu minta maaf, gadis kecil. Kamu tidak salah apapun denganku. Justru ini kesalahanku yang sudah lalai menjagamu,” sahut Kelvin penuh pengertian.


“Tidak, tidak! Justru ini kesalahanku, Pangeran. Kita sudah berjanji honeymoon tapi, sudah tidak jadi. Lalu sekarang kamu pasti kecewa denganku. Maafkan aku yang selalu menunda-nunda waktu. Andai dulu aku tidak terlalu egois justru saat ini mungkin kita sudah akan memiliki si kecil,” ungkap Viora merasa bersalah.


“Ya ampun ... Gadisku sudah berpikir bayi. Tiba-tiba rasa kantukku hilang. Apa kamu begitu menginginkannya sayang, jika ya maka ayo kita lakukan sekarang. Huh! Aku harus semangat!”


Dengan begitu semangatnya Kelvin tiba-tiba melompat dari ranjangnya lalu melakukan push up sampai berkali-kali hingga membuat Viora tertawa sembari melemparkan bantal tepat mengenai kepala Kelvin.


“Haha hey! Apa kamu sudah gila, Pangeran?! Ini sudah tengah malam dan besok kita harus bekerja. Ayolah cepat tidur tidak ada orang melakukan push up di tengah malam seperti ini,” ucap Viora sambil terus tertawa.


“Gadis kecil ... Bukankah kita akan berperang? Tentu saja aku harus kuat! Tadi kamu menginginkan si kecil ya sudah ayo kita wujudkan mimpimu untuk mendapatkan si kecil. Lagipula badanku sudah terasa enakkan,” ungkap Kelvin sambil mengayunkan otot tangannya.


“Ah sudah-sudah, kita akan menjadwal ulang honeymoon kita, Pangeran. Ayo kemari 'lah pangeranku kita akan tidur,” ucap Viora sambil merentangkan kedua tangannya.


Kelvin masuk kedalam pelukan Viora. Ia merasa senang meskipun keinginan berperang juga gagal tapi, setidaknya ia bahagia gadis kecilnya telah kembali.


“Gadis kecil, kiss me!” ucap Kelvin sambil memajukan bibirnya.


Dengan menahan senyum Viora mengangguk. Perlahan ia memajukan bibirnya, sambil saling tersenyum ciuman kecil pun terjadi bahkan menciptakan suara muach dari keduanya hingga menjadi ciuman penuh cinta. Begitu lama dan begitu dalam.


“Gadis kecil, tidurlah. Besok aku tidak pergi bekerja begitu juga denganmu,” ucap Kelvin di sela-sela ciumannya.


“Baiklah, Pangeran,” sahut Viora lalu melanjutkan ciumannya.


Ciuman penuh cinta sampai membawa mereka begitu bahagia bahkan keduanya tertidur pulas sambil memeluk erat. Mimpi indah menyertai sampai-sampai ciuman terjadi di dalam mimpi.


...----------------...


Setulus embun pagi membasahi dedaunan. Pagi mekar seiring mentari bersinar. Bangunkan gairah untuk memetik impian. Terlihat sinar mentari menyinari pagi. Bangunkan tidur kedua pasutri di tengah indahnya mentari pagi. Kelvin meringkuk erat memeluk sang istri yang baru saja membuka mata.


“Hoaaamm! good morning, my little wife,” sapa Kelvin penuh cinta.


“Good morning too, my dear husband,” ucap Viora sambil tersenyum.


“Umm sayang! Aku mau kamu memanggilku dengan sebutan my dear husband, rasanya hatiku berdebar-debar bahkan berbunga-bunga ingin terbang melihat bintang,” ungkap Kelvin dengan berlebihan sambil terus meringkuk didalam tubuh Viora.


“Pangeran, apa kamu sedang sakit?” tanya Viora sambil mengecek suhu tubuhnya.


“Isss, gadis kecil! Aku sedang serius! Suamimu ini meminta untuk di sayang, untuk di manja. Rasanya panggilan my dear husband lebih penuh cinta untuk kudengar. Biasanya kamu selalu memanggilku dengan good morning too, my prince. Tapi, bagusnya dua-duanya deh,” ungkap Kelvin kebingungan.


“Ya ampun ... Pangeran, kita baru tidak bertemu beberapa hari kamu sudah seperti ini. Apa kamu kekurangan obat sejak aku di culik, hah?” tanya Viora seraya tersenyum kikuk.


“Aaaa sayang ... Aku hanya ingin di manja olehmu,” sahut Kelvin dengan bibir manyun.


“Ya-ya baiklah, pangeranku. Lalu panggilan apa yang kamu sukai?” tanya Viora.


“Eee sebentar! Aku akan berpikir, gadis kecil. Bagaimana kalau my dear? My Baby? My honey baby? My Bonnie tapi, cocoknya my prince. Eh tidak, tidak! Lebih baik memang my dear,” ucap Kelvin lalu menyembunyikan wajahnya di bawah leher Viora.


Viora menarik nafas panjang melihat suaminya bertingkah aneh pagi-pagi sekali. “Baiklah. My dear! Okay my dear ayo kita bangun lalu sarapan.”


“Tunggu, gadis kecil," ucap Kelvin sambil menahan tubuh Viora.


“Kenapa lagi, sayang?” tanya Viora kebingungan.


“Anu, a-aku mau susu, bolehkah?” tanya Kelvin sambil menunduk.


‘Ya ampun ... Benar-benar suamiku mulai dari semalam dia sangat aneh,’ batin Viora.


“Baiklah, My dear ambillah,” ucap Viora sambil membuka pakaiannya.


Kelvin tersenyum lebar melihat istrinya tidak membantah. Ia tidak menunggu lama. Gundukan besar terpampang jelas di depannya. Dengan mata berbinar-binar ia langsung mengulumnya habis bulatan besar sambil memijatnya dengan pelan. Viora merem melek merasakan perlakuan suaminya. Hingga terasa puas Kelvin menghentikan perbuatannya sambil tidak lupa mengecup bibir mungil Viora.


“Delicious! Thank you, my little girl,” ucap Kelvin sambil mengacungkan jempolnya.


“Hahaha, thanks again my dear,” sahut Viora sambil tertawa.


Mereka tertawa bersama, lalu keduanya saling bergandengan tangan menuju keluar. Saat mereka keluar Kelvin melepaskan tangannya tapi, justru merangkul istrinya seakan tidak ingin lepas. Kelvin mengajak Viora untuk menonton sebab ia sedang menunggu film kesukaan namun, Viora menolak sebab di ujung dapur terlihat Claudia bersama beberapa pelayan sedang membantu menyiapkan sarapan.


“My dear, kamu nonton terus aku ke dapur dulu ya,” pamit Viora.


“Loh! Ngapain ke dapur? Pelayan 'kan ada, gadis kecil? Ayolah di sini temani aku nonton,” sahut Kelvin mencoba menahan.


“Aku melihat Claudia di sana. Sebaiknya aku juga ikut kesana sebab tidak baik membiarkan tamu kita untuk ikut bekerja. Sudah my dear, duduk yang manis di sini ya.”


Viora menuju ke dapur. Ia langsung menghentikan Claudia yang sedang sibuk membantu menyiapkan sarapan. Sampai membuat Claudia terkejut dengan kedatangannya.


“Claudia, hey! Sedang apa di sini? Ayo kita ke ruang televisi. Di sini biarkan mereka yang menyiapkan semuanya,” ucap Viora sambil menarik tangan.


“Tapi, Viora. Aku hanya ingin membantu karena kamu sudah mengizinkan aku menginap di sini,” tolak Claudia.


“Tidak perlu. Kamu tamuku jadi cukup duduk manis bersama kami, ayo," paksa Viora.


Sambil menarik nafasnya, Claudia mengangguk. Tiba di ruang TV. Kelvin tidak peduli dengan kedatangan Claudia, ia masih sibuk menonton sampai akhirnya Viora menepuk pipinya hingga membuatnya terkejut.


“Gadis kecil, ada apa?” tanya Kelvin kebingungan.


“Tidak ada.”


“Claudia, tumben sekali kamu pergi tanpa mengajak kakakmu,” ucap Viora basa-basi.


“Sebetulnya kami sudah memilih untuk hidup masing-masing. Terjadinya begitu cepat meskipun semuanya kesalahanku tapi, apa boleh buat mungkin sudah takdirnya kami hidup seperti ini. Maaf Viora, jadinya aku malah curhat,” curhat Claudia.


Viora mengusap tangan Claudia. Ia tahu pasti rasanya sulit berpisah dengan orang yang kita sayang apalagi dirinya pernah mengalami.


“Tidak masalah, Claudia. Jika pun kamu ingin curhat maka curhat saja justru itu akan membuat hatimu lebih baik,” respon Viora sambil tersenyum.


“Yah begitulah. Aku kemari memilih untuk menenangkan diri walaupun rasa bersalahku masih ada sampai detik ini. Namun, apa boleh buat pasti Steven sudah tidak ingin bertemu denganku sebab kami memilih untuk berpisah dengan cara yang tidak baik, padahal aku sangat ingin bertemu dengannya lalu memulai awal yang baru. Tapi alangkah baiknya aku memang tidak perlu mengingat ini lagi, Viora. Toh Steven pasti sudah memiliki pengganti,” curhat Claudia sampai tidak sadar air matanya keluar.


“Sabar, Claudia. Pasti ada jalan jika memang kamu ingin memperbaiki semuanya. Aku mendukungmu,” ucap Viora sambil memeluknya.


‘Ternyata masalah mereka rumit juga. Steven pernah membantuku sebaiknya aku membalasnya dengan ini. Cara satu-satunya aku diam-diam mengambil video lalu akan ku kirimkan pada Steven,' batin Kelvin sambil mengeluarkan ponselnya.


Kelvin mengambil ponselnya lalu merekam apa yang terjadi. Claudia sedang menangis jadi ia tidak melihat bahwa rekaman sedang menuju kearahnya sampai akhirnya Claudia melepaskan pelukan Viora. Dengan cepat Kelvin menjauhkan ponselnya.


Claudia akhirnya memilih untuk tertawa sebab ia juga tidak ingin lama-lama berlarut dalam kesedihan didepan orang lain. Lalu ia meminta izin untuk pergi ke kamarnya. Meskipun Viora menahan namun, Kelvin memberikan isyarat untuk tidak menahan.


“Gadis kecil, biarkan dia menenangkan dirinya dulu. Pasti setelah mengingat Steven hatinya kembali sedih,” ucap Kelvin dengan bisik-bisik.


Viora pun mengangguk sebab ia juga tidak bisa melakukan apapun.


“Gadis kecil, berikan ponselmu. Aku ingin mengirimkan sesuatu padamu,” pinta Kelvin.


“Ponsel? Ya ampun ... Aku sampai lupa memberitahumu. Ponselku masih berada bersama Alvero, sebab dia mengambil ponselku untuk mengirimkan pesan padamu,” sahut Viora.


“Apa?! Jadi Alvero menculik gadisku? Sial! Sungguh karena semalam aku mengantuk jadi sampai lupa untuk bertanya padamu. Maafkan aku, sayang. Oh ya berani sekali dia menculik mu, ternyata dirinya sudah tidak takut untuk berhadapan denganku!” amuk Kelvin sambil mengeraskan rahangnya.


“Tidak perlu minta maaf, my dear. Sudahlah hentikan amarahmu, pagi-pagi sudah marah. Oh ya, Alice juga ikut dalam penculikan itu, dia ternyata biang dari semua yang terjadi. Rupanya mereka telah menyiapkan semuanya,” curhat Viora.


“Gadis kecil, aku harus pergi sebentar sepertinya Alvero benar-benar sudah gila. Dia bahkan berani bermain-main denganku. Coba saja hari itu aku menghabisinya pasti semua ini tidak terjadi. Gadis kecil, doakan aku,” pamit Kelvin.


Viora berusaha menahan suaminya. “Tunggu dulu! Jangan bilang kamu ingin bertemu dengan Alvero lalu menghajarnya? Ayolah kita bisa pertimbangkan semua ini.”


“Pertimbangkan bagaimana, gadis kecil? Dia sudah berani bermain dengan istriku tentu saja aku harus membalaskan semua kejahatannya ini. Lihat saja, dia akan mati kali ini di tanganku. Mana pisau ku, kamu simpan? Aku akan memotong lehernya!” geram Kelvin sambil bertanya.


Viora menepuk jidatnya sendiri. “Ya ampun ... Ini masih terlalu pagi dan kita juga belum sarapan. Lihatlah gara-gara ulah mu semua orang di sini jadi ketakutan. Hentikan, my dear. Aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa, tolong jangan gegabah. Bukankah kita akan melakukan honeymoon yang tertunda? Jadi sebaiknya dengarkan ucapanku sebab kamu pasti juga tidak ingin honeymoon gagal lagi karena dirimu yang sudah babak belur.”


Kelvin seketika berpikir. ‘Benar juga ucapan istriku. Bisa-bisa aku gagal honeymoon ke-tiga kalinya,’ batin.


“Huuf! Baiklah gadis kecil, aku tidak jadi untuk kesana tapi, kamu tidak boleh jauh-jauh dariku apalagi mulai detik ini jangan lagi bekerja. Titik! Jangan membantah! Kalau membantah aku akan membunuh Alvero sekarang juga tapi, tidak tahu siapa yang akan terbunuh antara kami,” ancam Kelvin.


“My dear, ancaman mu begitu menakutkan. Baiklah aku tidak bekerja lagi,” pasrah Viora.


“Gitu dong. Ya sudah ayo kita ke dapur. Perutku sudah lapar pasti mereka sudah selesai menyiapkan sarapan,” ucap Kelvin sambil memegang perutnya.


“Baiklah, my dear.”


Semua orang di sana merasa lega sebab Tuan rumah tidak jadi pertaruhkan nyawanya pagi-pagi buta seperti ini. Mereka saling tersenyum sambil menggelengkan kepala. Lalu Viora langsung mengajak Claudia untuk ikut sarapan bersama.


...----------------...


...----------------...


(Kediaman Alvero)


Di sisi lain, Alvero masih tertidur pulas bersama dengan Alice. Mereka kelelahan hingga bangun kesiangan. Di luar kamar Mama sudah sibuk memanggil mereka untuk sarapan namun, tidak ada wujud satu pun yang terlihat hingga Mama memutuskan untuk pergi melihat. Papa yang ada di sana sempat menghentikan tujuan.


“Mau kemana, Dek?” tanya Papa dengan panggilan khasnya.


“Mau bangunin anak-anak untuk sarapan. Apalagi ini udah kesiangan mana harus kerja lagi. Abang makan terus biar Mama panggil mereka dulu,” sahut Mama seraya beranjak pergi.


Mama membuka satu persatu kamar tamu di kediamannya sebab ia tidak tahu di mana kamar Alice. Namun, semaunya kosong tidak ada tanda-tanda keberadaan Alice tapi, satu kamar hanya tinggal kamar Alvero yang belum Mama masuki.


“Loh! Kalau di setiap kamar tamu gadis itu tidak ada lalu dia tidur di mana? Pasti nggak mungkin tidur di kamar pelayan,” gumam Mama.


“Ah sudahlah lebih baik bangunkan Alvero dulu nanti aku bisa tanyakan langsung," gumam Mama kembali.


Mama mencoba membuka pintu kamar putranya namun, terkunci di dalam hingga ia memutuskan untuk mengambil kunci lain yang juga milik dari kamar tersebut.


“Alvero, nak bangun!” ucap Mama sambil membuka pintu.


“Astaga! Kalian berdua!” teriak Mama tercengang melihat putranya bersama dengan Alice.


Alvero dan Alice tertidur saling berpelukan. Apalagi pakaian atas Alice memang tidak ia pakai dari semalam. Alvero yang memeluk tubuh Alice langsung tangannya berada di atas gundukan besar.


“Kalian ini masih tunangan sudah tidur bersama! Abang! Cepat kesini! Lihat kelakuan putramu ini pantas saja tunangannya tidak ada di kamar lain ternyata di sini. Abang ... Cepat kesini! Ayah sama anak sama aja. Sama-sama cari untung padahal menikah belum!” omel Mama dengan berteriak.


Papa berlari untuk menuju ke kamar putranya. Begitupun dengan Alvero dan Alice terbangun gara-gara suara mamanya yang super keras.


“Mama, aduh ... Mama apasih? Aku masih ngantuk tahu,” ucap Alvero biasa saja.


“Hey, itu mamamu udah lihat kita loh tidur berdua. Ayo cepat bangun,” bisik Viora dengan ketakutan.


“Masih berani menjawab kamu yah. Abang! Lihat nih kelakuan mereka baru tunangan sudah tidur-tiduran! Sama nih kaya kamu, anakmu jadinya ikut-ikutan! Pokoknya aku nggak mau tahu kita harus menikahi mereka secepat mungkin supaya aku bisa gendong cucu. Asyik ... Dapat cucu aduh ... Senangnya aku bisa main sambil buat toktok sama cucuku,” ucap Mama dengan penuh gembira.


“Loh! Kok malah aku di bawa-bawa sih, Dek?” tanya Papa pasrah.


Mama tidak menjawab justru ia memilih pergi. “Ya sudah, Mama tunggu di luar yah nak. Ayo Bang, kita sarapan yuk!”


“Apa, Mam? Menikah? Tunggu dulu Mama, jangan langsung pergi,” refleks Alvero kaget sambil menatap wajah Viora.


“Aduh ... Sakit perutku, Mama kamu lucu ya. Rasain! Emang enak bakalan di nikahin!” ledek Alice sambil terus tertawa terpingkal-pingkal.