
H A P P Y R E A D I N G
“Ayolah sayang, bukan begitu maksudku. Dengarkan, kamu adalah wanita paling kuat di dunia ini yang pernah ku miliki. Kamu tahu kenapa karena bersamamu aku merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya bahkan kamu sudah melahirkan anak kita. Itu adalah kekuatan paling kuat, dan karena itu aku semakin menyayangimu,” ungkap Brian dengan jelas.
“Mas, apa kali ini kamu ingin merayuku agar aku tidak marah?”
“Nggak sayang, aku berbicara serius dan tidak bermaksud ingin merayu mu,” sahut Brian seraya memegang tanganku.
“Jika tidak, kenapa rasanya aku semakin yakin kalau kamu masih begitu peduli dengan Elie. Jujur apa kamu masih mencintai dia, Mas?” tanyaku yang masih memiliki keraguan terhadap cinta Brian.
Brian menggelengkan kepalanya, ia lalu pergi mengendong Rossie lalu membawanya kehadapan ku.
“Kamu lihat sekarang kita sudah memiliki penyemangat hidup yang baru. Rossie telah menjadi bukti dari semua cintaku untukmu sayang. Walaupun mungkin kamu masih belum sepenuhnya percaya denganku. Namun, yakinlah kalau aku sama sekali tidak lagi menaruh hati pada wanita kejam seperti Eliezer.” Brian terus mencoba menyakinkan diriku.
“Maafkan aku, Mas. Sudah mencoba untuk mencurigai mu. Seharusnya aku bisa melihat betapa berartinya aku dan juga Rossie untukmu,” sahutku lalu memeluk pinggangnya yang masih menggendong bayi kami.
“Iya sayang, aku paham dengan semua itu. Tidak ada wanita yang tidak cemburu apalagi jika itu menyangkut mantan istri suaminya, jika pun ada pasti dia tidak lagi mencintai suaminya,” ungkap Brian yang sangat peka terhadap aku.
“Kamu benar, Mas.”
Kebahagiaan kecil itulah saling percaya. Dengan adanya keyakinan hati bahwa kita akan selalu mempercayai dirinya. Seperti aku yang terus mencoba memahami suamiku walaupun aku tahu kisah cinta antara suami dengan mantan istrinya pasti masih berada tersimpan khusus di lubuk hatinya.
“Sayang, lihat Rossie tertawa,” ucap Brian berusaha menunjukan.
“Yah benar Mas, kelak dia besar nanti pasti dia akan menjadi Putri yang pintar. Ah bagaimana kalau kita menjodohkan Rossie dengan Kayrren, apa Mas setuju?”
Entah kenapa tiba-tiba aku mengingat tentang perjodohan padahal umur Rossie masih sangat kecil.
“Sayang, apa sebaiknya tidak perlu menjodohkan seperti itu? Aku takut jika kejadiannya akan sama seperti orangtuanya Kayrren. Lagipula usia mereka masih sekecil biji jagung, itu sangat sulit untuk kita menentukan perjodohan kecuali jika mereka sudah remaja nanti,” jawab Brian yang tidak setuju.
“Iya juga Mas, tapi aku suka jika kita memiliki besan seperti Zoya dan Reiner. Rasanya menyenangkan.”
“Sayang, sayang ... ada-ada aja deh, nanti kita atur lagi persoalan ini dengan orangtuanya Kayrren. Usia mereka masih sangat kecil, kamu sudah mikirnya kejauhan, umm istriku ini memang sangat tidak sabaran,” ledek Brian seraya menciumku.
“Ya udah Mas, kalau begitu juga ngga masalah, sini sayang sama Mami,” ucapku seraya mengambil Rossie dari gendongan papinya.
‘Nak, jika kamu sudah remaja nanti Mami akan menjodohkan mu dengan Kayrren, anak dari Tante Zoya. Keluarga yang terpandang dan memiliki kekayaan sama seperti kita, agar kelak hidupmu bisa bahagia tanpa harus sibuk mencari kekayaan dari orang lain,’ batinku yang masih menggendong Rossie.
Bagiku hidup anakku harus terjamin dan tidak perlu merasakan lelahnya bekerja sepertiku. Bagaimanapun caranya kelak saat anakku remaja perjodohan harus terjadi antara kalian berdua.
**------------------------------------------------**
(Rumah sakit jiwa)
Jika Vanny sedang mendambakan memiliki besan dengan keluarga Zoya. Namun, berbeda dengan Elie yang saat ini berada di rumah sakit jiwa.
Obat bius yang sangat kuat dosisnya mampu membuatnya tidur sangat lama. Seharian Elie belum sadarkan diri bahkan tidak tahu dimana dirinya sekarang. Baju yang sudah di ganti oleh petugas di sana. Ruangan yang kecil hanya memiliki ukuran 2x3 meter itulah tempat yang ia tempati sekarang. Sangat sempit jika di banding dengan rumahnya yang mewah.
Perlahan Elie mulai membuka matanya. Ia melihat ke sekeliling ruangan, tidak ada yang istimewa bahkan sangat buruk dari jika sebanding dengan kamar miliknya. Perlahan dirinya bangun dan melihat pakaian yang ia kenakan berwarna kuning keemasan. Berulang kali ia melihat pakaiannya.
“Kenapa bajuku jadi begini? Perasaan tadi aku tidak memakai baju bersama Kelvin. Ahh Kelvin! Di mana kamu Kelvin?! Kelvin! Kamu di mana?! Kemari, 'lah sayang! Aku akan membuka pakaianku lagi.” Elie menjerit histeris, ia meneriaki nama sang pujaan hatinya.
Seperti yang ia katakan Elie langsung membuka pakaiannya dan terus menjerit memanggil Kelvin. Lalu ia mencoba membuka pintu namun sayangnya sudah terkunci dari luar. Hingga ia mendorong pintu itu dengan tubuhnya sampai membuat bahunya memar-memar kemerahan, tapi dirinya masih kuat dan tidak memikirkan keadaannya.
“Kenapa Kelvin kembali meninggalkan aku?! Padahal tadi sudah menerimaku di sini tapi kenapa? Kelvin, aku mencintaimu sayang, aku bersedia untuk selalu bersamamu. Seperti waktu itu kita akan bersama menyatu dalam indahnya surga dunia ....” Elie menangis hingga menjerit-jerit.
Sudah waktunya makan siang dan memberikan obat untuk setiap pasien yang rumah sakit. Para petugas rumah sakit pun memasuki setiap kamar penderita sakit jiwa. Setiap ruangan di isi oleh dua orang petugas masing-masing wanita dan Pria. Begitupun dengan kamar Elie. Petugas di sana sedang membuka pintu kamar miliknya.
Elie berada di dalam menyadari jika ada kehadiran orang lain, ia masih berpikir sama, Kelvin miliknya yang datang menemui. Dengan memasang kuda-kuda siap untuk memeluk Kelvin. Petugas itupun sudah membuka pintu dan Elie langsung memeluk serta menyebut nama Kelvin kepada salah satu di antara mereka.
Dengan sekuat tenaga teman petugas di sana membantu agar Elie lepas dari tubuh temannya. Begitu sulit karena kekuatan orang gila seperti Elie begitu kuat dan tidak sebanding dengan orang lain.
“Bang, wanita gila ini sepertinya gila terhadap Pria hingga dia memelukmu dan menganggap setiap Pria adalah pacarnya,” ungkap petugas wanita yang sedang berusaha melepaskan pelukan Elie.
“Ya kamu benar, kita tidak bisa melepaskan dirinya seperti ini. Kekuatannya jauh lebih kuat dari manusia normal, sebaiknya cepat ambil obat bius dan suntik dia, cepat!” perintah Pria yang berada dalam pelukan Elie.
“Siap, Bang!”
Mereka berusaha untuk membuat Elie lepas hingga akhirnya Elie tenang setelah berhasil di suntik. Kedua petugas tersebut hingga mengeluarkan keringat saat menangani pasiennya.
“Benar-benar wanita ini gila karena cinta. Betapa malang dirinya sampai bisa seperti ini. Jangan biarkan dia keluar sebelum obat penenang masuk kedalam tubuhnya, jika tidak maka dia pasti akan menganggu pasien lain. Aku takut sampai berhubungan sesama orang gila yang lain,” ungkap petugas tersebut.
“Baik Bang, akan saya pastikan dia aman,” sahut temannya.
Mereka berhasil dengan tugasnya lalu kembali memakaikan baju Elie.
“Aku pergi dulu ya, kamu tolong awasi dia di sini sampai dia bangun setelah itu berikan dia makanan,” ucap Dokter tersebut lalu beranjak pergi.
Tinggallah Elie bersama dengan satu petugas saja. Suster tersebut melakukan apa yang menjadi tugasnya, ia menyediakan makanan serta obat saat pasien sudah sadar nanti.
Eliezer perlahan sadar sebab obat bius tersebut tidak terlalu mengandung dosis tinggi hanya membuat pingsan beberapa saat. Dengan loncatan kuat dirinya turun menyentuh bumi hingga membuat suster di saat menggelengkan kepala melihat tingkah Elie yang gila.
“Di mana Kelvin ku? Di mana dia?” tanya Elie sembari celingak-celinguk mencari sang pujaan hati.
“Kelvin kamu lagi keluar beliin hadiah, terus tadi dia suruh kamu buat makan. Ayo sini makan siang dulu habis itu minum obat baru nanti Kelvin datang kesini,” perintah suster yang sedang berusaha membujuknya.
Bukannya menjawab namun Elie malah bengong sampai mulutnya terbuka. Ia lalu perlahan mendekati suster tersebut.
“Kamu kenal dengan Kelvin, pacarku?” tanya Elie penasaran.
“Oh tentu kenal dong, dia sendiri yang bawa kamu kesini terus juga dia bilang sama aku kalau suruh jaga kamu sampai dia kembali beli hadiah. Nah sekarang ayolah cepat makan supaya hadiahnya bisa cepat datang untukmu,” ungkap Suster tersebut yang mencoba membohonginya.
“Wah asyik ... Ada hadiah, baiklah aku akan makan demi Kelvin.” Elie layaknya bayi yang begitu mudah di bohongi sampai dia begitu senang dan makan begitu lahap demi sang pujaan hatinya.
‘Jaman sekarang siapa saja bisa gila demi cinta. Benar-benar cinta sudah membuat wanita ini buta. Kasian sekali, pasti hidupnya pernah di campakkan oleh orang yang bernama Kelvin,’ padahal dirinya sangat cantik dan tubuhnya begitu sexy tapi malang akalnya sudah tidak lagi waras,' batin Suster seraya melihat Elie makan.
Suster sampai merasa kasian melihat Elie yang menjadi gila. Ya semua orang memang merasa kasian. Namun, jika mengingat tentang perbuatannya setiap orang yang pernah tersakiti olehnya pasti akan mendoakan dirinya untuk lebih sengsara.
**------------------------------------------**
(Apartemen Claudia)
Melihat orang lain bahagia dan keluarganya menderita, sungguh membuat dirinya begitu kesal dan marah. Claudia, sedang berpikir sesuatu hal yang belum pernah ia pikirkan. Semenjak kehadiran Elie dalam hidupnya. Elie lah orang yang selalu memikirkan rencana apapun untuk mereka lakukan, tapi sekarang dia harus memikirkannya sendirian tanpa ada lagi pendamping dalam setiap rencananya.
“Ayolah otak tolong berpikir lebih jenius lagi.” Berkali-kali Claudia kebingungan tindakan apa yang harus ia lakukan.
Dari jarak tidak jauh, hanya selisih antara meja makan dengan ruang tamu. Steven yang sedari tadi melihat gelagat aneh dari adiknya hingga ia memutuskan untuk langsung menghampiri.
“Lagi ngapain sih? Keliatannya serius banget? Mikirin apa emang?" tanya Steven curiga.
“Jangan kepo deh! Urusan gua juga. Udah sana pergi, Lo 'kan ngga peduli sama gua,” sahut Claudia dengan ketusnya.
“Yaelah ini anak di tanya baik-baik malah ngajak ribut. Lo itu kalau ada masalah cerita sama gua bukannya malah mau ngajak perang gitu!” Steven pun tidak terima jika adiknya Claudia bertingkah seperti itu.
“Bodo amat gua ngga peduli, Lo aja nggak peduli sama gua. Kemarin aja main tinggalin sendirian,” Sahut Claudia ketus lalu beranjak pergi meninggalkan Steven yang masih keheranan.
‘Aneh, Claudia nggak kaya biasanya. Kalau pun gua bikin dia kesel biasa juga malah lakuin balik, tapi sekarang dia justru makin aneh. Gua harus cari tahu sesuatu,’ batin Steven yang diam-diam mengikuti Claudia.
Dengan raut wajah cemberut Claudia memasuki kamarnya. Ia menghempaskan tubuhnya begitu saja.
“Semua orang nyebelin! Bikin rese! Gua mau semua orang itu cuma sayang dan peduli sama gua bukan malah untuk perempuan itu!” geram Claudia sendirian.
Tanpa Claudia tahu Steven mendengar apa yang semuanya ia ucapkan sebab pintu kamarnya tidak tertutup rapat hingga suara begitu jelas untuk di dengar dari luar kamar.
‘Perempuan itu? Siapa yang Claudia masuk?’ batin Steven.
Lagi-lagi Claudia mengamuk dengan sendirinya sampai ia melemparkan semua bantal-bantal sembarangan.
“Dasar sialan! Gua ngga habis pikir itu perempuan rame banget yang peduli sampai-sampai kakak gua juga begitu sayang sama dia. Reiner juga begitu. Kenapa sih ngga mati aja sekalian tuh perempuan bikin hidup orang susah aja. Gara-gara dia juga hidup kakak Elie jadi hancur seperti ini. Coba aja dia nggak halangi buat jauhin Kelvin sama kakakku, pasti sekarang dia nggak mungkin gila. Arrrggh nyebelin!”
Claudia histeris sendirian tanpa peduli suaranya akan di dengar oleh orang lain. Steven sampai syok berat saat mendengar perempuan itu adalah orang yang juga ia sayangi.
’Jadi maksudnya Zoya? Tapi kenapa Claudia begitu membenci Zoya? Apa dia mengingkari janjinya padaku dulu? Ini tidak bisa di biarkan. Ternyata dia sudah membohongiku,’ batin Steven geram hingga membuat matanya melotot.
Steven begitu marah sampai ia tidak sanggup mendengarnya lagi. Orang yang selama ini dia sanjung sampai di depan Reiner, dia justru membelanya. Namun, ternyata di belakang orang itu justru lebih busuk daripada Elie yang berani melakukan kejahatannya terang-terangan. Steven lalu mendobrak pintu hingga mengeluarkan bunyi begitu keras sampai membuat Claudia bangun ketakutan dan berkeringat.
“Claudia!” bentak Steven geram.
“I-i-iya kakak, ada apa?” jawab Claudia terbata-bata.
“Apa yang Lo katakan barusan? Cepat ulangi semua yang sudah Lo katakan?!” perintah Steven dengan bentakan.
“A-aku tidak mengatakan apapun, kak.” Claudia berusaha mengelak.
“Oh jadi begitu. Setelah semuanya yang Lo ucapkan terus Lo bilang tidak ada apapun! Apa Lo masih mau menganggap gua sebagai kakak Lo?!” Pertanyaan paling sadis yang pernah Claudia dengar.
“Tolong kak, dengerin gua dulu. Lo salah paham, pliss ....” Claudia memohon dengan tangannya menyatu didepan.
“Udah deh, mending Lo jujur aja sama gua. Sekali lagi gua tanya, Lo masih mau menganggap gua sebagai kakak Lo apa nggak? Lagian kita juga ngga ada hubungan darah, 'kan? Lo juga udah sukses sekarang jadi apalagi kalau gua nggak ada hak buat ngatur hidup Lo sebagai adik gua sendiri.” Steven benar-benar marah sampai begitu ingin mengakhiri hubungan adik-kakak antara mereka.
Mata Claudia berkaca-kaca saat mendengar Steven berbicara seperti itu. Sebab dia sudah sangat menyayangi Steven melebihi dirinya sendiri walaupun mereka tidak terikat hubungan darah. Lalu Claudia berlari ingin memeluk Steven, tapi dengan cepat Pria itu menahan dan mendorong dirinya sampai ia terjatuh.