Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
Eps 34. Elie tidak karuan part2


Pasangan suami dan istri itu sedang dilanda kebahagiaan dengan hadirnya hangat cinta dari pihak-pihak keluarga mereka, atas kabarnya Zoya sedang mengandung. Meskipun Reiner yang masih belum sembuh total tidak membuat kebahagiaan Dimata Zoya berkurang, namun justru cintai dan sayangnya semakin besar kepada suaminya tersebut.


Berbeda dengan Elie, akhir-akhir ini ia sangat tidak karuan memilah antara perasaan suka dan cinta kepada orang lain yang sebelumnya hanya ia jadikan sebagai teman untuk dibodohkan.


--------------------------------------------


Entah mengapa melihatnya berada di sisiku dan berbicara lembut, seketika pikiranku tenang dari berbagai macam yang sedang aku pikirkan. Katakanlah jika memang aku sedang jatuh cinta dengannya. Aku mengikuti hal sama seperti yang Kelvin lakukan, merebahkan diri sambil melihat kearah langit.


Tidak ada perbincangan diantara kami sampai Kelvin menarik tanganku dan membawa berjalan menyusuri tepian pantai bersamanya, entah mengapa perlakuan dia ini semakin membuat pipiku merah merona sampai tanganku bergetar dan panas dingin, jujur belum pernah aku merasakan seperti ini. Saat aku sedang bersenang dengan pikiranku tiba-tiba dia berhenti membuat aku mematung.


"Elie, tunggu sebentar, kenapa wajahmu jadi berubah begitu?" ucap Kelvin membuatku tersadar bahwa wajahku sudah seperti kepiting rebus. Dengan cepat aku menutup wajahku dengan tanganku seraya menggelengkan kepalaku.


"Hei kau sedang malu ya hahahaha?" ungkapnya disertai gelak tawa terbahak-bahak darinya yang justru semakin membuatku malu tingkat tinggi.


"Aku tidak malu Vin dan untuk apa aku malu denganmu, memangnya kau siapa juga bukan Brian kan?" ucapku berbohong mencoba untuk mencairkan suasana, hatiku semakin gelisah dan berdetak tidak karuan. "Ah benarkah begitu?" ungkap Kelvin.


Perlahan dia mendekat ke wajahku dan semakin mendekat sampai kami hanya memiliki sedikit jarak, jika aku bergerak sedikit maka sudah pasti langsung mengenai bibirnya. Perlahan aku menutup mataku jika memang dia akan menciumiku, harus ku pastikan bisa mengatur nafasku.


"Aaaaacyimmm! Sorry Elie, tiba-tiba hidungku sangat gatal dan ingin bersin."


Ia menarik tanganku dan kami berjalan duduk. ‘Tunggu! Apa yang dia maksud tadi? Dia bersin didekat wajahku, haruskah dia memperlakukan aku begitu, sadar Elie kenapa kau sangat kepedean kalau Kelvin akan mengetahui perasaanmu bisa-bisa dia menolaknya mentah-mentah, tidak ada kemungkinan jika dia akan menerimaku.’


Aku menatap Kelvin, wajahnya tidak kalah tampan dari Reiner, dia sedikit berewok yang membuatnya semakin terlihat tampan dan memesona, tubuh kekarnya bahkan melebihi tubuh Brian, pasti sangat nikmat berada di bawahnya, bisa-bisa aku kehilangan kendaliku jika sekarang memikirkan itu. "Hei Elie! Dan ini yang kedua kalinya aku mendapati mu sedang menatap kearahku, katakan saja jika kau menyukaiku" ungkap Kelvin.


Apa-apaan dia mudah sekali menyuruhku mengatakannya, bisa-bisa aku dibuat bahan tertawa olehnya, aku masih belum percaya dengannya meskipun aku sudah tahu jika memang benar aku mengagumimu. "Aku tidak menatapmu Kelvin jadi jangan kepedean begitu!" ucapku berusaha mengelak. "Oh, tapi kau sangat terlihat aneh hari ini yang biasanya kau sangat pemarah dengan matamu yang melihat orang lain seperti ingin memakannya justru hari ini aku melihat sosok lain darimu," ungkap Kelvin.


"Benarkah aku sekejam itu?" Kelvin hanya menganggukkan kepalanya.


Apa memang mataku melihat orang lain seperti itu? Menurutku tidak, aku masih dalam hal wajar, jika kekejaman ku itu karena ulah orang lain yang pernah menyakitiku itu tentu saja aku akan membalasnya. Sesuatu aku teringat dan ingin menanyakan kepada Kelvin entah mengapa rasa takutku kepadanya berkurang. "Vin, bolehkah aku bertanya sesuatu tapi kau jangan marah."


"Sudah terlihat lebih baik!" ungkap Kelvin, dan melepaskan gepalan tangannya, aku tahu jika dia sedang mengatur emosinya.


"Vin, kau sangat terlihat kesal jika aku menyebutkan mereka, jangan terlalu marah begitu, kau juga dulunya ingin terlibat bukan? Tapi kau justru mengkhianati ku." Dia menoleh kearahku.


"Jadi kau tahu jika aku mengkhianatimu?" Aku hanya menganggukkan kepalaku, dan setelahnya tidak ada perbincangan diantara kami, hanya suara ombak yang terus mengisi keheningan sore itu. Entah mengapa seperti orang pacaran yang sedang bertengkar hanya diam dalam keheningan. Aku merebahkan tubuhku melihat kearah langit, berharap jika keindahan datang sepenuhnya seperti yang hatiku inginkan.


Rasa lelahku akan mengingatkan dendam yang belum juga terbayarkan, ingin rasanya aku pergi sejauh mungkin agar aku bisa menghilangkan dendam di hatiku ini, melihat Zoya menderita aku sangat puas tapi justru aku harus menghadapi marahnya Kelvin. Apa yang harus kulakukan kenapa sekarang justru hatiku memilih Kelvin, bagaimana nantinya aku harus membalaskan semua dendam ini? Haruskah aku berpura-pura baik dihadapannya.


"Hei kau melamun lagi?" ungkap Kelvin membuatku tersadar ternyata dia sudah merebahkan dirinya juga.


"Tidak! Hanya sedikit berpikir," ucapku. "Kau berpikir tentang apa? Apa tentang bagaimana caranya mencintaiku dan mengambil hatiku?" tanya Kelvin berulang kali.


"Hahahaha, pikiran macam apa itu Vin? Aku tidak memikirkan hal yang kau sebut, hanya berpikir untuk Brian" ucapku berbohong. "Oh kau memikirkan dia, lalu kenapa sekarang kau ada di sini jika memang memikirkan dia?"


Pertanyaan Kelvin justru membuatku mematung bingung menjawab apa, dan aku memilih untuk tidak menjawabnya. Entah mengapa aku seolah bodoh jika berhadapan dengan perasaan seperti ini, haruskah aku jujur kepadanya jika memang aku memikirkan dia dan ingin memilikinya? Tapi tidak, itu sama saja membuatku semakin susah bertindak membalaskan dendam ku, biarkan aku seperti ini mencintaimu dalam diam ku, tapi jika nanti Kelvin memiliki kekasih, aku tidak segan-segan membunuhnya.


Aku lihat Kelvin sedang sibuk dengan ponselnya, ingin rasanya aku langsung memeluknya saat ini, tiba-tiba suara ponsel mengangetkan aku, dan terlihat panggilan atas nama Brian, aku langsung mengangkatnya. "Hallo Brian."


"Sayang, kamu lagi dimana?" ungkapnya dari balik ponselku. "Eee ... Aku sedang diluar di rumah teman, Brian memangnya kenapa? Bukankah aku sudah bilang kepadamu," ungkapku membuat Kelvin melihat kearahku, mungkin dia juga bingung kenapa aku berbohong.


"Jadi kau sedang di rumah teman ya sayang, bagus sekali jika begitu, teman macam apa yang sedang rebahan ditepi pantai bersama seorang pria, kau bilang itu sedang di rumah?!" Terdengar amukan amarah dari Brian, sontak membuatku terkejut, bagaimana dia tahu? Aku pun menoleh kearah kiri dan kananku, tidak ada Brian lalu kenapa dia tahu. "Sayang lihatlah kebelakang mu, apa kau lupa jika sudah memiliki aku!"


Deg! Darimana dia tahu? Oh tidak bagaimana ini apa yang harus kulakukan. Bodohnya aku. Kelvin pun melihat gerak-gerik ku yang terlihat aneh, dia pun mengikuti arah pandang ku. Kami pun melihat jika Brian sedang menuju ketempat kami.


******


Kebohongan tidak akan bertahan lama, sekuat apapun kau menyembunyikannya, tetapi kejujuran lah yang akan hadir dari setiap kebohongan yang kamu buat.