Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
15 ~ Extra Part S2 Berduka dan gembira


H A P P Y R E A D I N G


Jika Steven bersama Claudia yang sudah memilih jalan masing-masing untuk tidak menjalin hubungan sebagai adik-kakak melainkan seperti orang asing yang tidak saling mengenal. Bahkan sekarang sudah memasuki tahun ke-lima setelah perpisahan mereka.


Kesibukan sangat membuat Steven lupa dengan semua hal, ia memang sedang merintis bisnis baru bersama dengan Reiner yaitu mendirikan beberapa cabang Perusahaan dan juga dia ikut mendirikan salah satu Perusahaan miliknya atas bantuan dari sahabat terbaik.


Hidupnya yang sengaja memang fokus dengan pekerjaan hingga membuahkan hasil yang maksimal. Rumah impian sudah berhasil ia bangun, dan juga satu restoran khusus yang di serahkan kepada orang kepercayaannya untuk di kelola. Hidupnya begitu sempurna meskipun tanpa adanya kekasih yang mendampingi. Hanya kekuatan dari sang sahabat yang berhasil menguatkan hatinya.


Jika Steven sudah berhasil dengan pencapaian yang ia raih, dan begitupun dengan Claudia. Wanita itu juga sudah menjadi Dokter spesialis anak, ia telah melewati banyak rintangan dalam pencapaian mengejar karirnya. Semuanya ia raih berkat atas bantuan Steven yang memberikan uang terakhir untuk ia melanjutkan pendidikan.


Berhari-hari Claudia tekun dalam pekerjaan meskipun ia sangat merindukan kakak tercinta. Hampir setiap malam ia menangis sembari melihat photo kenangan bersama dengan Steven. Hidupnya begitu kesepian, senyuman sangat jarang terlihat di wajahnya. Claudia telah menjadi wanita pemarah, emosinya sangat susah untuk ia kendalikan. Pernah sekali Claudia melayani pasien, anak itu begitu bandel hingga mengeluarkan ingusnya tepat di baju kebanggaan Dokter milik Claudia, karena ulah anak itu ia memukul sampai mengeluarkan darah sebab itulah ia harus membayar semua persoalan atas perlakuannya terhadap keluarga anak tersebut.


Steven dan Claudia memang pernah tidak sengaja bertemu hanya berpapasan, tapi Steven justru membuang muka bahkan seakan tidak menganggap Claudia ada. Sejak hari itu tidak ada lagi keceriaan di dalam hidup Claudia. Meskipun banyak teman-teman seperjuangannya terus mencoba menggoda bahkan mengajak ia pacaran. Namun, dirinya tidak bersedia.


Hatinya hanya mengingat seseorang ialah kakaknya. Claudia akhirnya menyadari betapa ia juga mencintai kakaknya. Sejak kepergian Steven, ia berpikir jika perasaan rindunya hanya sebatas rindu terhadap seorang kakak. Namun, ternyata dugaannya salah, melainkan cinta sudah hadir di dalam hatinya.


Pernah Steven sangat nyaman mengobrol dengan seorang wanita. Claudia tidak sengaja melihat mereka di sebuah Cafe, tapi sayangnya ia tidak mengetahui wanita itu siapa. Oleh karena kejadian itu hatinya seperti teriris pisau, sangat ... sakit! Mulai hari itu ia mengatakan jika dirinya sudah jatuh cinta.


“Kakak, akankah kita akan kembali lagi bersama? Ataukah kita akan terus tidak saling mengenal seperti saat ini? Aku jujur aku sudah mencintaimu. Aku pasti akan menerimamu, hatiku sudah lelah menunggumu untuk kembali. Haruskah jika aku yang mengejar mu kali ini? Jika ia tolong perlihatkan satu hal untukku,” ucap Claudia setiap ia sedang menangis.


Claudia telah menyesali semuanya, ia sangat putus asa dengan semua tindakan yang ia lakukan terhadap Reiner begitupun Zoya. Dirinya ingin meminta maaf tapi ia selalu malu untuk bertemu dengan mereka bahkan melihatnya saja Claudia memilih sembunyi.


***-------------------------------------***


(Claudia Siregar)


Entah bagaimana hidupku saat ini? Meskipun aku sudah mempunyai pekerjaan tetap tapi, itu tidak membuatku bahagia kecuali satu hal jika kakakku kembali pulang.


Aku terduduk menyendiri sembari melihat-lihat album lama yang menjadi saksi antara aku bersama dengan Steven.


“Kakak, andai kamu pulang, aku sudah pasti akan memberikanmu semuanya. Apapun akan aku berikan untukmu sekalipun ragaku,” gumam ku seraya membuka lembaran photo yang lain.


Berharap jika sentuhan di wajahnya bisa ia rasakan juga meskipun aku hanya bisa menyentuhnya lewat photo, tapi itu sudah cukup buatku. Saat sedang asyik-asyiknya aku dengan kenangan bersama dengan Steven. Tiba-tiba suara ponsel membuatku terganggu.


Tertera nama suster yang merawat kakakku, Eliezer. Membuatku penasaran dengan apa yang sedang terjadi sebab mereka tidak pernah menghubungiku.


“Hallo, suster,” sapaku dari balik ponselku.


“Hallo, apa kami sedang berbicara dengan Ibu Claudia?” tanya Suster tersebut.


“Ya benar dengan saya sendiri, ada apa yah?” tanyaku penasaran.


“Ada sesuatu yang ingin kukatakan mengenai pasien dari pihak Anda, tolong segera datang kemari,” ungkap Suster tersebut begitu jelas.


“Oh baik, Suster.”


‘Apa mungkin kakak melakukan sesuatu sampai mereka mengabari ku seperti ini? Sebaiknya aku harus bergegas menuju ke sana,’ batinku seraya mengambil tas.


Dengan terburu-buru aku langsung menuju kesana tanpa memakai make-up. Entah apa yang sedang terjadi aku pun tidak tahu.


(Setiba di rumah sakit jiwa)


Suster langsung membawaku keruangan di mana kakak Elie di rawat. Saat pertama kalinya aku melihat dia sungguh membuatku ingin menangis bahkan hatiku begitu terpukul melihat penderitaan yang ia alami saat ini. Sudah begitu lama aku tidak pernah menjenguknya, terakhir aku melihatnya saat ia pertama kali di bawa kesini.


“Sus, sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan kakakku ini?” tanyaku kebingungan.


“Sejak ia di rawat di sini kami berpikir jika dia meminum obat dengan teratur. Namun, ternyata kami salah. Lihatlah tumpukan obat-obatan ini ia sama sekali tidak meminumnya, di depan kami dia berpura-pura mengulum lalu saat kami pergi dia langsung meludahnya. Oleh karena itu, efek yang terjadi pun tidak ada perubahan sama sekali. Lalu sempat ada satu pasien yang hampir sama di sebabkan kegilaan karena terobsesinya dengan wanita hingga akhirnya mereka saling berhubungan. Bahkan Elie terus menganggap Pria itu bernama Kelvin. Maafkan kami, setiap jam di rumah sakit ini selalu punya waktu untuk bermain jadi kami membebaskan bagi pasien yang di anggap tidak terlalu parah yang tidak sampai melukai orang lain. Karena itulah Elie selalu melakukan penyatuan tanpa kami ketahui hingga akhirnya kami memeriksa cctv ternyata benar mereka selalu melakukan hubungan badan hingga mengakibatkan Elie terkena penyakit aidss, sebab seperti pemeriksaan bahwa dia terjangkit virus dari pasien tersebut,” ungkap Suster panjang lebar.


“Ya ampun! Kenapa kalian tidak bisa menjaga kakakku? Lalu bagaimana sekarang? Apa yang harus ku perbuat?!” bentak ku tanpa rasa takut.


“Maafkan kami, seharusnya kami bisa mengetahui lebih cepat hingga tidak akan terjadi hal serupa,” ungkap Suster tersebut.


”Baiklah, tidak perlu menyalahkan dirimu, Suster. Aku minta maaf sudah membentak mu tadi. Oh ya apakah ada obat khusus untuk menyembuhkan penyakit itu?”


“Setahuku sampai saat ini belum ada obat khusus untuk menghilangkan penyakit tersebut, hanya saja untuk penghambat penyakit ada. Tapi, kami di sini tidak menyediakan obat-obatan itu, ah maaf aku hampir lupa memberitahumu kalau pasien ini juga sedang hamil. Kami mengetahuinya saat mengecek kondisi pasien,” ungkap Suster dengan fakta yang baru.


“Hamil? Tapi bagaimana mungkin? Apa nanti akan menganggu calon bayinya?” tanyanya yang masih tidak percaya.


“Sudah pasti. Umur memang tidak ada yang tahu tapi di perkirakan bayi dalam perutnya akan juga mengalami kesakitan karena efek dari penyakit ibunya. Baik kalau begitu saya permisi dulu jika ada apa-apa panggil saja,” ungkap Suster tersebut lalu beranjak keluar dari kamar itu.


Aku tahu kesalahan sepenuhnya bukan dari para petugas rumah sakit melainkan dari diri kakak Elie. Dia sudah melakukan kesalahan dengan membuang semua obat-obatan. Tubuhnya begitu kotor dan sangat kurus hanya terlihat tulang-tulang. Aku begitu kasian melihat dirinya dalam penderitaan seperti ini.


Kakak Elie sedang dalam pengaruh obat penenang hingga membuat dirinya tidak menyadari kedatanganku kesini. Wajah cantiknya dan tubuh indahnya telah hilang di telan waktu. Elie yang begitu cantik bahkan membuatku kagum dengan tubuhnya sekarang sudah berganti tulang, sampai benar-benar tidak tersisa lagi adanya daging di tubuhnya.


“Kakak, kenapa kamu bisa seperti ini? Apakah kita memang di haruskan untuk menderita? Kakak tahu tidak, kalau sekarang Steven juga telah meninggalkan aku dan sekarang kakak sendiri sudah tidak bisa lagi ku harapkan untuk kembali. Kenapa rasanya sangat tidak adil untuk kita, kak? Di luar sana orang lain sedang bahagia, tapi kita di sini harus menangis darah melihat semua penderitaan ini,” gumam seraya mencoba menyentuhnya.


Berlama-lama di sini rasanya membuat hatiku sakit saat penderitaan yang di alami oleh kakakku. Cintanya untuk Kelvin telah membuat ia menderita seperti sekarang. Perlahan matanya mulai terbuka, ia melihatku. Entah dia masih mengenaliku atau tidak tahu pasti.


“Kakak,” sapaku.


“Claudia, kamu ternyata di sini?” ucap Elie dengan baik.


“Kakak harus sembuh supaya kita bisa pulang dan aku janji akan merawat sampai tubuh kakak berisi kembali.”


“Tidak Claudia, aku ingin minta satu hal padamu. Bolehkah jika kamu membunuhku? Agar rasa sakit ini tidak begitu terasa? Ingatan masih jelas, beberapa kali aku sempat berhubungan badan dengan Kelvin di sini tapi setelah itu entah kenapa badanku begitu sakit dan akhirnya tubuh cantikku menghilang. Tolong bunuh aku sekarang?! Di sini tidak ada apapun senjata jadi aku tidak bisa bunuh diri,” ucap Elie seraya dengan permintaan konyolnya.


Menggelengkan kepala saat permintaannya tidak ku patuhi. “Jangan lakukan hal bodoh kak, sudah cukup bodoh selama ini jadi jangan ulangi lagi.”


“Tidak Clau, kamu harus membunuhku karena aku juga tidak akan lama lagi hidup. Penyakit ini mematikan bahkan perutku begitu sakit, entah bayi ini telah mati di dalam sana. Ku mohon bunuh aku!” Elie terus memaksaku.


‘Apa-apaan ini? Mana bisa aku membunuhnya? Jika pun bisa aku akan menyalahi diriku selamanya,’ batinku.


Elie semakin memaksa agar aku menuruti permintaan bodohnya itu, ia juga memintaku untuk menuliskan surat sebagai tanda bahwa dirinya benar-benar mati dengan baik. Dengan memantapkan hatiku, akhirinya aku memilih untuk mengakhiri hidup kakakku. Tidak ada senjata apapun hanya ada bantal. Dengan sekuat tenaga aku menekan wajahnya dengan bantal hingga akhirnya aku tidak melihat lagi gerakan bahkan dirinya sudah tidak lagi bernafas.


“Kakak!” Berteriak sekuatnya sampai seorang Suster yang tadi kembali masuk kedalam.


“Dia telah meninggalkan aku!” Menangis dan terus menangis, meskipun aku membunuhnya namun aku juga tidak tega melihatnya benar-benar sudah kehilangan nyawa.


Suster terus langsung memanggil petugas yang lain untuk Elie di bawa pulang. Aku meminta jika Elie langsung di makamkan di dekat sini. Merekapun menyetujuinya, Elie langsung di mandikan dan di hiasi dengan make-up pengantin agar dirinya cantik saat menghadap bersama Tuhan.


‘Selamat jalan kakak, semoga roh mu berada dalam sorga firdaus. Maafkan aku telah menyakitimu, semoga kamu bisa mendengar suaraku,” ucapku saat melihat dirinya sedang di dandani.


Semuanya telah berakhir Elie selamanya telah meninggalkan aku, begitupun dengan Steven. Hidupku tidak mempunyai siapapun lagi. Selepas melihat Elie untuk yang terakhir kalinya. Aku langsung berlari pergi meninggalkan tempat tersebut. Dengan deraian air mataku yang terus mengalir.


***-----------------------------------------***


(Kediaman Reiner)


Sudah memasuki tahun kelima, Kaylee dan Kayrren sudah berumur enam tahun. Mereka juga sudah memulai pendidikan elementary school yang artinya sekolah dasar.


Keharmonisan keluarga mereka di penuhi dengan canda dan tawa. Begitupun Kayrren sebagai kakak sudah terlihat sikap tanggung jawab terhadap adiknya. Namun, berbeda dengan Kaylee, gadis kecil itu lebih suka menghabiskan waktunya dengan belajar make-up. Habis setiap make-up Zoya ia ambil secara diam-diam untuk ia pakaikan. Layaknya sedang mengadakan fashion show, Kaylee berjalan dengan lenggak-lenggoknya setelah ia memakai make-up. Walaupun wajahnya sudah seperti badut.


“Mommy, lihatlah Kaylee, sudah cantik, ’kan?” Dengan kepercayaan diri gadis kecil tersebut bertanya.


Kayrren menggelengkan kepalanya saat melihat adiknya begitu jelek yang berada di sampingnya. “Kaylee, kamu bukan cantik melainkan seperti badut! Ayolah aku tidak tertarik melihatmu seperti ini.”


“Aduh Kaylee, benar yang kakakmu katakan. Berpenampilan seperti ini terlihat gadis Mommy seperti badut,” ucap Zoya seraya menahan tawanya.


“Dengar Kaylee. Mommy saja berpihak denganku,” timpal Kayrren.


Mata Kaylee berkaca-kaca, ia lalu menangis dan berlari menemui daddy-nya. Reiner berjalan menghampiri Zoya sembari menggendong Kaylee.


“Kaylee, katakan siapa yang bilang gadis cantik Daddy begitu jelek? Ayo cepat jangan berani berbohong pada Daddy.”


“Dad, Mommy dan Kayrren telah mengatakan aku ini jelek seperti badut ... huwaaaa ....” Kaylee terus menangis lalu Zoya mencoba menghentikan tangis Putri kesayangannya itu.


Hingga akhirnya Kaylee tidak lagi menangis dan justru memeluk Mommy-nya. Lalu Kayrren mengambil bedak untuk ia taburkan di atas wajah adiknya hingga mereka semua tertawa melihat ulah jail kakaknya. Zoya bersama Reiner memang mengajarkan agar anak-anaknya tidak berani berbohong dengan mereka. Sekalipun dengan kebohongan kecil.


Keseharian mereka telah membuat Kayrren begitu menyayangi adiknya bahkan menuruti keinginan sang adik. Sikap tanggung jawabnya terhadap sang adik membuat Reiner bangga terhadap Zoya yang telah melahirkan calon pewaris seperti Kayrren.


Saat mereka sedang bermain bersama tiba-tiba Brian datang bersama dengan Vanny dan Rossie. Anak mereka yang sudah berumur lima tahun lebih lima bulan, telah tumbuh cantik seperti ibunya.


Rossie langsung berlari menemui Kaylee dan Kayrren. Tapi Kaylee sering kali bertengkar dengan Rossie sampai mereka setiap bertemu selalu menangis hanya karena merebutkan berbagai macam mainan. Kayrren sebagai kakak sangat lelah menghentikan kedua adik perempuan di depannya. Ia bahkan pernah kelelahan lalu ikut-ikutan menangis.


Tawa dan kebahagiaan telah membuat dua keluarga itu begitu dekat. Hingga tidak ada lagi kesalahpahaman di antara mereka. Itulah hidup meski sakit tapi percayalah selalu ada akhir yang indah bagi mereka yang mau bersabar.


Selamat datang di season tiga (S3) Kelvin dan Viora serta anak-anak dari kedua keluarga tersebut.