
H A P P Y R E A D I N G
“Tahan dikit, ihh kenak pukulan ngga sakit! Giliran di kasih obat sakit,” omel Viora seraya terus memberikan obat.
“Beneran sakit ... abisnya enak tahu lihat kamu perhatian gini,” goda Kelvin.
“Udah diam jangan bawel. Mendingan sekarang istirahat bentar lagi dokternya datang kok,” ucap Viora seraya membantu Kelvin berbaring.
“Pelan-pelan sayang. Tapi, kok panggil Dokter? Bukannya aku udah di obati sama gadis kecilku ini?” Kelvin sempat-sempatnya menggombal.
“Ihh udah nurut aja jangan godain aku, Pangeran. Tadi itu aku minta Pak supir buat hubungi Dokter. Lagian juga kamu luka parah begini masa aku biarin aja sih,” ungkap Viora.
“Ya udah deh serah kamu. Oh yah gadis kecil, bantuin aku dong bilangin sama sekretaris yang namanya Alice, kalau aku beberapa hari mau ambil cuti yah sampai kondisiku stabil kembali. Dan juga kamu nggak usah kerja juga sayang, karenakan kamu kesayangan aku,” pinta Kelvin seraya kembali menggoda istrinya.
Viora menarik nafas seraya menahan senyumnya saat mendengar Kelvin selalu saja bisa membuat hatinya berbunga-bunga hanya dengan ucapan. “Iya-iya! Udah jangan banyak ngoceh lagi istirahat terus, Pangeran.”
Viora menarik selimut untuk menutupi tubuh suaminya. Ia berjalan keluar dan tidak lupa membawa ponsel Kelvin ikut bersama. Sesuai permintaan Kelvin yang ingin mengambil cuti jadi, tentu saja sekretarisnya harus mengetahui.
“Males banget aku harus hubungi sekretaris sombong itu!” geram Viora yang sedang mencari nomor yang bernama Alice.
Dengan menguatkan hati meskipun tidak ikhlas sama sekali. Viora akhirnya memutuskan untuk tetap menghubunginya.
Beberapa saat panggilan pun terjawab. Viora memilih diam terlebih dahulu.
“Hallo, Pak. Apa ada sesuatu yang di perlukan, Pak?” tanya Alice di balik ponsel suamiku.
“Ya tentu. Untuk beberapa hari Pak Kelvin, tidak bisa hadir ke kantor lantaran beliau sedang sakit. Jadi, aku minta tolong urus pekerjaan dengan baik selama beliau tidak ada, dan lapor padaku jika ada sesuatu hal penting. Sekian dan terimakasih,” ungkap Viora jelas tanpa basa-basi.
“Ya tapi ... Anda ini siapa? Kenapa ponsel Pak Kelvin, berada di tangan Anda?” jawab Alice serta bertanya kembali.
‘Berani sekali dia. Memangnya aku tidak berhak memegang ponsel suamiku sendiri. Awas kamu, Alice. Kamu sudah mempermalukan aku di kantor suamiku sendiri. Awas saja kamu,’ batin Viora.
“Siapa saya? Anda tidak perlu tahu. Adapun hak saya yang jelas saya juga wewenang atas Pak Kelvin, dan perusahaan beliau jadi, Anda turuti saja apa yang saya katakan barusan karena tidak baik terlalu banyak mencampuri urusan pribadinya Bos,” ungkap Viora lalu langsung mematikan ponselnya tanpa memberikan waktu orang lain menjawab.
Viora kesal berlama-lama berbicara dengan sekretaris sombong itu. Dengan wajah cemberut ia terduduk sambil terus memandangi ponsel Kelvin.
‘Bisa-bisanya Pangeran memperkerjakan perempuan sombong seperti itu. Apa dia tidak tahu kalau perempuan itu tidaklah cocok untuk menjadi sekretaris? Berlagak sombong bahkan seperti penguasa di tempat perusahaan suamiku,’ batin Viora yang terus mengomel.
Saat dirinya sedang emosi tiba-tiba seorang supir datang menemuinya seraya di ikuti oleh seorang Dokter. Viora langsung saja menyambut dan membawanya menemui suaminya.
Dokter langsung memeriksa keadaan Kelvin, meskipun ia sedang tertidur. Mungkin karena rasa lelah hingga membuat Kelvin sampai di sadar meskipun kakinya sedang di obati. Dokter langsung membalut luka-luka yang ada di tubuhnya dan menuliskan sesuatu pada sebuah kertas kecil.
“Yah benar, dia memang habis berkelahi,” sahut Viora.
Dokter pun menganggukkan kepalanya. “Pantas saja ya sudah Tuan terlalu masalah hanya perlu istirahat dan tunggu sampai lukanya kering, dan ini resepnya bisa langsung di tembus,” ungkap Dokter sambil memberikan kertas kecil.
“Baik, Dokter. Terimakasih banyak,” ucap Viora.
“Yah sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu,” ucap Dokter tersebut.
Viora pun mengangguk mengiyakan. Ia merasa rela saat mendengar kondisi suaminya tidak terlalu parah walaupun memiliki luka yang serius tapi, itulah keajaiban. Kemudian Viora meminta agar Pak supir menembus semua resep obat yang telah di berikan oleh Dokter tersebut karena ia tidak bisa pergi sebab ingin menunggu Kelvin bangun.
Viora terus memandangi Kelvin yang sudah pulas tertidur. Ia ingin sekali memeluk tubuh suaminya namun, karena ia malu apalagi mereka masih berbaikan sesaat dan ia belum tentu akan terus berbaikan atau justru sebaliknya.
Rasa kantuk mendatangi matanya. Ia padahal ingin berjaga dan terus melihat Kelvin tapi, dirinya tidak sanggup apalagi hari ini adalah hari yang panjang untuknya. Hingga akhirnya Viora memilih berbaring tepat di samping Kelvin karena ia tidak bisa meninggalkan Kelvin sendirian. Oleh sebab itu dirinya pun ikut-ikutan tertidur.
***---------------------------------------***
Di tempat yang berbeda, seorang Pria juga sedang mengalami seperti Kelvin. Bedanya ia cukup serius. Orang-orang membantu dirinya pulang sampai mereka mengantarkan dirinya langsung ke kamar.
Kesadaran Alvero masih ada hingga ia mengetahui semuanya. Para pelayan rumahnya telah berkumpul. Lalu Alvero meminta salah satu pelayan untuk memberikan uang kepada orang-orang yang menolongnya tapi, mereka langsung menolak.
“Maaf sebelumnya bukannya kami tidak ingin menerimanya tapi, seorang wanita telah membayar kami cukup banyak, dan ia juga berpesan untuk memanggil Dokter untukmu. Jadi begitulah, baiklah kalau begitu kami permisi dulu nanti sebentar lagi Dokter akan datang kemari,” ucap seorang warga.
“Baiklah kalau begitu, terimakasih,” sahut Alvero.
Alvero kembali mengingat apa yang sudah di katakan oleh orang-orang yang menolongnya. Mereka telah di bayar tapi, yang membayarnya adalah Viora.
‘Mungkinkah Viora yang melakukan semua itu? Tapi, jika orang lain juga tidak mungkin sebab di sana hanya ada kekasihku,' batin Alvero.
Alvero tiba-tiba tersenyum saat ia memikirkan tentang Viora. Lalu pelayan melihat jika majikannya sedang tersenyum sendirian hingga ia memutuskan untuk bertanya.
“Maaf Bos, jika saya lancang bertanya. Saya melihat jika Bos sedang tersenyum bahagia, apa mungkin sedang memikirkan Nona Viora?” tanya pelayan tersebut sambil tersenyum.
“Yah benar sekali. Karena saat itu kekasihku ada bersamaku jadi ku pikir memang dia yang membayar mereka untuk membawaku pulang,” sahut Alvero senang.
“Saya juga sependapat dengan Bos. Pasti Nona Viora begitu peduli dengan Bos sampai ia mau membayar orang. Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu, Bos,” ungkap pelayan tersebut seraya beranjak dari sana.
Alvero pun mengangguk. Raut wajahnya ceria walaupun keadaannya sedang terluka. ‘Viora, aku merasa kalau kamu memang peduli denganku.'
Seorang Dokter pun datang untuk memeriksa keadaan Alvero. Dia sampai harus di buatkan alat penyangga untuk kakinya sebab Dokter umumnya menyarankan agar tidak menggunakan kekuatan kaki seutuhnya untuk menumpu berat badan dalam beberapa saat. Alvero pun tidak banyak membantah.