
Kita hanya bisa berdoa kepada Tuhan, semoga dibalik setiap kesusahan ada sedikit kebahagiaan.
*******
Aku masih menunggu sampai suamiku sadar, sudah genap satu hari dia belum sadar, aku masih setia menunggunya. Berharap ia terbangun dan memelukku. Kelvin saat ini sedang berada di Kantor, tinggallah aku sendirian yang menjaganya. Tadi Mommy dan Daddy sempat datang namun sudah pulang.
Aku menatap wajah tampannya dan memengang tangannya. Wajah yang pulas tertidur ini masih terlihat begitu mempesona. Kapan kau akan sadar dan temani aku bersama calon bayi kita, kenapa harus aku yang melihatmu terbaring lemah seperti ini, aku rela menjadi penggantimu sebab aku tidak ingin melihatmu sakit cukup biarkan aku yang merasakan sakit.
Air mataku berlinang membasahi pipi indah ku, sampai kapan aku terus melihatmu apa harus air mataku habis mengalir baru kau sadar dan memelukku. Aku terus menangis disampingnya sampai aku tidak sadar ketiduran. Saat mataku sudah terpejam aku bermimpi seperti ada sebuah tangan yang sedang menggenggam tanganku dengan erat, lalu memberikan usapan di kepalaku, apakah aku terlalu banyak menghayal berharap suamiku sadar dan memelukku.
Tapi usapan itu semakin terasa begitu juga dengan genggaman tangannya, yang membuatku ingin terbangun, perlahan aku membuka mata dan melihat setelah akhirnya kusadari bahwa memang tangan suamiku sedang menggenggam tanganku dan sepenuhnya aku tahu bahwa suamiku telah tersadar dari tidurnya yang panjang.
Aku bangkit berusaha untuk lebih dekat dengannya dan mengusap kepalanya. "Mas, syukurlah kau sudah sadar," aku memeluknya dan ia tersenyum kearahku, sebuah senyuman yang sangat aku nantikan akhirnya telah kembali bersamaku. Ia mencoba bangkit agar bisa terduduk tapi aku menahannya.
"Tidurlah jangan memaksakan tubuhmu mas biarkan aku yang mendekat." Tapi Reiner tetap tidak mau mendengar dan berusaha untuk duduk terpaksa aku harus menuruti keinginannya dan membantunya.
"Sayang aku sangat lelah jika terus tertidur begini....," ujarnya. Aku tersenyum mendengarnya. "Baiklah mas kau bebas duduk dan jika perlu lari agar kau sembuh, tidak-tidak aku hanya bercanda."
Hatiku sedikit lega melihat senyuman darinya. Ia mengusap wajahku. "Sayang kau sudah banyak menangis ya sampai matamu mu berubah seperti mata panda dan besar," ucap Reiner dan terkekeh. "Mas kau mengejekku?" aku berpura-pura untuk marah. Ia hanya terkekeh geli melihat kearahku.
"Sayang aku tidak mengejek mu justru aku mengatakan hal yang sebenarnya," ucap Reiner seperti menahan tawanya. Aku cemberut mendengarkan ucapannya seperti itu. "Aku berpikir jika setelah menghilang mas tambah ngeselin tahu." Mendengar ucapanku dia malah tertawa terbahak-bahak. "Sayang maaf aku hanya ingin membuatmu tertawa tapi justru aku sendiri yang tertawa, ayolah sayang jangan serius begitu aku hanya berusaha untuk bercanda," ucapnya dengan serius.
"Ya baiklah mas kali ini kau menang membuatku tertawa, aku hanya berusaha untuk cemberut," ucapku dan kami tertawa bersama. Saat kami sedang sibuknya melucu suara ponsel menggema di ruangan itu. Aku mengambilnya dan melihat ternyata Kelvin yang menghubungiku. "Hallo Vin." Ucapku dengan nada suara tinggi dan bahagia.
"Hallo Zoe aku mendengar jika suaramu ceria sekali tidak seperti biasanya," ucap Kelvin dari balik ponselku.
"Ya Vin kau benar, aku sedang bahagia suamiku sudah sadar," ucapku dan setelahnya ponsel diambil alih oleh Reiner. "Hallo Vin kau dengarkan suaraku tentu saja istriku sedang bahagia," ucap Reiner.
"Tentu saja, ah ya kau sudah sadar rupanya baiklah aku segera berangkat kesana dan pastinya kalian belum makan bukan?" ucap Kelvin. "Tentu saja kami lapar cepatlah datang dan bawakan makanan yang lezat dalam bentuk porsi yang besar, kau paham?!" ucap Reiner, membuatku ingin tertawa mendengarnya.
"Sayang kenapa kau menatapku lama sekali kau sangat merindukan ya?" ucap Reiner sambil tersenyum.
"Tentu saja aku merindukan suamiku setiap istri tentu merindukan suaminya tapi yang membuatku bingung kenapa kau bisa menghilang dan justru aku menemukanmu disini," ucapku. Ia mengusap rambutku. "Kau akan tahu nanti sayang saat Kelvin datang sudahlah jangan membahas itu dulu," ungkap Reiner.
Ia menarik ku dan membawanya kedalam pelukannya. "Sayang sangat merindukanku ya sampai-sampai matamu terlihat terlalu banyak menangis," ucap Reiner penuh sayang. Aku hanya mengangguk kepalaku memang aku sudah sangat merindukanmu.
Perlahan ia memelukku dan memberi ciuman dibibir ku, aku pun membalasnya serta mengikuti setiap pergerakan dalam mulutku. Tangannya berjalan dengan pelan ingin mengambil sesuatu yang sudah sah menjadi miliknya, ia terus membuat dirinya seakan tidak bisa lagi lepas dari dekapannya.
"Sayang kau sudah merasa baikan merindukanku?" aku memberinya jawaban dengan anggukan. Saat kami sedang saling memeluk tiba-tiba Kelvin datang masuk ke ruang inap tersebut. "Maaf aku tidak bermaksud mengganggu kalian," ucap Kelvin dan berjalan ingin keluar. "Hei kau ingin kemana pria pelakor kesini lah," ucap Reiner membuatku tertawa.
Kelvin berjalan mendekat lengkap dengan dua tentengan di kedua tangannya, ia berjalan sambil mengomel. "Sejak kapan ada pria pelakor ucapan macam itu Reiner?" ucap Kelvin. Suamiku pun tidak ingin kalah. "Sejak kau berusaha mencuri hati istriku," ucap Reiner.
Aku sedang menata barang bawaan Kelvin, dan aku tertawa mendengar ucapan mereka. Kelvin pun tidak ingin kalah ia juga membalas ucapan suamiku. "Zoe katakan bukankah hatimu sekarang masih berada dalam tubuhmu sejak kapan aku menculiknya?"
"Sudahlah Vin ucapan konyol itu tidak akan berhenti nantinya aku lapar, pintar sekali kamu bawakan makanan sebanyak ini," ucap Reiner. Aku sedang menyiapkan sarapan untuknya juga untuk Kelvin. Dan akhirnya kami makan bersama serta aku menyuapi suamiku.
Sarapan kami selesai, dan seketika dokter datang karena sudah waktunya. Dokter kembali memeriksa keadaan suamiku. "Keadaan Anda sudah sangat membaik dan ini sayang tambahkan vitamin untuk membantu kembali menambah tenaga."
"Terimakasih Dok, lalu bagaimana dengan lenganku apa memang butuh waktu lama jika ingin bergerak lebih bebas?" dokter pun mengecek perkembangan lengannya. "Sepertinya tidak akan butuh lama lagi karena keadaan fisik Anda yang cukup kuat itu justru membantu penyembuhan."
"Baik dok terimakasih," ucap Reiner dan dokter itupun berjalan keluar. Aku sedang mempersiapkan obat untuknya sedangkan mereka seperti ingin serius berbicara, Kelvin yang sudah duduk disampingnya. "Jadi Reiner, kau mungkin tahu apa maksudku selama ini kau kemana?"
Suamiku menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan. "Ceritanya panjang Vin dan aku tidak mengerti kenapa wanita itu sangat ingin menghancurkanku," ucap Reiner. Aku pun bergabung menyimak perbicangan mereka. "Maksudmu wanita yang mana?" tanya Kelvin.
"Kau pasti tahu siapa wanita itu Vin," ungkap Reiner. Kelvin seperti sedang berpikir. "Apakah Elie?" ucapnya. Suamiku menjawab dengan memberikan anggukkan kepalanya. "Sialan, aku sudah tebak pasti dia dalang dari setiap permasalahan ini!" Kelvin geram.