
Happy Reading
“Kenapa Kelvin, kamu juga menyukai seperti ini? Kenikmatan seperti ini dulu pernah kita lakukan. Aku ingin saat ini kamu di atas ku yang memimpinnya, tapi sepertinya kamu tidak suka, karena gadis kecil bodoh itu kamu menjauh dariku,” ucap Elie yang terus melakukan seperti sebelumnya.
“Hey aku bukan Kelvin mu! Berkali-kali aku katakan kalau aku bukan dia! Ya ampun lama-lama aku ikutan gila.” Steven benar-benar kehilangan akalnya kali ini, ia kembali menutup mulutnya dan berhenti untuk berdebat.
“Ayolah sayang, aku di sini untukmu, Kelvin. Baik sudah cukup waktu untuk berbincang. Sayang, terimalah semuanya dariku.” Elie bangkit dari tubuh Kelvin.
‘Ya ampun apa kali ini dia akan langsung memperkosaku? Entahlah, wanita gila. Jadi kali ini namanya Pria diperkosa oleh wanita,’ batin Steven.
Elie mendekati mulutnya tepat di depan adik kecil Steven yang sudah bangkit. Ia memegangnya perlahan-lahan lalu mengulumnya hingga habis masuk kedalam mulutnya. Mata Steven terpejam keenakan menikmati sensasi gila yang saat ini ia rasakan. Naik turun seperti sedang memompa air, mulut Elie dengan pintarnya menjadikan benda besar nan panjang itu seperti permen. Sesekali ia menjilatinya.
Puas dengan mengulum permen besar. Elie lalu mendekatkan dua buah bola besar miliknya tepat mengenai adik kecil Steven. Dengan naik turun permen besar itu berada di tengah-tengah kedua bola besar Elie.
“Aahh ... Kelvin, aku ingin kamu ....” Elie bergumam sembari berdesah sendirian. Berbeda dengan Steven ia menutupkan matanya tanpa bersuara menikmati sensasi gila itu.
“Kelvin, sayang.” Dengan percaya dirinya Elie terus menyebut nama Kelvin.
Elie lalu melanjutkan dengan naik keatas tubuh Steven dan memasukkan permen besar yang sudah keras berdiri tegak. Ia terus melakukan dengan cepat sembari berdesah sendirian. Dengan rakusnya Elie, lalu mencium Steven, dan menjilati bibir Steven.
Penyatuan terus berlanjut hingga Steven pertama kali mengeluarkan desahan meskipun sedikit namun terdengar begitu mesra di telinga Elie.
“Sayang, ya ... begitu keluarkan suaramu, aku menyukainya. Aah ... aa ... uhh apa kamu mau merasakan tubuhku dengan tanganmu? Jika ya tunggu aku akan melepaskan ikatan ini sayang.” Elie pun bangun hingga mengeluarkan bunyi saat kedua milik berharga mereka lepas.
Steven sudah bebas tanpa adanya ikatan tali yang mengganggu dirinya. Namun, ia sudah hilang dari kesadaran kecuali hasrat nikmat yang ingin ia tuntaskan.
Steven mengambil alih untuk berada di atas Elie, ia lalu kembali menghujam semua adik kecilnya hingga masuk sangat penuh, dan keduanya kembali melakukan dengan irama kuda-kudaan seperti itu.
Buah dada yang tidak ingin sia-sia terlewatkan di rampas dengan keras dan Steven menyusui sembari terus memasukkan miliknya. Elie yang sudah gila tidak pernah lagi menikmati semua itu meskipun ia terus menyebut nama Kelvin.
Dengan penuh kekuatan Steven melakukan dengan hentakan keras dan berusaha keluar dari tubuh Elie hingga mengeluarkan di atas perut Elie. Keduanya terbaring dengan keringat yang sudah membasahi tubuh mereka.
Steven melirik Elie, ia lalu mencoba bangkit nun sayang tangannya kembali di tahan oleh wanita itu.
“Mau kemana Kelvin?” tanya Elie yang masih berpikir pujaan hatinya.
“A-aku ingin ke dapur mau ambil minum. Apa kamu mau juga minum?” tanya Steven yang sudah pasrah berpura-pura menjadi Kelvin.
“Iya sayang, aku juga haus.”
Steven pun beranjak pergi setelah ia memakai pakaiannya, ia memang benar-benar mengambil minum.
“Baru kali ini sesuatu yang berharga di rebut oleh wanita gila itu. Oh sial, semoga saja setelah dia pulih nanti dia hanya akan mengingat bahwa semua yang telah terjadi hanya bersama Kelvin,” gumam Steven lalu meneguk habis minumannya sampai tidak tersisa.
Steven lalu menuangkan air ke gelas milik Elie, tapi dirinya tersadar akan satu hal.
‘Jika aku hanya memberikan air tanpa obat apapun pasti setelah minum dia tidak akan membiarkan aku pergi dan selamanya aku akan terus di anggap Kelvin. Tidak bisa di biarkan mana Claudia lama banget lagi pulangnya,' batin Steven.
Steven lalu mencari sesuatu yang bisa membuat Elie tertidur. Ia akhirnya menemukan pel tidur milik Claudia, saat wanita itu pernah susah tidur.
“Bagus, setelah memberikan ini aku bisa langsung lepas dari Elie gila, dan aku akan bisa mengikatnya. Biarkan semua yang terjadi menjadi mimpi yang tidak pernah menjadi nyata,” ucap Steven seraya memasukkan pel tersebut kedalam minuman Elie.
Steven pun sudah kembali di mana Elie berada, ia lalu melihat Elie tersenyum bahagia saat dirinya datang bahkan memeluknya dengan tubuh tidak ada pakaian.
“Mmm sayang, ayo minum air mu pasti kamu sangat haus,” ucap Steven seraya memberikan airnya.
“Terimakasih, Kelvin sayang.” Elie langsung meminum habis tanpa tersisa sedikitpun.
‘Piuh! Setelah itu penderitaan ku berakhir dan aku tidak di jadikan Kelvin lagi olehnya. Dasar wanita gila, sampai segitunya dia mencintai seseorang hingga tidak waras seperti ini,’ batin Steven.
Elie tidak sadarkan diri setelah habis meminum minuman yang Steven berikan. Ia langsung memakaikan pakaian di tubuh Elie sembari mengikatnya.
“Akhirnya selesai tinggal tunggu Claudia pulang,” ucap Steven lalu berjalan keluar dari kamar tersebut.
Steven memutuskan untuk membersi dirinya, sebab ia juga menikmati apa yang telah terjadi namun ia juga merasakan jijik jika mengingat Elie sudah bukan lagi seperti dulu yang begitu cantik dan menarik.
* * *
Sekitar dua puluh menit Steven selesai dengan semua tugasnya. Ia mengambil ponsel dan mengirimkan pesan singkat untuk Claudia, agar adiknya itu bisa cepat pulang.
“Lama banget lagi Clau pulang, bisa-bisa Elie keburu bangun lagi terus pasti entar ngamuk lagi,” gumam Steven yang sibuk mengecek jam di tangannya.
Menghabiskan semua cemilan sendirian, menonton televisi sampai hampir ketiduran. Begitulah saat menunggu. Karena menunggu itu tidak enak sakit. Yang di tunggu-tunggu pun akhirnya kembali ke rumah.
Dengan wajah kesal Steven melirik kearah Claudia yang sedang berjalan melewati dirinya.
“Heh, kemana aja sih lama banget?!” omel Steven.
“Ada tugas, emang kenapa sih sewot banget?!” Claudia juga tidak ingin mengalah.
“Karena ada hal penting banget! Dan sekarang aku mau ceritain satu hal.” Dengan wajah serius Steven pun berdiri dari duduknya.
“Entar aja deh kak, gua capek banget nih mana tadi banyak tugas akhir lagi. Dah ah mau mandi dulu, bye!” Claudia pun berlalu pergi tanpa menunggu Steven mengiyakan.
“Dasar itu anak, gua juga mau bilang tentang kakaknya.” Steven pun kesal.
“Jangan lama-lama mandinya! Jangan kaya mau kencan lu mandi kelamaan biasanya!” teriak Steven hingga suara di dengar oleh Claudia.
* * *
Sekitar beberapa menit akhirnya Claudia selesai mandi lalu ia langsung menghampiri kakaknya dengan masih memakai handuk yang melilit di tubuhnya.
Steven tercengang melihat Claudia menghampirinya seperti itu, bukan apa-apa memang dirinya sudah sering melihat adiknya itu hanya memakai pakaian dalam di depannya. Namun, barusan dia sudah pernah merasakan berhubungan itu sebabnya tubuhnya grogi melihat keindahan di depan.
“Udah sana pergi pakai baju dulu baru balik kesini.” Steven sengaja mengusir Claudia.
“Heh, tadi suruh cepet-cepet sekarang malah di suruh pergi. Udah deh mending cerita terus mau bilang apa.” Claudia cemberut melihat kakaknya.
“Ah ya udahlah kesini aja duduk biar gua ceritain semuanya, awas Lo kalau ngga sanggup denger,” sahut Steven yang sedang menarik tangan Claudia.
Claudia duduk diam berusaha untuk menyimak apa yang ingin di sampaikan oleh Steven padanya.
“Jadi itu Elie tambah lebih parah. Di-dia malahan anggap gua jadi Kelvin,” curhat Steven.
“Lah terus apa masalahnya? Wajar dong kakak Elie gitu toh dia udah nggak waras.” Claudia langsung menganggap sepele.
“Bukan begitu Claudia! Gini deh, tadi waktu kamu ... aah keknya ngga usah di ceritain kali ya.” Steven merasa malu mengungkapkan kebenaran.
“Jangan buat penasaran! Cepat kasih tahu biar aku nggak penasaran terus,” paksa Claudia.
“Okay gua bakalan bilang sejujur-jujurnya. Tadi Elie anggap gua itu Kelvin, dan Lo tahu apa yang di lakukan? Dia perkosa gua, Clau. Harga diri gua sebagai Pria hilang saat dia mencoba melakukan semua itu.” Steven menahan malu saat bercerita.
“Apa?! Jadi kalian sudah ....” Claudia terkejut lalu melihat kearah tepat di mana burung Steven berada.
“Loh kok lihat kebawah, mau juga?” tanya Steven mencoba meledek Claudia.
“Ada-ada aja! Ya nggak 'lah, mana mungkin aku mau. Maksudnya itu gimana ceritanya kok bisa? Ini ngomong ngga jelas setengah-setengah.” Claudia kesal.
“Okay jadi gini, Elie anggap gua itukan Kelvin. Nah pas habis gua kasih obat di lengannya saat gua mau balik eh dia pukul gua di belakang sampai tiba-tiba pas gua terbangun tangan sama kaki udah di ikat. Setelah itu ya ... Lo tahulah apa yang dia lakukan, gua di nodai, tapi gua nggak rela soalnya keadaannya dia seperti itu.” Steven akhirnya curhat dengan jelas.
“Ya ampun kakak Elie tambah parah, sebaiknya kita memang harus memasukkan dia ke rumah sakit jika tidak pasti lain kali dia akan mencoba melakukan hal yang sama,” sahut Claudia dengan raut wajah cemas.
“Nah itu dia, kita harus cepat kasih perlindungan buat dia. Sebaiknya langsung hari ini.”
“Aku setuju, kakak.”
Claudia pun kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaian serta melihat keadaan Elie.
“Kakak, kamu kok jadi seperti ini? Seharusnya orang lain yang harus seperti ini bukan kamu, tapi kakak jangan khawatir aku akan melindungi dan membalas semua dendam kakak. Mereka harus merasakan hal yang sama. Aku berjanji kehancuran Zoya dan Viora, akan aku lakukan apapun untuk mereka.” Claudia kesal serta mengucapkan sumpahnya.
Claudia lalu kembali menemui Steven. Ia melihat kakak satunya ini sedang sibuk dengan ponselnya hingga Steven terkejut adiknya berada di sampingnya.
“Kok kaget gitu, ayo ngaku lihat apaan barusan?” tanya Claudia penasaran.
“Udah sana jangan kepoin orang. Oh ya bentar lagi ambulance bakalan datang menjemput Elie, udah siapin barang-barang dia?” tanya Steven serius.
“Emangnya pakai siapin barang yah, kaya pindah rumah dong?”
“Ngga tahu juga sih, kali aja beneran.”
Mereka sama-sama kebingungan apa yang harus mereka siapkan. Sambil menunggu ambulance datang Claudia semakin mengorek semua kekepoan dia terhadap Steven. Soalnya suatu dia datang tiba-tiba Steven sedang melihat sebuah video yang membuatnya penasaran.
Sambil terus kepo hingga akhirnya mereka berdua justru bercanda hingga berlarian kesana-kemari. Yang di tunggu-tunggu pun datang, ambulance telah tiba di apartemen mereka.
“Permisi, benar ini alamatnya Pak Steven?” tanya salah satu petugas ambulance tersebut.
“Oh ya benar, saya sendiri Steven. Ya udah mari masuk pasien ada di dalam kamarnya.”
Mereka semua masuk dan langsung menuju ke kamar. Elie sudah terbaring dengan tangan masih terikat, namun dia sudah sadarkan diri. Suatu Elie tahu sudah ada petugas yang akan mengambilnya, ia berusaha meronta-ronta hingga membuat para petugas dan Steven mencoba menahan dirinya untuk di bius.
Elie pun akhirnya di bawa oleh mereka dan begitupun Steven bersama Claudia mengikuti dari belakang dengan memakai mobil yang lain.
Sewaktu di dalam mobil Steven dengan raut wajah biasa saja tidak ada kesedihan baginya. Namun, berbeda dengan Claudia, wanita itu sudah menangis tersedu-sedu mengingat apa yang sedang terjadi.
“Sudahlah jangan nangis, toh nanti setelah sembuh Elie bakalan balik lagi sama kita. Kalau nangis gini yang ada dia juga ikutan sedih,” ucap Steven mencoba menenangkan Elie.
“A-aku sedih, selama ini dia selalu jadi kakak yang terbaik untukku. Apapun ia lakukan demi apa yang inginkan terpenuhi, tapi sekarang dia udah pisah jauh dari kita bahkan dengan keadaan yang tidak sewajarnya. Aku takut dia kenapa-kenapa sampai di rumah sakit, pasti di sana semua orang gila tentu ada yang tidak baik.” Claudia mengeluh dalam tangisannya.
Steven mencoba menenangkan meskipun ia harus fokus kedua arah sekaligus. Antara terus menyetir dan sesekali mengusap bahu Claudia.
“Udah dong dek, kamu yang sabar ya. Semua ini pasti bakal cepat kita lalui, aku juga sebetulnya kasian lihat keadaan dia seperti itu masih muda sudah harus berdiam di rumah sakit jiwa, tapi kita bisa apa selain hanya itu satu-satunya cara agar dia sembuh kembali. Udah ... jangan nangis terus.” Lagi-lagi Steven mencoba menenangkan Claudia.
“Kakak benar, seharusnya aku harus kuat dan berdoa buat dia,” sahut Claudia seraya menghapuskan air matanya.
‘Apapun akan aku lakukan demi kamu, kak. Dan juga aku akan mencari tahu di mana keberadaan Viora. Mereka tidak boleh bahagia saat kita di sini begitu sengsara oleh ulah mereka,’ batin Claudia.
Kami akhirnya sampai di rumah sakit jiwa. Elie hanya menurut saat di ajak jalan oleh kedua petugas rumah sakit. Begitupun dengan Steven dan Claudia, mereka mengikuti dari belakang.
Dokter langsung menangani Elie. Ia sudah di masukan ke dalam salah satu ruangan kosong sendirian. Lalu kami langsung membayar semua tanggungan yang ada.
‘Kak, maafkan aku jika sekarang tempatmu adalah di sini, sebab di sini lebih aman untukmu. Semoga kamu lekas sembuh dari penderita yang tidak seharusnya kamu dapatkan,’ batin Claudia.