
H A P P Y R E A D I N G
(Kediaman Bunda)
Pagi-pagi sekali Kelvin kembali ke kediaman bundanya. Ia memang sengaja pulang lebih awal bersamaan dengan suaranya ayam berkokok. Penjaga keamanan kediaman selalu siap siaga kapanpun majikannya pergi atau kembali.
Kelvin memasuki kediamannya. Ia langsung menuju ke kamar, terlihat Viora masih tertidur pulas. Ia mencoba mendekati istrinya dan duduk di tepi ranjang seraya mengusap pelan rambutnya.
“Entah kenapa aku tidak bisa jauh darimu padahal saat ini aku sedang marah tapi, aku ingin tetap melihatmu,” gumam Kelvin sambil terus memandangi istrinya tiada henti.
Viora seketika tersadar saat ia merasakan usapan di rambutnya terus-menerus hingga ia membuka mata dan melihat Kelvin di depannya. Menyadari hal itu Kelvin langsung menarik tangannya seakan tidak melakukan apapun.
“Evin, kapan kamu pulang?” tanya Viora sembari mengucek matanya.
Tanpa menjawab pertanyaan istrinya, Kelvin justru memasuki kamar mandi seakan tidak ada orang yang berbicara dengannya.
‘Maunya apasih? Di perhatikan salah, ngga di perhatikan juga salah. Tiba-tiba marah, nanti aku harus menanyakannya langsung,’ batin Viora seraya mengambil ponselnya dan bermain game.
Viora lebih memilih bermain dengan ponselnya meskipun hari masih terlalu pagi. Ia ingin menunggu Kelvin keluar dari kamar mandi. Jika tidak dengan begini maka rasa kantuk akan kembali menyerang matanya.
Tidak begitu lama Kelvin di kamar mandi, ia langsung keluar dengan wajah sudah di basahi air. Bisa di lihat jika ia hanya cuci muka saja. Lalu Kelvin kembali tidak memperdulikan istrinya yang sudah menghentikan bermain game dan sudah terduduk menunggu dirinya.
‘Tanya ngga yah? Tanya ngga? Ngga, tanya. Harus tanya. Aduh ... Kok jadi gini sih? Tapi nggak boleh nyerah karena Evin kemarin bersikap baik terus sekarang dia tiba-tiba cuek denganku sampai memilih menginap di luar. Aku harus berani bertanya meskipun nantinya ribut,' batin Viora yang tidak menentu.
Viora akhirnya bangun meskipun dia masih sedikit mengantuk. Ia lalu langsung duduk di samping Kelvin. Dengan wajah polos seakan tidak merasa salah dia mencoba untuk merangkul lengan suaminya dan mengelus kepalanya seperti anak kucing yang kelaparan.
Kelvin menyunggingkan senyumannya. Dengan perlahan ia melirik Viora, lalu dengan cepat tangannya di tarik seakan tidak menyukai apa yang istrinya perbuat.
“Ngga usah sok baik deh, basi tahu!” ucap Kelvin dengan ketus.
“Ihhh Pangeran, kok gitu sih? Mmm aku juga 'kan istri kamu. Pangeran sayang ... Aku mau tahu dong kok kamu cuek sih sama gadis kecil ini?” Viora terus mencoba merayu Kelvin.
‘Aneh, kok Viora jadi berubah begini yah dalam sesaat. Pasti dia ada maunya nih,’ batin Kelvin yang tidak memperdulikan rayuan istrinya.
“Ihhh Pangeran jahat! Katanya cinta, katanya sayang tapi, di rayu dikit malah nggak mempan! Aku 'kan selir kamu masak sih nggak di peduli, sebel banget!” rengek Viora dengan gaya khasnya seraya melipatkan tangan di dadanya.
Kelvin menarik nafas panjang. Ia lalu menyentuh kening istrinya. Entah apa maksudnya itu.
“Kamu lagi sakit yah?" tanya Kelvin yang masih menyentuh istrinya.
“Iya aku sakit! Sakit karena cinta kamu! Udah ah kesel jadinya, mending aku ngambek aja lagi,” sahut Viora dengan ketus seraya berpaling dari Kelvin.
Kelvin tidak terlalu memperdulikan dengan apa yang Viora lakukan. Ia masih mengingat tentang apa yang sudah ia lihat di ponsel istrinya itu meskipun ia belum memberitahukannya. Lalu Kelvin berniat keluar dari kamar mereka tapi, dengan cepat Viora menghentikan langkahnya.
“Isss Pangeran mau kemana sih? Kok gitu sama selir? Aku sedih tahu kalau Pangeran Evin, cuek begitu. Huwaa ... Aku sedih ....” Viora berlagak seakan sedang menangis padahal tidak.
Kelvin menggelengkan kepalanya, dulu ia begitu suka dengan sikap gadis kecil yang polos dan imut-imut tapi, sekarang ia muak apalagi jika mengingat tentang hubungan istrinya dengan Alvero.
“Evin, jangan pergi ... Jangan tinggalin gadis kecil sendirian,” ucap Viora yang sedang menahan lengan suaminya.
“Udah deh jangan kekanak-kanakan," sahut Kelvin kesal.
“Loh kok gitu? Aku cuma mau dekat kamu, Evin," sahut Viora yang tidak ingin menyerah.
‘Lama-lama aku juga bosan dengan semua ini lebih baik aku bersikap seperti dulu. Apalagi Elie telah pergi jauh jadi sudah seharusnya aku kembali memberikan perhatian untuknya dan nanti jika aku harus menyelesaikan masalahku dengan Alvero, maka aku harus lakukan,' batin Viora dengan tekad kuatnya.
Viora sudah membuka hatinya untuk menghilangkan dendam yang ada dalam dirinya. Ia sudah berpikir matang untuk memulai kehidupan baru bersama dengan Kelvin. Menjadi gadis kecil yang selalu mampu membuat suaminya begitu merasa di cintai.
Namun, itu dulu justru saat ini Kelvin begitu kecewa dengan apa yang sudah Viora perbuat. Gadis kecilnya mengatakan bahwa ia mencintai dirinya seorang tapi, itu hanya untuk membalaskan dendam. Tapi, sekarang entah bagaimana Kelvin harus menghadapi gadis kecilnya itu.
Sejak tadi Kelvin terus mencoba menjauh saat Viora mendekati meskipun ia tidak sanggup berjauhan tapi, ia mencoba untuk membuat agar istrinya itu mengerti bahwa dirinya sudah jatuh kedalam kekecewaan saat semuanya di lihat dalam ponsel Viora.
“Evin, kok kamu aku tanya malah nggak jawab? Emangnya kenapa sih? Perasaan dari semalem deh kamu cuekin aku sampai milih tidur di tempat lain,” rengek Viora dengan wajah cemberut.
Kelvin menarik nafasnya memburu. “Sebelum kamu tanya sama aku sebaliknya kamu tanya sama diri kamu sendiri, karena semua jawaban itu ada sama kamu.”
Bibir manyun masih tidak lepas dari Viora. Ia sedikit kesal dengan jawaban yang di terima dari Kelvin. Justru dia merasa tidak bersalah apapun karena baginya semuanya sudah jelas dari kesalahpahaman atas tuduhannya untuk Kelvin.
“Tapi, iya aku ngaku salah. Aku udah banyak kecewakan kamu, mulai dari surat kontrak, ninggalin kamu selama lima tahun, dan pacaran sama Alvero. Janji aku bakalan sobek kontrak pernikahan dan aku bakalan selesaikan semuanya dengan orang lain,” ungkap Viora jelas seraya ingin membuat hati Kelvin membaik.
“Oh ya? Apa dengan itu aku bisa langsung memaafkan mu, gadis kecil yang nakal? Kesalahan pertama kamu sudah menuduhku, kedua kamu meninggalkan aku, ketiga kamu berpacaran dengan orang lain, dan keempat itu lebih menyakitkan!” tegas Kelvin seraya melototkan matanya.
‘Keempat? Perasaan aku cuma bikin kesalahan tiga kok bisa ada empat? Apa maksudnya, Evin?’ batin Viora kebingungan.
“Aku tahu mungkin kamu bingung tapi, aku juga punya kesalahan denganmu bedanya aku sudah begitu tersakiti oleh ulah mu yang sengaja kamu lakukan itu untukku bahkan kalian juga memiliki photo kenangan yang begitu mesra serta chating mesra. Tidak ada bedanya kamu denganku saat kita belum menikah," ungkap Kelvin yang membela kebenaran.
“Tapi, aku tahu saat itu aku hanya salah paham denganmu, bukan maksudku untuk melakukan semua itu. Jelas-jelas aku mencintaimu jauh dari kamu mencintaiku, tapi karena orang lain-” ucapan Viora terhenti.
Kelvin memandang Viora begitu dalam sampai rasanya ia ingin menangis tapi, ia coba untuk tidak menangis. “Tidak ada yang perlu di bicarakan terlalu banyak karena mengapa sebaiknya kamu bereskan barang mu agar kita kembali pulang, lagipula matahari sudah bersinar terang. Tugasmu hanya satu, selesaikan hubunganmu dengan Alvero, karena aku tidak suka ada orang lain yang berada di antara kita. Ah ya satu lagi lihat kembali ponselmu mungkin saja ada yang hilang.”
Setelah mengatakan itu Kelvin langsung pergi meninggalkan Viora yang masih berdiri mematung. Ia keluar dari kamarnya dengan rasa marah yang masih ia pendam. Ia takut jika emosinya akan membuat Bunda mereka mengetahui hal yang sebenarnya.
Saat Kelvin membuka pintu kamar, bundanya sudah berniat ingin mengetuk pintu. Alhasil Ibu dan anak itu sama-sama terkejut.
“Loh? Baru Bunda mau panggil. Ya sudah langsung ke meja makan gih, Ayah juga sudah nunggu kalian sarapan bareng tuh,” ucap Bunda seraya tersenyum.
“Ya sudah yuk barengan, Bun,” ajak Kelvin.
“Sudah kamu duluan saja. Bunda, mau temuin menantu Bunda dulu.”
Bunda pun pergi masuk kedalam kamar mereka. Viora sedang memasukkan pakaian kedalam kopernya. Bunda melihat heran kearah menantunya tersebut.
“Nak, kok kamu udah beres-beres? Bukannya kalian nginap di sini seminggu yah?” tanya Bunda kebingungan.
“Seminggu? Kayaknya ngga deh, Bun. Soalnya aku juga kurang tahu, tadi Evin langsung bilang harus kemas-kemas ya udah aku nurut,” sahut Viora yang juga tidak begitu paham.
“Ya sudah kalau begitu nanti di lanjutin lagi. Kita sarapan dulu yuk! Ayah juga udah nunggu,” ucap Bunda seraya mengambil pakaian dari tangan Viora.
“Baik, Bunda.”
Bunda bersama Viora beranjak pergi. Di meja tidak ada obrolan penting sampai akhirnya mereka selesai sarapan.
Kelvin sama sekali tidak melirik Viora, walaupun istrinya itu sesekali melihat kearahnya. Sampai akhirnya Bunda curiga kalau hubungan pernikahan anaknya itu sedang di landa masalah, meskipun beliau tidak menanyakannya tapi, firasat Ibu selalu benar dan tahu apa yang di alami oleh anaknya.
Kelvin lalu langsung meninggalkan meja makan tanpa berkata apapun baik dengan Viora maupun orangtuanya. Ia lalu kembali ke kamar dan mengemasi barang-barang yang harus ia bawa pulang. Kelvin selesai melakukan apa yang ia inginkan. Ia merasakan gerah hingga akhirnya ia berniat untuk mandi.
‘Kenapa Kelvin tidak bersikap ramah saat di depan orangtuanya? Seharusnya dia bisa menjaga sikapnya walaupun kita sedang bertengkar. Aku jadi tidak enak dengan Bunda, pasti kali ini dia berpikiran yang tidak-tidak untukku,’ batin Viora yang sedang menunju ke kamarnya.
Viora sampai di kamar lalu melihat Kelvin tidak ada di dalam hingga suara percikan air terdengar dan ia tahu jika suaminya di dalam.
Entah Kelvin sedang terburu-buru sampai ia melepaskan pakaiannya sembarangan tempat hingga Viora memutuskan untuk merapikannya. Mengambil baju, serta celana milik suaminya tapi, saat mengangkat celana tersebut sobekan kain putih jatuh ke lantai hingga membuat Viora pun mengambilnya.
“Loh kain putih? Tapi, sejak kapan di celana Evin ada kain ini? Kalau di bilang kainnya sobek pasti ada dong bekas sobekan, 'nya,” gumam Viora penasaran seraya membolak-balik celana tersebut.
“Ngga ada apapun di sini, udahlah mending di buang aja,” sambung Viora membawa sobekan kain putih tersebut keluar dari kamarnya.
Belum sempat ia membuangnya, seorang pelayan pagi-pagi sedang menyapukan lantai tepat di depan pintu kamarnya. Viora lalu memberikan sobekan itu kepada pelayan tersebut.
“Buang ini bentar yah,” perintah Viora.
“Baik, Nyonya,” ucap pelayan tersebut lalu beranjak pergi.
Pelayan tersebut melihat kobaran api sedang menyala di tempat pembakaran sampah kediaman tersebut. Ia lalu membawa sobekan kain beserta dengan sampah lainnya hingga semuanya ludes terbakar.
(Di kamar pasutri)
Viora menunggu sampai Kelvin selesai dengan aktivitas mandinya. Ia menunggu suaminya sebab ia ingin masalah mereka cepat selesai dan tidak terus-menerus bertengkar. Hingga yang di tunggu-tunggu pun selesai.
Viora langsung mendekati Kelvin yang masih memakai handuk melilit di tubuhnya. I tersenyum manis seakan tidak memiliki kesalahan apapun.
“Evin, kok lama banget sih mandinya?” tanya Viora dengan cara khas senyam-senyum olehnya.
“Bukan urusan Lo. Mau gua lama kek, lima jam, sepuluh jam atau satu hari kek. Itu bukan lagi urusan Lo, ngerti.” Begitu ketusnya Kelvin menjawab.
‘Sabar Viora, kamu harus kuat dengarin kata-kata Evin. Kalau mau di maafkan berarti kamu harus mengambil hatinya terlebih dahulu,
Tidak merasa di sana, Viora kembali mengajak Kelvin berbicara meskipun ia lelah terus-menerus seperti itu. Kelvin akhirnya menatap Viora dengan tatapan yang tidak di mengerti.
“Kamu sebaiknya denger. Aku ngga akan bersikap baik sama kamu kalau hubunganmu dengan Alvero belum selesai. Jadi kalau emang mau terus-menerus begini sebaiknya kita cerai dan kamu bisa langsung menikah dengan dia,” ucap Kelvin seraya berjalan pergi ke mengambil pakaian gantinya.
“Iya Evin, aku pasti akan menyelesaikan hubunganku dengan Alvero tapi, kamu juga tidak perlu seperti itu denganku. Aku ini istrimu,” sahut Viora yang mencoba membuat Kelvin mengerti.
“Aku tidak peduli, meskipun kamu istriku karena kamu sudah terlalu berlebih-lebihan Viora. Apa kmu sudah melihat ponselmu yang sudah aku ambil diam-diam?” tanya Kelvin seraya tersenyum sinis.
Viora langsung kaget dan menyadari bahwa ia belum mengecek ponselnya sama sekali. Saat ia membukanya ia tidak melihat satupun jejak pesan ataupun panggilan dari Alvero begitupun dengan photo kenangan mereka.
‘Jadi Kelvin sudah melihatnya. Pantesan dia marah banget. Aduh ... aku kok bisa bodoh banget! Padahal harusnya aku tidak meninggalkan jejak apapun. Jika sudah begini keadaannya, aku sendiri justru bingung harus membujuknya seperti apa,’ batin Viora cemas.
Kelvin lalu mengangkat dagu istrinya sampai menatap wajahnya. “Udah tahukan sebabnya? Jadi aku tidak perlu lagi mengatakan apapun. Aku tidak habis pikir cintamu untukku, apa memang hanya permainan bagimu?”
“A-aku, tidak bermaksud seperti itu, Evin. Sungguh aku tidak bohong, meskipun memang aku sudah salah selama ini tapi, tolong berikan aku waktu untuk menembus kesalahanku,” ucap Viora dengan memohon.
“Untuk saat ini aku belum bisa tahu harus melakukan apa padamu tapi, karena kita harus buru-buru kembali kesana sebaiknya nanti kita bicarakan lagi permohonan maaf yang akan cocok untukmu, gadis kecil,” ucap Kelvin.