
Happy reading.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
‘Ada yang aneh dari cara Steven berbicara, apa mungkin dia sedang menipuku?’ batin Reiner.
“Woy Reiner, kenapa malah melamun?” tanya Steven.
“Ehh nggak kok, by the way elu suka kan sama apartemen ini?” ucapku.
“Suka dan termasuk kriteria gue,” sahut Steven.
Aku melirik jam tanganku, sudah waktunya harus pulang. “Yaudah gue pamit pulang dulu ya, jangan lupa besok malem dateng ke acara calon bayi gue ya awas kalau lu ngga dateng,” ucapku sedikit ancamannya.
“Siap brother, pasti gue dateng kok, sekali lagi thanks ya udah repot-repot bantu gue,” ungkap Steven.
“Tenang santai aja, yaudah deh gue pulang dulu,” ucapku lalu pergi dari apartemen miliknya.
Saat ini aku sedang menuju arah pulang, dan pikiranku entah mengapa masih mengingat tentang yang dikatakan oleh Steven. Dugaan ku benar ternyata Claudia juga berada di sini bersama dengannya.
Mungkin saja wanita yang kutemui saat itu adalah Claudia tapi jika memang dia kenapa dia tidak menyapa ku kemarin bahkan terlihat bodoh. Pikiranku melayang terus memikirkan Claudia tiba-tiba suara ponsel membuatku kaget, dan terpaksa mengharuskan aku untuk menepikan mobil.
Panggilan masuk dari nomor yang tidak kukenal karena penasaran aku mencoba untuk mengangkatnya. “Hallo dengan siapa?”
“Reiner! Bantu aku pliss, tolong aku sekarang!” teriak si empunya meminta tolong dari balik ponselku.
Aku panik, sebab pikiranku langsung tertuju dengan Claudia mungkin saja itu dia, sebab jika Zoya pasti tidak mungkin menghubungiku dengan nomor asing.
“Claudia, apa ini kamu? Hey tolong jawab aku!” teriakku kearah ponsel.
“Reiner! Apa yang kau bilang? Ini aku Elie, tolong bantu aku, tolong ....” Aku heran mendengar suara Elie, seperti sedang menangis pantas saja.
“Hey, kau kenapa?!” teriakku kembali.
Ttet. Panggilan pun terputus sebelah pihak olehnya.
Meskipun Elie sangat jahat denganku tapi aku juga kasihan dengannya jika memang dia sekarang berada dalam keadaan buruk.
‘Arghhhh jangan bodoh Reiner, dia pasti sedang mengelabuhi mu lagi, jangan tolong dia pulanglah temuin istri dan Mommy mu,’ batin.
Benar, aku tidak perlu membantunya biarkan saja baik dia hidup atau mati aku tidak peduli. Lalu aku kembali menjalankan mobil dan menuju di kediaman Notern.
---------------------------------------------
(Dikediaman Eliezer)
Sebuah masalah kembali terjadi antara aku dengan Brian. Sebab aku meminta cerai dengannya karena aku tidak sanggup hidup dengan pria pscyo seperti dia. Bisa-bisa aku mati di cincang jika tidak sengaja membuatnya marah.
Aku sangat panik, mengambil ponsel dalam saku celana dan menghubungi Reiner. Berlarian ke segala arah untuk menghindar dari Brian.
Sebuah petaka bagiku, Brian tidak sengaja mendengar aku menghubungi Kelvin untuk memberitahu tentang bayi yang ku kandung. Tapi justru Brian berada di belakangku, entah kapan dia berdiri di sana.
Aku mematung bersembunyi di balik lemari pendingin, untuk lari sudah tidak bisa sepertinya Brian semakin mendekat kearahku.
“Di sini kamu rupanya, jangan lari Elie, setelah kau ciptakan kekacauan dalam otakku, kau malah bersembunyi,” omel Brian. Dia sudah berada di depanku dengan satu pisau berada ditangannya.
“Kumohon Brian, jangan sakiti aku, aku sedang hamil anak kita,” aku mencoba menipunya agar bisa lolos darinya tap sepertinya sia-sia.
“Kau hamil anakku? Elie, apa kau pikir aku tidak tahu setiap kita berhubungan kau selalu meminum obat pencegah kehamilan. Kau pikir aku tidak melihatnya,” omel Brian kesal.
“Tapi Brian, pernah sekali aku tidak meminumnya dan saat itu bahkan aku tidak tahu jika kau akan menyentuhku,” sahutku.
“Cukup Elie! Aku tidak suka ditipu, jangan berbohong denganku jika kau memang tidak ingin terjadi apa-apa dengan kita, aku jamin kau tidak bisa lari dariku meskipun kita nantinya sudah bercerai karena kehangatan tubuhmu itu membuatku tidak ingin jauh,” geram Brian.
“Baiklah, aku akan jujur, tapi kumohon jauhkan dulu pisau dari tanganmu itu kumohon Brian,” ucapku.
Sepertinya Brian menurut dan melepaskan pisau ditangannya. Kulihat dia terduduk ingin menyimak penjelasanku.
Aku mengambil posisi duduk didekatnya. ”Bisakah kau janji terlebih dahulu denganku jangan marah jika aku jujur.” Kulihat Brian pun mengangguk.
“Hari itu seperti yang kau tahu, aku menyekap Reiner tapi naasnya dia malah mencoba merayuku, kau tahukan Brian jika aku tidak bisa melihat rayuan manis dari seorang pria, dan hari itu Reiner mencoba untuk membuat agar dirinya bisa lepas dengan menggodaku sampai sesuatu terjadi antara kami, dia memaksaku untuk mau melakukan hubungan dengannya dan yang kau dengar di telepon tadi aku hanya berpura-pura mengatakan Kelvin yang menyentuhku agar kau tidak marah,” ungkapku panjang lebar.
Brian sepertinya luluh, dia hanya terdiam seperti sedang menjernihkan pikirannya. Aku tersenyum sinis melihat tanggapan yang ditunjukkan oleh Brian.
‘Maaf Brian, aku harus mengatakan hal bodoh lagi untuk melindungi Kelvin darimu, biarkan Brian menemui Reiner dan ku pastikan dia akan tergoda dengan istrinya,’ batin Elie.
“Jadi sayang, yang kudengar Kelvin itu kebohongan ya? Syukurlah kupikir kau memang sudah melakukan hubungan dengan Kelvin, aku sangat tidak terima sebab dia adalah temanku,” ucap Brian.
“Maafkan aku Brian, berbohong denganmu selama ini, Reiner sengaja menggodaku,” sahutku.
Lalu Brian memelukku erat. “Kumohon jangan pergi dariku, meskipun aku tahu semuanya, aku janji akan membalaskan dendam mu kepada Reiner, aku tidak suka pria sialan itu berkeliaran bebas juga hidup enak diluar sana.”
“Benarkah Brian, aa aku sangat menyayangimu, ehh aku punya sesuatu untukmu sebentar ku ambilkan,” lalu aku pun beranjak dari tempatnya.
Tidak lama aku pun kembali dan membawa sebuah foto lalu memperlihatkannya pada Brian. “Kau lihat sayang wanita ini, kau sudah tahukan wanita bernama Zoya ini.”
“Lalu sayang untuk apa ini?” tanya Brian.
“Apa kau hanya mau mencicipi ku sayang? Bukankah istri Reiner itu jauh lebih cantik dan seksi dariku, apa kau tidak ingin mencobanya juga, aku janji tidak akan marah sebab aku ingin kau membalas dendam ku dengan cara menyentuh Zoya sampai dia menangis di bawah tubuhmu,” pintaku.
Brian menatap wajahku lama. “Kau serius sayang dengan ini?”
“Aku serius dan aku tidak akan marah, aku juga akan berada di sana dan mengambil kamera untuk kalian, aku ingin melihat keperkasaan mu pada wanita lain,” sahutku.
“Jadi kau menantang ku sayang? Rasakan ini, jangan sampai kau memohon meminta lebih aku tidak akan melepaskan mu,” ucap Brian.
Dia menjalankan aksinya, membuatku ingin lebih. Benar ucapannya jika dia juga bisa memuaskan aku meskipun kepuasan dari Kelvin lah yang membuatku ingin lagi dan lagi.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Hallo semuanya, di sini aku akan membawa kisah untuk Elie, tapi terus ditunggu sebab tentang Reiner dan Zoya akan tetap masuk didalamnya. Jangan lupa untuk terus mendukungku.