
Happy Reading
“Terimakasih, Bunda.” Aku memeluk erat tubuhnya, betapa bahagianya aku memiliki Ibu yang sangat mengerti tentang diriku.
‘Viora, kita belum lepas. Tunggu aku,’ batinku saat memeluk Bunda.
“Sama-sama nak, seorang Ibu tidak akan membiarkan anaknya menderita. Ah iya ibu hampir lupa nak, nanti malam Tante Hilma berserta keluarga akan mengadakan makan malam bersama. Itu artinya kamu harus persiapkan diri karena nanti waktu perjodohanmu akan kita bicarakan lebih lanjut,” ungkap Ibunda dengan fakta yang baru.
“Jadi malam ini Bun? Tapi, bagaimana dengan Viora, bukankah dia sedang berduka atas Alvero? Sepertinya kita tidak perlu merencanakan perjodohan ini begitu cepat, Bunda.”
“Tidak Kelvin! Semakin cepat semakin bagus itu artinya Viora tidak akan berani pergi darimu apalagi sampai jatuh kedalam pelukan Alvero. Bukankah Alvero terluka? Aku yakin nak, Viora tidak akan lagi menerima dirimu, tapi jangan khawatir inilah saatnya kamu harus membuktikan bahwa kamu pantas untuk ia miliki,” ungkap Ibu dengan tegas.
“Mmm ... Bunda, kenapa kamu jadi kejam seperti ini?” tanyaku seraya menahan tawa.
“Tidak Kelvin, Bunda bukan kejam. Hanya saja aku ingin anakku ini bisa bahagia dan aku bisa cepat menimang cucu. Bukankah kalian memang sudah dijodohkan sejak kecil? Jadi tunggu apalagi inilah waktunya untuk kalian bahagia meskipun aku tahu anak tampanku ini sudah melakukan banyak hal bodoh. Sudahlah kamu lanjutkan makan mu, aku ingin menunggu kedatangan calon besan ku.”
Bunda pun beranjak pergi dari kamarku. Begitu terburu-buru, 'nya ia sampai harus menetapkan perjodohan saat situasi sedang buruk seperti ini namun, aku juga tidak bisa mengatakan apapun selain mengiyakan karena itu sama saja dengan aku menentang Ibunda ku sendiri.
‘Viora, aku sudah sangat tidak sabar menunggu kehadiranmu sebagai istriku. Meskipun aku tahu kalau kamu tidak akan menerimanya namun, aku tidak bisa berbuat banyak selain meminta maaf dan akan mencintaimu,’ batinku.
Ada rasa bahagia dalam hati saat mendengar orang yang kita cintai akan seutuhnya menjadi milik kita walaupun dengan cara terpaksa. Entah seperti apa jika kita benar-benar sampai menikah, aku tidak tahu pasti. Semoga kedepan aku dan kamu bisa hidup bahagia tanpa adanya kesalahpahaman di antara hubungan kita.
Sembari menghayal hal yang belum terjadi aku langsung memakan makanan yang di bawa oleh Ibu. Perut yang sudah sejak tadi keroncongan karena mogok makan, sekarang aku bisa melahap habis makanan tanpa bersedih lagi.
-----------------------------------------
(Viora Lausy)
Aku masih setia menunggu Alvero terbaring dari rasa sakitnya. Ia masih tertidur lemah dengan perban yang begitu tebal di kepalanya. Rasa sakit yang ia alami sepadan dengan rasa sakit yang ku alami oleh orang yang sama.
Kelvin telah berdosa hingga membuat orang yang tidak bersalah jatuh kedalam kemarahannya. Akibat Alvero kesakitan hingga membuat pekerjaanku tertunda.
“Alvero, kapan kamu akan sadar? Agar kita bisa kembali bekerja dan aku akan menjawab ucapan cinta yang dulu pernah ku tunda. Bangunlah dari rasa sakit ini, aku yang melihatmu tidak tega harus merasakan sakit yang seharusnya aku berada di posisimu sebab aku pasti-”
Kring ... Kringg .... Kringg.
Saat aku sedang berbicara agar Alvero mendengarnya meskipun aku tahu dia belum bisa mendengar, namun justru suara dering ponsel membuatku terganggu. Lalu aku melihat nama yang tertera di sana betapa terkejutnya aku bahwa Mami yang sedang menghubungiku.
‘Tumben sekali Mami sampai menelepon, ada hal penting apa ya?’ batinku seraya mengangkat panggilan.
“Hallo, Mami,” sapaku dari balik ponselku.
“Hay anak Mami. Kamu lagi di mana sayang?” tanya Mami dari balik ponsel.
“Aku sedang di rumah sakit, Mami. Kenapa tumben sekali meneleponku?” tanyaku kebingungan.
“Rumah sakit?! Kamu sakit nak? Kenapa baru sekarang beritahu aku, katakan kamu di rumah sakit mana?!” tanya Mami dengan sangat cemas.
“Sebentar? Jadi Alvero di rumah sakit? Baiklah nak cepat kirimkan alamatnya biar kami bisa langsung kesana, Mami tunggu ya, jangan lupa share GPS. Daaa ... sayang, Mami matikan teleponnya ya,” ucap Mami langsung mematikan ponsel sebelah pihak.
‘Aneh, kok bisa Mami suruh kirim alamatnya? Apa Mami dan Papi ada di sini? Ah masa bodoh mau di sini atau di manapun yang terpenting keluargaku baik-baik saja,' batinku.
Aku langsung kembali mendekati Alvero, namun anehnya sejak tadi bukannya tangannya berada di atas perutnya dan kenapa tiba-tiba tangannya sudah berada di atas ranjang? Entah aku yang kurang fokus atau memang ia sudah sadar.
Aku tidak peduli dengan keanehan yang terjadi sebab bisa saja aku kurang fokus akibat banyaknya pikiran.
“Kapan kamu sadar, Al? Apa memang kamu nggak mau lihat aku bilang kalau aku bakal terima jadi pacarku,” gumam ku yang sedang melihatnya masih terbaring.
“Aku mau kok jadi pacarmu.”
Aku tercengang mendengar suara yang membalas ucapanku.
“Alvero! Ka-ka-mu sejak kapan bangun? Mmm sebaiknya aku harus memanggil Dokter untuk periksa keadaanmu,” ucapku canggung dan merasa malu.
“Tunggu Viora! Tidak perlu memanggil Dokter atau siapapun, aku sudah merasa baik-baik saja hanya membutuhkan luka di kepalaku sembuh. Oh ya mengenai yang kamu bicarakan tadi apa itu sungguh-sungguh?” tanya Alvero yang berusaha menghentikan kepergian ku.
“Umm ... yang mana? Perasaan aku nggak ngomong apapun, tapi sejak kapan kamu sadar? Jadi dari tadi kamu menipuku. Kalau tahu gini mending aku pulang!”
“Maaf Viora, sebenarnya aku sudah sadar sebelum kamu telepon sama Tante Hilma.”
“Jadi kamu sengaja?! Udah ah karena kamu udah sadar aku mau pamit dulu bye!” bentak ku pura-pura kesal.
“Viora tunggu! Iya-iya maaf ... Udah jangan ngambek gitu, ayo kesini lebih dekat, aku punya sesuatu untukmu.”
“Benarkah?!” jawabku antuasias seraya mendekatinya.
Entah apa yang ingin Alvero perlihatkan, tapi sepertinya ada sesuatu yang menarik sampai ia membuatku begitu penasaran.
“Jadi sekarang aku udah di sini mana hadiahnya? Katanya mau kasih,” pintaku tidak sabar.
“Baiklah gadis manja, sebelum itu bantu aku bangun terlebih dahulu.”
Aku hanya menuruti apa yang Alvero katakan. Namun, sampai ia terduduk pun belum ada tanda-tanda hadiah yang akan ia berikan selain menatapku dengan tajam.
“Jadi mana hadiahnya? Cepatlah berikan-”
Cupss! Mataku melotot melihat matanya yang sudah terpejam karena menciumiku tanpa aba-aba apapun. Tapi, anehnya hatiku biasa saja tidak ada berdebar-debar seperti saat Kelvin mencuri ciuman pertamaku.
* * *
Whuu apa cuma sekedar ciuman atau akan berlangsung di atas ranjang? Ckckck kebiasaan Author ngehalu kelewatan. Jangan lupa sertakan kesan dan dukungannya guys.
Salam sayang ~ Meldy Ta.