
H A P P Y R E A D I N G
‘Emang enak! Makanya nurut sama suami. Dengan begini aku akan membuatmu kembali jatuh kedalam pelukanku, gadis kecil,' batinku.
”Beraninya kamu mengancam ku, Evin?! Arrrggh mana boleh seperti ini? Kita adalah suami istri sayang. Masak sih kamu bersikap keras dengan gadis kecilmu ini,” ucap Viora seperti sedang merayuku.
‘Ayo sayang bujuk aku, baru setelah itu aku akan memakan mu,' batinku.
Bersikap layaknya Bos bukan menjadi suaminya. Dengan sikap tegas dan tidak bisa di tantang oleh orang lain. Aku berdiri seraya melipatkan tangan di dada. Tanpa ingin menjawab ucapannya. Tapi, tiba-tiba
Viora semakin mendekatiku. Ia seakan ingin menggodaku agar aku memperbolehkan dirinya untuk keluar tanpa harus membayar denda.
“Mmm Pangeran, sebetulnya aku sangat bahagia sudah menjadi selir di hatimu tapi, aku tersiksa saat menyadari bahwa aku harus bekerja. Izinkan aku sayang, untuk keluar dari sini. Ahh ... Evin, ku mohon ...,” goda Viora dengan menggigit bibir bawahnya.
‘Bagus sayang, aku menyukainya,’ batinku.
Dengan cepat aku menarik tubuhnya dan membawanya ke dalam pelukanku. Dengan cepat aku melum*t habis bibir mungilnya seraya menahan kepalanya agar tidak bisa lepas dariku.
Umm umach ... Berkali-kali suara ciuman itu berlangsung dan Viora juga menikmatinya meskipun di permulaan dia berusaha menjauhi tubuhku tapi, semakin lama semakin dalam ciuman kami berdua. Hingga aku mencoba untuk membuat ciuman kami semakin panas dengan lidah menyatu dan terus berbunyi cups.
Mata Viora terpejam menikmati sensasi ciuman kali ini. Ia seakan memperlihatkan cintanya untukku dengan terus membalas lidahku yang berada di dalam mulutnya. Tidak berhenti di sana, aku melepaskan ciumanku lalu turun ke bagian lehernya. Mengigit pelan hingga membuat Viora membentuk bibirnya seperti ingin melepaskan desahan namun, aku tahu ia berusaha menahannya.
Senyuman terpancar di wajahku saat melihat dirinya sudah berhasil jatuh kedalam permainanku. Gigitan kecil berhasil membuat lehernya memar kemerahan. Aku terus membuat aksiku semakin menjadi hingga aku inginkan dirinya meminta lebih.
“Ahh ... Evin uuh ...,” erangan Viora seraya mengigit bibir bawahnya.
“Ah ya sayang, bagus begitu. Tahan aku pasti membuatmu bahagia kali ini,” ucapku seraya tersenyum.
Tidak tinggal diam di sana, aku masih melum*t lehernya hingga Viora menjerit kecil. Melihat dirinya sudah berada di pihak ku, tanganku tentu tidak akan tidak diam begitu saja. Aku melepaskan lehernya yang sudah meninggalkan bekas oleh ulahku. Lalu aku kembali menghujamkan ciumanku dengan begitu panas dan bergairah.
Tanganku berusaha untuk mencari celah agar masuk kedalam bajunya hingga aku menemukan gundukan besar dan berusaha aku melepaskan dengan ciuman masih terus berlanjut. Menemukan yang aku inginkan hingga pengikat tali baju dalam miliknya berusaha untuk ke lepas dan akhirnya aku langsung menariknya keluar.
Menarik keatas bajunya hingga gundukan indah terlihat jelas dan sangat menantang untuk di santap dan di hisapp. Tanganku mulai memegang buah dada berharga miliknya hingga aku meremas-remassnya dengan lembut. Viora yang masih berdiri hampir kehilangan keseimbangan tubuhnya membuatku membawa dirinya untuk berbaring di sofa.
Dengan cepat aku langsung menindih tubuhnya dan terus merasakan ciuman dari bibirnya. Bosan dengan hanya memegang gundukan indah. Lalu perlahan wajahku turun untuk menyambut buah dada dengan ujungnya sudah mengeras begitu menantang dan siap untuk di cicipi.
Mulutku mengulum habis bulatan kecil berwarna pink hingga ia terus mengerang nikmat. Mengulum menjilatinya, dua hal itu terus membuatku nyaman hingga buah dadanya basah oleh liurku. Tanganku perlahan turun berjalan ke bawah dengan pelan lalu aku memasuki lembah bayi dan merasakan bulu-bulu halus di sana.
Entah memang sengaja atau tidak kakinya melebar saat aku mulai mengelus-elus bulu-bulu halusnya. Sambil terus meremas buah dadanya aku mulai memasukkan jariku kedalam lobang bayi perlahan dan sangat pelan, aku takut jika dirinya kesakitan.
Adik kecilku yang sudah tidak bisa berkompromi dan meminta untuk terbang. Berhenti sementara lalu membuka celana dan keluarlah adik kecil yang sudah siap untuk di santap seperti permen, tegang dan keras dan lumayan besar hingga ku pastikan istriku kesakitan. Viora masih menutup matanya, aku berniat untuk menjahilinya, dengan perlahan adikku berusaha ku dekatkan dengan wajahnya lalu tangannya ku bawa untuk memegang adik kecilku.
Mata Viora terbuka, ia membelalakkan matanya saat adik kecilku tepat di depan wajahnya. Lalu aku kembali mendekat dan sangat dekat hingga menyentuh bibirnya.
“Sayang, maukah kamu menganggap ini sebagai permen? Jika ya ayo di e*mutt dan tutup matamu,” tanyaku berharap jika ia mau seraya adik kecil masih di dalam genggamannya.
“Pe-permen! Tapi, bagaimana caranya permen bisa menjadi seperti ini? Permen itu kecil, dan bagaimana aku e*mutt mulutku kecil bahkan milikmu ini begitu besar. Evin, apakah kamu ingin membuatku mati dengan cara tersendak?!” tanya Viora dengan kesel.
Mendengar ucapanya membuatku menepuk keningku. Lalu menjauhkan milikku dari wajahnya. Viora pun bangun tapi aku celana ku masih terbuka dan adik kecil menggantung bebas.
“Ayolah sayang, pertanyaan macam apa itu. Kamu tidak akan mati gadis kecil, percayalah ... hanya sedikit keenakan. Mmm sepertinya gadis kecilku belum paham baiklah kalau begitu biarkan aku yang mengajarinya,” ucapku lalu mendekatkan wajahnya dan membuka pahanya selebar-lebarnya.
“Evin! Kamu mau ngapain?” tanya Viora terlihat gelisah saat aku ingin menjilati lembah bayi miliknya.
“Sayang, tahanlah ini sedikit geli tapi, perhatikan jika melakukannya begini maka kamu juga akan melakukannya hanya saja mulutmu akan sedikit terbuka seperti mengulum permen, baiklah perhatikan,” ungkapku lalu memulai mengajarinya.
Terus-menerus dan semakin terus menjilati bagian kecil miliknya hingga lembah bayi lalu aku kembali memasukkan satu jariku kedalam sana hingga Viora kembali mengerang dan mengeluarkan begitu banyak cairan tapi, tiba-tiba Viora memegang kepalaku dan berusaha menjauhkannya membuatku kebingungan.
“Ada apa, sayang? Bukankah kamu menikmatinya?” tanyaku kebingungan.
“Ti-tidak! Aku tidak menikmatinya tapi, aku sudah kencing di wajahmu dan kamu tetap menjilatinya. Ah aku malu ... sudahlah hentikan semuanya ini, aku tidak ingin lagi kencing di sana, rasanya milikku sudah licin jadi aku harus cepat-cepat ke kamar mandi dan, ingat kamu harus membayar aku 2M karena sudah melanggar pasal ke-empat,” ucap Viora berusaha menarik penutup bawahnya.
‘Ya ampun! Dia menganggapnya kencing? Dasar gadis bodoh itu bukan kencing! Tapi itu cairan milikmu agar aku bisa lebih leluasa,’ batinku.
“Sayang, dengan keadaan seperti ini kamu memikirkan tentang pasal di kontrak pernikahan? Ayolah kita lanjut lagi ... nanggung sayang, lihat adik kecilku sudah tidak bisa untuk ku masukkan. Bagaimana jika orang lain melihatnya? Dia terus menggantung seperti ini,” ungkapku sedikit membohonginya.
“Biarkan saja orang melihat toh Elie juga sudah melihatnya lebih dulu daripada aku, jadi sebaiknya aku sekarang pergi dari pada buang waktuku di sini dan, ingat besok aku akan bekerja lagi tapi, serta jangan lupakan 2M untukku,” ucap Viora berusaha pergi namun, dengan cepat langkahnya terhenti olehku.
“Evin, aku tidak mau! Aku ingin pergi jadi lepaskan tanganku. Hari ini kamu sudah melewati batas mu. Aku marah dan benar-benar marah!” ungkap Viora geram.
“Marah apa marah? Tapi, suka 'kan sayang,” ledekku seraya menahan tawaku.
“Ihhh nyebelin! Udah lepas aku mau keluar! Bos macam apa kamu? Yang beraninya berbuat seperti ini dengan karyawannya!” Viora terus berkata konyol.
“Sayang, aku ini bosmu baru sehari dan aku juga suamimu. Ayolah jangan berbicara konyol.”
“Terserah! Sudah lepaskan aku ingin keluar,” Viora terus berusaha menghindar.
“Baiklah sayang, aku akan lepaskan tapi, lihatlah dirimu sekarang sudah berantakan seperti ini dan lagi penutup buah dada mu tidak ada di tempatnya. Apa kamu ingin keluar seperti ini gadis kecilku?” ungkapku seraya bertanya dan menertawainya.
“Evin! Awas kalau kita sudah di rumah!” ancam Viora lalu mengambil baju dalam dan memakainya kembali untuk menutupi gundukan buah indah tersebut.
Aku masih sibuk menertawainya lalu Viora dengan cepat beranjak pergi meninggalkan aku tanpa merapikan rambutnya yang sudah acak-acakan serta bajunya.
“Kasihan sekali dirimu adik kecil. Istrimu pergi dan meninggalkanmu di waktu genting seperti ini. Baiklah kita tuntaskan dengan cepat,” ungkapku mengeluarkan sesuatu yang sudah tertahan dengan tanganku hingga cairan benih keluar dan membuat adik kecilku kembali bahagia walaupun hanya setengah bahagia.
Mengingat kejadian seperti tadi aku bahagia ada peningkatan di dalam rumah tanggaku. Meskipun aku tahu Viora masih malu-malu kucing tapi, itu permulaan walaupun aku sudah sangat menantikan moment-moment indah seperti ini.
‘Ku pastikan jika hari ini nanggung, di hari nanti akan ku pastikan kamu tidak bisa lagi lepas dariku, gadis kecil,’ batinku seraya tersenyum.
Dengan perasaan bahagia aku kembali melanjutkan pekerjaanku yang sedikit tertunda. Hari ini adalah momen indah meskipun hanya setengah tapi tetap saja aku akan terus mengingatnya di dalam hatiku.
***-------------------------------------***
(Viora Lausy)
Perasaan gembira masih terpancar di wajahku. Keluar dari ruangan suamiku dengan senyuman meskipun pakaian sudah acak-acakan. Sembari merapikan pakaian ada seorang wanita lewat di depanku tapi, anehnya ia melihatku dengan tatapan sinis. Membuatku kebingungan lalu berniat menegurnya.
“Kenapa Mbak, liatin orang kok kaya liat musuh gitu?” tanyaku penasaran.
“Apa tadi kamu bilang? Liatin kamu? Heh jangan kepedean deh siapa juga yang liat kamu. Mmm sebentar kamu jadi sekretaris baru itu ya? Tapi kok baru pertama kerja tiba-tiba keluar dari ruangan Bos dengan pakaian yang ... aduh udah acak-acakan begini. Oh aku tahu nih, pasti habis godain Bos ya makanya bisa jadi sekretaris. Belagu banget lagi main nyapa orang pakai ngga sopan gitu,” ungkap wanita itu dengan angkuhnya.
‘Ini orang benar-benar cari gara-gara sama gua. Dia yang liat gua kaya musuh sekarang dia yang belagu. Udah ah mending ngga usah layani wanita seperti ini, yang ada mood baikku bisa hancur,' batinku seraya melangkah ingin pergi.
“Hey ngapa melamun Neng? Jawab! Benerkan kamu habis godain Bos? Dasar kebangetan kamu ya, awas aja aku kasih tahu ke semua orang di sini hari pertama kerja sudah berani godain Bos. Aku di sini udah kerja kurang lebih lima tahun sebagai sekretaris pertama dan kamu datang-datang dengan cara murahan begitu. Ihhh awas kamu nggak akan betah kerja di sini!” ungkap wanita itu dengan sadis.
‘Dia pikir dia siapa beraninya menentang istri Bos. Perlu di kasih pelajaran ini orang,’ batinku.
“Udah deh ngga usah banyak bacot! Nama Lo siapa?” tanyaku.
“Nama gua?! Wow apa jangan-jangan kamu mau ngadu ya sama Bos? Udah ngadu sana aku ngga takut sebab yang akan di salahkan itu kamu! Bukan aku, paham? Oh dan namaku, Alice Nathalia, sekretaris pertama di sini. Udah kenalkan? Sana kalau mau ngadu, yang salah itu kamu wahai wanita murahan!” ungkap Alice dengan kejam seraya pergi dariku.
Alice Nathalia, sekretaris pertama Kelvin.
Wanita itu pergi meninggalkanku yang sudah membuat mood ku jadi berantakan! Ia dengan mudahnya mengatakan aku sebagai wanita murahan tanpa kenal denganku. Tanpa memusingkan apa yang sudah terjadi aku berjalan kedepan. Saat melewati beberapa tempat di mana setiap karyawan berada di sana. Ada yang memandangku dengan tatapan yang sulit ku mengerti bahkan ada yang membicarakan ku padahal aku sedang melewati mereka.
“Eh liat deh sekretaris baru itu. Katanya dia baru sehari kerja tapi udah berani menggoda Bos. Kayaknya beneran ya tuh liat aja pakaiannya berantakan gitu. Wah ... coba perhatikan di lehernya juga ada bekas merah! Aduh ternyata ini fakta,” ungkap karyawan yang sedang gibah dengan suara sedikit keras.
“Iya juga ya jadi benar dia habis menggoda Bos. Dih nggak malu banget tuh perempuan! Pasti dia salah satu dari Club malam, karena di sana mungkin kekurangan layanan jadi dia kesini cari uang. Udah-udah jangan mau berteman sama dia,” sahut teman karyawannya yang lain.
‘Apa benar di leherku ada bekas merah? Berarti Kelvin sengaja membuatku seperti ini. Awas Evin, sampai rumah habis sudah riwayatmu!’ batinku.
Aku tidak memperdulikan mereka-mereka yang sengaja bergosip tentangku. Jika ku ladenin yang ada mereka pasti akan membully ku. Mana mungkin aku berani jika melawan sebegitu banyaknya orang. Aku memilih pergi, dengan cepat langkah kakiku menuju ke pintu gerbang perusahaan hingga akhirnya aku berhasil melarikan dari kerumunan orang.
“Haa ... rasanya lega sekali. Benar-benar hari ini hari yang panjang buatku. Satu sisi aku bahagia karena Evin. Tapi, satu sisi aku ingin marah karena karyawan-karyawan sialan itu, apalagi tadi bertemu dengan wanita aneh, Alice. Sudahlah sebaiknya aku cepat-cepat pulang dan mengistirahatkan tubuhku,” gumam ku seraya menarik nafas panjang.
Belum sampai aku benar-benar pergi dari perusahaan. Saat di parkiran mobil, Alvero sudah berdiri di samping mobilku. Sepertinya ia sedang menungguku saat ini. Rasa lelahku membuatku tidak ingin menemui siapapun.
Alvero mengetahui bahwa aku sedang melihatnya, ia lalu berjalan mendekatiku seraya menarik pergelangan tanganku dengan kasar lalu tanpa aba-aba ia memasukkan aku kedalam mobilnya.