
H A P P Y R E A D I N G
“Apa aku tidak salah dengar, gadis kecil? Kamu khawatir denganku, kamu mencemaskan aku. Ayolah sayang, aku tidak ingin menghabiskan waktu di sini untuk berdebat denganmu. Kemari, ’lah peluk aku,” pinta Kelvin seraya melebarkan tangannya.
“Jangan terlalu mimpi Kelvin, aku tidak akan memelukmu. Ah sudahlah aku ingin pulang dan istirahat, jika kamu masih ingin di sini ya sudah,” ucap Viora lalu melangkah meninggalkan Kelvin.
Kelvin hanya tersenyum melihat istrinya bertingkah sangat cuek. Ia lalu mengekor Viora di belakang sembari terus tersenyum tiada henti.
Viora yang memakai high heels dan berjalan dengan cepat hingga ia tidak menyadari bahwa didepannya ada batu runcing hingga membuat dirinya hampir terjatuh. Kelvin dengan cepat menahan tubuh Viora hingga akhirnya istrinya tidak terjatuh justru terjatuh kedalam pelukannya.
Mereka berdua saling memandang hingga mata Viora menyadari bahwa pandangan itu membuat jantungnya kembali berdebar kencang. Ia dengan cepat dari rangkulan Kelvin.
“Jangan cari kesempatan dalam kesempitan! Mengerti, dan terimakasih,” ucap Viora begitu ketusnya.
Kelvin hanya tersenyum tanpa menjawab apa yang istrinya ucapkan. Mereka membawa mobil masing-masing hingga keduanya pulang dengan mobil mereka.
(Setiba di kediaman Kelvin)
Viora langsung memasuki kamarnya tanpa mengetahui jika Kelvin ikut-ikutan masuk. Karena kegerahan alhasil Kelvin langsung membuka pakaiannya di dalam kamar tersebut.
Viora menyadari bahwa seseorang berada di dalamnya hingga akhirnya ia menoleh dan ternyata benar Kelvin dengan lancangnya masuk tanpa meminta izin.
“Hey! Mau ngapain kamu ke kamarku? Sana keluar,” tanya Viora seraya mengusir Kelvin.
“Memangnya kenapa? Kitakan sudah menikah sayang, lagipula kediaman ini milikku dan juga kamar ini khusus aku desain untuk kita berdua. Jadi wajar dong kalau aku ikutan masuk,” sahut Kelvin dengan jelas.
“Aku tidak mau sekamar denganmu. Jadi aku minta kamar ini milikku dan kamu tidur di kamar yang lain!” bentak Viora dengan kejam.
“Sayang, kenapa sih kamu lama-lama kaya Ibu tiri tahu galak banget. Ayolah aku suka kamu yang lucu-lucu imut seperti dulu,” ungkap Kelvin berusaha mengalihkan pembicaraan.
‘Sebenarnya aku juga ingin seperti dulu. Menjadi gadis lucu dan menggemaskan tapi, aku takut jika kamu kembali menyakitiku,’ batin Viora.
“Jangan mengalihkan pembicaraan. Aku ingin sekarang juga ambil semua barang-barang milikmu dan keluarlah dari kamarku. Kita tidak akan tinggal sekamar karena sekarang aku adalah Bos di kediaman ini,” ungkap Viora dengan pedenya.
‘Ya ampun, gadis kecil. Meskipun kamu sedang marah entah kenapa aku justru ingin tertawa melihat mata besar mu,' batin Kelvin yang berusaha menahan senyumnya.
“Gua ngga suruh Lo senyam-senyum! Udah sana keluar ....” Viora berusaha menarik tangan kekar Kelvin.
“Sebentar sayang, kamu ini tidak sabaran. Di kediaman yang baru ini tidak ada kamar lain, ada sih cuma hanya satu kamar tapi, aku sudah mengisinya menjadi ruang kerja. Lagipula ini kediaman khusus untuk kita sayang. Kecuali rumahku yang dulu yang memiliki begitu banyak kamar,” ungkap Kelvin dengan jelas.
“Ya ampun! Kenapa kamu hanya membuat satu kamar untuk rumah sebesar ini? Kalau begitu baiklah kali ini kamu menang, aku mau jika di kamar ini malam ini juga isikan dua buah ranjang, satu milikku dan juga milikmu. Dan setelah itu kita akan pindah ke rumah lamamu, karena aku tidak ingin berlama-lama berada di sini hidup satu kamar dengan Pria jahat sepertimu!” sahut Viora dengan tegas.
Kelvin tersenyum lalu membawa Viora untuk duduk bersama dengannya agar mereka lebih tenang berdiskusi.
“Gadis kecil, dengarkan aku dulu. Sebelum memutuskan untuk pindah alangkah baiknya kita bernegosiasi langsung. Pertama jika kita pindah ke rumah yang lama, di sana sudah ada Bunda dan Ayah, jadi kupikir mereka juga tidak akan membiarkan kita pisah ranjang. Kedua, aku sengaja membuat desainnya seperti itu sebab kita sudah menikah dan belum memiliki bayi. Ketiga, toko tengah malam begini sudah tutup sayang, sudahlah hilangkan semua kecurigaan mu lebih baik kita tidur.” Kelvin berusaha membuat Viora mengerti.
‘Aku tahu gadis kecil, kamu pasti akan menolak untuk sekamar denganku tapi, kamu tidak akan bisa menolaknya karena aku sudah memikirkan semua itu dengan matang,' batin Kelvin.
“Ya sudah percuma aku marah-marah denganmu. Sebaiknya aku langsung tidur, dan satu hal aku yang akan tidur di ranjang dan kamu tidur di lantai, tanpa adanya penolakan!” tegas Viora seraya mengambil bantal dan selimut.
Tanpa menunggu jawaban terlebih dahulu dari Kelvin. Viora langsung memberikan bantal dan selimutnya. Ia lalu beranjak pergi untuk membersihkan dirinya di kamar mandi.
Kelvin hanya memandang kepergian Viora. Ia hanya bisa bersabar setelah apa yang semuanya ia lakukan terhadap gadis kecilnya dulu. Balasan begitu pahit yang ia dapatkan.
‘Andai kamu tahu gadis kecil, setiap harinya aku berharap jika kamu mau sedikit saja melihatku di sini. Aku tahu semua kesalahan di masa lalu sangat sulit untuk kamu lupakan tapi, tidak perlu untuk terus menghukum ku. Sudah bertahun-tahun aku kehilangan dirimu dan sekarang rasanya aku semakin kehilanganmu,’ batin Kelvin saat ingin menatap photo Viora.
Tidak sengaja saat melihat photo istrinya, Kelvin menemukan satu album yang lain. Ia mencoba untuk membukanya hingga akhirnya terpampang jelas album milik sahabatnya, Zoya.
‘Zoya, bagaimana kabarmu? Aku juga merindukanmu,’ batin Kelvin.
Sembari menunggu Viora selesai. Kelvin merasa bosan lalu ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Ia membawa bantal dan juga selimut bersamaan. Kelvin tiba di sofa ruang tengah. Ia lalu rebahan sembari mengotak-atik ponselnya.
Mencari nama Zoya hingga ia memutuskan untuk menghubungi sahabatnya. Menunggu beberapa saat panggilan hingga akhirnya tersambung.
“Hallo, Zoe,” sapa Kelvin seraya tersenyum.
“Hallo ini dengan siapa? Dan siapa Zoe?” jawab seseorang yang tidak ia kenal.
‘Apa aku salah nomer telepon? Kenapa suaranya seperti Pria kecil?’ batin Kelvin kebingungan.
Kelvin tidak lagi menjawab, ia hanya terdiam sembari berpikir siapa sebenarnya yang ia telepon. Lalu saat ia terdiam terdengar suara ribut dari balik ponselnya.
“Siapa itu? Bawakan ponsel Mommy kesini, sayang.”
Percakapan itulah yang terdengar hingga membuat Kelvin bertambah bingung. Lalu ia mencoba untuk menanyakan sesuatu.
“Hallo, apa benar ini yang bernama Zoya?” tanya Kelvin begitu penasaran.
‘Ya ampun, ini ternyata benar-benar Zoya. Suaranya persis tapi, siapa yang tadi menjawab teleponku?’ Lagi-lagi Kelvin berpikir dengan batinnya.
“Hay apa kabar manis? Ini aku Kelvin. Apa kamu masih ingat?” tanya Kelvin.
“Kelvin? Ya ampun ...! Kamu kemana saja? Sudah begitu lama kamu bahkan tidak mengirim kabar padaku, ku pikir kamu sudah melupakan aku,” sahut Zoya dengan antusias.
“Mmm maafkan aku, Zoya. Ponselku yang dulu mati jadi karena itu aku harus tidak sempat mengabari dan beberapa hari terakhir Ibu yang memberikan nomer telepon mu. Sekali lagi maaf, sebetulnya aku sangat ingin mengabari mu tapi, pekerjaan sungguh membuatku tidak punya banyak waktu luang. Kau tahu sendiri bahwa sekarang aku sudah memegang dua Perusahaan sekaligus," ungkap Kelvin merasa bersalah.
“Ya sudah baiklah tidak perlu minta maaf lagipula bukan kesalahanmu sepenuhnya. Oh ya, bagaimana dengan Viora? Dan kapan kalian berkunjung kesini, sebab banyak hal yang ingin aku beritahu padamu terlebih mengenai Kaylee dan Kayrren,” ucap Zoya.
“Siapa mereka, Zoe? dan tadi aku juga mendengar suara Pria kecil yang berbicara denganku. Apa itu dia? Aduh di mana Reiner, aku sudah lancang berbicara denganmu tengah seperti ini. Pasti dia akan marah lagi denganku.” Kelvin memang takut jika ia mengganggu sahabatnya meskipun ia sangat ingin mengobrol lebih lama.
“Ya ampun Kelvin! Sudahlah tidak perlu cemas lagipula suamiku berada di sampingku. Dan mengenai pertanyaan mu mereka adalah keponakan mu sendiri. Kayrren tadi yang sudah menjawab telepon mu. Anak itu memang nakal, jadi maklumin saja.”
Kelvin memasang wajah kaget saat ia mendengar Zoya menyebut dengan sebutan keponakan. Itu artinya si kembar sekarang pasti sudah tumbuh besar. Ia lalu tersenyum lebar saat menyadari bahwa keluarga sahabatnya sudah bahagia.
“Wah Zoe, aku jadi tidak sabar untuk melihat si kembar. Nanti aku pasti akan mengunjungi kalian di sana. Oh ya kirimkan salam ku untuk Reiner, bilang padanya kalau dia harus mentraktirku nanti saat aku di sana, dan juga salam ku untuk si kembar. Zoya, sepertinya aku tidak bisa begitu lama berbicara denganmu. Sebab Viora sedang melihatku dengan tatapan yang sulit ku pahami. Aku akan menutup teleponnya. Bye-bye.”
“Oh ya sudah aku pasti akan menyampaikan salam mu. Jaga dirimu baik-baik, Kelvin. Bye-bye.”
Tanpa lagi menyahut seruan Zoya, sambungan telepon pun akhirnya berhenti.
Kelvin berdiri saat melihat Viora sedang menatapnya begitu tajam seraya melipatkan tangan di dadanya. Seperti ingin menerkam mangsanya Viora sama sekali tidak bergerak dari tepat ia berdiri.
Kelvin takut jika Viora salah paham sebab ia menghubungi seseorang di tengah malam seperti ini. Lalu Kelvin mencoba mendekati dengan perlahan.
“Berhenti di sana!” ketus Viora.
Belum sampai begitu dekat Viora sudah menyuruh Kelvin untuk menghentikan langkahnya. Tanpa penolakan Kelvin pun menurut seperti keinginan istrinya.
“Sayang, apa kamu sudah lama berdiri di sana?” tanya Kelvin lemah lembut.
“Bukan urusanmu sejak kapan aku ada di sini yang jelas aku hanya melihatmu sedang senang-senang dengan ponselmu. Apa mungkin wanita yang kamu telepon itu pacarmu?” tanya Viora yang langsung menuduh tanpa bukti jelas.
Kelvin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia berpikir apa mungkin Viora saat ini sedang cemburu?
“Sayang, dengarkan aku. Tadi aku hanya mencoba menelepon Zoya karena aku tidak sengaja menemukan photo dirinya, lalu aku penasaran dengan kabarnya sekarang. Hanya itu sayang, percayalah jangan cemburu seperti itu,” ucap Kelvin dengan pedenya.
“Siapa juga yang cemburu?! Jadi Zoya yang telepon? Oh ya sudahlah aku kelelahan ingin tidur dan ingat jangan coba-coba menyelinap masuk kedalam kamarku jika tidak aku akan melaporkan kamu ke polisi dengan tuduhan mencoba memperkosaku,” ancam Viora sembari menunjuk kepada Kelvin.
Lagi-lagi Kelvin di buat bingung oleh tingkah Viora saat ini. Pertama gadis kecilnya terlihat cemburu lalu sekarang ia ingin melaporkan kepada polisi. Membuat Kelvin menahan tawanya mendengar semua kekonyolan yang di ucapkan oleh gadis kecilnya.
“Sayang, jika pun kamu ingin melaporkan aku ke polisi mana mungkin mereka akan menangkap ku. Tidak ada polisi yang menyalahkan suaminya sendiri atas semua tuduhan itu. Jujur sayang, aku baru sekarang mendengar suami memperkosa istrinya. Bukankah kita suami istri jadi semua perbuatan itu sudah seharusnya kita lakukan. Bolehkan jika aku tertawa sekarang?” ledek Kelvin yang benar-benar menertawakan istrinya.
Dengan wajah merah karena menahan malu, Viora akhirnya memilih pergi masuk ke kamarnya tanpa mengatakan apapun lagi dengan suaminya. Ia tahu jika dirinya kali ini sudah bertingkah bodoh lagi didepan Kelvin.
(Di dalam kamar Viora)
“Heuh! Kenapa sih aku bisa-bisanya terlihat bodoh di depan Pangeran? Padahal aku sudah melatih diriku agar tidak salah tingkah didepannya tapi, tetap saja aku seperti gadis bodoh lagi,” gumam Viora.
Ia melampiaskan kekesalannya kepada boneka teddybear yang berada di sampingnya. Boneka itu juga pemberian dari Kelvin sewaktu mereka belum menikah. Tingkah laku Viora yang belum sepenuhnya ia ubah saat berhadapan dengan orang yang ia cintai meskipun ia menyadari bahwa ia juga lelah setiap saat berpura-pura tidak mencintai Kelvin.
Saat sedang kesal sebuah pesan masuk dari Alvero membuat ia melirik kearah ponselnya.
(“Sayang, apa kamu sudah tidur? Aku tidak bisa tidur. Jika kamu melihatnya tolong balas pesanku.”) Pesan masuk dari Alvero.
Viora hanya melihat di layar depan ponselnya tanpa ingin membalasnya. Ia merasa bosan melayani Alvero. Pasti nanti Pria itu akan meminta untuk menemani sampai dirinya tertidur. Tentu saja Viora tidak berniat. Hingga akhirnya Viora lebih memilih untuk menonton drakor sampai akhirnya ia tertidur pulas.
(Di luar kamar)
Berbeda dengan Kelvin yang sedari tadi masih terjaga dan tidak bisa tertidur. Ia akhirnya bangun seraya pergi untuk keruangan kerjanya. Lalu Kelvin memasuki ruang rahasia khusus di mana di sana juga memiliki ranjang hingga membuat dirinya bisa tidur dengan nyenyak di tempat tersebut.
Tidur begitu nyenyak hingga mimpi membawa dirinya. Dalam mimpi tersebut Viora bersama dengan seorang Pria yang juga ia kenal.
“Sayang, aku senang jika malam ini aku bisa bersama denganmu menikmati malam yang panjang berdua,” ucap Alvero dalam mimpi Kelvin.
“Ya sayang, aku juga begitu senang apalagi kita akan melakukan semuanya,” sahut Viora seraya menyentuh Alvero dengan begitu mesra.
“Ayo sayang, kita mulai malam yang panjang ini.” Mereka akhirnya saling menikmati sentuhan tiap sentuhan.
Mereka sedang tertawa bersama hingga akhirnya mereka berhubungan langsung di depan mata Kelvin sendiri hingga membuat Kelvin mengamuk.
Dengan nafas terengah-engah dan butir peluh keluar membasahi tubuhnya. Kelvin terbangun saat mimpi membuat tidurnya terganggu.
“Kenapa mimpi itu begitu jelas? Rasanya benar-benar nyata. Tapi, tidak mungkin jika Viora bermain hati di belakangku apalagi sampai melakukan hubungan badan seperti itu. Semoga saja apa yang aku mimpikan malam ini tidak terjadi di masa depan,” gumam Kelvin lalu memilih tidur kembali.