
Happy reading.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Jika persahabatan dihuni oleh pria dan wanita maka yakinlah salah satu akan tetap memiliki perasaan melebihi seorang sahabat.
*******
(Zoya Khalisa More)
Aku dan Kelvin masih berada di bukit, belum berniat beranjak dari sana. Semilir angin kencang dari arah berlawanan membuat kami sama-sama nyaman berada di sini. Meskipun awalnya kedatangan kami di sini ingin membawa kepala yang sedang panas menjadi dingin. Dan juga untukku, keadaan keluargaku masih belum berakhir dari masalah yang terjadi baru-baru ini.
Sudah beberapa hari kami saling tidak berkomunikasi, juga Reiner yang sepertinya sama ingin mendiamkan aku, padahal kesalahan berawal darinya entahlah, bagaimana nasib hubungan kami. Sampai saat ini dia juga tidak menghubungiku, kehidupanku terjadi seperti semula. Dia yang sudah tidak peduli denganku dan aku yang memang tidak ingin untuk memulainya terlebih dahulu.
Aku ingin jika dia yang datang dan terus membujukku tapi tidak itu mustahil melihat perubahan sikapnya akhir-akhir ini. Sampai saat aku memutuskan untuk kembali bekerja dia juga biasa saja tidak menghiraukannya. Kelvin sendiri juga belum tahu persoalan yang sedang terjadi dalam keluargaku, biasanya dia selalu menjadi orang pertama yang akan mendukungku.
Aku sangat malu untuk berbagi kisah dengan Kelvin sebab itu hanyalah kecemburuanku terhadap mantan kekasih suamiku. Dan hingga detik ini aku masih sangat malu meskipun hati dan pikiranku berkata berlawanan, namun entah mengapa sangat sulit untukku curhat.
Sesekali aku melirik kelvin yang sudah tertidur dalam sandaran ku, entah memang ia benar-benar tertidur atau hanya matanya yang terpejam aku tidak tahu pasti. Pikiranku penuh dengan berbagai ingatan Elie dan Reiner, lalu dengan masalah sahabatku ini.
Pandanganku memandang jauh didepan, melihat indahnya ciptaan Tuhan, sedang fokusnya aku tiba-tiba Kelvin bangun repleks membuatku melirik kearahnya. "Kau akhirnya bangun, kupikir kau akan terus tertidur," ucapku bercanda.
"Duhh jadi kau ingin aku terus tidur tanpa bangun! Yakin sanggup kehilangan sahabat tampan mu dan sangat baik ini?" sahut Kelvin tidak ingin kalah.
"Ayolah mana mungkin aku sanggup kehilanganmu Kelvin, ah sudahlah aku hanya sedang bercanda," ucapku seadanya.
Kelvin bangun dari tempat duduknya dan pindah di depanku, entah apa yang ingin dilakukannya, gerak-geriknya membuatku ingin memberikan satu pukulan ringan untuknya. "Hey kenapa di depanku ... Vin minggir aku sedang memandang kesana, ah kau mengganggu pandanganku saja."
"Hey memangnya aku tidak boleh melihatmu cantik, kau takut tergoda denganku ya?" sahut Kelvin.
"Ayolah aku tidak sedang melucu kelvin ... Bukan aku yang tergoda tapi kamu yang semakin tergoda denganku dan nanti kau akan merebutku dari Reiner," ungkapku dengan ceria.
Kelvin tidak menjawab ucapanku, perlahan ia semakin mendekati wajahku sampai kami benar-benar sangat dekat. Hembusan nafasnya terdengar olehku. Matanya mengambil pandanganku. Tiba-tiba. Cupss! Satu kecupan darinya. Mataku melotot melihatnya yang terus menciumku.
Kelvin melepaskan ciumannya, aku mematung melihatnya begitupun dengannya. "Ehemm! Zoe, aku ... Zo ... Aku nggak kuat lihat kamu, maaf ....," ucap Kelvin bergetar dan merasa bersalah.
Aku tidak menjawab ucapannya. Perlahan ia beranjak dan kembali duduk di sampingku. Lalu ia melirik melihatku. "Zoe, maaf aku sudah mencuri ciuman ...."
"Sudah Vi lupakan!" ucapku sedikit kesal.
"Kau marah Zoe? Maaf aku memang tidak tahu malu sudah menyukai lalu mencuri ciuman darimu, sekali lagi maafkan aku, seharusnya memang kita tidak saling mengenal," ucap Kelvin, ia terus merasa bersalah sampai-sampai berbicara sesuka hatinya.
Lalu Kelvin menggenggam tanganku. "Jadi Zoe kau tidak marah, Benarkah? Bolehkah jika sekarang aku memelukmu?" ucap Kelvin penuh tanda tanya.
Aku menatap tajam dan menarik napas dengan berat menahan kekesalan di hatiku. "Kelvin! Kenapa kau selalu meminta jantung padahal aku sudah memberimu hati, ah sudahlah kau menyebalkan."
"Maaf Zoe, aku hanya bercanda, eh tapi jika kau mengizinkan, aku semakin senang ....," sahut kelvin seraya tersenyum lebar, ia tidak merasa bersalah.
"Ya baiklah lain kali jangan kau ulangi! Kau menyebalkan ....," ucapku geram.
"Ah, aku menyebalkan ya, sungguh? Baiklah jika memang aku sangat menyebalkan Zoe," ucap Kelvin.
Perlahan ia kembali mendekati wajahku, semakin dekat tiba-tiba. "Hahaha Zoe, kenapa tegang begitu ayolah aku hanya bercanda, kau ini sudahlah jangan menganggap serius mana mungkin aku memakan mu."
"Kau pikir aku takut denganmu Vin, justru tidak! Wleekk ....," ucapku seraya menjulurkan lidahku mengejeknya.
"Kau ingin melawanku ternyata! Ah baiklah rasakan ini," ucap Kelvin sambil menggelitik perutku.
Kami tertawa lepas dan bercanda entah mengapa pikiranku tenang meskipun aku terus membayangkan wajah suamiku dengan Elie, setidaknya aku bersyukur dengan adanya Kelvin yang menemaniku.
Tanpa terasa hari berganti sore, didepan sana sangat lebih jelas dan indah akan pemandangan tenggelamnya matahari. Senyumku menatap senja ini, reriuh daun-daun mengiringi. Senja pun hadir diantara kami. Keadaan setengah gelap di bumi sesudah matahari terbenam, ketika piringan matahari secara keseluruhan telah hilang dari cakrawala.
Rasanya aku tidak ingin beranjak dari sini tempat ternyaman yang pernah aku datangi. Perlahan aku melirik kelvin. "Tempat ini sangat indah apalagi jika sore mendatang rasanya kepedihan hidupku seketika hilang."
"Benarkah kau sangat menyukainya tempat ini? Memang benar, sekejap aku juga bisa melupakan semua masalah jika aku sudah berada di sini," ucap Kelvin kagum.
"Tentu Vin, kau sangat pintar memilih tempat yang kusukai, ehmmm bolehkah jika aku berkata jujur? Akhir-akhir ini ada hal yang sangat membuat hatiku gelisah tapi entah kenapa aku malu untuk curhat."
Kelvin menatapku dengan pandangan kosong. "Aku tahu jika kau sedang memiliki masalah Zoe, tapi aku tidak ingin menanyakan sebelum kau sendiri yang mulai."
"Wahh kau sangat mengenaliku ternyata, ah aku tidak percaya," ucapku sambil tersenyum.
"Tentu Zoe, dari raut wajahmu saja sudah bisa aku menebaknya apalagi saat kau melihat Elie dari jauh, rasanya kau ingin cepat-cepat menerkamnya bukan? Padahal aku tahu jika dirimu tidak mudah goyah seperti itu dan lagi sampai sekarang Reiner yang dingin itu tidak menghubungimu, apa tebakanku kali ini salah?" ucap Kelvin teliti.
Aku menganggukkan kepalaku mendengar ucapannya, semua yang dikatakan benar, entah kenapa Kelvin justru lebih tahu gelagat ku.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Hallo guys jangan lupa terus dukung karya Author, mudah kok, dengan like, komen dan berikan vote. Sebab itu akan membuatku untuk lebih semangat dan menghadirkan yang lebih keren. Nah jika kalian penasaran langsung saja seperti yang udah Meldy bilang untuk dukung juga sertakan vote kalian agar Meldy memberikan kejutan-kejutan di setiap episodenya okay.
Juga Author ingin menyampaikan selamat hari raya Idhul Adha untuk kalian yang menjalankannya, maafkan Author jika di sini mempunyai salah kata, Author juga seorang manusia biasa.