
H A P P Y R E A D I N G
“Huuf! Giliran nyuruh aja cepet banget! Coba masalah hadiah. Boro-boro di beliin barang sebanyak gitu, makan di tempatnya aja pakai di bayar! Rasanya benar-benar tidak adil. Kenapa sih bukan aku aja yang di sekap jadinya senang bisa di perhatikan kaya begitu,” omel Alice seraya mengeluarkan ponselnya.
Alice mengomel sepanjang jalan. Ia mengirimkan pesan kepada dua pelayan seperti yang sudah di perintahkan oleh Alvero. Ia lalu mengingat sesuatu.
‘Ah aku lupa. Bukankah belanjaan yang di bawakan tadi untuk Viora. Sebaiknya aku harus mengawasi mereka agar Alvero tidak berbuat macam-macam,’ batin Alice seraya memutar arah jalannya.
...----------------...
Di dalam kamar, Viora terdiam sambil melihat kearah luar. Ia berharap ada keajaiban yang datang agar dirinya bisa pergi. Namun, saat ia sedang sibuk melamun tiba-tiba suara pintu membuat terkejut hingga membuatnya berpaling dengan cepat. Alvero memasuki kamar itu seraya membawakan begitu banyak gaun yang baru saja ia pesan khusus untuk sang pujaan hatinya.
Dengan senyuman terpancar di wajah tampannya. Alvero lalu menghampiri Viora sambil menaruh barang-barang belanjaan di lantai.
“Hay sayang, sudah lama kamu bangun?” tanya Alvero baik-baik.
“Apa maksudnya dengan semua ini?! Apa kamu punya akal? Atau memang kamu tidak memiliki lagi akal sehat sampai aku kamu bawa kemari!” geram Viora tanpa merasa takut.
“Hey! Ayolah gadis manja. Aku baru saja datang kesini tapi, kamu sudah membentak ku. Bukankah dulu kita selalu saling memuji? Namun, sekarang kenapa justru kamu memarahiku? Lebih baik kesini mendekat dan cobalah pakaian-pakaian indah ini khusus ku belikan untukmu,” ucap Alvero dengan santai sambil menenteng 'kan satu gaun.
“Aku tidak butuh apapun! Yang ku butuhkan cepat keluarkan aku dari sini. Kamu tidak bisa menculik istri orang lain, bagaimanapun juga aku ini sudah memiliki suami,” sahut Viora.
“Oh ya? Jadi sekarang kamu mengakui kalau sudah memiliki suami tapi, kenapa dulu kamu tidak mengakuinya? Aku benar-benar kecewa denganmu, Viora. Dulu aku adalah orang pertama yang membuatmu bangkit dari keterpurukan tapi, sekarang setelah semuanya kamu dapatkan kamu justru membuang ku dan tidak lagi menganggap aku ada. Sepertinya sia-sia aku berbicara baik-baik denganmu tetap saja kamu tidak akan mendengarkan semua yang ku mau. Baiklah mungkin memang dengan kekerasan aku harus membuatmu menderita lalu nanti kita akan menikah,” ungkap Alvero dengan senyuman tersungging.
“Apa yang kamu maksud?!” tanya Viora dengan keras.
Alvero tidak menjawab. Lalu ia memilih untuk pergi, tentu saja tidak lupa mengunci pintu. Entah kemana arah tujuan Alvero pergi namun, ia berjalan ke halaman belakang rumahnya lalu ia kembali dengan membawa sebuah tali.
Alvero kembali ke kamar di mana Viora berada. Tanpa aba-aba dirinya langsung mendorong Viora sampai terbaring di atas ranjang. Lalu ia mengambil sebuah tali yang sudah ia siapkan. Ia mengikat kedua tangan Viora di atas kepalanya dengan cepat kemudian tali itu di ikat di sisi atas ranjang. Viora masih berusaha meronta dan menendang-nendang. Tetapi kekuatan Alvero lebih kuat. Ketika Viora menarik tangannya maka kesakitan yang di rasakan.
“Lepaskan aku! Hey lepaskan! Ku mohon ... Alvero, tolong kasihanilah aku," teriak Viora sambil memelas.
“Bagaimana dengan ini? Apa ini yang kamu inginkan? Tetapi, seperti ini lebih menyenangkan. Aku bisa puas melihat tubuhmu itu bahkan aku sangat menyukainya. Jujur Viora, awalnya aku tidak ingin menculik mu namun, aku tahu satu hal bahwa cinta harus di perjuangkan jadi karena itu aku melakukan apapun cara agar bisa memilikimu. Setelah semuanya sudah ku lakukan dan, nantinya aku akan mengirimkan hasil perbuatan kita kepada Kelvin. Heuh! Tentu saja saat itu kamu pasti akan di ceraikan,” ungkap Alvero dengan hayalannya.
“Kamu jahat! Aku bahkan tidak mengenal sifat mu yang seperti ini, Alvero. Di luar sana begitu banyak wanita lain tapi, kenapa harus aku?! Tolong! Jangan lagi cintai aku karena itu akan menyakitimu,” ucap Viora yang sudah berlinang air matanya.
“Hahaha! Yah ... Karena itulah kamu memang belum mengenal diriku. Aku sebetulnya sangat cinta bahkan tidak ingin memperlakukan dirimu seperti ini tapi, aku terpaksa. Pernahkah kamu mendengar orang baik akan menjadi jahat jika kebaikannya tidak di hargai? Jadi, saat ini aku sedang dalam situasi seperti itu tentu saja aku tidak akan lagi segan untuk merebut mu dari Kelvin,” ucap Alvero dengan jelas.
“Ku mohon ... Lepaskan aku maka aku berjanji akan membantu kamu mendapatkan wanita yang cocok denganmu. Wanita yang benar-benar mencintaimu tapi, aku tidak. Aku tidak mencintaimu, Alvero. Jadi, bagaimanapun kamu menyiksaku rasa cintaku tetap tidak akan pernah bisa untukmu. Lebih baik nanti aku memilih untuk mati jika harus berpisah dengan Kelvin.” Viora terus memohon dengan air mata.
“Cukup! Aku tidak ingin mendengar nama suamimu karena sebentar lagi kamu akan menjadi milikku dan kita akan pergi jauh meninggalkan negeri ini. Sebaiknya buang semua impianmu itu untuk bisa bersama lagi dengan Kelvin. Ah ya sepertinya aku tidak perlu terlalu banyak membuang-buang waktuku untuk mendengarkan semua ungkapan cintamu itu. Sebaiknya aku membuat Kelvin kesal melalui ponselmu ini. Bukankah nanti malam kalian akan honeymoon? Hahaha sayang sekali honeymoon jadi tertunda,” ledek Alvero seraya mengeluarkan ponsel Viora.
‘Oh tidak! Ponselku,’ batin Viora.
“Alvero, ku mohon jangan ... Jangan lakukan apapun dengan ponselku. Ku mohon ...,” tangis Viora sambil memohon.
“Lihat apa yang akan ku kirimkan pada suamimu itu,” ucap Alvero sambil mendekati Viora.
Alvero mengirimkan sebuah pesan, seolah yang mengirimkan semua itu adalah Viora. Dengan senyuman yang begitu ceria terpancar di wajahnya ia mengetik pesan dengan sangat cepat sambil membacanya di depan Viora.
“Oh suamiku ... Aku memohon maaf, keberanian ku hanya bisa sampai di sini. Aku tidak berani untuk berbicara langsung denganmu tapi, aku ingin jujur sekarang juga. Sebaiknya tunda saja acara keberangkatan kita untuk honeymoon karena aku tahu bahwa diriku sudah terlalu banyak mengecewakanmu. Jadi, mulai saat ini aku akan pergi jauh dan tolong tidak perlu lagi untuk mencariku sebab aku akan pergi dengan mengejar sesuatu yang belum sempat ku capai,” ungkap Alvero hasil dari ketikan pesan.
Viora melototkan matanya. Ia berusaha menendang Alvero namun, kakinya tidak sampai bahkan dirinya sendiri yang merasa tersakiti. Hingga akhirnya ia memilih untuk menangis dalam kesedihannya.
“Sudahlah, Viora. Terima saja nasibmu untuk bersama denganku. Lagipula kita sudah saling bersama. Jadi, tidak perlu lagi menangis karena semua itu sia-sia. Aku berjanji Viora, aku akan membahagiakanmu melebihi dari suamimu itu. Baiklah kalau begitu aku harus pergi dulu, dan nanti akan ada pelayan yang menemani kamu tinggal di sini. Tetapi besok pagi aku akan kembali,” ucap Alvero sambil tersenyum.
Alvero meninggalkan kamar itu. Ia mencari keberadaan Alice. Namun, Alice berusaha berlari agar tidak di ketahui bahwa ia sedang berusaha mengintip semua yang telah terjadi. Hingga akhirnya mereka bertemu tidak jauh dari kamar tersebut.
“Kirain pergi kemana. Pulang yuk!” ajak Alvero.
“Apa? Pulang? Terus Viora di sini sendirian dong. Kalau nanti dia lari gimana?” tanya Alice.
“Yah biarin aja dia nggak bakalan lari kok. Lagian nanti pelayan itu juga pasti datangkan. Udah di kabarin ke pelayan itu belum?” ungkap Alvero sambil bertanya.
“Yakin ngga pulang? Tumben banget! Biasanya juga kemana aku pergi pasti bakalan ngekor. Terus di sini sendirian ngapain? Mau buat apa? Ayo ngaku? Apa mau celakain Viora ya? Mendingan kita pulang aku nggak yakin kamu bisa dipercaya untuk tinggal di sini sendirian," tanya Alvero curiga.
“Ihhh biasa aja kali. Siapa juga yang mau celakain kekasih kamu. Lagian ngapain ngga ada untungnya juga. Aku cuma males aja pulang cepat kayaknya lebih betah di sini deh,” jawab Alice tanpa merasa ragu.
“Alice, kita tuh harus pulang cepat soalnya nanti malam keluargaku mau datang jadi nggak mungkin kita nggak sambut mereka. Oh ya, satu lagi sebaiknya nanti kamu ngaku sebagai tunangan ku ya soalnya nggak mungkin kita ngaku partner kerja jahatin orang pasti yang ada Mama bakalan marah. Udah yuk cepat mendingan kita pulang. Aku nggak mau ada bantahan apapun! Kalau nggak gaji kamu di potong!” ancam Alvero.
‘Ya ampun ... Pakai bawa-bawa potong gaji segala hadeuh ... Gimana nih? Nggak pulang di potong gaji. Kalau pulang gimana caranya aku selamatkan Viora,’ batin Alice bimbang.
“Ya udah iya! Aku ikut pulang,” pasrah Alice.
“Gitu dong. Ingat yah nanti ngaku sebagai tunangan settingan. Awas kalau ngga ingat. Aku kasih pelajaran sama kamu. Juga nanti kalau Mama tanya semua tentangmu, biar aku yang jawab dan bilang kalau kita sudah saling kenal selama satu tahun supaya Mama nggak curiga,” ucap Alvero mengingatkan.
“Iya-iya aku ingat! Ah bawel! Ya udah yuk pulang lama-lama berdiri pegel nih,” paksa Alice dengan bibir manyun sambil menarik tangan Alvero.
Alvero tersenyum melihat tingkah Alice yang lucu. Mereka lalu langsung menuju ke mobil. Namun, pikiran Alice tidak tenang justru ia memikirkan sesuatu yang sejak tadi sudah begitu mengganggu pikirannya.
‘Coba aja kalau aku bisa nggak pulang pasti aku bisa bantuin Viora buat keluar dari sana. Sepertinya Alvero benar-benar akan menodai Viora, justru itu akan membuat perasaanku tersakiti. Aduh ... Apa yang sedang kupikirkan? Jika aku membantu Viora keluar maka aku akan kehilangan gaji ku serta tempat tinggal. Tetapi, jika aku tidak melakukan sesuatu maka aku harus mampu melihat Alvero berhubungan dengan Viora. Itu semua tidak sanggup untuk ku bayangkan,' batin Alice cemas.
Alvero sesekali melirik kearah Alice. Ia melihat Wajak wanita di sampingnya itu sangat serius seperti sedang memikirkan sesuatu hingga membuatnya penasaran.
“Bye the way lagi pikirin apa sih? Perasaan dari tadi serius banget,” tanya Alvero penasaran.
“Oh ngga! Cuma lagi pikir gimana nanti reaksi Mama kamu pas ketemu aku, itu aja kok,” jawab Alice mencoba berbohong.
“Oh ... Itu. Udahlah tenang aja Mama bakalan ngerti kok dan ngga mungkin marahin kamu. Yah meskipun mamaku cerewet tapi, dia orangnya baik dan pengertian,” sahut Alvero mengiyakan.
“Baguslah kalau begitu. Oh ya Alvero, aku boleh bahas Viora nggak?” tanya Alice tiba-tiba.
“Viora? Ya udah boleh,” jawab Alvero menyetujui.
“Emm apa kamu yakin bakalan pisahin Kelvin sama Viora dengan cara seperti itu? Bagaimana nanti kalau sampai Kelvin tahu?” tanya Alice dengan sengaja.
‘Sebaiknya aku harus mengacaukan pikiran Alvero agar dia tidak sampai merusak Viora. Cukup aku saja yang menerima tubuhmu bukan orang lain,’ batin Alice.
“Aneh. Tumben banget tiba-tiba nanyain itu. Bukannya kamu udah tahu jawabannya kalau aku bakalan nekat dengan apa yang sudah aku mulai,” sahut Alvero sedikit curiga.
“Yah aku tahu tapi, aku cuma nanya kok. Lagian kita kedepan nggak tahu seperti apa. Mungkin saja Kelvin akan mencari tahu siapa orang yang menculik istrinya otomatis kita bakalan jadi buronan polisi. Aku jujur tidak ingin berurusan dengan pihak mereka. Alvero, apa sebaiknya kamu pikir-pikir lagi dengan tindakan yang akan kamu ambil?” ucap Alice mencoba menasehati.
Mendengar ucapan itu membuat Alvero naik darah sampai ia menepikan mobilnya dengan mengerem mendadak.
“Aku bingung sama kamu, pertama kamu sepakat dengan rencana kita lalu sekarang apa kamu menyuruhku untuk berhenti di sana kita sudah akan berhasil. Ayolah pikiran macam apa ini? Alice, apa-apaan ini? Kamu sendiri tahu bagaimana perasaanku terhadap Viora. Sekarang kamu memintaku untuk berhenti. Katakan kenapa kamu berubah pikiran secepatnya ini?” ungkap Alvero sambil bertanya dengan serius.
‘Ya ampun ... Bagaimana aku harus menjawabnya bahwa aku sudah mencintaimu, Alvero,’ batin Alice.
“Ayolah, Alice! Jawab! Kenapa sekarang kamu berubah pikiran? Padahal nanti aku akan membawamu untuk bersenang-senang sekaligus kamu akan mendapatkan bayaran. Kita bertiga akan bersama dalam ranjang yang sama. Bukankah kamu menyukai sentuhan ku jadi, sudahlah kupikir tidak perlu lagi ada jawaban karena bagaimanapun aku tetap akan menjalankan rencana yang sudah ku mulai. Jika pun kamu tidak ingin bermain bersama dengan kami maka ya sudah tunggulah di luar kamar sampai nanti akhirnya selesai,” ungkap Alvero seraya tersenyum.
‘Jadi benar kalau Alvero akan tetap melakukannya bahkan dia akan melakukan semua itu bertiga. Kamu berhubungan berdua dengan Viora saja aku tidak ingin apalagi jika bertiga tentu saja aku lebih tidak mau. Sebaiknya aku harus berusaha untuk menyakinkan Alvero,' batin Alice.
“Alvero, a-aku eee sebenarnya ingin jujur denganmu,” ucap Alice tanpa menatap matanya.
“Kamu kenapa malah jadi gugup?” tanya Alvero kembali.
“A-aku ... Aku jujur tidak ingin melihatmu melakukan semuanya dengan Viora. Bahkan mulai saat ini aku berhenti menjadi teman ranjang mu," ungkap Alice dengan penuh keberanian.
“What? Seriously? Did I hear that right? Even I just saw a different you now,” tanya Alvero yang tidak menyangka.
“Seriously! Mulai detik ini aku berhenti untuk menjadi teman ranjang mu karena aku tidak ingin kamu melihatku seperti wanita murahan yang hanya ingin mendapatkan kepuasan. Jadi kupikir aku ingin berhenti,” ucap Alice dengan penuh keyakinan sambil terus menunduk.
Plak! Tamparan mendarat di wajah Alice.