
H A P P Y R E A D I N G
‘Apa mungkin ini takdir yang harus kujalani? Aku harus bertanggung jawab untuk semua yang telah kulakukan. Jika aku harus menikahi Alice lalu bagaimana aku mengatakannya pada Claudia? Ball, semoga kamu mau mengerti keadaanku dan mau menerimaku meskipun kamu harus menjadi istri keduaku,’ batin Steven.
Perasaan Steven gelisah saat menyadari jika dirinya akan menjadi seorang Ayah dalam status juga sebagai kekasih wanita lain. Dirinya banyak melamun bahkan hampir melewati apartemen Alice. Untung saja Alice dengan cepat menyadarkan Steven jika mereka hampir lewat.
Steven turun sembari membantu Alice keluar. Ia langsung membawa Alice ke dalam kamar sebelum akhirnya ia ingin pergi tapi, langkahnya terhenti sebab Alice mencekal lengannya.
“Steven, kamu mau kemana? Temani aku di sini,” ucap Alice dengan raut wajah sedih yang tidak ingin di tinggal.
“Aku akan kembali tapi, aku harus mencari pelayan untukmu. Jika bukan hari ini kapan lagi? Jadi izinkan aku pergi hanya sebentar ... aja,” sahut Steven sambil tersenyum.
“Um, ya sudah kalau begitu pergilah hati-hati ya. Oh ya satu lagi jangan telat banget pulangnya. Kalau nanti enggak juga ketemu ya sudah kita akan mencarinya lain waktu jadi, tidak perlu terlalu memaksakan,” saran Alice dengan penuh perhatian.
“Ya-ya tenang saja. Aku tidak akan lama. Ya sudah jika nanti kamu perlu sesuatu kabari saja aku. Daaa ... Bayi kecil, Daddy mau pergi dulu. Jaga Mommy dengan baik ya, nak,” kata Steven sambil mendekati wajahnya tepat di perut Alice.
Alice tersenyum lebar saat melihat begitu pedulinya Steven dengan kandungannya. Steven pun beranjak pergi sembari melambaikan tangannya begitupun Alice sebaliknya.
Saat Steven sudah pergi dari apartemennya. Alice bangkit ia kemudian melihat ponselnya lalu membuka aplikasi galeri untuk melihat beberapa kenangan album photo bersama dengan Alvero.
Air matanya menetes saat membayangkan kembali kenangan yang pernah mereka lewati. Apalagi saat mereka sedang ketahuan tidur bersama, hatinya sangat sakit jika mengingat pernikahan yang begitu ia idam-idamkan hanya bisa di bawa mimpi.
Kemudian Alice melihat kearah perutnya yang masih datar. Ia juga mengingat kenangan pertama saat mereka bertemu hingga berubah menjadi sebuah kehidupan di sana.
“Nak, jika papamu tahu tentang kehidupanmu, apa mungkin Papa akan menerimamu? Bahkan Mama takut jika papamu kembali menolak kita. Tuhan, aku sangat ingin jika dia mengakui anakku adalah anaknya juga,” gumam Alice sembari terus menangis sambil mengingat semuanya.
Hatinya masih tetap milik Alvero, meskipun ia sedang bersama dengan pria lain. Mengingat kerinduan yang semakin mendalam sampai begitu menyesakkan dada. Hatinya sakit seperti teriris benda tajam yang semakin hari semakin melukainya. Ia lalu mengambil ponsel dan ingin menghubungi Alvero. Tapi, sayangnya yang di hubungi tidak kunjung menjawab.
“Kenapa Alvero tidak menjawab teleponku? Bahkan dia juga tidak menjenguk sewaktu aku di rumah sakit. Sepertinya aku harus pergi ke rumahnya,” gumam Alice.
Dengan memantapkan hati, ia lalu memutuskan untuk pergi kesana. Bergegas cepat bersiap-siap sampai akhirnya ia selesai. Tidak lupa meninggalkan sebuah pesan singkat kepada Steven, ia mengatakan jika ia ingin berjalan-jalan ke taman seorang diri. Tanpa menunggu lama akhirnya Alice sedang menunggu taxi datang.
...----------------...
Sekitar tiga puluh menit perjalanan, ia tiba ditempat tujuan. Alice lalu menekan bel lalu dengan sekejap petugas rumah pun langsung membukakan pintu untuknya.
“Eh! Nyonya Alice, kemana aja Nya, udah lama enggak keliatan? Ayo masuk Nya, pasti mau cariin Tuan ya? Tapi, tadi kebetulan Tuan abis keluar tapi, enggak tahu deh kemana cuma jalan kaki sih,” ucap Scurity di kediaman itu.
“Jalan kaki? Tumben banget! Ya udahlah kalau gitu enggak apa-apa. Kalau Nyonya besar ada enggak?”
“Oh ... Ada Nya,” sahut Scurity tersebut.
Alice langsung memasuki halaman kediaman itu. Pertama masuk ia tersenyum melihat semua kenangannya di sana. Rasanya seperti mimpi ia pernah tinggal di kediaman tersebut. Sambil celingak-celinguk ia di kejutkan dengan kehadiran Bibi Karin sebagai penasehat Alvero.
“Alice?! Kemana aja? Bibi sampai nanya sama Alvero tapi, itu anak enggak jawab apapun. Katanya kalian mau nikah ya cuma kok Bibi lihat kamu enggak pernah kesini lagi sih, kenapa? Abisnya nih aku mau nanya sama Nyonya besar tapi, enggak berani tanya galak soalnya,” ucap Bibi Karin terus-menerus tanpa hentinya.
“Eh! Bibi kebiasaan deh bukannya suruh masuk dulu malah langsung cerewet hehe. Oh ya lupa, aku sibuk beberapa waktu ini jadinya enggak sempat kesini. Bye the way, Alvero kemana, Bi? Kata scurity di depan lagi keluar cuma aneh kok dia bisa-bisanya jalan kaki,” sahut Alice sambil tersenyum kikuk.
“Tahu tuh aneh! Semenjak kamu enggak kesini lagi dia sering keluyuran! Apalagi nih dia sering diem diri di taman depan sana padahal Bibi udah saranin buat dia bawain kamu kesini tapi, itu anak diem susah di ajak ngomong. Apalagi sekarang nih mamanya di sini jadi, Bibi enggak bisa leluasa seperti dulu,” ungkap Bibi Karin tanpa mempedulikan situasi.
Mama Alvero mendengar ucapan terakhir yang sedang di katakan oleh Bibi Karin. Sedangkan Alice sejak tadi sudah menahan senyumnya melihat reaksi Mama Kelvin yang tidak suka jika anaknya sedang di bicarakan.
“Siapa yang enggak bisa leluasa seperti dulu? Siapa hah?!” tanya Mama Alvero.
“A-anu, Nyonya! Tadi itu Scurity di depan sekarang ngomongnya udah kelewatan bisa-bisanya dia ngusir tamu jadi saya yang halanginya, Nyonya,” jawab Bibi Karin dengan gelagapan.
“Pakai alasan lagi. Saya itu dengar apa yang semua kamu bicarakan dengan calon menantu saya ini. Bukannya di suruh masuk malah di ajak bergosip di depan. Jadi, lebih baik balik ke dapur! Daripada saya tarik jabatan kamu nih,” ungkap Mama Alvero dengan tegas.
‘Ya ampun ... Meskipun Mama Alvero terlihat galak, cerewet, dan tegas tapi, dia belum melupakan kalau aku pernah menjadi calon menantu setingan untuknya. Bahkan dia masih menganggapku sebagai calon menantunya. Andaikan ini bisa kembali menjadi kenyataan pasti aku sangat senang,’ batin Alice terkagum-kagum melihat kearah Mama Alvero.
“Ii-iya, Nya. Saya ke dapur dulu,” sahut Bibi Karin dengan ketakutan.
Bibi Karin pun beranjak pergi, sedangkan Alice tertawa melihat tingkah lucu dari keluarga ini.
“Ayo masuk, nak,” ajak Mama mertua.
Alice pun menganggukkan kepalanya. Kemudian mengikuti jalan di belakang sampai akhirnya ia memilih duduk saling berhadapan dengan Mama Alvero.
“Emm! Jadi selama ini kamu kemana? Sampai menghilang terus enggak pernah lagi datang kesini. Heran saya bisa-bisanya kamu enggak jenguk saya lagi kesini,” ketus Mama Alvero dengan tegas.
“Ampun Mama mertua, eh! Tante, sebetulnya aku bukan enggak jenguk Tante cuma aku lagi banyak kerjaan jadinya enggak sempat kesini. Bye the way, Alvero kemana, Tan?” sahut Alice dengan sedikit keringetan.
“Saya enggak tahu itu anak susah di atur enggak tahu deh lagi kemana. Oh ya yang membuat saya heran dengan hubungan kalian berdua ini sebetulnya kalian ini beneran tunangan atau cuma lagi ngerjain saya? Mumpung kamu lagi di sini jadi jawab. Kalau tanya sama Alvero dia langsung pergi enggak di jawab,” tanya Mama Alvero jelas.
‘Astaga! Kok aku kesini malah di interogasi? Ah kesel mana Alvero lama banget lagi. Kemana sih tuh anak? Ini harus jawab apa coba sama mamanya? Kalau seandainya aku jawab tunangan setingan bisa-bisa aku di makan sama mamanya tapi, kalau aku jawab benar tunangan yang ada aku makin di interogasi. Aduh ... Sial banget! Tahu gini aku enggak usah kesini tadi,’ batin Alice kebingungan.
“Eh! Anu, Tante. Aku baru ingat kalau lima menit lagi aku harus temuin klienku. Jadi kayaknya nanti aja deh Tante, aku cerita yah. Soalnya benar-benar lupa. Udah dulu, Tante. Aku pamit pulang dulu. Daaa ... Titip salam sama Alvero, Tan,” ucap Alice yang memilih untuk pamit sambil mengecup singkat pipi Mama Alvero.
Mama Alvero menarik nafas dalam-dalam saat melihat tingkah Alice. Ia juga tidak bisa berkata apapun selain mengangguk mengiyakan.
‘Anak sama calon menantu sama aja. Sama-sama susah kalau di ajak ngomong. Dasar! Gimana jadinya kalau saya tua bisa-bisa mereka kabur,’ batin Mama Alvero.
Alice keluar dengan berjalan sedikit lebih cepat. Ia mengusapkan dadanya setelah berhasil keluar dari pertanyaan yang mematikan. Kemudian ia memilih untuk kembali pulang sambil menunggu taxi datang. Sampai akhirnya taxi datang ia masuk sembari menatap kediaman tersebut.
“Meskipun gagal tapi, aku bisa menginjakkan kakiku di sana setidaknya rasa kerinduanku sedikit terobati,” gumam Alice yang langsung memasuki taxi itu.
Sampai akhirnya ia benar-benar telah pergi. Saat taxi yang ia tumpangi berjalan lebih cepat tiba-tiba di balik kaca mobil itu terlihat Alvero sedang berjalan menuju kembali ke kediamannya. Tubuhnya menoleh kebelakang terus melihat Alvero meskipun ia sudah berjalan jauh.
...----------------...
...----------------...
Di sisi lain. Steven yang sedari tadi membawa mobilnya dengan sangat pelan. Matanya terus memandang kedepan meskipun hatinya sibuk memikirkan hal lain. Sejak keluar dari apartemen Alice, ia tidak semangat. Dengan berasalan mencari pelayan meskipun nyatanya tidak. Ia kemudian memutarkan arah mobilnya untuk pergi ketempat lain.
Sambil mengirimkan sebuah pesan kepada Claudia, ia mengatakan jika dirinya akan pergi ke hotel untuk bertemu. Meskipun tidak ada balasan dari Claudia tapi, Steven tetap menyakinkan dirinya untuk terus melaju ke sana. Menambah kecepatan tinggi sampai akhirnya ia tiba di tempat yang ia niatkan.
“Kamarnya nomor berapa ya? Claudia di telepon dari tadi enggak angkat terus aku harus tanya ke siapa nih. Ah coba aku kirim pesan lagi siapa tahu dia mau keluar kalau tahu aku udah di sini,” gumam Steven sembari mengotak-atik ponselnya.
Tidak ada balasan apapun dari Claudia, baik lewat pesan ataupun panggilan. Steven setia menunggu di luar walaupun ia tidak tahu apakah Claudia akan keluar menemuinya atau tidak.
Lama ia menunggu, sudah hampir lewat dua puluh menit lamanya tapi, sosok wanita yang menjadi kekasihnya baru-baru ini juga tidak kunjung datang. Alhasil ia memutuskan untuk pergi tapi, dengan sekejap Claudia memanggil namanya dari arah pintu gerbang.
Steven menoleh kearah suara yang memanggil namanya. Ia melihat Claudia yang sedang berjalan mendekat.
“Ball, jadi dari tadi enggak ada di dalam ya?” tanya Steven basa-basi.
Claudia menggeleng. “Enggak, aku sengaja tuh keluar soalnya tahu kamu bakalan kesini.”
“Kok jawabnya gitu, Ball?” tanya Alvero kebingungan.
“Masuk yuk! Daripada nanti kita ribut di sini terus orang pada lihat, abis itu nanti kita bakalan trending topik jadi perbincangan hangat,” ucap Claudia sambil terus berpikir jauh sembari mengajak Steven masuk.
Tanpa menunggu menjawab Claudia langsung mendahului langkahnya di depan. begitupun Steven yang langsung mengikuti di belakang.
Tiba di depan kamar hotel miliknya. Claudia masuk tanpa menyuruh tamunya untuk duduk atau apapun, bahkan dia dengan sengaja menyibukkan dirinya meskipun Steven sedang berdiri mematung melihatnya yang sibuk merapikan beberapa barang.
Steven kebingungan melihat tingkah dari Claudia, ia pun berjalan mendekat sembari meraih tangan Claudia.
“Ball, kamu kenapa sih? Lagi ngambek ya?” tanya Steven kebingungan.
“Kok tanya aku. Coba tanya sama diri kamu sendiri. Kamu sendiri kenapa? Tumben banget cariin aku sampai ke hotel, ada apa?" cetus Claudia sambil melipatkan tangan di dadanya sembari bertanya.
“Emang salah kalau aku mau lihat pacarku sendiri? Ayolah Ball, jangan ngambek gitu dong ... Kalaupun aku ada salah aku minta maaf,” ucap Steven sambil berusaha menggenggam tangan Claudia.
“Lihat pacar sendiri? Oh ... Jadi sekarang kamu baru inget ada pacar, gitu ya? Aku pikir pacar kamu itu Alice! Oh ya satu lagi. Baly, denger ya aku paling enggak suka sama pria kalau lagi ada salah terus minta maaf. Besoknya buat salah lagi terus minta maaf lagi. Kalau terus-terusan begitu percuma!” ketus Claudia sembari memicingkan matanya dengan tajam.
“Ayolah, Ball ... Jangan marah begitu. Emangnya kesalahanku apa? Aku kesini baik-baik loh terus datang-datang kamu main marahin aku,” ucap Steven dengan bibir manyun.
“Oh ... Gitu! Jadi kamu mau tahu kesalahanmu apa, Baly? Baiklah aku bilang! Emang ya cowok itu suka enggak peka, dasar!” ketus Claudia sambil melototkan matanya seperti ingin keluar.
‘Aku tahu, Ball. Aku banyak salah, dan kesalahan terbesarku telah membuat Alice hamil. Ya ampun ... Padahal aku datang kesini untuk membicarakan semuanya denganmu tapi, bagaimana aku harus jujur denganmu, Ball?’ batin Steven.
Claudia menarik nafasnya memburu. “Pertama, kamu bahkan membiarkan aku pulang sendiri saat aku sedang menjenguk Alice. Kedua, kamu lebih memilih menemani perempuan itu ketimbang aku yang sudah sah menjadi pacarmu padahal waktu itu aku tidur sendirian, dan ketiga! Kamu tidak meneror ku saat kamu tahu aku dengan sengaja tidak memberimu kabar. Apa bagimu kabar itu tidak begitu penting? Haruskah aku terus yang duluan memberimu kabar? Baly! Aku kesal denganmu! Orang lain pacaran seminggu mesra-mesraan tapi, kita pacaran seminggu seperti rasanya sudah setahun, hambar!”