Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
Eps 46. Curhat


Happy reading.


≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈


Zoya melirik kearahku. "Vin! Apa maksudnya ini? Jangan bilang kau dengan dia sudah saling menetap," ucap Zoya kebingungan.


"Tidak Zoya, pliss jangan mudah percaya dengan wanita siluman itu, dia sedang mengelabuhi kita," sahutku kesal.


Elie tersenyum licik. "Aku sudah katakan Vin, aku tidak sedang membohongimu, aku benar-benar hamil dan ini anakmu. Jangan bilang kau melupakan kenangan terindah yang pernah kita lakukan sayang."


"Ayo Zoe kita pergi dari sini," ucapku seraya menggenggam tangannya dan kami pergi dari hadapan Elie.


Fokus ku didepan, rahang ku mengeras, sungguh wanita itu memiliki banyak cara untuk bisa bersamaku. ‘Dia pikir aku percaya, mana mungkin bisa hamil dalam sekejap, itu pasti anak Brian, ya benar anak dia, kau tidak bisa mengelabuhi ku Elie.’


Langkahku terhenti tiba-tiba aku teringat satu hal. "Zoe! Hubungi klien, tunda pertemuan kali ini bilang kalau kita sedang berada diluar negeri sebab aku tidak mungkin bisa menghadiri rapat jika pikiranku saja masih belum bisa fokus."


Zoya mengangguk mendengar ucapanku. Terpaksa pertemuan yang sangat penting harus tertunda gara-gara wanita itu. "Ikut denganku sebentar."


Aku terus menggenggam tangan Zoya seperti seorang kekasih yang tidak ingin pasangannya lepas. Ia hanya pasrah dan terus mengangguk mengiyakan ajakan ku. Saat itu kami sedang menuju ke parkiran, aku berniat mengajaknya dan menenangkan diri. Pikiranku masih sangat kacau karena wanita tadi.


Zoya paham dengan gelagat ku, ia tidak banyak bicara dan hanya terdiam mungkin ia menunggu sampai aku yang memulai untuk mengungkapkan isi pikiranku. Saat itu kami sudah berada dalam mobil dan aku langsung mengendarainya dengan kecepatan tinggi.


Tidak butuh waktu lama karena tempat yang ingin kami datangi tidak terlalu jauh dari perusahaanku. Sebuah bukit yang biasa aku datangi saat sedang pikiranku kacau dan kini aku sedang bersama Zoya, aku ingin dia yang bersamaku meski aku tahu dia hanyalah sahabat yang sangat kucintai.


Zoya paham tujuanku, ia langsung mengeluarkan dua buah minuman yang tadi sempat kami beli, ia langsung duduk di sampingku dan aku bersandar padanya. Semilir angin kencang dari arah berlawanan membuat pikiranku sedikit nyaman dan tenang.


Zoya mengusap rambutku perlahan, rasa damai dipikiran ku saat orang yang kucintai paham memperlakukan aku saat sedang gundah. Mataku terpejam menikmati ucapan darinya.


"Vin kau sudah tidur?" tanya Zoya memastikan.


"Tidak Zoe, aku hanya nyaman kau di sini, kau sangat paham saat aku butuh sandaran," sahutku seraya mataku masih terpejam.


Zoya menghembuskan nafasnya pelan. "Ya Vin, aku akan selalu ada bersamamu, meskipun jika kamu kehilangan orang lain justru aku tetap di sini yang akan datang memelukmu sebab kita sama-sama saling membutuhkan tapi kumohon kamu jangan membohongiku, jangan anggap aku orang lain yang akan pergi darimu setelah kau berbohong."


Mendengar ucapannya aku melirik kearahnya. "Benarkah Zoe kau tidak meninggalkan aku meskipun kau tahu aku sedang berbohong?" Ucapku memastikan.


"Kelvin! Aku sudah bilang bukan tidak akan pergi darimu sebab aku sudah menganggapmu sebagai Kakak buatku, meskipun aku tahu kau punya perasaan lebih untukku," sahut Zoya, membuatku kagum dengannya. Justru harapan ingin memiliki kembali sangat besar.


"Baiklah Zoe, aku kakakmu sekarang, kakak yang mencintaimu dan ingin merebutmu bagaimana?" ucapku seraya menahan tawaku.


Zoya membalikkan mata besarnya, sangat imut jika dia seperti itu, aku tahu dia akan kesal denganku. "Duhhhhh Kelvin ... Aku tidak sedang membuat lelucon! Ah sudahlah cepat katakan yang sejujurnya padaku, awas jika kau berbohong aku tidak segan-segan menjatuhkan mu kedasar jurang di sana."


"Tentu Kelvin, sini," ucap Zoya dengan tersenyum manis memperlihatkan deretan giginya yang putih.


Aku menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan. ”Zoe, sangat aneh bukan jika aku bilang tidak terjadi apa-apa dengan Elie? Jadi benar aku dengannya su ... sudah pernah melakukan ... Hubungan itu, tunggu! Aku belum selesai jangan perlihatkan wajahmu yang penuh tanya, tapi ku pastikan jika dia sedang berbohong dengan bilang itu anakku, mana mungkin kami baru melakukannya langsung jadi."


"Jadi benar kalian sudah menetap?" sahut Zoya kebingungan.


"Benar Zoe, tapi awalnya aku sama sekali tidak berpikir untuk melakukannya justru dia yang menggodaku, kau tahu bukan jika pria tidak boleh tergoda? Pertama dia datang ke rumahku dengan keadaan yang sangat buruk ...."


"Tunggu Vin, apa maksudmu?"


"Baiklah aku akan menceritakan detail, dia datang kerumah dengan keadaan tubuhnya penuh luka-luka cukup serius, katanya Brian yang sudah melakukan itu dan aku memang percaya sebab suaminya itu memiliki sifat yang sedikit menyimpang, mulai dari itu Zoe, meskipun aku tidak menyukainya namun sisi baikku tidak bisa melihat orang lain lemah justru saat itu aku membantunya lalu malam itu sudahlah kau cukup paham."


Zoya mengangguk sambil mendengarkan curhatan ku. Entah apa yang sedang dipikirkan hatinya aku jelas tidak tahu. "Zoe jawab jangan hanya diam, aku tidak mengerti."


"Ya aku tahu tidak semudah itu untuk hamil, apa mungkin itu anak Brian?" tanya Zoya memastikan.


"Entahlah Zoe, tapi yang jelas menurutku itu anak Brian, jika memang itu bukan dan itu anakku tidak ada cara lain selain aku menerima anakku tapi bukan dengan Elie, kau mungkin paham maksudku," ucapku jelas.


"Ya aku mengerti Vin," sahut Zoya.


"Terimakasih Zoe kau sangat pengertian, aku sangat senang meskipun hanya menjadi kakakmu, bukankah begitu kakakmu? Tapi aku ingin lebih ... Ayolah bermalam denganku sekali apalagi dengan perut hamil mu ini pasti sangat membuatku semakin bergairah," ucapku sambil menahan tawaku.


"Kelvin ... Kau ingin mati dibunuh Reiner! Ah kau ini dikasih hati mintanya jantung," ucap Zoya dan berpaling membelakangi ku.


"Hahahaha Zoe, aku hanya sedang menciptakan lelucon, ah lihatlah sini ... Tidak mungkin aku merusak kebahagiaan wanita ku, apalagi dia sudah dimiliki orang lain justru aku akan menjaganya layaknya teman dan kakak untukmu, bukankah begitu?" ucapku sambil merangkulnya.


"Terimakasih Kelvin, aku sangat senang," ucap Zoya dan memelukku. Tentu saja aku membalasnya.


**********


Sahabat tak akan menghilang saat masalah datang, tapi menggandeng tanganmu dan menghadapinya bersama-sama.


--------------------------------------


Hallo guys jangan lupa terus dukung karya Author, mudah kok, dengan like, komen dan berikan vote. Sebab itu akan membuatku untuk lebih semangat dan menghadirkan yang lebih keren. Nah jika kalian penasaran langsung saja seperti yang udah Meldy bilang untuk dukung juga sertakan vote kalian agar Meldy memberikan kejutan-kejutan di setiap episodenya okay.


Juga Author ingin menyampaikan selamat hari raya Idhul Adha untuk kalian yang menjalankannya, maafkan Author jika di sini mempunyai salah kata, Author juga seorang manusia biasa.