Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
Eps 123 Elie vs Nanggung sayang


Happy Reading


“Tentu saja kakak, aku akan selalu ingat tentang kesakitan yang telah mereka lakukan padamu, sangat tidak etis membuat hidup orang lain menderita, kamu harus kuat kak.” Claudia terus menyemangati Elie. Ada rasa bahagia diantara mereka berdua.


“Ya udah Claudia, mending sekarang kamu siap-siap karena nanti malam acara pesta akan dimulai dan jangan lupakan sesuatu yang sudah kita atur, aku akan datang juga ke pesta itu meskipun tanpa undangan,” ucap Elie.


“Baiklah kak, kalau gitu aku mandi dulu,” sahut Claudia lalu beranjak masuk ke kamar mandi.


Senyuman terpancar dari wajah Elie, bagaimana tidak ia tentu saja senang setelah membodohi Claudia. Entah apa yang mereka rencanakan Author sendiri tidak tahu pasti sebab tidak ada pemberitahuan.


Karena bosan sendirian Elie beranjak keluar namun tepat di depan pintu ia berpapasan dengan Steven. Merasa tidak ada suara apapun saat keduanya berpapasan ia lalu berjalan tanpa memperdulikan adanya Steven, tapi seketika langkahnya terhenti karena cengkraman tangan seseorang.


“El, di mana Claudia?” tanya Steven.


“Lagi mandi,” jawab Elie seadanya.


“Oh kirain kemana, by the way nanti malam beneran ngga datang ke pesta? Seru loh! Mana tahu nanti kamu dapat gebetan,” seru Steven dengan ceria.


“Kayaknya datang sih soalnya aku udah berubah pikiran yah karena nanti di rumah aku sendirian tapi gimana aku 'kan ngga diundang, malu tahu,” sahut Elie dengan pasrah.


“Udah tenang aja! Lagian temanku itu baik ... banget! Pasti nanti kamu bakalan langsung akrab El, gimana kalau nanti kita datangnya barengan aja?” ajak Steve bermaksud baik.


“Eh! Ngga usah deh Steven, soalnya aku juga mau ketemu teman bentar, kamu sama Claudia mendingan duluan aja nanti aku nyusul.”


“Beneran ngga apa-apa?” tanya Steven memastikan.


”Iya Steve, udah ah! Aku kesana dulu yah,” ungkap Elie sambil menunjuk kearah ruang tamu, Steven pun hanya mengangguk.


----------------------------------------


Zoya sedang mengecek handphone milik Reiner. Entah mengapa setelah ia mengundang Claudia kemarin ia semakin penasaran dengan wanita itu, sebab suaminya sendiri belum buka mulut untuk menceritakan tentang wanita itu lantaran Reiner sangat sibuk mengurus tentang pesta ulangtahun Kelvin meskipun mereka berdua sudah berjanji.


Tidak ada daftar pesan atau panggilan atas nama Claudia, hanya ada nomer miliknya lalu ia mencocokkan nomer tersebut dengan nama Claudia yang ada di ponselnya. Ternyata benar orang yang menjadi temannya itu kenal dengan Reiner.


Sebelum Reiner membuka mulut, dirinya tetap percaya dan tidak ingin menuduh apapun meskipun ia tahu kalau mereka sudah saling kenal sejak lama. Memilih mengotak-atik layar ponsel meskipun yang ia cari sudah ketemu, saat sedang fokusnya Zoya dengan gadget yang ada ditangannya sampai ia tidak sadar suaminya sendiri telah berada disampingnya sembari mengintip apa yang sedang Zoya lakukan.


“Sayang,” panggil Reiner dari belakang.


“Eh Bee! Kamu kebiasaan deh suka gitu ngomong itu didepan jangan dibelakang aku kaget tahu!” omel Zoya tidak terima karena dirinya terkejut.


“Iss sayang, kok malah marah sih? Kamu makin hari makin galak aja sayang, lagian apa sih yang kamu cari di handphone aku sampai segitu fokusnya?” tanya Reiner seraya bersandar di bahu istrinya.


“Itu Bee, yang kemarin kamu mau bahas Claudia, ayo cerita sama aku kenapa kamu bisa kenal? Jangan-jangan kamu udah kenal lama yah tapi baru sekarang kamu kasih tahunya,” tebak Zoya dengan sedikit sensitif.


“Siapa juga yang cemburu sama kamu! Ngga tahu,” ungkap Zoya yang berusaha ngeles.


“Ngga cemburu? Ya udah sayang, aku nggak mau cerita! Mau mandi dulu nih gerah aku,” rajuk Reiner seraya berusaha menahan senyumnya.


“Ihh Bee, jangan gitu ... Iya deh aku cemburu, lagian istri mana yang nggak cemburu denger kamu bisa kenal sama wanita lain,” ungkap Zoya jujur dengan terpaksa.


Reiner tersenyum lalu memeluk perut istrinya yang sudah sangat gemuk itu, “Sayang! Kiss aku dulu baru aku mau cerita.”


Zoya tahu ia sedang di goda oleh suaminya, membuat dirinya menarik nafas panjang serta membalikkan matanya. “Bee, kamu sengaja 'kan? Ya udah sini Deket lagi biar aku sampek.”


Reiner tersenyum serta menurut dengan apa yang istrinya katakan, ia mendekatiku wajahnya lalu tanpa menunggu Zoya yang memulai ia sendiri langsung melu*at bibir Zoya dengan rakus serta mengigit pelan. Cups! Suara penyatuan bibir mereka terus berlanjut hingga membuat Zoya sesekali mendesah keenakan.


“Aakhh! Bee.”


“Iya sayang.”


Zoya tersenyum dibalik desahan yang ia keluarkan bagaimana tidak cinta dan kasih sayang dari suaminya selalu membuat dia merasa nyaman. Karena tidak ingin suasana itu terus berlanjut lama Zoya akhirnya menarik tangan suaminya untuk duduk disampingnya meskipun ia sendiri juga menginginkan ciuman dan sentuhan yang Reiner ciptakan.


“Bee, mending kamu cerita deh baru nanti kita lanjutin, soalnya nanti malem udah pesta takutnya kamu lupa lagi,” paksa Zoya berusaha menghentikan sentuhan suaminya.


“Sayang, nanti janji aku cerita! Sekarang yuk kita lanjutin, nanggung banget sayang! Aku udah ngga tahan ... Lihat tuh adik kecil aku udah teriak pengen masuk tempat bayi,” protes Reiner seraya menunjuk kearah celananya.


“Bee, nanti kamu keterusan ngga bakalan berhenti! Aku nggak mau sebelum kamu cerita gimana hubungan kamu sama Claudia, kalau nggak malam ini pas pesta jangan temuin aku dan nanti tidur diluar!” bentak Zoya dengan serius.


‘Aduh ... kalau nggak cerita aku nggak dapet jatah, terus nanti tidur diluar lagi. Ah dingin ngga ada yang hangatin! Kasian dedek kecil kalau bisa ngomong udah teriak dia karena bangun, huuf,’ batin Reiner karena ketakutan.


“Ihhh sayang, kamu makin hari makin galak tahu! Ngga kasian apa sama aku?” Reiner memelas.


“Nggak! Benerkan ngga mau cerita? Okay tidur diluar!” bentak Zoya dengan amarah yang ia buat-buat.


“Iya-iya! Aku cerita sayang. Sebenarnya Claudia itu cuma teman aku tapi dia–”


* * *


Rasa cinta yang tulus membuat kita semakin dekat, dengan cinta yang penuh kasih sayang membuat kita semakin bahagia. Cintamu yang membuatku senang, peluk tubuhmu yang membuatku hangat, aroma tubuhmu yang membuatku segar. (Reiner–Zoya)


Ada cinta yang begitu indah yang mampu membuatku kuat dengan semua cobaan, tapi cinta itu juga yang membuatku terus kesakitan dengan hati yang tidak bisa kumiliki. Entah sampai kapan cinta itu bisa kudapatkan, entah sampai kapan cinta itu bisa kupeluk erat. Hingga tidak ada penghalang untuk setiap malam berada dalam genggaman. (Claudia–Reiner)


Hatiku terus memanggil namamu, tubuhku terus menunggu pelukmu. Dalam kesepian aku menangis menyebut cintamu. Wahai sayang aku di sini selalu menunggumu. (Kelvin–Viora)