
Viora sangat kesal karena dirinya tidak dapat masuk ke kamar milik Kelvin, dia mengomel sepanjang jalan kenangan menuju ke kamarnya, sedangkan Kelvin dengan Elie sudah berhenti menyatu, mereka menyadari kehadiran seseorang.
Malam itu kembali menjadi saksi yang ke tiga kalinya bagi Kelvin dan Elie, tanpa ada paksaan tanpa ada rayuan, nyata dari masing-masing mereka menginginkan, hawa panas dari keduanya karna kelelahan membuat mereka saling tersenyum manis sembari Kelvin sedang istirahat sambil menyusui seperti bagi besar.
Elie mengusap rambut Kelvin, ia tidak ingin sia-sia melewatkan kesempatan berdua orang yang ia cintai, “Terimakasih untuk malam ini.”
“Terimakasih untuk apa Elie?” tanya Kelvin sembari ia melepaskan mulutnya yang sedangkan menyusui.
“Terimakasih karena kamu mau menerimaku Kelvin, meskipun aku ingin kamu lihat dan cintai aku bukan hanya menjadikan teman ranjang mu,” sahut Elie ditengah memasukkan kembali susunya kepada Kelvin.
“Maaf.” Satu kata dari Kelvin, ia merasa dirinya bersalah karena hanya menjadikan Elie teman ranjang baginya.
“Tidak perlu maaf Kelvin, aku tidak marah aku juga bahagia,” ucap Elie sembari tersenyum.
‘Meskipun aku belum mencintaimu tapi terimakasih sudah bersedia untuk bermalam denganku,’ batin Kelvin yang sedang terus-menerus menikmati susu milik Elie.
Keduanya sama-sama senang menikmati kepuasan mereka berdua, lalu mereka melanjutkan untuk kembali tidur bersama sedangkan Viora sudah terlelap sendirian di kamarnya.
-------------------------------------
(Stevenson)
“Steve ...! STEVE BANGUN!! Woy ngga kerja lu? Udah pintu di kunci lagi ah ini anak pagi-pagi bikin gue kesel, ngga di bangunin entar malah ngomel sama gue.”
“Iya iya bentar gue bangun ...! Jangan teriak-teriak suara lu kaya mau roboh ini rumah.” Aku berjalan mendekati pintu kamar suara nyaring di tambah ketukan pintu yang tidak santai.
Claudia datang hanya untuk membangunkan tidurku, memang malam ini aku bermalam di tempatnya, dan pagi ini hari pertama aku masuk kerja setelah merunding banyak dengan Reiner.
“Gue udah bangun Claudia, udah cukup ngedor gedor pintunya,” ucapku lalu pergi keluar mengikutinya.
“Makanya kalau di teriakin sekali dengerin jangan tidur kaya sapi susah amat di bangunin entar telat kerja lu tau rasa, terus malah ngomel lagi ke gue, kenapa gak bangunin, ah jahat lu,” omel Claudia di sepanjang perjalanan menuju ke dapur.
“Iya maaf, udah ah jangan ngomel mulu entar cepet tua adek manis, eh bentar bau apa nih? Udah masak ya dek?” tanyaku dan berlari langsung ke dapur, ternyata benar sarapan sudah tersaji rapi.
“Ya udah makan terus, bentar lagi udah kerjakan lu,” ucap Claudia seraya mengambil makanan miliknya.
“Iya kerja.”
“Gue boleh ikut ngga?” tanya Claudia.
“Ikut kemana? Ke kantor gue atau mau ketemu Reiner? Ayo ngaku lu ...,” sahutku seraya menggodanya.
“Eh apasih kagaklah, ya walaupun gue kangen sih sama Reiner pengen ketemu tapi dia udah punya istri gue jadi takut kalau istrinya galak, biasakan istri Bos gitu,” ungkap Claudia dengan nada lemah.
‘Kasian Claudia udah bertahun-tahun gak ketemu Reiner, andai pertemanan kami terjalin erat seperti dulu pasti enak banget,’ batin Steven, yang iba melihat Claudia.
“Yang sabar ya, Reiner ngga lupain lu kok, eh by the way kemarin gue dapet pesan masuk dari Zoya, katanya dia bosan di rumah kalau suaminya udah pergi kerja terus juga gue sempet cerita ke dia kalau gue punya adik angkat yang juga ngga ada temen ngobrol, gimana kalau nanti gue kenalin elu sama dia, itung-itung ada temen baru buat lu, gimana?”
Aku memang sudah berteman dengan Zoya, setelah kejadian yang tidak sengaja menolongnya, mulai dari itu pertemanan terjalin dengan baik, sempat beberapa kali dia ingin mengenalkan aku pada suaminya tapi selalu saja suaminya tidak punya waktu dan sibuk bekerja.
“Nih udah gue masukin ke ponsel lu, jangan lupa titip salam gue sama Zoya, awas kalau nggak lu bilangin! eh bentar lagi mau masuk kerja nih, gue pulang dulu ya makasih sarapannya lain kali buatin lagi buat kakak mu ini, daaa adek manis ...,” ucapku seraya melambaikan tangan kearah Claudia,. aku pun pergi meninggalkan apartemennya.
“Ogah gue, udah udah sana kerja entar telat lu, hati-hati di jalan kakak.”
--------------------------------
(Claudia Siregar)
Aku melihat kepergian kakakku, Steven, orang yang telat menjadi kakakku, aku sangat senang mendapatkan nomor milik teman yang Steven sukai, ya meskipun aku tidak tahu temannya seperti apa tapi itu justru tidak membuatku minder dan menyerah.
Menatap layar ponsel sembari duduk manis didepan televisi, aku berniat untuk berkenalan dengan teman Steven. Tentu saja aku menguji untuk mengirim pesan dengannya.
0827186152** (Teman Steven)
»Hay ... aku Claudia, kamu pasti Zoya 'kan teman Steven? Senang berkenalan denganmu
Sambil menunggu balasan darinya aku mengambil beberapa cemilan dan betapa senangnya aku ternyata pesanku di balas.
»Hallo Claudia ... ya aku juga senang berkenalan denganmu, aku Zoya, kamu pasti sudah mendengarnya dari Steve.
Setelah mendapatkan balasan darinya dengan cepat aku langsung menghubunginya sebab malas jika hanya berkenalan lewat pesan, sangat tidak nyaman. Setelah beberapa saat menunggu panggilannya Zoya pun mengangkat panggilan dariku.
“Hallo Zoya.”
“Hay Claudia ... kirain mau lanjut di pesan lagi,” ucap Zoya dari balik ponselku.
“Hehe ngga nyaman banget kalau lewat pesan, by the way Zoya ngga kerja?”
“Oh ngga kok, aku lagi berhenti kerja untuk saat ini, suamiku melarangnya sebab tidak akan lama lagi aku mau melahirkan,” sahur Zoya.
“Wah ... aku jadi nggak sabar Zoya ketemu kamu, duh kalau gini aku seneng bakalan dapet keponakan dong, gimana kalau aku sekarang ke rumahmu biar kamu nggak capek-capek abisnya aku pikir tadi mau ajak kamu ketemuan di Cafe tapi karena denger kamu lagi hamil besar rasanya aku jadi nggak enak.”
“Eh ngga apa-apa kok, udah santai aja lagian juga ada supir kok yang bakalan anterin, kita ketemu aja biar kamu nggak capek-capek kesini, beneran nggak apa kok,” ucap Zoya. Aku sendiri malah terasa tida enak dengannya.
“Okay deh kalau gitu, nanti kita ketemuan ya lokasi kamu aja yang pilih, jangan jauh-jauh banget dari tempat Zoya biar nggak capek hehe,” ucapku ceria, tidak sabar aku ingin bertemu dengan teman baruku.
“Siap Claudia, jam sepuluh ya.”
“Siap!”
* * * * *
Seorang teman punya kedudukan yang sama dengan kita. Mereka bukan pemimpin kita, mereka bukan bawahan kita. Mereka adalah orang yang setara dengan kita dan akan menemani kita dalam hidup ini. Jadi bijaklah memilih teman.
≈≈≈≈≈≈
Terimakasih sudah mendukung Author, salam sayang untuk kalian semua.