
Happy Reading
Cupss! Mataku melotot melihat matanya yang sudah terpejam karena menciumiku tanpa aba-aba apapun. Tapi, anehnya hatiku tetap biasa saja tidak ada berdebar-debar seperti saat Kelvin mencuri ciuman pertamaku.
‘Apa mungkin seperti ini rasanya saat berciuman dengan orang yang tidak kita cintai? Tidak ada rasa senang padahal Alvero sudah sangat bagus jika sebanding denganku saat berciuman,’ batinku yang masih di cium olehnya.
Author pun ngga tahu gimana rasanya ck.
“Mmm Viora, sebetulnya aku mendengar semua yang sudah kamu katakan. Jadi ... Apa benar kamu bersedia menjadi pacarku?” tanya Alvero lebih menyakinkan.
‘Duh ... Kalau aku bilang ngga mau yang ada aku merasa bersalah banget, tapi kalau aku mau apa nanti aku bakalan bisa mencintai Alvero? Semoga saja ini pilihan yang tepat,’ batinku.
“Hey Viora! Kenapa malah ngelamun?”
“Eh, ngga kok.”
“Jadi gimana soal yang tadi apa kamu mau mendampingi hidupku?” tanya Alvero kembali menyakinkan sembari memegang tanganku meski hanya sebelah yang bisa ia raih.
Aku terpaksa menganggukkan kepala sebab sebab sangat tidak enak menolak apalagi kepadanya seperti ini.
“Kok cuma angguk sih? Jawab dong?” tanya Alvero kembali.
”Eh! Iya Al, aku mau jadi pacar kamu,” ucapku tanpa ada keraguan.
Alvero tersenyum bahagia sembari kembali menciumku. Entah kenapa aku berpikir jika dia sangat menyukai bibirku ini padahal aku sedikit risih kalau di perlakukan seperti ini oleh orang yang tidak aku cintai. Namun, mau bagaimana lagi sepertinya memang aku harus membuka hati untuknya secara perlahan-lahan.
Perlahan Alvero melepaskan ciumannya. Ia tersenyum bahagia lalu ia menarik tubuhku jatuh kedalam pelukannya.
“Mmm ... Al, udah jangan banyak gerak dulu kamu masih belum sembuh total,” ucapku mencoba menolak dengan tidak bermaksud membuatnya tersinggung.
“Iya sayang, tapi aku bahagia banget akhirnya kita bisa pacaran. Makasih yah gadis manja, aku janji ngga bakalan menyia-nyiakan kesempatan ini dan ngga akan buat kamu kecewa.” Lagi-lagi Alvero merasa bahagia.
“Iya Al, aku suka senang banget semoga kamu cepat pulih yah supaya kita bisa kembali bekerja,” sahutku sambil tersenyum.
‘Maafkan aku, cintaku tidak setulus cintamu. Tapi, aku berjanji akan mencoba untuk membuka hati untukmu,’ batinku.
“Oh ya sayang. Bagaimana kalau nama panggilan untukku kamu ganti? Jadi sayang kek atau apapun gitu.” Tiba-tiba Alvero membuatku tercengang.
“Ngga mau! Aku malahan suka panggil kamu, Al.”
“Ya udah deh sayang ngga masalah. Yang terpenting sekarang kita sudah bersama dan aku tidak sabar keluar dari tempat pengap ini supaya bisa menemani kamu seperti dulu.”
Aku hanya mengangguk mendengar harunya kebahagiaan yang ia dapat. Meskipun Alvero tidak tahu kalau dirinya hanya mendapatkan cinta bertepuk sebelah tangan dariku. Ada rasa sedih di hatiku saat melihat dirinya begitu bahagia dengan cinta yang tidak tulus.
Aku merebahkan tubuh Alvero agar ia bisa kembali istirahat sembari mengusap-usap tangannya agar ia bisa kembali tertidur. Saat dirinya sudah terlelap dalam tidur aku berjalan keluar sebab hanya ingin mencari udara segar. Tapi, betapa aku terkejut melihat Mami dan Papi sedang berjalan mendekat kearahku.
Aku menyadari bahwa Mami semakin mendekat dan beliau juga sadar kalau ada sudah melihat mereka. Dengan cepat aku juga menghampiri mereka dan memeluk orangtuaku yang sangat ku rindukan. Meskipun aku tidak mengerti kenapa sampai mereka mencariku.
“Hallo sayang,” sapa Mama dan Papa berbarengan.
“Hai juga Ma, Pa. By the way kok kalian bisa kesini? Tumben banget! Apa aku melakukan kesalahan, Ma?”
“Sayang, kenapa hal itu pertama yang kamu tanyakan, nak? Memangnya Mama nggak boleh jenguk anak kesayanganku ini?” tanya Mama seraya mengusapkan pipiku.
“Bukan begitu, Mama. Tapi, aku cuma bingung kalian datang tiba-tiba tanpa memberitahukan aku terlebih dahulu padahal aku bisa menjemput kalian di bandara.”
“Sudah sayang tidak apa-apa, Mama tahu kamu cuma cemas. Sudah ayo Mama ingin melihat bagaimana temanmu itu.”
“Baiklah, Mama. Ayo kedalam Alvero sudah lumayan pulih,” ucapku seraya mengajak masuk kedua orangtuaku.
“Baguslah sayang.”
Kami semua sudah masuk kedalam ruang inap Alvero,ia sendiri sedang tertidur namun dengan sedetik kemudian ia bangun hingga memaksakan diri untuk duduk kembali.
“Nak, tidak perlu bangun, tidurlah kembali,” ucap Mama seraya membantu merebahkan tubuhnya.
“Baik terimakasih, Tante,” sahut Alvero seraya tersenyum.
“Sama-sama. Bagaimana keadaanmu apa sudah mendingan?” tanya Mama.
“Iya Tante, syukurlah aku sudah merasa lebih baik. Oh ya maaf membuat Tante dan juga Om repot-repot menjengukku,” sahut Alvero.
“Oh tidak apa-apa. Justru jika sudah menjadi teman Viora juga akan menjadi keluarga,” sahut Mama.
Terjadi perbincangan hangat di antara mereka. Namun, tidak denganku, aku hanya diam sembari mengotak-atik ponsel sebab hanya itu bisa kulakukan. Alvero lalu melanjutkan perbincangan dengan Papa, tapi Mama tiba-tiba mengajakku untuk keluar dari ruangan. Entah apa yang ingin beliau lakukan.
“Kenapa Mama? Aneh tahu!”
“Jangan bawel sayang. Gini Mama tahu kamu pasti penasaran kenapa sampai bisa kami terbang menemui mu. Jadi Mama nggak mau basa-basi terus karena kita ngga banyak waktu, nanti malam kita semua siap-siap untuk datang di acara makan malam bersama keluarga Kelvin,” ucap Mama dengan fakta yang mengejutkan aku.
“Apa makan malam bersama keluarga Kelvin? Apa aku nggak salah dengar, Mama? Oh jadi kedatangan kalian kesini ternyata bukan untukku melainkan ada konspirasi bersama keluarga mereka. Tapi maaf aku tidak akan datang.”
“Viora! Jangan bertingkah nak, kamu tahu semua ini Mama lakukan untukmu. Hal terbesar yang dulu selalu kamu impikan untuk menjadi Ratu bersama Pangeran, jadi sekarang Mama wujudkan keinginanmu sayang,” ucap Mama yang tidak ingin mengalah.
“Ya dulu aku memang memimpikan untuk menjadi Ratu bersama Evin. Namun, sekarang semuanya impian itu lenyap dan tidak akan pernah lagi aku memimpikan semua itu. Jadi Mam, kita sudah tidak perlu menghadiri acara apapun bersama mereka.”
“Mama tidak mau tahu apapun permasalahan kamu dengan Kelvin, kami tidak akan ikut campur sebab kami sekeluarga hanya akan berfokus dengan tujuan kita bersama kalian akan segera menikah. Dan Mama mohon sama kamu supaya sekali ini saja kamu mau mendengarkan keinginan kami karena apa kamu selama ini sudah jadi anak manja yang keinginanmu selalu aku penuhi,” ungkap Mama yang sama sekali tidak berpihak padaku.
“Mama egois! Mama tahu kalau aku udah pacaran sama Alvero, jadi aku ngga mau di jodohkan sama Kelvin.”