Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
17~ S3 Istriku. Gadis Kecilku Di dalam ruangan & Berkenalan dengan Alice


H A P P Y R E A D I N G


Alice bersama temannya langsung keluar dari ruangan itu. Sedangkan Viora menahan amarahnya, ia juga merapikan kembali rambutnya yang berantakan.


Alice bersama temannya keluar dengan rasa puas dan senyuman bahagia. Saat mereka membuka pintu di luar sudah ada Kelvin berdiri.


“Alice! Kok bisa di ruangannya Viora, ada apa?” tanya Kelvin penasaran.


Alice menelan ludahnya, ia berpikir untuk bisa menjawab agar Kelvin tidak curiga.


“Ah anu Bos, tadi Viora katanya ada laporan yang dia bingung gimana buatnya. Jadi, dia telepon saya. Lalu Bos sendiri kesini mau ngapain?” ungkap Alice, seraya bertanya kembali.


“Oh saya cuma mau bahas hal penting. Ya sudah jika kalian tidak ada lagi pertanyaan. Saya mau masuk dulu,” ungkap Kelvin.


Semuanya menunduk dan menganggukkan kepalanya. Alice serta temannya langsung memberikan jalan kepada Bos mereka. Tapi, mereka sempat bingung dengan hal penting apa sampai CEO turun tangan hanya demi untuk memberitahukan sesuatu.


Pintu ruangan tertutup. Alice bersama temannya belum beranjak dari sana mereka juga bergosip di depan pintu.


“Eh guys. Kalian nggak ngerasa aneh gitu dengan sikapnya Bos sama wanita murahan itu?” tanya Alice dengan suara bisik-bisik.


“Ngerasa sih tapi ... ngerasanya gimana emang?” tanya Deva dengan polos.


Alice menjentikkan kepala Deva “Alah udah deh, mendingan aku ngomong aja sama Mony.”


Deva menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, ia juga kebingungan. Ia tidak paham dengan apa yang sedang di bicarakan oleh Alice.


“Kamu bener, Alice. Aku juga mikirnya sama kenapa Bos begitu simpati dengan wanita murahan itu bahkan, aku baru sekarang melihat kedekatan Bos, meskipun dulu juga pernah terdengar berita kedekatan Bos dengan perempuan lain tapi, aku juga tidak kenal wanita itu siapa,” sahut Mony yang membenarkan ucapan temannya.


“Nah itu dia. Kita itu harus mencari tahu apa hubungan antara Bos dengan wanita itu. Jika perlu kita harus selidiki saat mereka sedang pergi bersama. Dan kamu, Deva, sebaiknya tidak perlu ikuti kami sebab nanti urusannya akan runyam. Biarkan aku dan Mony yang pergi,” ungkap Alice.


Deva menarik nafas panjang, ia akhirnya memilih untuk pasrah. “Iya deh.”


“Giru dong. Eh guys, gimana kalau nanti malem kita ke Club? Aku bete nih kerja mulu yang ada, yah ... sekali-sekali kita keluyuran terus pulang pagi,” ucap Mony mengajak temannya.


”Setuju aja sih, kalau kamu gimana, Deva?” Alice mengangguk sambil bertanya.


“Aku? Gimana?” tanya Deva kebingungan.


Alice dan Mony menepuk jidat mereka bersamaan. “Ikut ke Club ngga?”


“Ke Club? Nggak deh kayaknya soalnya nanti malem aku mau lembur kerja,” ungkap Deva menolaknya.


“Oh gitu ya udah sih nggak apa-apa,” sahut Alice.


“Ya udah guys, ngapain lagi kita di sini ya ada entar ketahuan lagi. Udah-udah yuk kerja,” ungkap Mony sambil menarik kedua tangan temannya.


Deva salah satu teman Alice dan Mony. Ia teman yang tidak peka bahkan koneksi kepalanya lebih kurang ketimbang Mony, yang selalu cepat nyambung jika di ajak berbicara. Meskipun demikian Deva di kenal dengan ketekunan dalam pekerjaan.


(Di dalam ruangan Viora)


Kelvin sengaja datang menemui istrinya, padahal merek selalu bertemu dan juga pergi ke kantor bersamaan tapi, Kelvin selalu merindukan istrinya itu.


“Hay gadis kecil, ngapain aja nih di dalam sini?” tanya Kelvin seraya memilih duduk di meja kerja hingga membuat mereka berhadapan.


“Ya kerjalah, terus kamu ngapain masuk ke ruangan ku? Masa sih Bos masuk kesini? Harusnya itu kalau perlu aku antar apapun tinggal telepon aja,” omel Viora yang masih fokus pada laptop di depan.


“Aku kesini bukan perlu tentang pekerjaan tapi, cuma perlu kamu, gadis kecil. Lagian dulu kamu bilang kalau di luar kita seperti Bos dan sekretaris pada umumnya tapi, di ruangan kita suami istri. Ya udah aku ke ruangan aja terus,” ungkap Kelvin dengan jelas.


“Ihhh itukan kemauannya kamu, Pangeran. Emangnya ngga kerja apa sampai keluyuran ke ruangan ku?”


“Kerja sayang, cuma kamu jangan khawatir aku 'kan bosnya jadi yah bisa hengkang kaki,” ungkap Kelvin dengan sombong.


“Huh dasar belagu,” sahut Viora sambil tersenyum.


Kelvin ikut-ikutan tersenyum, ia lalu menarik tubuh Viora agar sejajar dengannya lalu satu kecupan mendarat di pipi bahkan di bibirnya. Tanpa ada perlawanan dari Viora, ia juga tahu memang sudah seharusnya seperti ini.


“Pangeran udah! Nanti ada yang masuk kesini,” ucap Viora sedikit ketakutan.


“Oh gitu, bentar yah,” sahut Kelvin seraya beranjak pergi mengunci pintu.


“Nah ... Udah ngga ada yang berani masukkan? Oh ya aku lupa mau nanya tadi padahal. Sekretaris Alice sama dua staf karyawan masuk keruangan kamu ngapain, sayang?” Kelvin akhirnya bertanya meski dia baru mengingatnya.


‘Aduh ... aku jujur ngga yah? Kalau aku jujur pastinya Kelvin langsung pecat mereka. Jadinya kasihan cuma gara-gara aku nanti yang ada mereka makin benci lagi sama aku. Tapi, kalau aku nggak jujur ... Udah deh mending ngga usah aja biarkan nanti aku cari cara buat tangani mereka,’ batin Viora.


“Kenapa diam, sayang?” tanya Kelvin.


“Eh! Nggak. Tadi sekretaris Alice kesini cuma mau kenalan sama jelasin beberapa hal yang nggak aku tahu. Yah itung-itung aku bisa dapet teman di sini,” ungkap Viora.


“Oh ... gitu. Ya udah sayang, aku senang kamu udah langsung dapat teman tapi, aku saranin jangan berteman berlebihan ya karena kita ngga tahu mereka berteman dengan niatnya apa. Soalnya aku takut seperti kejadian Zoya dan Vanny, mereka berteman tapi, akhirnya Vanny bermuka dua yah walaupun sekarang mereka udah baikan sih. Menurut yang aku lihat Alice itu selama di sini baik, sama juga dua staf karyawan yang tadi,” ungkap Kelvin panjang lebar.


Viora menganggukkan kepalanya. “Oh ... gitu. Okay deh Pangeran, aku bakalan was-was kok.”


“Iya sayang, kiss lagi dong,” pinta Kelvin seraya memajukan bibirnya.


Viora tersenyum melihat kelakuan Kelvin. Ia pun menuruti untuk menciumnya. Sejak pernikahan mereka sampai sudah berbaikan seperti sekarang, mereka bahkan belum merasakan honeymoon. Entah kenapa Kelvin bahkan tidak pernah membicarakan hal ini dengan Viora. Kedekatan mereka saat ini hanya sebatas berciuman selayaknya orang yang sedang berpacaran.


Kelvin pun akhirnya pamit dari ruangan istrinya. Ia juga tidak ingin terlalu lama berada di sana sebab takut jika orang lain mencurigainya lantaran mereka belum mengumumkan tentang status pernikahan mereka.


-----------:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::-------------


(Kediaman Alvero Li Xizing)


Malam pun tiba, malam memiliki arti tersendiri di mana Tuhan ingin memperlihatkan kuasa dan cintanya memalui paparan keindahan bintang dan rembulan ketika saling bersanding berpasangan memantulkan cahaya pada langit malam yang cerah. Seperti di kediaman Alvero. Ia termenung duduk sendirian di atas balkon kamarnya. Menatap jauh ke depan berharap sang bintang jatuh untuk menemani kesendiriannya.


Bibi Karin mencari Alvero ke segala ruangan tapi, tidak ada hingga Bibi mengingat jika kamar Alvero belum ia pijak. Alhasil ia melihat Alvero terduduk sendirian, ia pun mendekat.


“Loh Alvero, kok di sini nak? Bibi cari kemanapun ngga ada eh ternyata di sini. Turun yuk kita makan,” ungkap Bibi Karin seraya mengajaknya.


“Lagi males makan di rumah Bi,” ucap Alvero.


Bibi pun memilih duduk di samping Alvero, sebab ia terlihat seperti orang yang sedang putus asa.


“Kamu pasti lagi mikirin kekasihmu? Saran Bibi, udah jangan terlalu di pikirin lebih baik sekarang makan atau kalau emang males di rumah ya udah keluar gih! Cari hiburan lain gitu. Siapa tahu nih setelah kamu cari hiburan hati kamu tenang atau kalau perlu bermalam sama seorang wanita. Yah Bibi sih cuma saranin aja, biarpun kamu tetap akan mencintai Viora tapi, apa salahnya jika kamu menikmati malam kesepian ini dengan memainkan orang lain,” ungkap Bibi Karin dengan ide cemerlang meskipun menjijikkan.


“Benarkah? Apa nanti aku bakalan senang, Bi? Terus gimana kalau Viora tahu?" tanya Alvero penasaran.


“Tentu nak, di luar sana wanita lain menunggu kehadiranmu. Bersenang-senanglah selagi kamu bisa, buat agar Viora merasakan sakit kehilangan atau sakit karena akan menjadi milikmu lagi. Maka dari itu kamu harus ingat untuk bisa manjakan hatimu. Sudah ayo cepat ke Club gih, sekalian nanti kalau ketemu anggota preman jadinya lumayan dapat dua keuntungan sekaligus. Bibi cuma mau kamu senang, udah itu aja,” goda Bibi dengan idenya.


Alvero pun paham bahwa memang sudah seharusnya dirinya memanjangkan dirinya apalagi jika pergi ke sebuah Club tentunya banyak keindahan di sana.


‘Aduh ... Bibi, ada-ada aja deh masa harus ke Club sambil senang-senang. Seru sih cuma ... Kalau aku sampai kemakan rayuan wanita di sana. Pasti runyam urusannya,’ batin Alvero.


“Tapi Bi, aku takut kalau nanti yang ada aku kecolongan. Gimana dong kalau sampai hamil anak orang?” tanya Alvero yang ketakutan.


“Ya ampun ... Alvero! Kamu ini udah dewasa nak, segala masalah semuanya bisa kamu atasi, yah jangan sampai kecolongan dong sayang. Lagian nih yah wanita kalau udah kesana itu mereka pasti udah bawa persiapan yakin deh sama Bibi," ungkap Bibi Karin membenarkan.


“Ya udah iya! Bentar yah Bi, aku siap-siap dulu. Eh mau ikutan ngga?” tanya Alvero sengaja menggoda bibinya.


“Udah deh sana! Jangan aneh-aneh kamu, bibi udah nikah yah. Suami bibi tuh di kampung,” sahut Bibi Karin.


“Iya-iya."


Alvero bangun dari sana, ia langsung menuju berganti pakaian agar dirinya terlihat lebih tampan. Hanya perlu waktu sekitar lima belas menit dirinya sudah terlihat gagah dan perkasa.


Bibi Karin melihatnya sambil mengacungkan jempol. Ia lalu mengantarkan Alvero sampai ke depan pintu.


“Hati-hati ya, nak,” ucap Bibi Karin.


“Siap! Alvero pergi dulu ya,” sahut Alvero sambil melambaikan tangannya.


Alvero mengemudi mobil sendirian. Menikmati musik untuk menemani perjalanannya. Wake up call - Maroon 5 dan wide Awake - Katy Perry. Dua musik indah yang menemani dirinya hingga tidak terasa perjalanan jauh. Lalu ia mampir di sebuah toko obat untuk membeli sesuatu. Hingga ia melanjutkan perjalanan sampai akhirnya tiba di tempat tujuan.


(Di sebuah Club Grand)


Alvero memasuki Club tersebut. Alunan musik terus menggema membuat siapapun di sana merasakan ketenangan jiwa. Ia tidak ingin ikutan menari di bawah pemandu DJ meskipun DJ-nya seorang wanita cantik. Alvero memilih duduk sendirian dengan di temani dua botol minuman dan sebungkus rokok.


Sambil duduk kepalanya bergoyang-goyang mengikuti irama musik. Hingga ia tidak sadar jika dua orang wanita terus menatap dirinya. Sampai kedua wanita itu berjalan mendekatinya.


“Hay ... boleh kami duduk di sini?” ucap wanita pertama.


”Yah tentu saja,” sahut Alvero.


“Emm namamu siapa?” tanya wanita pertama.


“Alvero. Kalian berdua?”


“Namaku, Mony.”


“Aku Alice, senang bertemu denganmu, Alvero,” timpal Alice.


Mereka bertiga berbincang-bincang, sampai akhirnya mereka terlihat begitu akrab bahkan seperti teman yang sudah kenal lama. Banyak hal mereka ceritakan mulai dari tujuan pergi ke Club, sampai masalah pasangan. Ketiganya masih hidup jomblo. Kelvin sengaja tidak mengakui ada kekasih, meskipun dirinya tetap mengakuinya.


Mereka menghabiskan dua botol minuman sekaligus lalu tiba-tiba suara dering ponsel membuat mereka terkejut. Handphone Mony yang terus berbunyi. Hingga akhirnya ia pergi ke tempat yang sedikit jauh untuk menjawab teleponnya. Lalu ia pun kembali ketempat teman-temannya dengan wajah cemas.


“Eh kenapa? Habis jawab telepon langsung panik gitu,” ucap Alice penasaran.


“Ini kayaknya aku harus duluan balik deh soalnya nenekku lagi di bawa rumah sakit, mendadak jatuh pingsan. Kamu ngga apa-apakan pulang sendirian?” ungkap Mony dengan jujur seraya bertanya.


“Yah kok gitu ... ya udah aku ikut deh kerumah sakit,” sahut Alice yang tidak ingin pulang sendirian.


“Eh ngga apa-apa biar nanti aku antar aja, Alice. Kasian Mony nanti sekalian jaga neneknya pasti pulangnya kemalaman,” timpal Alvero.


“Makasih yah, jagain temanku yah. Udah deh mendingan sama Alvero aja, soalnya aku juga kadang nginap di sana jadi nggak sempat antar. Eh besok aku juga izin kerja yah, jangan lupa tuh,” ungkap Mony.


“Iya-iya, ya udah hati-hati yah pulangnya,” sahut Alice.


“Okay guys, have fun," ucap Mony seraya melambaikan tangannya.


Tinggallah Alice bersama Alvero berdua, mereka tidak terlalu memusingkan apa yang sedang terjadi pada Mony. Mereka melanjutkan kesenangan yang sempat tertunda. Lalu keduanya bahkan memesan minuman lagi. Satu botol minuman lagi sudah habis, tidak cukup di sana Alice yang sedikit mabuk mengajak Alvero untuk berdansa.


Kesempatan bagus bagi Alvero memang itu yang ia inginkan seperti nasehat Bibi Karin, lalu ia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Mereka menari bersama sambil segelas minuman berada di tangan masing-masing.


‘Aku harus mencobanya, jika ini bisa membuatku bahagia dengan sedikit tidak mengingat Viora, maka harus kulakukan,’ batin Alvero sambil terus menari.