Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
Eps 120 Pertemuan tidak sengaja


Happy Reading


Steven menghentikan langkahnya saat ia mendengar ancaman dariku. Lalu ia berjalan kembali ke hadapanku dengan aura dingin dari matanya serasa ingin menerkam mangsanya.


“Claudia! Apa Lo nggak mikir yang udah Lo bilang barusan? Gua benar-benar ngga ngerti cara pikir Lo apa, kita hidup bersama udah bertahun-tahun dan cuma karena hal ini Lo ngancam gua buat pisah hubungan adik–kakak ini. Terserah!” Steven sangat marah sampai ia pasrah dengan ancaman ku.


‘Aduh ... kalau gini caranya gua juga bakal capek sendiri, padahal gua cuma kasih ancaman. Okay gua bakalan ikutin kak, apa yang Lo mau tapi gua nggak bakalan jujur lagi sama Lo,’ batinku panik.


“Maaf kak, gua bener–bener bodoh. Gua tahu yang gua pikirin ini salah tolong maafin gua, ngga seharusnya gua ngomong gitu sama Lo,” ucapku seraya memeluk Steven.


“Gitu dong! Gua itu tahu kalau cinta udah buat Lo buta tapi Lo juga harus tahu cinta itu buat siapa. Janji sama kakak kalau Lo nggak bakalan gangguin hubungan Zoya dan Reiner, mereka itu teman kita harusnya kita saling support,” sahut Steven mulai bicara dengan lembut seraya membalas pelukanku.


“Iya kak, gua janji. Oh ya gimana soal shopping tadi, jadi nggak? Entar malem pestanya mulai dan kita belum siapin apa-apa.”


“Eh iya, duh ... hampir lupakan! Ya udah kalau gitu yuk kita langsung pergi aja,” ucap Steven seraya menggenggam tanganku.


Aku pun mengangguk mengiyakan lalu kami berdua berjalan keluar dari apartemen dan menuju ke parkiran.


‘Maaf kak, gua janji ngga bakalan gangguin mereka didepan Lo tapi gua nggak janji kalau itu di belakang Lo,’ batinku tidak terima dengan keputusan Steven.


Lagi-lagi aku harus terjerat dalam ketidakadilan. Orang yang selama ini menjadi pelindung untukku justru sama sekali tidak ingin berpihak padaku. Steven padahal tahu kalau aku sangat mencintai dia. Haruskah cinta ini terkubur? Memandangnya saja sungguh membuatku tidak ingin lagi berpaling, dengan aroma tubuh yang sudah bertahun-tahun tidak dapat kurasakan harum wanginya lagi.


Steven justru menjadi penghalang untuk cintaku meski begitu aku tidak akan menyerah jika sampai dia berani muka mulut kepada Reiner, aku tidak akan tinggal diam dan hubungan persaudaraan kita akan berakhir. Setidaknya aku harus menjadi perempuan manis seperti biasanya.


Aku dan Steven sedang menuju kesebuah Mall Westfield Topanga and The Village pusat perbelanjaan di lingkungan Canoga Park, Los Angeles, California yang cukup besar dan luas. Di sana memiliki banyak kesediaan bahan perbelanjaan juga memiliki sebuah villa namun kami tidak masuk ke villa hanya saja ingin mencari hadiah untuk temannya Zoya.


Berkeliling ke beberapa toko jam, membeli hadiah berupa jam tangan tentunya karena mengingat tentu saja teman Zoya bukan sembarang teman pastinya para miliarder. Aku dan Steven memilih sebuah jam yang harganya sangat fantastis terutama menjadi idaman bagi setiap Pria. Louis Moinet Meteoris, dengan harga US$ 4,6 juta atau Rp 63 miliar. Menjadi salah satu termahal dunia karena mengandung batu dari bulan.  


Tidak tanggung-tanggung Steven memilih membeli hadiah berupa jam dengan harga yang menarik namun itu bukan uangku. Aku hanya datang tangan kosong karena sudah ada kakak yang menjadi tulang punggung. Setelah hadiah masuk dalam kotak perbelanjaan lalu kami beranjak pergi dan memilih memasuki sebuah toko gaun dan jas pria.


“Okay,” jawab Steven setuju.


Kami pun berpisah antara gaun wanita dan jas pria. Karena tempat tersebut cukup ramai oleh pengunjung membuat kami tidak bisa jelas melihat satu sama lain, karena itu aku memilih fokus dengan apa yang kucari namun tiba-tiba seorang wanita tidak sengaja mendorongku dengan punggungnya hingga membuatku hampir terjatuh. Untung saja kondisi sepatu yang kukenakan tidak terlalu tinggi hingga bisa membuat tubuhku seimbang dan tidak jatuh.


Karena merasa kesal dengan wanita itu aku pun menarik bahunya hingga membuat ia menoleh kebelakang, tapi ada yang aneh aku ingin marah karena ulah wanita tersebut namun rasanya aku pernah lihat dia tapi di mana?


“Eh, maaf yah aku nggak sengaja,” ucap wanita tersebut.


“Iya ngga apa-apa, tapi ... keknya kamu ee .... kak Elina yah? Duh kakak akhirnya kita ketemu? Aku tuh udah sembuh dan lihat aku akhirnya bisa pergi kesini dan Kakak tahu kalau aku lagi lanjut pendidikan untuk jadi Dokter, kakak masih ingatkan sama aku?” tanyaku tanpa memastikan bahwa itu benar-benar orang yang kukenal.


“Elina? Heh! Siapa Elina? Namaku itu Eliezer, salah orang kali. Udah yah aku pergi dulu daripada ngomong sama orang sok kenal gini,” sahut Elie seraya beranjak dua langkah dari hadapanku.


Namun langkahnya terhenti karena dengan cepat aku menarik pergelangan tangannya.


“Kak Elina ... aku itu sepupu kakak, yang dulu sering nangis-nangis peluk Kaka karena ngga mau aku di suntik pas sakit. Ngga mungkin kakak ngga kenal sama adik sendiri. Aku itu beneran ingat gimana wajah kakak dulu yah meskipun sekarang udah makin cantik, kalau emang kakak ngga percaya aku bisa kok kasih lihat photo kita dulu,” ungkapku seraya mengeluarkan bukti dari dalam tas.


“Kamu itu kekeh banget yah, sok kenal lagi. Ya udah mana buktinya, awas kamu kalau bohong! Sia-sia waktuku di sini,” bentak Elie.


“Okay ini lihat, benerkan yang aku bilang ini kamu kakak Elina 'kan? Ngga mungkin aku lupa sama wajah kakak, yah meskipun kalian pergi dengan tiba-tiba dari kita karena ngga mau hidup miskin.”


‘Kak Elina makin cantik yah, pantes saja dulu mamanya minta cerai sama Om Dedi karena miskin ternyata hidupnya lebih baik sekarang apalagi dengan penampilannya pasti sekarang dia kaya raya,’ batinku saat melihat dia sibuk mengamati photo yang kuberikan.


“Kamu ... Claudia? Tolong jujur, benerkan?” tanyanya dengan curiga lalu ia tiba-tiba memelukku hingga menangis tersedu-sedu. Membuatku panik dan tidak tahu harus bagaimana sebab dia langsung menangis tanpa menceritakan apapun terlebih dahulu.


“Kakak kenapa kok nangis? Bener, aku Claudia. Adik kakak dulu.”


“A–aku benar nggak nyangka bisa ketemu kamu di sini, terakhir aku mendengar kabar kalau kamu mengidap kanker tapi aku nggak bisa datang karena hidupku hancur, tak ada biaya semuanya terjadi dengan tiba-tiba. Mama dan Papa pergi. Karena sebab itulah aku berusaha hidup mandiri dan memulainya dari awal.”